Sabtu, 21 Februari 2015

Falsafatuna Bab 5: Dialektika


Oleh Sayyid Muhammad Baqir as Shadr (Penerjemah: Muhammad Nur Mufid) dan disunting ulang oleh Sulaiman Djaya

Dalam logika klasik, dialektika berarti suatu metode diskusi tertentu dan satu cara tertentu dalam berdebat yang di dalamnya ide-ide kontradiktif dan pandangan-pandangan yang bertentangan dilontarkan. Masing-masing pandangan itu berupaya menunjukkan titik-titik kelemahan dan kesalahan yang ada pada lawannya, berdasarkan pengetahuan-pengetahuan dan proposisi-proposisi yang sudah diakui. Dengan demikian berkembanglah pertentangan antara penafian dan penetapan di lapangan pembahasan dan perdebatan, sampai berhenti pada kesimpulan yang di dalamnya salah satu pandangan yang bertentangan itu dipertahankan, atau sampai munculnya cara-pandang baru yang merujukkan semua pandangan dari pergulatan pemikiran antara hal-hal yang berlawanan tersebut, setelah menyingkirkan pandangan mereka dan menunjukan kelemahan masing-masingnya. Tetapi, dalam dialektika modern, perdebatan bukan lagi suatu metode pembahasan dan cara-pandang tertentu untuk bertukar pendapat. Ia telah menjadi suatu metode untuk menerangkan realitas dan hukum umum alam yang berlaku di pelbagai realitas dan macam-macam eksistensi. Jadi, kontradiksi tidak hanya berada di antara pendapat-pendapat dan cara pandang-cara pandang saja. Namun, ia ada di dalam jantung setiap realitas dan kebenaran. Karena itu, tidak ada proposisi yang di dalam dirinya tidak terkandung kontradiksi dan penafiannya sendiri.

Orang pertama yang membangun suatu logika sempurna berdasarkan (ide dialektika) tersebut adalah Hegel. Dalam logikanya, kontradiksi dialektik adalah titik sentral dan prinsip pokok yang menjadi dasar suatu pemahaman baru tentang alam, dan yang melalui prinsip pokok ini muncullah teori baru tentang alam yang sama sekali berbeda dengan teori klasik yang dianut orang sejak ia mampu mengetahui dan berpikir. Hegel bukan orang pertama yang merumuskan prinsip-prinsip dialektika. Prinsip-prinsip tersebut berakar-dalam di dalam sejumlah ide yang sebentar-sebentar muncul di atas pentas pikiran manusia. Hanya saja ia tidak terumuskan berdasarkan suatu logika sempurna yang jelas dalam penjelasan dan pandangannya, dan yang desain-desain dan aturan-aturannya pasti, kecuali di tangan Hegel yang telah mendirikan segenap filsafat idealismenya di atas dasar dialektika tersebut. Kemudian Hegel menjadikannya sebagai penjelasan yang memadai tentang masyarakat, sejarah, bangsa, dan segala aspek kehidupan. Setelah Hegel, Marx menganut dialektika tersebut dan menempatkan filsafat materialismenya dalam bentuk dialektika murni. Jadi, dialektika modern, menurut klaim-klaim kaum dialektikawan, adalah hukum berpikir dan sekaligus realitas. Karena itu, dialektika modern adalah metode berpikir dan prinsip yang menjadi dasar eksistensi dan perkembangan realitas. Berkata Lenin: “Kalau ada kontradiksi-kontradiksi tertentu dalam ide-ide manusia, hal itu karena realitas yang dicerminkan pikiran kita mengandung kontradiksi-kontradiksi. Jadi, pertentangan sesuatu akan menghasilkan pertentangan ide, bukan sebaliknya.”[137] Berkata Marx: “Gerak pikiran tidak lain hanyalah cermin gerak realitas yang dipindahkan dan ditransformasikan di dalam benak manusia.“ [138]

Logika Hegel beserta dialektika dan kontradiksi yang menjadi tumpuannya, dianggap sebagai benar-benar bertentangan bagi logika klasik dan logika manusia umum. Hal ini karena logika umum mempercayai adanya prinsip non-kontradiksi, dan menganggapnya sebagai prinsip primer yang setiap pengetahuan harus berdasarkan padanya, dan sebagai prinsip niscaya yang dipegang teguh segala sesuatu dalam alam eksistensi, dan yang tanpa prinsip niscaya itu kebenaran tidak dapat dibuktikan. Logika Hegel sepenuhnya menolak perinsip non-kontradiksi. Ia selanjutnya tidak puas dengan penekanan kemungkinan kontradiksi. la bahkan menjadikan kontradiksi – sebagai ganti lawannya – sebagai prinsip primer setiap pengetahuan yang benar tentang alam, dan sebagai hukum umum yang menerangkan seluruh alam semesta melalui sekumpulan kontradiksi. Karena itu, setiap proposisi tentang alam dianggap sebagai afirmasi; dan pada waktu yang sama ia membentuk penolakannya sendiri. Afirmasi dan penolakan tersintesiskan dalam afirmasi baru. Jadi, metode kontradiktif dialektika yang menguasai alam mengandung tiga tahapan: tesis, antitesis dan sintesis – yakni afirmasi, penafian, dan penafian terhadap penafian. Menurut tuntutan-tuntutan metode dialektika ini, setiap sesuatu bersatu dengan lawannya. Ia sekaligus dikukuhkan dan ditolak, ada dan tidak ada. Logika Hegel mengklaim bahwa ia telah mengenyahkan – dengan dialektika yang dinisbahkannya kepada eksistensi – hal-hal pokok logika klasik. Menurut logika Hegel, hal-hal ini adalah sebagai berikut: Pertama, prinsip non-kontradiksi, yang menyatakan bahwa sesuatu tidak mungkin disifati dengan suatu sifat tertentu dan sekaligus disifati dengan lawan sifat tersebut. Kedua, prinsip identitas. Ini adalah prinsip yang menyatakan bahwa setiap esensi (mahiyyah) adalah bagaimana ia itu secara niscaya, yakni sesuatu tidak mungkin dilepaskan dari dirinya sendiri. Ketiga, prinsip diam dan beku dalam alam. Prinsip ini menyatakan negativitas dan diamnya alam, dan menolak dinamisnya alam materi.

Logika baru ini tidak memberikan tempat kepada prinsip pertama, karena segala sesuatu yang berkenaan dengan realitas logika ini didasarkan pada kontradiksi. Nah, kalau kontradiksi sudah mendominasi sebagai hukum umum, maka adalah wajar untuk menggugurkan prinsip lain logika klasik, yaitu prinsip non-kontradiksi. Segala sesuatu kehilangan identitasnya tepat pada waktu dikukuhkan, karena ia berada dalam proses menjadi terus-menerus. Dan selama kontradiksi adalah fondasi utama, tidaklah aneh jika kebenaran selalu berarti dua sesuatu yang kontradiksi. Karena kontradiksi seperti ini, yang berada di jantung setiap realitas, membangkitkan pertentangan terus-menerus dalam segala sesuatu, dan (karena) pertentangan berarti gerak dan progresi, maka alam selalu dalam keadaan aktif dan berkembang, dan selalu dalam keadaan bergerak maju dan menjadi. Inilah pukulan yang diklaim logika dialektika untuk diarahkan kepada logika manusia umum dan ide umum tentang alam yang menjadi tumpuan metafisika selama beribu-ribu tahun.

Metode baru untuk memahami eksistensi dapat dirangkum dalam asumsi tentang proposisi primer yang dipandangnya sebagai dasar. Lantas dasar itu berubah menjadi lawannya dikarenakan pertentangan di antara hal-hal kontradiktif dari kandungan internal. Setelah itu, dua hal yang berkontradiksi itu tersintesiskan dalam suatu kesatuan. Kesatuan ini lalu menjadi dasar dan titik-tolak baru. Demikianlah, tiga-progresi itu berulang-ulang terus tanpa berhenti dan tanpa batas. Ia bergerak bersama eksistensi dan merentang sejauh rentangan fenomena dan peristiwa-peristiwa eksistensi.

Hegel memulai dengan kategori-kategori dan ide-ide umum, kemudian menerapkan dialektika terhadapnya, dan menyimpulkannya dengan metode dialektik yang didasarkan pada kontradiksi yang tecermin pada tesis, antitesis dan sintesis. Tiga-serangkainya yang terkenal dan pertama dalam wilayah ini dimulai dari yang paling sederhana dan paling primer dari ide-ide itu: ide tentang eksistensi. Jadi, eksistensi itu ada. Ini merupakan afirmasi atau tesis. Hanya saja ia bukan sesuatu, karena ia dapat merupakan segala sesuatu. Lingkaran, segi empat, putih, hitam, tetumbuhan dan batu itu ada. Jadi, eksistensi bukan sesuatu yang pasti. Ia pada gilirannya adalah tidak maujud. Inilah antitesis yang dihasilkan oleh tesis tersebut. Demikianlah terjadinya kontradiksi dalam ide tentang eksistensi. Kontradiksi itu terlarutkan dalam sintesis eksistensi dan non-eksistensi yang menghasilkan maujud yang tidak sepenuhnya maujud, yakni menjadi dan bergerak. Demikianlah kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa eksistensi real itu menjadi. Itulah contoh yang kami kemukakan untuk menjelaskan bagaimana bapak dialektika modern bergerak dalam menyimpulkan ide-ide umum, dari yang lebih umum ke yang lebih khusus, dan dari yang lebih kosong dan lemah ke yang lebih berisi dan lebih dekat kepada realitas eksternal. Bagi Hegel, dialektika seperti ini dalam menggali ide-ide tersebut hanyalah cermin dialektika segala sesuatu yang aktual itu sendiri. Kalau suatu ide menimbulkan ide yang menentangnya, hal itu karena realitas yang digambarkan ide pertama tersebut menuntut realitas yang menentangnya.

Pandangan sekilas saja terhadap tesis, antitesis dan sintesis dalam isu eksistensi, yang merupakan tiga serangkainya Hegel yang terkenal, menunjukkan dengan jelas bahwa Hegel tidak memahami prinsip non-kontradiksi dengan baik ketika ia mengabaikannya dan lantas menggantinya dengan prinsip kontradiksi. Saya sendiri tidak tahu bagaimana Hegel dapat menjelaskan kontradiksi, atau penafian dan penetapan yang bersatu pada ide eksistensi. Sebenarnya tanpa diragukan lagi, ide tentang eksistensi adalah ide umum. Itulah sebabnya ia dapat merupakan segala sesuatu – ia dapat berupa tetumbuhan atau benda anorganik, benda putih atau hitam, lingkaran atau segi empat. Tetapi apakah ini berarti bahwa segala sesuatu yang berlawanan itu bersatu dalan ide tentang eksistensi tersebut, sehingga menjadi tempat pertemuan bagi hal-hal yang kontradiktif dan berlawanan? Tentu saja tidak. Bersatunya hal-hal yang berlawanan dalam satu subjek adalah satu hal, dan kemungkinan berlakunya satu ide pada hal-hal ini adalah sesuatu yang lain. Jadi, eksistensi adalah ide yang tak mengandung sesuatu pun yang hitam atau putih, seperti tetumbuhan atau benda anorganik. Ia dapat berwujud ini atau itu bukan ia adalah ini dan dalam waku yang sama adalah itu juga.[139]

Mari kita tinggalkan kategori-kategori Hegel, untuk mengkaji dialektika Marxisme dalam hal-hal pokoknya yang konstruksinya dibuat oleh Hegel sendiri. Hal-hal pokok itu ada empat: gerak perkembangan, kontradiksi-kontradiksi perkembangan, lompatan-lompatan perkembangan, dan penegasan adanya hubungan umum.

Gerak Perkembangan
Stalin menyatakan: “Dialektika, berbeda dengan metafisika, tidak menganggap alam sebagai keadaan diam, beku, dan stabil. Tetapi ia menganggapnya sebagai keadaan yang senantiasa bergerak, berubah, berkembang, dan dalam pembaruan terus-menerus. Di dalam alam selalu ada sesuatu yang melahirkan dan berkembang, dan sesuatu yang rusak dan hancur. Karena itu, kita ingin (menegakkan) metode dialektika, sehingga orang takkan puas dengan melihat peristiwa-peristiwa dari perspektif hubungan satu peristiwa dengan lainnya dan dari perspektif beradaptasinya yang satu terhadap lainnya, tetapi juga dari perspektif gerak, perubahan, perkembangan, kemunculan dan kelenyapan peristiwa-peristiwa itu.” [140] Berkata pula Engels: “Sebaiknya kita tidak melihat alam sebagai seolah-olah tersusun dari hal-hal yang lengkap. Tetapi seyogianya kita melihatnya sebagai seolah-olah tersusun dalam otak kita. Pasase ini (sampai ke komposisi mental) menunjukkan perubahan yang tak terputus-putus dari menjadi dan melenyap, di mana akhirnya cahaya pertumbuhan bersinar, meskipun terdapat hal-hal yang tampak maujud bersamaan dan lenyap kembali secara temporer.” [141]

Jadi, segala sesuatu tunduk kepada hukum perkembangan dan menjadi. Berkembang atau menjadi itu tidak ada yang membatasinya. Sebab, gerak adalah preokupasi (pendudukan) tak terbatas segenap eksistensi. Kaum dialektikawan mengklaim bahwa mereka sajalah yang menganggap alam dalam keadaan gerak dan berubah terus-menerus. Mereka mencela logika metafisis, atau metode tradisional dalam berpikir karena prosedurnya untuk mempelajari dan memahami segala sesuatu, karena logika atau metode ini menganggap alam dalam keadaan sepenuhnya diam dan beku. Karena itu, ia tidak merefleksikan realitas alam yang bergerak dan progresif. Jadi, menurut mereka, perbedaan antara logika dialektika – yang menganggap alam senantiasa dalam gerak dan progresi – dan logika formal seperti perbedaan antara dua orang yamg sama-sama ingin menjelajahi struktur terdalam makhluk hidup dalam berbagai perannya. Masing-masing melakukan eksperimen-eksperimennya terhadap makhluk hidup itu. Kemudian salah seorang di antara keduanya itu mengamati perkembangan dan geraknya yang terus-menerus dan menelaahnya berdasarkan seluruh perkembangannya. Sementara yang lain hanya mencukupkan diri pada eksperimen pertama seraya yakin bahwa makhluk hidup tersebut beku dalam strukturnya dan konstan dalam identitas dan realitasnya. Jadi, alam sebagai suatu keseluruhan adalah sama dengan makhluk hidup, seperti tetumbuhan ataupun hewan, dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Dengan demikian, pikiran tidak menyertai alam kecuali jika ia menyerupai alam dalam gerak dan perkembangannya.

Faktanya, hukum perkembangan dialektika, yang oleh dialektika modern dianggap sebagai salah satu ciri mendasarnya sendiri, sama sekali bukan hal baru dalam pemikiran manusia. Yang baru adalah watak dialektiknya, yang dari watak dialektiknya ini ia harus dilepaskan, seperti akan kita ketahui kelak. Hukum ini, dalam batas-batasnya yang benar, sesuai dengan logika umum, dan tidak ada hubungannya dengan dialektika, juga tidak ditemukan oleh dialektika. Untuk menerima hukum itu dan mengetahui bahwa metafisika menyadarinya sebelum (dialektika), kita hanya perlu melepaskan hukum ini dari bentuk kontradiksi dan dasar perdebatan yang menjadi dasar dialektika.

Seorang metafisis, dalam pandangan seorang dialektikawan, yakin bahwa alam itu beku, diam, tetap tak berubah dalam segenap aspeknya. Seolah-olah seorang metafisis tidak memiliki lagi pengetahuan apa pun serta kesadaran dan sensasi. Ia lantas menjadi tidak perseptif dan tak tahu akan berbagai perubahan dan transformasi dalam dunia alam yang disadari oleh semua orang bahkan anak-anak sekalipun. Adalah jelas bagi setiap orang bahwa mempercayai adanya perubahan dalam dunia alam adalah permasalahan yang tidak butuh studi-studi ilmiah terdahulu, dan juga bukan ajang perselisihan. Tetapi, yang pantas dikaji adalah watak perubahan tersebut dan sejauh mana kedalaman dan generalitasnya. Sebab, ada dua perubahan. Pertama, semata-mata suksesi, dan kedua, gerak. Sejarah filsafat meriwayatkan pergulatan yang tajam, bukan dalam masalah perubahan secara umum, akan tetapi dalam esensinya dan penjelasan filosofisnya yang akurat. Pergulatan itu berpusat pada jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah perubahan yang terjadi pada suatu benda – ketika benda itu mengarungi suatu jarak tertentu – hanyalah banyak pose yang segera mengikuti satu sama lain dalam banyak tempat, dan dengan begitu terciptalah dalam benak ide tentang gerak? Atau dapatkah perubahan tersebut dinisbahkan kepada satu perjalanan yang berangsur-angsur, yang di dalamnya tidak ada pose maupun diam? Apakah perubahan yang terjadi pada air, ketika temperatur air bertambah, berarti satu himpunan temperatur yang suksesif yang mengiringi satu sama lain? Atau ia satu temperatur yang menjadi lebih sempurna, dan yang berganti dan menjadi semakin tinggi derajatnya?

Demikianlah, kita menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut berkenaan dengan setiap macam perubahan yang membutuhkan penjelasan filosofis dengan salah satu dari dua cara yang diajukan oleh pertanyaan-pertanyaan tadi. Sejarah Yunani menceritakan bahwa sebagian aliran filsafat mengingkari gerak dan mengambil penjelasan lain tentang perubahan, yang menisbahkan perubahan kepada suksesi hal-hal yang diam. Salah satu tokoh aliran itu adalah Zeno[142] yang menyatakan bahwa gerak seorang musafir dari satu ujung bumi ke ujung bumi lainnya hanyalah deretan suksesi hal-hal yang diam. Zeno tidak melihat (gerak) berangsur-angsur dan proses menyempurna eksistensi. Tetapi ia percaya bahwa setiap fenomena itu statis dan bahwa perubahan terjadi melalui suksesinya hal-hal yang statis, bukan melalui perkembangan dan (gerak) berangsur-angsurnya satu benda. Berdasarkan itu, gerak manusia menempuh jarak tertentu menjadi ungkapan berhentinya pada titik mula jarak tersebut, kemudian pada titik kedua lantas pada titik ketiga, dan seterusnya. Kalau kita melihat dua orang, yang satu berhenti pada titik tertentu, dan yang lain berjalan menuju arah tertentu, maka keduanya, menurut pendapat Zeno, adalah berdiri dalam diam. Hanya saja yang pertama tetap diam pada titik tertentu, sedangkan yang lain memiliki diam sebanyak titik yang dilewatinya. Ia dalam setiap saat berada dalam ruang tertentu, dan sekaligus tidak berbeda sama sekali dengan orang pertama yang berhenti pada titik tertentu. Jadi kedua-duanya diam, meskipun diamnya yang pertama terjadi terus-menerus, dan diamnya yang lain segera berganti ke diam yang lain pada titik lain dari jarak itu. Karenanya perbedaan antara kedua diam itu adalah perbedaan antara diam yang sebentar dan diam yang lama.

Inilah yang diupayakan untuk dijelaskan oleh Zeno dan sebagian filosof Yunani lainnya. Ia membuktikan cara-pandangnya dengan empat dalil terkenalnya yang tidak mendapatkan kemajuan dan keberhasilan dalam lapangan filsafat. Karena, aliran Aristoteles – aliran filsafat terbesar di zaman Yunani – mempercayai gerak, menolak dalil-dalil tersebut, dan membuktikan adanya gerak dan perkembangan dalam fenomena-fenomena dan atribut-atribut alam. Hal ini berarti bahwa fenomena alami kiranya tidak sepenuhnya ada pada satu saat. Tetapi, ia ada secara berangsur-angsur dan terus memperoleh kemungkinan adanya sedikit demi sedikit. Dengan demikian, terjadilah perkembangan dan penyempurnaan eksistensi. Ketika temperatur air berlipat ganda, ini tidak berarti bahwa ia setiap saat menerima derajat tertentu temperatur yang sepenuhnya maujud, kemudian lanyap dan kemudian tercipta lagi derajat lain temperatur. Tetapi esensi kegandaan yang ada pada satu temperatur itu sudah ada dalam air tersebut tapi belum sepenuhnya, dalam arti ia tidak memperoleh dalam saat pertama segenap daya dan kemungkinannya. Karena itu, ia mulai memperoleh segenap kemungkinannya dengan berangsur-angsur, dan sesudah itu bergerak maju dan berkembang. Dengan bahasa filsafat, ia adalah gerak progresif terus-menerus. Adalah jelas bahwa proses penyempurnaan atau gerak berkembang tidak mungkin dipahami selain dengan arti itu. Adapun suksesi fenomena-fenomena – yang masing-masingnya memaujud setelah yang lain dan, melalui pelenyapannya sendiri, membuka jalan bagi fenomena baru – itu bukanlah pertumbuhan dan penyempurnaan. Pada gilirannya, ia bukan gerak, tetapi ia adalah semacam perubahan umum.

Jadi, gerak adalah gerak maju eksistensi sedikit demi sedikit dan perkembangan sesuatu ke tingkat yang diizinkan oleh kemungkinan- kemungkinannya. Karena itu, ide filosofis gerak terdefinisikan sebagai aktualisasi bertahap potensialitas sesuatu.[143] Definisi ini berdasarkan ide tentang gerak yang telah kami kemukakan di atas. Gerak, seperti telah kita ketahui, bukan pelenyapan mutlak sesuatu dan adanya sesuatu lain yang baru. Ia adalah progresi sesuatu dalam tatanan eksistensi. Jadi, setiap gerak harus mengandung satu eksistensi terus-menerus, sejak memulai hingga berhenti. Eksistensi inilah yang bergerak, dalam arti bahwa (ia bergerak maju) berangsur-angsur dan terus semakin “kaya”. Setiap tahap adalah tahapan dari tahapan-tahapan satu eksistensi tersebut. Dan tahapan-tahapan ini hanya ada karena gerak. Jadi, sesuatu yang bergerak atau suatu eksistensi yang berkembang tidak memiliki tahapan-tahapan ini sebelum ia bergerak. Kalau tidak demikian, tentu tidak ada gerak. [144] Tetapi, pada titik mula, hal itu atau eksistensi itu terepresentasikan kepada kita sebagai potensialitas dan kemungkinan-kemungkinan. Dengan geraklah, akan terpenuhi kemungkinan-kemungkinan tersebut. Dalam setiap tahap gerak itu, kemungkinan diganti realitas dan potensialitas diganti aktualitas. Maka, air, sebelum ditaruh di atas api, tidak memiliki temperatur terinderai itu selain kemungkinannya. Kemungkinan yang dimilikinya ini bukanlah kemungkinan derajat tertentu temperatur, tetapi mencakup seluruh derajat temperatur yang pada akhirnya menyebabkan keadaan uapnya. Ketika air mulai menerima pengaruh panas api, mulailah temperaturnya berubah dan berkembang. Artinya bahwa potensialitas-potensialitas dan kemungkinan yang dimiliki air berganti menjadi realitas. Air, dalam setiap tahapan geraknya, keluar dari kemungkinan ke aktualitas. Karena itu, potensialitas dan aktualitas bergandengan dalam seluruh tahap geraknya. Dan pada saat segala kemungkinan habis, berhentilah gerak. Jadi, dalam setiap tahapan gerak itu ada dua: dari satu sisi, gerak adalah aktual dan real, karena langkah yang dicatat oleh suatu tahapan ada secara real dan aktual; dari sisi lain, ia adalah kemungkinan dan potensialitas langkah-langkah progresif lain yang diharapkan direkam oleh gerak pada tahapan-tahapan barunya.

Jadi, kalau kita perhatikan air dalam contoh di atas pada titik tertentu gerak, kita mendapatkan bahwa air itu benar-benar panas pada temperatur 80°C, misalnya. Tetapi, pada waktu yang sama, ia mengandung kemungkinan melampaui derajat tersebut dan potensi maju ke derajat yang lebih tinggi. Aktualitas setiap langkah pada tahap tertentunya berkaitan dengan potensinya untuk melenyap. Mari kita ambil lagi contoh gerak yang lebih dalam. Ia (pada mulanya) ovum, kemudian zygote (bakal janin), janin, kemudian bayi, lantas remaja, lalu dewasa. Makhluk hidup ini, pada tahapan tertentu geraknya, adalah sperma aktual. Tetapi pada waktu yang sama, ia adalah sesuatu lain yang tidak seperti sperma dan lebih tinggi, yaitu secara potensial adalah bayi. Ini berarti bahwa gerak pada makhluk hidup itu sedemikian, sehingga bercampur di dalamnya aktualitas dan potensialitas. Kalau saja dalam makhluk hidup itu tidak ada potensialitas dan kemungkinan untuk suatu tahap baru, tentu tak akan ada gerak. Dan kalau saja tidak ada sesuatu pun yang aktual, tentu itu adalah ketiadaan murni. Tidak ada gerak juga. Jadi, perkembangan selamanya terdiri atas sesuatu yang aktual dan sesuatu yang potensial. Demikianlah, gerak terus-menerus, selama sesuatu mengandung aktualitas dan sekaligus potensialitas, mengandung juga eksistensi dan sekaligus kemungkinan. Kalau kemungkinan tak ada, dan tidak ada lagi kapasitas untuk ke tahap baru, berakhirlah usia gerak.

Inilah pengertian aktualisasi berangsur dari potensialitas sesuatu, atau bersatunya potensialitas dan aktualitas dalam gerak. Inilah arti filsafat yang tepat tentang gerak yang diberikan metafisika. Materialisme dialektik telah mengambil arti ini, tetapi ia tidak memahaminya dan tidak mengetahuinya secara benar. Ia lantas mengklaim bahwa gerak tidak terjadi kecuali melalui kontradiksi yang terus-menerus dalam jantung sesuatu, seperti akan kita ketahui sebentar lagi.

Setelah itu, tibalah giliran peranan filsafat Islam di tangan filosof Muslim besar, Sadruddin Asy-Syirazi [145]. Ia membuat teori gerak umum. Ia membuktikan secara filosofis bahwa gerak, dalam artinya yang akurat yang telah kami kemukakan, tidak hanya mengenai fenomena alam dan permukaan aksidentalnya saja. Tetapi gerak fenomena seperti itu tidak lain hanyalah satu aspek dari perkembangan yang mengungkapkan aspek yang lebih dalam. Yaitu, perkembangan pada jantung alam dan gerak substansial alam. Hal ini demikian, sebab gerak terluar fenomena berarti kebaruan dan kerusak-hancuran, maka sebab langsungnya haruslah sesuatu yang terbarui juga yang esensinya juga tak tetap karena penyebab apa yang tetap itu tetap, dan penyebab apa yang dapat diubah dan diperbarui adalah dapat diubah dan diperbarui. Maka penyebab langsung gerak tak mungkin sesuatu yang tak bergerak. Kalau tidak demikian, bagian-bagian gerak tak akan sirna tetapi akan menjadi diam. [146]

Filosof Syirazi tidak hanya membuktikan gerak substansial saja. Ia bahkan menjelaskan bahwa prinsip gerak pada alam adalah salah satu prinsip filosofis niscaya metafisika, dan menerangkan, berdasarkan prinsip ini, hubungan yang baru dengan yang lama, [147] dan sejumlah problem filsafat yang lain, seperti persoalan waktu, [148] persoalan dapat dipisah-pisahkannya materi, dan hubungan jiwa dengan badan. [149]

Nah, kalau sudah demikian, dapatkah orang menuduh bahwa teologi dan metafisika menyatakan bahwa alam beku dan diam? Pada hakikatnya, tuduhan itu tak punya alasan apa pun kecuali karena materialisme dialektik tidak memahami gerak dalam arti filsafatnya yang benar. Lantas apakah yang membedakan antara gerak dan hukum umumnya dalam filsafat kita, dan teori gerak dialektik dalam materialisme dialektik? Sebenarnya, perbedaan antara dua gerak tersebut terangkum dalam dua hal dasariah berikut: Hal pertama adalah bahwa gerak, dalam arti dialektiknya, berdasarkan kontradiksi dan pergulatan di antara hal-hal kontradiktif. Kontradiksi dan pergulatan seperti ini adalah daya internal yang menyebabkan gerak dan menciptakan perkembangan. Hal ini berbeda sama sekali dengan konsep filsafat kita tentang gerak. Konsep kita menganggap gerak sebagai perjalanan dari satu tahap ke tahap yang berlawanan tanpa bersatunya tahap-tahap yang berlawanan tersebut dalam satu dari tahapan-tahapan gerak. Agar hal ini menjadi jelas, kita harus membedakan antara potensialitas dan aktualitas dan menganalisis kesalahan Marxis yang bertumpu pada anggapan bahwa potensialitas dan aktualitas adalah unit-unit yang kontradiktif. Gerak tersusun dari potensialitas dan aktualitas. Potensialitas dan aktualitas bergandengan dalam berbagai tahap gerak. Tidak mungkin bagi alam gerak untuk memaujud tanpa salah satu dari dua elemen itu. Jadi, eksistensi dalam setiap tahap progresinya ke kesempurnaan mengandung derajat aktual tertentu dan derajat yang lebih tinggi daripada yang berada dalam potensialitas. Pada saat ia beradaptasi dengan derajat (aktual tertentu) tersebut, ia berjalan menaik dan melangkahi derajat kininya.

Marxisme membayangkan bahwa ini adalah semacam kontradiksi, bahwa eksistensi progresif mengandung sesuatu dan hal yang berlawanan, dan bahwa kontradiksi antara dua lawan itu adalah yang melahirkan gerak. Berkata Engels: “Situasinya akan berbeda sama sekali jika kita melihat segala yang ada ini dalam keadaan bergerak, berubah, dan saling mempengaruhi satu terhadap lainnya; karena kita mendapatkan diri kita, pada awal posisi seperti itu, tenggelam dalam kontradiksi-kontradiksi. Gerak berkontradiksi dengan fakta bahwa perubahan mekanik paling sederhana pada tempat tidak mungkin terjadi kecuali dengan perantaraan eksistensi benda tertentu di tempat tertentu di saat tertentu, dan di tempat lain pada saat yang sama. Dengan kata lain, maujud dan tak maujudnya ada sekaligus pada satu tempat. Maka, suksesi bersinambung dari kontradiksi ini dan rekonsiliasi temporer kontradiksi ini dengan suksesi ini adalah apa yang disebut gerak.”[150]

Lihatlah, betapa tidak masuk akalnya ide gerak dalam materialisme dialektik, yang diuraikan Engels berdasarkan kontradiksi, tanpa tahu bahwa jika dua derajat dari gerak itu benar-benar ada pada tahap tertentu gerak, tentu tidak mungkin ada perkembangan; dan pada gilirannya, bekulah gerak itu. Karena, gerak adalah suatu perpindahan maujud dari satu derajat ke derajat lainnya, dari satu batas ke batas lain. Nah, kalau semua batas dan titik itu benar-benar tersatukan, tentu saja tidak akan ada gerak. Maka, adalah perlu untuk tidak menafsirkan gerak kecuali dengan prinsip non-kontradiksi. Kalau tidak, kalau kontradiksi itu boleh, maka adalah hak kita untuk mempertanyakan: apakah gerak itu mengandung perubahan dalam derajat-derajat sesuatu yang progresif, dan pergantian batas-batas dan kualitas sesuatu itu atau tidak? Kalau gerak tidak mengandung perubahan atau kebaruan apa pun, maka ia bukan gerak, tetapi ia adalah kebekuan dan kediaman. Dan apabila Marxisme mengakui kebaruan dan perubahan gerak, untuk apa kebaruan ini, jika semua kontradiksi itu benar-benar ada dan tak ada pertentangan di antara mereka? Analisis tersederhana terhadap gerak menunjukkan kepada kita bahwa gerak adalah salah satu fenomena yang mencegah dan membuat mustahil bersatunya hal-hal yang kontradiktif dan yang berlawanan, sesuatu yang menyebabkan maujud progresif berubah terus-menerus dalam derajat dan batasnya. Kontradiksi atau dialektika yang diduga dalam gerak hanyalah disebabkan oleh kekacauan antara potensialitas dan aktualitas.

Jadi, gerak, dalam setiap tahapan, tidak mengandung dua derajat atau dua kontradiksi aktual. Tetapi ia mengandung derajat tertentu dalam aktualitas dan derajat lain dalam potensialitas. Karena itu, gerak adalah aktualisasi berangsur-angsur potensialitas. Tetapi pengetahuan filosofis yang tidak memadai itulah yang menjadi sebab pemutarbalikan ide tentang gerak. Demikianlah menjadi jelas bahwa hukum non-kontradiksi yang berkontradiksi dan penafsiran gerak dengan hukum itu, dan segala kekacauan di sekitar hukum itu, dan ketaksenangan serta penghinaan kepada pemikiran metafisis yang percaya kepada prinsip non-kontradiksi, semua ini dinisbahkan kepada ide filosofis tentang gerak yang telah kami kemukakan di atas dan yang disalahpahamkan Marxisme. Karena itu, Marxisme menganggap bergandengnya potensialitas dengan aktualitas atau bersatunya keduanya pada semua tahapan gerak sebagai bersatunya hal-hal yang berlawanan secara aktual, kontradiksi terus menerus dan pergulatan di antara hal-hal yang kontradiksi. Karena itu, Marxisme lantas menolak prinsip non-kontradiksi dan menyingkirkan segenap logika umumnya. Sebagian metafisikawan telah mengupayakan sesuatu yang sama dalam sejarah filsafat kuno, tetapi dengan satu perbedaan antara keduanya: Marxisme hendak membenarkan kontradiksi dengan upaya tersebut. Adapun mereka (kaum metafisikawan kuno itu) berusaha membuktikan penafian kemungkinan gerak, sebab gerak mengandung kontradiksi. Dalam hal ini, Fakhruddin Ar-Razi [151] juga berusaha, yaitu menjelaskan bahwa gerak adalah progresi berangsur, yakni adanya sesuatu secara berangsur-angsur. Ia mengklaim bahwa progresi berangsur eksistensi adalah tak mungkin, karena itu mendatangkan suatu kontradiksi. Dan para filosof telah menjelaskan bahwa (ide gerak ini) muncul karena salah memahami makna progresi berangsur dan eksistensi berangsur.

Karena kita sekarang telah mengetahui dengan jelas bahwa gerak bukanlah konflik di antara hal-hal yang aktual yang kontradiksi selamanya, tetapi ia adalah terjeratnya potensialitas dengan aktualitas, dan keberangkatan sesuatu secara sedikit demi sedikit dari satu keadaan ke keadaan lainnya, maka dapatlah kita mengetahui bahwa gerak tidak mungkin mandiri (tidak membutuhkan) sebab eksternal; dan bahwa eksistensi progresif tidak berangkat dari aktualitas kecuali karena sebab luar, dan konflik di antara hal-hal yang berkontradiksi bukanlah sebab internal keberangkatan tersebut. Karena, dalam gerak tak ada kesatuan hal-hal yang berkontradiksi dan hal-hal yang berlawanan yang dari sini muncul gerak. Jadi, selama pada permulaan gerak, eksistensi progresif tidak memiliki derajat-derajat atau jenis-jenis yang akan dicapainya melalui tahapan-tahapan gerak, dan selama ia secara internal tidak melibatkan sesuatu kecuali kemungkinan derajat-derajat itu dan kesiapan untuk derajat-derajat ini, maka harus ada sebab untuk mengeluarkan eksistensi itu dari potensialitas ke aktualitas, supaya kemungkinannya yang ada di dalam maujud terdalamnya berubah menjadi realitas.

Dengan demikian, kita tahu bahwa hukum umum gerak pada alam membuktikan dengan dirinya sendiri keniscayaan adanya prinsip di luar batas batas material alam. Hal ini karena, gerak, menurut hukum itu, adalah cara (proses) adanya alam. Jadi, adanya alam adalah bentuk lain gerak dan progresi berangsur alam, dan juga keberangkatan terus-menerusnya dari potensial ke aktualitas. Teori mandirinya gerak dikarenakan kontradiksi-kontradiksi internalnya yang konfliknya di antara satu sama lain menghasilkan gerak, dalam pandangan Marxis, sudah rubuh, karena memang tidak ada konflik dan kontradiksi. Karena itu, harus ada kausasi, dan kausasi itu harus dengan sesuatu di luar batas-batas alam. Karena, apa pun yang ada dalam alam adalah sedemikian sehingga eksistensinya adalah gerak dan progresi berangsur, karena, menurut hukum umum gerak, tidak ada ketetapan di dalam alam ini. Jadi, dalam mencari sebab (primer) tidak mungkin kita berhenti pada sesuatu yang alami.

Hal kedua, gerak, menurut pandangan Marxis, tidak berhenti pada batas-batas realitas objektif alam. Tetapi, ia mencakup realitas-realitas dan pikiran-pikiran manusia. Jadi, sebagaimana realitas luar materi berkembang dan tumbuh, demikian pula kebenaran-kebenaran dan persepsi mental tunduk kepada hukum perkembangan dan pertumbuhan yang berlaku pada dunia alam. Berdasarkan hal ini, dalam pandangan Marxisme tentang ide tidak ada kebenaran mutlak. Berkata Lenin: “Jadi, dialektika, dalam pandangan Marx, adalah ilmu hukum-hukum umum gerak, baik di dunia luar maupun dalam pikiran manusia.” [152] Dalam pandangan kita, hukum gerak umum adalah kebalikannya. Ia adalah hukum alami yang menguasai alam materi dan tidak mencakup dunia pikiran dan pengetahuan. Tidak mungkin terdapat perkembangan, dalam arti filosofisnya yang akurat, dalam kebenaran atau pengetahuan, seperti telah kami terangkan dengan jelas dalam pembahasan pertama (“Teori Pengetahuan”).

Maksud kita sekarang mengkaji gerak dialektik yang diduga ada dalam pengetahuan dan kebenaran adalah mengemukakan usaha-usaha pokok yang diambil Marxisme untuk membuktikan dialektika pikiran dan geraknya. Dalam hal ini ada tiga upaya. Upaya pertama adalah bahwa pikiran dan pengetahuan adalah refleksi-refleksi realitas objektif. Agar pikiran dan pengetahuan itu sesuai dengan realitas objektif, keduanya harus mencerminkan hukum-hukum, perkembangan dan geraknya. Alam berkembang dan berubah terus-menerus sesuai hukum gerak. Tidak mungkin kebenaran menggambarkan alam dalam akal manusia kalau ia adalah beku dan diam. Tetapi kebenaran itu ada di dalam pikiran kita jika pikiran itu sedemikian sehingga tumbuh dan berkembang secara dialektik, yang pada gilirannya menyebabkan pikiran kita tentang sesuatu sesuai dengan sesuatu itu sendiri. Ada baiknya di sini kita perhatikan teks-teks berikut:

“Realitas tumbuh, dan pengetahuan yang timbul dari realitas itu mencerminkannya, tumbuh sebagaimana ia tumbuh, dan menjadi elemen efektif pertumbuhannya. Pikiran tidak menghasilkan subjeknya. Tetapi ia hanyalah mencerminkan dan menggambarkan realitas objektif dengan menyingkapkan hukum-hukum pertumbuhan realitas ini.”[153]

“Perbedaan antara logika formal dan logika dialektik terbatas pada fakta bahwa keduanya menghadapi secara berbeda-beda isu pokok logika, yaitu masalah kebenaran. Dari pandangan logika dialektik, kebenaran bukanlah sesuatu yang diberikan untuk sekali ini saja. Ia bukanlah sesuatu yang sempurna, terdeterminasi, beku dan diam. Tetapi itu berbeda dengan hal ini. Kebenaran adalah proses pertumbuhan pengetahuan manusia tentang alam objektif.” [154] “Logika dialektik Marxis membahas sesuatu yang dipelajarinya dari segi sejarah karena ia adalah proses pertumbuhan dan perkembangan. Ia sesuai dengan sejarah umum pengetahuan dan sejarah ilmu.” [155]

Tidak diragukan lagi bahwa pikiran dan pengetahuan menggambarkan realitas objektif dalam bentuk tertentu. Tetapi, ini tidak berarti bahwa di dalam keduanya tecermin gerak realitas objektif dan, maka, bahwa tumbuh dan bergerak keduanya mengikuti pertumbuhan dan geraknya. Hal ini karena:

Pertama, dunia alam – alam perubahan, kebaruan dan gerak – niscaya mengandung hukum-hukum umum tetap. Inilah yang tidak mungkin diingkari oleh logika apa pun, kecuali jika ia mengingkari dirinya sendiri. Suatu logika bukanlah logika, kecuali kalau ia mendasarkan metode berpikirnya dan pemahamannya terhadap alam pada hukum-hukum tertentu yang tetap. Bahkan dialektika sendiri menganggap bahwa sejumlah hukum menguasai alam dan selalu mengaturnya. Di antaranya adalah hukum gerak. Jadi, di dalam dunia alam, baik tunduk kepada hukum manusiawi umum atau kepada hukum dialektika, terdapat hukum-hukum yang tetap yang mencerminkan kebenaran-kebenaran yang tetap di dunia pikiran dan lapangan pengetahuan manusia.

Kaum dialektikawan, berkenaan dengan keberatan ini, harus: (1) menganggap hukum gerak itu konstan dan permanen, jadi kebenaran langgeng itu ada; (2) hukum yang sama ini terevaluasi kembali. Hal ini berarti bahwa gerak itu tidak konstan, bahwa ia dapat berganti menjadi diam, dan bahwa kebenaran, setelah bergerak, kembali diam. Pada salah satu kasus, dialektika terpaksa harus mengakui adanya suatu kebenaran ketiga.

Kedua, pengetahuan dan kebenaran tidak mencerminkan karakteristik-karakteristik aktual alam. Dalam “Teori Pengetahuan”, kami telah menjelaskan bahwa akal manusia mempersepsi ide-ide dan watak-watak hal-hal objektif. Ide-ide tentang hal-hal yang tecermin di dalam benak berbeda dengan realitas luar dalam eksistensi dan karakteristiknya. Karena itu, ilmuwan dapat membentuk ide ilmiah yang akurat tentang mikroba, susunannya, aktivitas tertentunya, dan interaksinya dengan badan manusia. Tetapi bagaimanapun akurat dan rincinya ide tersebut, di dalamnya tidak terdapat sifat-sifat mikroba eksternal, dan tidak dapat memainkan peranan yang dimainkan oleh realitas objektifnya sendiri. Seorang fisikawan dapat mendapatkan ide ilmiah yang akurat tentang atom radium dan menentukan bobot atomiknya, jumlah kandungan elektronnya, muatan negatif dan positifnya, kuantitas radiasi yang dipancarkannya, dan proporsi ilmiah akurat radiasi ini terhadap radiasi yang dipancarkan oleh atom-atom uranium, dan juga rincian-rincian dan informasi lainnya. Tetapi, ide ini, tak soal dengan kedalamannya atau pengungkapan mendalamnya tentang rahasia-rahasia elemen radium, tidak akan mendapatkan sifat-sifat realitas objektif, yakni sifat-sifat radium, juga tidak akan memancarkan radiasi yang dipancarkan atom-atom dan elemen ini. Akibatnya, ide kita tentang atom takkan berkembang menjadi radiasi, sebagaimana dilakukan beberapa atom dalam alam eksternal.


Demikianlah, menjadi jelas bahwa hukum-hukum dan sifat-sifat realitas objektif tidak terdapat pada ide itu sendiri. Di antara hukum-hukum dan sifat-sifat itu adalah gerak. Jadi, meskipun itu satu sifat umum materi dan salah satu hukumnya yang pasti, tetapi kebenaran di dalam akal kita atau ide yang mencerminkan alam tidak mengandung sifat tersebut. Suatu ide yang sahih tidak perlu mencerminkan realitas objektif dalam sifat-sifat dan berbagai macam aktivitasnya. Kalau tidak demikian, kita tidak akan memiliki ide yang sahih. Jadi, metafisika, meski menganggap bahwa alam adalah dunia gerak dan berkembang yang permanen, berbeda dengan dialektika. Metafisika menolak aplikasi hukum gerak pada ide-ide mental, karena di dalam ide-ide seperti itu tidak ada semua sifat realitas objektif. Ini tidak berarti bahwa jika kaum metafisikawan menciptakan ide tentang alam pada salah satu tahapannya, maka mereka akan membekukan pikiran mereka, menghentikan penelitian mereka dan menganggap ide tersebut memadai untuk mengungkapkan misteri-misteri terdalam alam dalam segenap tahapannya. Kita tidak tahu seorang pandai yang hanya mencukupkan, misalnya, dengan ide ilmiahnya yang diciptakannya tentang ovum, sehingga tidak meneliti perjalanan makhluk hidup pada tahapan keduanya, dan mencukupkan diri dengan ide ilmiah yang dibuatnya tentangnya pada tahapan tertentu itu.

Jadi, kita mempercayai bahwa alam berkembang, dan kita mendapati niscayanya mempelajarinya dalam setiap tahapan pertumbuhan dan geraknya, dan membuat ide tentangnya. Dan ini bukanlah sesuatu yang terbatas pada dialektika. Hanya, yang ditolak metafisika adalah adanya gerak dinamis alami pada setiap ide mental. Maka metafisika menuntut pembedaan antara ovum dan ide ilmiah kita tentang ovum. Ovum tumbuh dan berkembang secara alami. Kemudian ia menjadi zygote, dan kemudian janin. Adapun ide kita tentangnya adalah konstan. Tidak mungkin ia menjadi sperma dalam keadaan apa pun. Untuk mengetahui apakah sperma itu, kita harus membuat ide lain berdasarkan pengamatan terhadap ovum pada tahap baru. Jadi, perumpamaan pikiran tentang perkembangan ovum ialah seperti film yang mengambil sejumlah gambar yang sambung-menyambung. Gambar pertama dalam film bukanlah gambar yang berkembang dan bergerak. Tetapi itu adalah suksesi di antara gambar yang membentuk film. Berdasarkan hal itu, maka pengetahuan manusia tidak mencerminkan realitas, kecuali karena film mencerminkan macam-macam gerak dan aktivitas yang dihimpun oleh film tersebut. Jadi, pengetahuan itu tidak berkembang atau tumbuh secara dialektik mengikuti realitas yang tecermin. Tetapi, adalah niscaya membentuk pengetahuan yang konstan mengenai setiap tahapan realitas.

Mari kita ambil contoh lain, yaitu elemen uranium yang mempertunjukkan gelombang alfa, beta dan gamma, dan berangsur-angsur menjadi elemen lain yang berat atomnya lebih ringan daripada uranium itu, yaitu elemen radium yang pada gilirannya berangsur-angsur berubah menjadi elemen yang lebih ringan daripada radium, dan terus melalui (berbagai) tahap sampai menjadi timah hitam. Ini adalah realitas objektif yang dijelaskan ilmu pengetahuan tersebut. Nah, apakah yang dimaksudkan Marxisme dengan perkembangan dialektik ide mental atau kebenaran sesuai dengan perkembangan realitas? Apabila Marxisme memaksudkan hal ini bahwa ide kita tentang uranium itu sendiri berkembang secara dialektik dan alami mengikuti perkembangan uranium, sehingga memancarkan gelombang-gelombang tertentu uranium dan berubah pada akhirnya menjadi timah hitam, maka ini lebih dekat kepada omongan canda daripada pembicaraan filosofis yang rasional. Kalau Marxisme memaksudkan hal ini dengan menyatakan bahwa orang tidak boleh melihat uranium sebagai elemen beku yang tidak bergerak, tetapi sebagai sesuatu yang melanjutkan perjalanannya dan yang tentang setiap tahapnya orang membuat ide, maka ini akan mendekati diskusi; (karena) ia tak memaksudkan gerak dialektik kebenaran dan ide. Setiap ide yang kita ciptakan tentang tahapan tertentu perkembangan uranium adalah konstan dan tidak berkembang secara dialektik ke ide lain. Tetapi ditambahkan padanya ide baru. Pada akhir proses ini kita memiliki sejumlah ide dan kebenaran konstan, yang masing-masing menggambarkan derajat tertentu realitas objektif. Nah, mana dialektika dalam pikiran? Mana pula ide yang berkembang secara alami mengikuti perkembangan luar? Inilah semua yang berhubungan dengan upaya (penjelasan) dan penolakan Marxisme tentangnya.

Upaya kedua yang dibuat Marxisme untuk membuktikan dialektika dan perkembangan pikiran adalah bahwa pikiran atau pengetahuan adalah salah satu fenomena alam dan merupakan produk lebih tinggi materi dan pada gilirannya adalah bagian dari alam. Ia diatur oleh undang-undang yang menguasai alam. Ia berubah dan tumbuh secara dialektik, sebagaimana dilakukan semua fenomena alam.

Kami harus mengingatkan bahwa pembuktian ini berbeda dengan pembuktian terdahulu. Dalam pembuktian terdahulu, Marxisme berupaya membuktikan adanya gerak dalam pikiran disebabkan karakter pikiran adalah refleksi realitas yang bergerak. Refleksi tidak akan sempurna, jika realitas bergerak itu tidak tecermin dalam pikiran dalam gerak dan pertumbuhannya. Namun dalam upaya ini, Marxisme berupaya menunjukkan bahwa gerak dialektik pikiran disebabkan oleh karakter pikiran sebagai bagian dari alam. Hukum-hukum dialektika berlaku pada materi dan sekaligus pengetahuan, dan mencakup baik realitas maupun pikiran. Karena, keduanya adalah suatu aspek dari alam. Jadi, pikiran atau kebenaran tumbuh dan berkembang, bukan saja karena ia mencerminkan suatu realitas yang berkembang dan tumbuh, karena ia sendiri adalah bagian dari alam yang berkembang sesuai hukum-hukum dialektika. Dialektika, selain memastikan adanya gerak dinamis, yang berdasarkan kontradiksi internal di dalam maujud terdalam setiap fenomena objektif alam, juga memastikan adanya gerak dinamis dalam fenomena-fenomena pikiran dan pengetahuan. Mari kita telaah apa yang berkaitan dengan subjek ini dalam teks-teks berikut: “Maujud adalah gerak materi yang tunduk kepada hukum-hukum. Sebab, pengetahuan kita hanyalah produk superior alam. Oleh karena itu, ia hanyalah mencerminkan hukum-hukum ini.” [156]

“Kalau kita pertanyakan alam pikiran itu, alam kesadaran dan sumber keduanya, kita dapatkan bahwa manusia itu sendiri adalah produk alam. Ia tumbuh dalam suatu komumtas tertentu dan bersama tumbuhnya komunitas tersebut. Ketika inilah ia menjadi jelas bahwa produk-produk akal manusia yang adalah juga, pada analisis akhir, merupakan produk-produk alam, bukan berada dalam kontradiksi, tetapi dalam kesesuaian dengan seluruh alam yang saling berhubungan.”[157]

Titik pokok yang menjadi tumpuan pembuktian ini adalah mengambil penjelasan materialis murni terhadap pengetahuan yang dikenakan pada pengetahuan alam, termasuk hukum gerak. Kami akan menganalisis titik pokok ini pada bagian tersendiri dari pembahasan ini. Tetapi, di sini kita coba pertanyakan kepada kaum Marxis: Apakah penjelasan materialistik tentang pikiran atau pengetahuan dikhususkan bagi pikiran-pikiran kaum dialektikawan saja? Atau seluruh pikiran orang-orang non-dialektikawan, yaitu orang-orang yang tidak mempercayai dialektika? Kalau ini mencakup segenap pikiran – seperti dipastikan filsafat materialistik – maka semua pikiran harus tunduk kepada hukum-hukum perkembangan umum materi. Dan karena itu, secara aneh menjadi kontradiksi bagi Marxisme untuk menuduh pemikiran-pemikiran lain sebagai beku dan mandek, dan menganggap pemikirannya sebagai satu-satunya yang berkembang dan tumbuh dikarenakan fakta bahwa ia bagian dari alam yang progresif, padahal segenap pikiran manusia, menurut ide materialisme, tidak lain hanyalah produk alam. Yang terkandung pada masalah tersebut adalah bahwa para pengikut logika umum atau logika formal – seperti yang mereka klaim – tidak mempercayai perkembangan dialektik pikiran, seperti dilakukan kaum Marxis. Tetapi, kapan kepercayaan terhadap suatu hukum alam itu menjadi suatu kondisi bagi adanya hukum itu? Bukankah tubuh Pasteur, [158] yang menemukan mikroba itu dan tubuh Ibn Sina, yang tak tahu apa pun tentang mikroba, sama-sama bereaksi terhadap hasil-hasil (germs [159]), sesuai dengan hukum-hukum alam yang menguasai hasil-hasil (germs)? Demikian pula halnya dengan setiap hukum alam. Jadi, kalau dialektika adalah hukum alam yang berlaku pada pikiran dan juga materi sekaligus, maka ia berlaku pada (semua) pikiran manusia juga. Dan jika dalam pengungkapannya ada sesuatu, maka ia hanya kecepatan gerak berkembang saja.

Upaya ketiga adalah mengeksploitasi kemenyeluruhan dan perkembangan ilmiah di berbagai lapangan dan menganggapnya sebagai dalil empirik atas dialektika dan perkembangan pikiran. Sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri – dalam pandangan Marxisme – adalah sejarah gerak dialektik pikiran yang semakin sempurna dalam perjalanan zaman. Berkata Kedrov: “Dan kebenaran mutlak, hasil dari kebenaran-kebenaran nisbi, adalah gerak historik perkembangan. Ia adalah gerak pengetahuan. Oleh sebab itu, logika dialektik Marxis membahas sesuatu yang dipelajarinya dari cara-pandang kesejarahan, dari cara-pandang bahwa maujudnya sesuatu itu adalah proses pertumbuhan dan perkembangan. Logika ini sesuai dengan sejarah umum pengetahuan dan sejarah ilmu. Dan Lenin – ketika menunjukkan bahwa dialektika mendapatkan kesimpulan-kesimpulannya dari sejarah pikiran dan sekaligus menyatakan bahwa sejarah pikiran dalam logika harus sesuai, sebagian atau seluruhnya, dengan hukum-hukum pikiran – menggunakan sebagai contoh ilmu-ilmu alam, ekonomi, politik dan sejarah.” [160]

Adapun bahwa sejarah pengetahuan dan ilmu manusia itu penuh dengan kemajuan dan kesempurnaan ilmu pengetahuan di berbagai lapangan dan berbagai bentuk kehidupan dan pengalaman, ini tidak diperdebatkan lagi. Sekali pandang kepada ilmu pengetahuan sekarang dan dulu membuat kita sangat mempercayai tentang perkembangan yang cepat dan penyempumaan yang pesat yang telah dicapai ilmu pengetahuan pada pacuan terakhirnya. Tetapi, perkembangan ilmiah itu bukanlah sejenis gerak dalam arti filosofis yang dimaksudkan Marxisme. Bahkan itu tak lebih dari berkurangnya kuantitas kesalahan dan bertambahnya kuantitas kebenaran. Ilmu pengetahuan berkembang tidak dalam arti bahwa kebenaran ilmiah tumbuh dan menyempurnma, tetapi dengan pengertian bahwa kebenaran-kebenarannya bertambah dan semakin banyak, sementara kesalahan-kesalahannya menyusut dan semakin sedikit, mengikuti membesarnya ruang lingkup eksperimen, semakin mendalamnya eksperimen, dan ketepatan perangkat-perangkat eksperimen.

Untuk memperjelas hal itu, kita harus memberikan ide tentang prosesi perkembangan ilmiah dan metode progresi dan menyempurna berangsur-angsur teori-teori dan kebenaran-kebenaran ilmiah, agar kita dapat membedakan perbedaan antara apa yang diduga sebagai dialektika pikiran di satu segi, dan perkembangan historis ilmu-ilmu manusia, dari segi lain. Kebenaran-kebenaran ilmiah bermula dengan prosedur teoretis, seperti hipotesis riset yang terlintas dalam benak ilmuwan alam disebabkan sejumlah informasi terdahulu dan observasi-observasi ilmiah atau sederhana. Jadi, hipotesis adalah tahapan pertama yang dilalui teori ilmiah dalam prosesi developmentalnya. Kemudian, ilmuwan tersebut memulai penelitian ilmiah dan pengkajian eksperimental terhadap hipotesis tersebut. Ia lantas melakukan berbagai pengujian melalui observasi-observasi ilmiah yang akurat dan bermacarn-macam eksperimen di lapangan yang berkaitan dengan hipotesis tadi. Nah, apabila hasil-hasil observasi atau eksperimen itu sesuai dengan hipotesis itu dan selaras dengan wataknya dan watak fenomenanya, maka hipotesis tersebut mendapatkan karakter baru, yaitu karakter sebuah hukum ilmiah. Teori tersebut kemudian memasuki tahapan kedua prosesi ilmiahnya. Tetapi, perkembangan yang memindahkan teori tersebut dari tangga hipotesis ke tangga hukum, tidak berarti bahwa kebenaran ilmiah itu telah tumbuh dan berubah. Tetapi artinya adalah bahwa ide tertentu itu pada mulanya diragukan, lantas dipercaya atau diyakini secara ilmiah. Teori Pasteur tentang makhluk hidup mikrobik yang dibuatnya berdasarkan intuisi, kemudian didukung oleh observasi-observasi cermat dengan perangkat-perangkat ilmiah modern. Juga teori gravitasi umum, yang hipotesis untuknya dibangkitkan di dalam benak Newton oleh pemandangan sederhana (pemandangan jatuhnya buah apel di atas tanah), membuat Newton bertanya: Mengapa kekuatan yang membuat apel itu jatuh ke atas tanah bukan kekuatan yang menjaga keseimbangan bulan dan memandu geraknya? Kemudian eksperimen-eksperimen dan observasi-observasi ilmiah mendukung berlakunya gravitasi pada benda-benda samawi, dan menganggapnya sebagai hukum umum yang didasarkan pada hubungan tertentu.

Begitu pula dengan teori yang menyatakan bahwa perbedaan kecepatan jatuhnya benda-benda dinisbahkan kepada resistensi udara, bukan kepada perbedaan massanya, yang lahir sebagai peristiwa ilmiah (yang penting) yang kebenarannya kemudian dikukuhkan ilmu melalui eksperimen-eksperimen terhadap berbagai benda di suatu ruang hampa udara sehingga menunjukkan bahwa benda-benda itu sama memiliki derajat tertentu kecepatan – saya katakan, teori-teori tersebut dan beribu-ribu teori lainnya, semuanya telah melewati tahapan perkembangan yang telah disebutkan di atas dengan melalui tangga hipotesis ke tangga hukum. Mereka tidak mengungkapkan melalui pelaluan dan perkembangan pertumbuhan pada kebenaran itu sendiri, tetapi perbedaan derajat pembenaran ilmiah terhadap teori tersebut. Jadi, ide itu adalah ide yang sama, hanya ia telah melewati ujian ilmiah. Karena ini, ia menjadi jelas sebagai kebenaran, setelah sebelumnya ia diragukan.

Setelah teori itu mencapai tempatnya yang tepat di antara hukum-hukum ilmiah, ia memerankan peran aplikasinya, dan mendapatkan kualitasnya sebagai referensi ilmiah untuk menerangkan fenomena-fenomena alam yang tampak dalam observasi, eksperimen, atau pengungkapan realitas-realitas dan misteri-misteri baru. Semakin teori itu mampu mengungkapkan realitas-realitas tersembunyi, kemudian eksperimen mempertegas kebenarannya, semakin kukuh dan jelaslah teori tersebut dalam mentalitas ilmiah. Karena itu, ditemukannya planet Neptunus oleh para ahli berdasarkan hukum gravitasi dan formula matematisnya dianggap sebagai kemenangan besar bagi teori gravitasi umum. Adanya planet ini lalu dikukuhkan oleh observasi-observasi ilmiah. Ini juga hanyalah semacam kepercayaan ilmiah yang kuat terhadap kebenaran teori tersebut. Jika teori senantiasa disertai keberhasilan dalam lapangan ilmiah, berarti kebenarannya terkukuhkan. Jika, di lain pihak, ia mulai bergeser dari bersesuaian dengan realitas yang secara ilmiah diselidiki dengan cermat, setelah dengan hati-hati menelaah sistem-sistem dan alat-alatnya, dan setelah membuat observasi-observasi dan pengujian-pengujian yang luas, teori itu memulai pada titik itu tahap penyesuaian (adjustment) dan pembaruan. Pada tahap ini, observasi-observasi dan eksperimen-eksperimen baru kiranya diperlukan untuk melengkapi teori ilmiah sebelumnya melalui ide-ide baru yang ditambahkan pada teori sebelumnya, sehingga satu penjelasan tentang segenap realitas eksperimental akan didapat. Keping-keping bukti ilmiah dapat mengungkapkan kepalsuan teori sebelumnya. Maka, berdasarkan eksperimen dan observasi, teori ini gugur dan diganti teori lain.

Dalam hal itu semua, tidak mungkin kita memahami perkembangan ilmiah secara dialektik atau membayangkan kebenaran itu sebagaimana diasumsikan dialektika bahwa ia tumbuh dan berubah sesuai dengan kontradiksi-kontradiksi di dalamnya, dan karenanya, mengambil bentuk baru dalam setiap tahap, sedangkan dalam semua bentuk tersebut ia adalah kebenaran ilmiah yang sempurna. Hal ini sangat jauh dari realitas ilmiah pikiran manusia. Tapi, apa yang terjadi dalam lapangan penyesuaian ilmiah adalah pencapaian realitas-realitas baru yang ditambahkan kepada realitas yang sudah konstan, atau pengungkapan kesalahan kebenaran terdahulu dan kebenaran ide lain untuk menerangkan realitas. Apa yang terjadi pada teori atomik (teori atomisme) termasuk kategori pertama: pencapaian kebenaran-kebenaran baru yang ditambahkan kepada kebenaran ilmiah yang tetap. Teori ini pada mulanya adalah hipotesis, dan lalu sesuai dengan eksperimen-eksperimen, ia menjadi hukum ilmiah. Lalu berdasarkan eksperimen-eksperimen, fisika dapat mencapai (kesimpulan) bahwa atom bukanlah unit primordial materi, tetapi bahwa ia sendiri juga tersusun dari bagian-bagian. Demikianlah, bagaimana teori atomik dilengkapi ide ilmiah baru tentang nucleus dan muatan-muatan yang darinya atom tersusun. Jadi, kebenaran tidak tumbuh, tetapi kebenaran-kebenaran ilmiah bertambah. Dan pertambahan kuantitatif bukanlah pertumbuhan dialektik dan gerak filosofis kebenaran.

Termasuk ke dalam kategori kedua (pengungkapan kesalahan teori terdahulu dan validitas ide lain) adalah apa yang terjadi dalam teori gravitasi umum (penjelasan mekanik tentang alam dalam teori-teori Newton). Penjelasan ini telah diketahui tidak sesuai dengan sejumlah fenomena elektrik dan magnetik, dan tidak tepat untuk menerangkan bagaimana caranya cahaya terbentuk dan tersebar, dan juga hal-hal serupa yang diambil kaum fisikawan modern untuk membentuk bukti tentang kesalahan konsep Newton tentang alam. Berdasarkan itu, Einstein mengemukakan teori relativitasnya yang dituangkannya dalam penjelasan tentang alam secara matematis yang berbeda sama sekali dengan penjelasan Newton. Nah, apakah mungkin kita katakan bahwa teori Newton dan teori Einstein dalam menjelaskan alam itu adalah sama-sama benar, dan bahwa kebenaran telah berkembang dan tumbuh sedemikian sehingga ia berbentuk teori relativitas setelah sebelumnya berbentuk (teori) gravitasi umum? Apakah ruang, waktu dan massa[161] – tiga serangkai besaran konstan mutlak dalam penjelasan Newton – adalah kebenaran ilmiah yang tumbuh dan berubah sesuai dengan hukum gerak dialektik, lantas berubah menjadi relativitas dalam ruang, waktu dan massa? [162] Atau daya gravitasi dalam teori Newton berkembang menjadi keluk pada ruang dan waktu; lantas daya mekanik oleh gerak merupakan sifat geometri dunia, [163] yang melaluinya gerak bumi di sekitar matahari dan gerak-gerak lainnya dijelaskan, sebagaimana kelukan radiasi nuklir?

Satu-satunya (interprestasi) yang rasional adalah bahwa eksperimen yang banyak sekali atau cermat telah menampakkan kesalahan (tidak sempurnanya) teori terdahulu, tiadanya kebenaran (atau generalitas) di dalamnya, dan bukti adanya kebenaran (atau generalitas) dalam penafsiran lain.[164] Demikianlah, apa yang kami tegaskan menjadi jelas akhirnya: bahwa perkembangan ilmiah tidak berarti bahwa kebenaran itu tumbuh dan berangsur-angsur menjadi maujud. Tetapi artinya adalah menyempurnanya pengetahuan karena pengetahuan adalah suatu keseluruhan, yakni karena ia adalah himpunan teori dan hukum. Lantas, arti menyempurnanya ialah kenaikan kuantitatif kebenaran-kebenarannya dan berkurangnya secara kuantitatif kesalahan-kesalahannya.

Akhirnya kita ingin tahu apa yang diupayakan Marxisme dalam perkembangan kebenaran itu dan berlakunya dialektika pada kebenaran. Pertama, ia berupaya menafikan kebenaran mutlak. Kalau kebenaran berada dalam gerak dan pertumbuhan selamanya, maka tidak ada kebenaran-kebenaran yang konstan dan mutlak. Dan pada gilirannya, akan rubuhlah kebenaran-kebenaran konstan metafisis, yang untuk itu Marxisme mengutuk teologi. Kedua, ia berupaya menafikan kesalahan mutlak dalam perjalanan perkembangan ilmiah. Perkembangan ilmiah, dalam arti dialektika, tidak berarti bahwa teori terdahulu adalah salah mutlak, tetapi bahwa itu adalah kebenaran nisbi. Ini berarti bahwa ia adalah benar pada tahapan tertentu perkembangan dan pertumbuhan. Dengan itulah, Marxisme menempatkan jaminan kebenaran dalam berbagai tahap penyempumaan ilmiah.

Dua sasaran tersebut menjadi tumbang, berdasarkan penjelasan yang benar dan rasional terhadap perkembangan ilmiah yang telah kami uraikan. Menurut penjelasan tersebut, perkembangan ilmiah bukanlah tumbuhnya kebenaran tertentu, tetapi adalah penemuan-penemuan baru kebenaran-kebenaran yang sebelumnya tidak diketahui, dan juga pembetulan kesalahan-kesalahan terdahulu. Setiap kesalahan yang dapat diperbaiki adalah kesalahan mutlak, dan setiap kebenaran yang dapat terungkap adalah kebenaran mutlak. Saya tambahkan, bahwa Marxisme telah jatuh ke dalam kekacauan yang mendasar antara kebenaran, dalam arti pikiran, dan kebenaran, dalam arti realitas objektif yang mandiri. Metafisika menyatakan adanya kebenaran mutlak dalam arti kedua. Ia meyakini suatu realitas objektif yang tetap di balik batas-batas alam. Ini tidak bertentangan dengan penafian kebenaran dalam arti yang pertama dan perkembangan yang terus menerus. Asumsikanlah bahwa kebenaran dalam akal orang itu berkembang dan bergerak selamanya. “Mudarat” apa yang dikenakan sebab ini kepada realitas metafisis yang diyakini teologi, selama kita menerima kemungkinan adanya realitas objektif. yang berdiri sendiri yang terlepas dari kesadaran dan pengetahuan? Marxisme dapat memenuhi kehendaknya jika kita menuntut idealisme dan kita katakan bahwa realitas adalah kebenaran yang maujud di dalam akal kita saja. Kalau kebenaran di dalam pikiran kita itu berkembang dan berubah, maka tidak akan ada tempat untuk mempercayai suatu realitas mutlak. Jika di lain pihak, kita membedakan antara pikiran dan realitas, dan menerima kemungkinan adanya realitas yang berdiri sendiri yang lepas dari kesadaran dan pikiran, maka tak akan ada mudarat bagi adanya realitas mutlak di luar batas-batas pengetahuan, sekalipun kiranya tidak terdapat kebenaran mutlak apa pun di dalam pikiran kita.

Kontradiksi-Kontradiksi Perkembangan
Berkata Stalin: “Titik mula dialektika, berbeda dengan metafisika, adalah pandangan yang berdasarkan fakta bahwa segala sesuatu dan peristiwa-peristiwa alam mengandung kontradiksi-kontradiksi, karena semuanya memiliki segi negatif dan segi positif di masa lalu dan kini. Di dalam semuanya itu terdapat elemen-elemen yang hancur dan berkembang. Jadi, pergulatan hal-hal yang berlawanan tersebut terletak dalam kandungan internalnya yang membuat perubahan-perubahan kuantitatif menjadi perubahan-perubahan kualitatif.”[165] Berkata pula Mao Tse Tung: “Hukum kontradiksi dalam sesuatu, yakni hukum kesatuan hal-hal yang berlawanan, adalah hukum yang paling mendasar dan terpenting dalam materialisme dialektika. Berkata Lenin: ‘Dialektika, dalam artinya yang akurat, adalah mempelajari kontradiksi dalam esensi terdalam sesuatu.’ Dan Lenin sering menyebut hukum ini ‘esensi dialektika’, sebagaimana ia menyebutnya ‘jantung dialektika’.” [166]

Inilah hukum dasar yang diyakini dialektika sebagai dapat menjelaskan alam dan dunia, dan dapat membenarkan gerak linier dan perkembangan-perkembangan serta lompatan-lompatan gerak ini. Ketika Lenin menjauhkan ide prinsip pertama dari filsafatnya, dan menganggap sepenuhnya mustahil asumsi suatu sebab di luar alam, ia perlu memberikan alasan dan penjelasan tentang perjalanan yang terus-menerus dan perubahan yang konstan di dalam dunia materi, untuk menunjukkan bagaimana materi itu berkembang dan bentuknya berbeda-beda. Yakni, untuk menentukan sumber gerak dan sebab primer fenomena-fenomena wujud. Ia kemudian mengasumsikan bahwa sumber tersebut ada dalam kandungan internal materi. Jadi, materi mengandung pemasokan terus-menerus suatu gerak. Namun bagaimana materi itu memiliki pemasokan tersebut? Inilah pertanyaan mendasar dalam masalah tersebut yang dijawab dialektika dengan bahwa materi adalah kesatuan hal-hal yang berlawanan dan himpunan kontradiksi. Nah, kalau semua hal berlawanan dan kontradiksi itu menyatu, melebur dalam unitas tertentu, maka adalah alami bahwa di antara kontradiksi-kontradiksi itu terjadi konflik untuk mendapatkan pengetahuan. Dari konflik inilah muncul perkembangan dan penisbahan. Dan pada gilirannya, alam mencapai tahap-tahap penyempurnaannya melalui cara itu. Atas dasar hal itu, Marxisme mencampakkan prinsip non-kontradiksi, dan menganggapnya sebagai karakteristik berpikir metafisis dan salah satu dasar logika formal yang tunduk kepada cangkul tajam dialektika. Ini ditegaskan Kedrov seraya berkata: “Kita memahami kata ‘logika formal’ sebagai logika yang berdasarkan hanya empat hukum pikiran: hukum identitas, kontradiksi, konversi, dan pembuktian. Logika ini berhenti pada batas ini. Tetapi kita menganggap logika dialektika sebagai ilmu pikiran yang berdasarkan metode Marxisme yang dicirikan oleh hal-hal pokok ini: mengakui (1) hubungan umum, (2) gerak perkembangan, (3) lompatan-lompatan perkembangan, dan (4) kontradiksi perkemb angan.” [167]

Demikianlah kita melihat dialektika menjauhkan sebagian besar pikiran intuitif manusia dari lapangannya. Ia mengingkari prinsip non-kontradiksi dan menganggap kontradiksi sebagai hukum umum alam dan wujud. Dialektika, dalam pengingkaran dan pengasumsian ini, menerapkan prinsip non-kontradiksi tanpa disadarinya. Seorang dialektikawan, ketika mempercayai kontradiksi-kontradiksi dialektik dan penjelasan dialektik tentang alam, mendapati dirinya terpaksa menolak prinsip non-kontradiksi dan penjelasan metafisisnya. Adalah jelas bahwa ini tidak lain hanya karena watak manusia tidak dapat mengkompromikan antara penafian dan afirmasi. Tetapi, ia merasakan secara esensial adanya pertentangan mutlak antara keduanya. Kalau tidak begini, mengapa Marxisme menolak prinsip non-kontradiksi dan yakin akan kepalsuannya? Bukankah itu karena ia mempercayai adanya kontradiksi, dan tidak kuasa mempercayai penafiannya selama ia mempercayai afirmasinya?

Dan demikianlah kita tahu bahwa prinsip non-kontradiksi adalah prinsip pokok umum yang pikiran manusia tidak dapat terlepas darinya, bahkan dalam saat bersemangat terhadap dialektika. Kontradiksi dialektik juga menyebabkan digugurkannya prinsip identitas (A adalah A) dari kamus dialektika, dan diperbolehkan sesuatu itu menjadi bukan dirinya. Bahkan kontradiksi dialektik umum meniscayakan hal itu, karena setiap sesuatu mengandung hal yang bertentangan dengannya dan mengungkapkan penafiannya pada saat penetapannya. Jadi, “A adalah A” tidak demikian secara mutlak. Bahkan setiap maujud adalah hal kontradiktif dan penafian dirinya, sebagaimana ia adalah penetapannya. Karena maujudnya secara esensial kontradiktif dan mengandung penafian serta penetapan yang selalu berkonflik dan yang melalui konflik mereka, meletuskan gerak.

Kaum Marxis tidak berusaha membuktikan kontradiksi segala sesuatu, yakni hukum dialektika dan asas dialektiknya, kecuali dengan sejumlah contoh dan fenomena. Mereka berupaya menunjukkan kontradiksi dan dialektika alam dengan contoh-contoh dan fenomena-fenomena tersebut. (Bagi mereka) kontradiksi merupakan salah satu hukum logika dialektika, karena alam itu sendiri kontradiktif dan dialektik. Ini terjelaskan oleh jenis-jenis kontradiksi yang dikemukakan indera atau yang diungkapkan ilmu pengetahuan, yang menghancurkan prinsip non-kontradiksi dan menjadikannya tidak selaras dengan realitas dan hukum-hukum alam yang menguasai berbagai lapangan dan wilayah alam.

Sebelumnya pernah kita singgung bahwa Marxisme tidak mendapatkan jalan bagi dinamisme alam dan bagaimana membuat kekuatan-kekuatan yang aktif oleh gerak sebagai kandungan internal materi progresif itu sendiri, kecuali dengan berangkat dari kontradiksi dan mempercayai bersatunya hal-hal kontradiktif dalam suatu kesatuan yang progresif, mengikuti pergulatan hal-hal kontradiktif tersebut. Jadi, permasalahan tersebut, dalam pandangan Marxisme, hanya mempunyai dua sisi. Pertama, kita membentuk ide kita tentang alam berdasarkan prinsip yang menyatakan tidak adanya kontradiksi. Maka, tidak ada penafian dan penetapan dalam jantung segala sesuatu, dan tidak ada konflik hal-hal kontradiktif di dalamnya. Dan pada gilirannya, mestilah kita mencari sumber gerak dan perkembangan dalam sebab yang lebih tinggi daripada alam dan perkembangan-perkembangannya. Kedua, kita bangun logika kita berdasarkan keyakinan akan adanya kontradiksi dalam jantung segala sesuatu, pada setiap maujud hal-hal kontradiktif atau penafian dan penetapan menyatu.[168] Dengan demikian, kita mendapati rahasia perkembangan dalam kontradiksi internal itu. Karena alam, dalam keyakinan Marxisme, mengajukan bukti dan kesaksian dalam setiap kesempatan dan bidang tentang kontradiksi dan bersatunya hal-hal kontradiktif, maka orang harus mengambil cara-pandang yang kedua.

Faktanya, prinsip non-kontradiksi adalah hukum yang paling umum dan yang paling lazim bagi berbagai lapangan aplikasi. Tidak ada sama sekali fenomena eksistensi atau maujud yang terlepas darinya. Setiap upaya dialektik yang bertujuan untuk menolaknya, atau untuk menunjukkan alam sebagai kontradiktif adalah upaya sederhana yang berdasarkan salah paham terhadap prinsip non-kontradiksi, atau berdasarkan kesesatan tertentu. Karena itu, sebelumnya, mari kita jelaskan prinsip nonkontradiksi dalam arti niscayanya, yang dianggap oleh logika umum sebagai prinsip pokok pikiran manusia. Setelah itu kita bahas fenomena-fenomena dari apa yang diduga sebagai kontradiksi dalam alam dan wujud. Berdasarkan fenomena inilah Marxisme mendirikan logika dialektiknya dan menghancurkan prinsip non-kontradiksi dan prinsip identitas. Kemudian kami akan menjelaskan keharmonisan fenomena-fenomena tersebut dengan kedua prinsip itu, dan menjelaskan kosongnya[169] kedua prinsip itu dari kontradiksi-kontradiksi dialektik. Dengan begitu, dialektika kehilangan sandarannya dalam alam dan bukti materialnya. Dan pada gilirannya, kita akan tetapkan sejauh mana dialektika tidak marnpu menerangkan alam dan membuktikan adanya.


Watak Prinsip Non-kontradiksi
Prinsip non-kontradiksi adalah prinsip yang mengatakan bahwa kontradiksi itu mustahil. Jadi, penafian dan penetapan itu tidak mungkin berkompromi dalam setiap keadaan. Ini sudah jelas. Tetapi kontradiksi macam apakah yang ditolak prinsip tersebut, dan yang tidak mungkin diterima akal? Apakah itu setiap penafian dan penetapan? Tentu saja tidak. Tidak semua penafian itu berkontradiksi dengan setiap penetapan, dan tidak setiap penetapan bertentangan dengan setiap penafian. Tetapi, penetapan berkontradiksi dengan penafiannya sendiri, bukan dengan penafian terhadap penetapan yang lain. Adanya sesuatu bertentangan secara mendasar dengan tidak adanya sesuatu itu, bukan dengan tidak adanya sesuatu yang lain. Yang dimaksudkan dengan pertentangan keduanya adalah bahwa keduanya itu tidak mungkin menyatu atau ada bersama-sama. Segi empat memiliki empat sisi. Ini adaIah kebenaran geometrik yang konstan. Segi tiga tidak mempunyai empat sisi. Ini adalah penafian sahih yang konstan. Antara penafian ini dan penetapan itu tidak ada kontradiksi sama sekali. Karena masing-masing berkenaan dengan subjek tertentu yang berbeda dengan subjek yang ditangani yang lainnya. Jadi, sisi empat itu ada dalam segi empat dan tidak ada dalam segi tiga. Kita tidak menafikan apa yang kita tetapkan, juga tidak menetapkan apa yang kita nafikan. Kontradiksi itu ada jika kita menetapkan dan sekaligus menafikan konteradiksi itu empat atau jika menetapkan dan sekaIigus menafikan bahwa empat sisi itu ada pada segi tiga.

Dengan pertimbangan tersebut, logika metafisis menetapkan bahwa kontradiksi itu hanya ada antara penafian dan penetapan yang sesuai keadaannya. Nah, kaIau keadaan penafian itu berbeda dengan keadaan penetapan, tentu penetapan dan penafian itu tidak akan kontradiktif. Mari kita ambil beberapa contoh penafian dan penetapan yang berbeda-beda keadaan-keadaan keduanya.

1. “Empat adalah genap”. “Tiga bukan genap”. Nah, penafian dan penetapan dalam dua proposisi ini tidak kontradiktif karena berbedanya subjek yang satu dengan subjek yang lainnya. Penetapan tersebut berkaitan dengan “empat”, dan penafian itu berkaitan dengan

2. “Manusia, ketika bayi, cepat percaya”. “Manusia tidak segera percaya ketika muda dan dewasa”. Penafian dan penetapan dalam kedua proposisi ini berkaitan dengan “manusia”. Tetapi, masing-masing mempunyai masanya sendiri yang berbeda dengan masa yang lainnya. Karena itu, tidak ada kontradiksi di sini antara penafian dan penetapan tersebut.

3. “Seorang bayi secara aktual tidak mengetahui”. “Seorang bayi mengetahui secara potensial, yakni ia mungkin mengetahui”. Di sini kita menghadapi penafian dan penetapan yang tidak kontradiktif. Karena, dalam proposisi pertama, kita tidak menafikan penetapan yang dikandung proposisi kedua. Proposisi pertama menafikan adanya atribut tahu pada seorang bayi, dan proposisi kedua tidak menetapkan adanya atribut tersebut, tetapi menetapkan kemungkinannya, yakni kapasitas seorang bayi dan kesiapannya untuk mendapatkannya. Jadi, potensi mengetahui pada bayi itulah yang ditetapkan proposisi kedua ini, bukan tahunya bayi itu secara aktual.

Demikianlah, kita tahu bahwa kontradiksi antara penafian dan penetapan hanya terjadi jika keduanya sama-sama memiliki subjek yang sama, dan selaras berkenaan dengan kondisi-kondisi ruang dan waktu, dan lain sebagainya. Sedangkan jika penetapan dan penafian tersebut tidak sekaligus ada dalam semua kondisi ini, maka antara keduanya tidak akan ada kontradiksi. Tidak ada seseorang atau suatu logika apa pun yang dapat menetapkan kemustahilan kebenaran dalam kasus ini.

Cara Marxisme Memahami Kontradiksi
Setelah kita kaji ide kontradiksi dan kandungan prinsip dasar logika umum (prinsip non-kontradiksi), kita harus menyoroti pemahaman Marxisme terhadap prinsip tersebut dan alasan-alasan mengapa Marxisme menolaknya. Tidaklah sulit untuk mengetahui bahwa Marxisme tidak mampu, atau tidak ingin, memahami prinsip non-kontradiksi itu dalam artinya yang sahih. Karena itu, ia mengingkarinya untuk membenarkan materialismenya sendiri. Ia menghimpun sejumlah contoh yang diklaimnya tidak sesuai dengan prinsip tersebut. Akibatnya, Marxisme membuat kontradiksi dan konflik antara hal-hal kontradiktif sebagai prinsip logika barunya. Marxisme memenuhi dunia dengan kegaduhan tentang prinsip ini dan membuat kepada logika manusia umum tentang menciptakan prinsip ini dan menemukan kontradiksi dan konflik antara hal-hal yang berlawanan.

Untuk mengetahui sejauh mana kesalahan Marxisme dan yang mendorongnya untuk menolak prinsip non-kontradiksi dan prinsip-prinsip lain yang berdasarkan padanya, seperti logika metafisis, kita harus membedakan secara gamblang antara dua hal: Pertama, konflik antara hal-hal berlawanan secara eksternal; kedua, konflik antara hal-hal berlawanan dan kontradiksi-kontradiksi yang berkumpul dalam suatu kesatuan tertentu. Yang kedua itulah yang bertentangan dengan prinsip non-kontradiksi. Sedangkan yang pertama tidak berhubungan sama sekali dengan bersatunya kontradiksi. Karena, ia tidak berkenaan dengan bersatunya dua hal yang berlawanan. Tetapi, justru dirujukkan kepada eksistensi mandiri masing-masing dari hal-hal itu. Adanya pergulatan antara keduanya melahirkan hasil tertentu. Bentuk pantai, misalnya, adalah hasil dari saling aksi antara ombak-ombak air dan arus-arus air, di satu pihak, yang bertabrakan dengan daratan (sehingga membuat tepinya mundur) dan, di lain pihak, kekuatan daratan dalam menghadapi arus dan sedikit banyak mendorong kembali ombak-ombak tersebut. Bentuk suatu bejana dari tanah liat adalah hasil proses yang terjadi antara sekuantitas tanah liat dan tangan pengrajin.

Kalau materialisme dialektik memaksudkan konflik antara hal-hal yang berlawanan secara eksternal tersebut, maka ini tidak bertentangan sama sekali dengan prinsip non-kontradiksi, dan tidak menuntut diterima-nya kontradiksi yang ditolak pikiran manusia sejak permulaan adanya. Karena, hal-hal kontradiktif tidak pernah berkumpul dalam suatu kesatuan. Masing-masing itu ada secara mandiri dalam lingkungannya sendiri. Masing-masing saling beraksi sehingga tercapai suatu hasil tertentu. Juga, prinsip tidak membenarkan kemandirian dan tidak dibutuhkannya sebab luar. Bentuk pantai atau bentuk bejana tersebut tidak terdeterminasikan dan tidak maujud melalui perkembangan yang berdasarkan kontradiksi-kontradiksi internal. Tetapi itu terjadi melalui proses eksternal yang direalisasikan oleh dua hal yang berlawanan yang berdiri sendiri. Konflik antara hal-hal kontradiktif eksternal dan proses-proses mereka bukanlah penemuan materialisme atau dialektika. Tetapi ia adalah sesuatu yang sudah jelas dan ditetapkan oleh setiap logika dan setiap filosof – baik itu materialis maupun teolog – sejak jauh sebelum masa-masa materialisme dan teologi, dan sampai hari ini. Mari kita ambil Aristoteles, tokoh aliran metafisika dalam filsafat Yunani, sebagai contoh. Kita jadikan Aristoteles sebagai contoh bukan lantaran ia filosof teologi saja, tetapi juga karena ia telah mengemukakan kaidah, prinsip-prlnsip dan asas-asas logika umum yang oleh kaum marxis dinamakan logika formal”. Aristoteles percaya adanya konflik antara hal-hal kontradiktif eksternal, meskipun ia mendirikan logika itu berdasarkan prinsip non-kontradiksi. Tidak terlintas dalam pikiran Aristoteles bahwa beratus-ratus tahun kemudian seseorang akan tampil untuk menganggap konflik tersebut sebagai bukti gugurnya prinsip niscaya ini. Berikut ini beberapa teks Aristoteles tentang konflik antara hal-hat kontradiktif eksternal.

“Secara ringkas, sesuatu dari genus yang sama dapat benar-benar diterima oleh sesuatu yang lain dari genus yang sama. Sebabnya adalah bahwa segala hal kontradiktif itu adalah dari genus yang sama, dan bahwa hal-hal kontradiktif mempengaruhi satu sama lain dan menerima satu sama lain dari yang lain.” [170] “Maka sesuai dengan bentuk, dan tak sesuai dengan materi, sesuatu yang tertentu ditambahkan ke setiap bagian dengan cara apa pun. Meskipun begitu keseluruhan menjadi lebih besar, karena sesuatu ditambahkan kepadanya. Sesuatu itu disebut ‘makanan’, dan disebut juga ‘lawan’. Tetapi sesuatu itu tidak lebih daripada berubahnya (keseluruhan) itu sendiri. Misalnya, ketika bendungan ditambahkan ke kering, ia berubah dengan menjadikan dirinya kering. Sesungguhnya, adalah mungkin bahwa yang serupa tumbuh melalui apa-apa yang dengannya ia serupa, dan di pihak lain melalui apa-apa yang dengannya ia tak sama.” [171]

Maka menjadi jelas bahwa operasi-operasi hal-hal yang berlawanan secara eksternal tak mengungkapkan dialektika, dan juga tak menolak logika metafisis, juga tak membentuk sesuatu baru dalam lapangan filsafat. Tetapi, itu adalah kebenaran yang terdeterminasikan dengan jelas dalam berbagai filsafat sejak fajar sejarah filsafat. Di dalamnya tidak ada apa pun yang membantu mencapai tujuan-tujuan filosofis Marxis yang hendak dicapai Marxisme berdasarkan dialektika. Sedangkan kalau Marxisme memaksudkan “kontradiksi” dalam arti real istilah itu, yang menisbahkan sumber internal kepada gerak – sesuatu yang ditolak prinsip dasar dalam logika kita – maka kontradiksi akan menjadi sesuatu yang tak dapat diterima pikiran sehat. Marxisme tak memiliki contoh apa pun mengenai kontradiksi dalam arti ini dari alam dan fenomena-fenomena wujud sama sekali. Semua yang dianggap Marxisme sebagai kontradiksi-kontradiksi alam tidak ada hubungannya dengan dialektika. Mari kita tampilkan beberapa contoh seperti itu yang melalui ini Marxisme berupaya membuktikan logika dialektiknya, agar kita tahu sejauh mana kelemahan dan kegagalan Marxisme dalam membuktikan logikanya.

1. Kontradiksi-kontradiksi gerak. Berkata Georges Lafebvre: [172] “Ketika tak ada yang terjadi, di sana tidak ada kontradiksi. Sebaliknya, jika tak ada kontradiksi tidak ada yang terjadi, tak ada yang maujud, dan tidak terlihat aktivitas apa pun, dan tidak maujud sesuatu yang baru. Apakah materi berhubungan dengan keadaan mandek, keseimbangan temporer, ataupun dengan keadaan berkembang, maka maujud atau sesuatu yang tak-kontradiksi pada dirinya itu ada pada keadaan diam sementara.” [173] Berkata Mao Tse Tung: “Suatu proposisi dengan kontradiksi umum atau keberadaan mutlak kontradiksi memiliki pengertian ganda. Pertama adalah bahwa kontradiksi ada dalam proses perkembangan segala sesuatu. Kedua adalah bahwa dari permulaan hingga akhir perkembangan setiap sesuatu, ada gerak hal-hal kontradiktif. Berkata Engels bahwa gerak itu sendiri adalah kontradiktif.” [174] Teks-teks tersebut menjelaskan bahwa Marxisme mempercayai adanya pertentangan antara hukum berkembang dan menyempurna dan hukum non-kontradiksi. Ia juga yakin bahwa berkembang dan menyempurna itu tidak mungkin terealisasikan kecuali berdasarkan kontradiksi yang terus-menerus. Nah, selama perkembangan dan gerak tersebut terealisasikan di dunia alam, maka orang harus membuang ide non-kontradiksi dan harus mengambil dialektika, yang akan menerangkan kepada kita gerak dengan berbagai bentuk dan macamnya.

Telah kita singgung di depan – yaitu dalam menelaah gerak perkembangan – bahwa berkembang dan menyempurna itu sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip non-kontradiksi, dan bahwa pemikiran yang menyatakan adanya pertentangan antara keduanya itu bertumpu pada kekacauan antara potensialitas dan aktualitas. Gerak adalah, dalam setiap tahapnya, penetapan dalam aktualitas dan penafian dalam potensialitas. Jadi, germ suatu makhluk hidup, ketika berkembang di dalam telur sampai menjadi anak ayam sampai menjadi ayam dewasa, perkembangan ini tidak berarti bahwa telur itu pada periode awalnya bukanlah telur dalam aktualitas. Tetapi, ia adalah telur dalam aktualitas dan ayam dalam potensialitas, yakni ia bermungkinan menjadi ayam dewasa. Karena itu, kemungkinan untuk menjadi ayam dewasa dan sifat telur, bukan sifat telur dan sifat ayam dewasa, bersatu dalam esensi telur. Sesungguhnya kita tahu lebih dari itu, yaitu bahwa gerak berkembang tidak mungkin dipahami selain dengan prinsip non-kontradiksi. Kalau saja hal-hal kontradiktif itu dapat berkumpul dalam esensi sesuatu, tentu tidak akan terjadi perubahan, dan tentu sesuatu itu tidak akan dapat berganti dari satu ke lain keadaan, dan pada gilirannya tentu tidak akan ada perubahan dan perkembangan.

Kalau Marxisme hendak menunjukkan kepada kita bahwa proses gerak mengandung kontradiksi yang benar-benar bertentangan dengan prinsip non-kontradiksi, maka hendaklah ia mengajukan contoh perkembangan yang di dalamnya terdapat gerak dan tidak terdapat gerak, yakni di dalamnya baik penafian maupun penetapan berlaku pada perkembangan. Apakah Marxisme, setelah menolak prinsip non-kontradiksi, boleh menyatakan bahwa sesuatu itu berkembang dan tidak berkembang sekaligus? Kalau ini boleh, Marxisme harus menunjukkan bukti kebolehan itu dalam alam dan eksistensi. Dan kalau tidak boleh, maka hal itu tidak lain adalah pengakuan adanya prinsip non-kontradiksi dan kaidah-kaidah logika metafisis.

2. Kontradiksi-kontradiksi kehidupan atau makhluk hidup. Berkata Georges Lefebvre: “Dan meskipun begitu, apakah tidak jelas bahwa kehidupan adalah kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan? Hanya saja maujud hidup tidak mungkin tumbuh tanpa berubah dan berkembang, yakni tanpa berhenti menjadi bagaimana ia itu. Agar ia menjadi orang dewasa, ia harus meninggalkan dan kehilangan masa kanak-kanak. Segala sesuatu yang niscaya menyertai diam akan gugur dan tercampakkan. Jadi, setiap maujud hidup itu berjuang melawan kematian, karena ia membawa kematiannya di dalam dirinya sendiri.”[175] Berkata Engels: “Kita telah melihat sebelumnya bahwa esensi kehidupan adalah bahwa maujud hidup dalam setiap saat adalah dirinya sendiri, dan sekaligus ia bukan dirinya, yakni ia adalah sesuatu yang bukan dirinya. Jadi, kehidupan adalah kontradiksi yang pasti dalam maujud-maujud dan proses-proses itu sendiri.” [176]

Tidak diragukan lagi bahwa maujud hidup mengalami dua proses yang dapat diperbarui: kehidupan dan kematian. Selama dua proses itu melakukan fungsinya, maka kehidupan pun ada. Tetapi, tidak ada kontradiksi dalam hal ini. Karena kalau kita analisis kedua proses ini, dan tambahkan kedua proses itu kepada satu maujud hidup pada mula-mula, kita tahu bahwa proses kematian dan proses kehidupan tidak bertemu pada satu subjek. Jadi, maujud hidup, dalam setiap tahap, menerima sel-sel[177] baru dan meninggalkan sel-sel yang sudah aus. Kematian dan kehidupan menyekat sel-sel (maujud itu). Sel yang rusak pada satu saat bukanlah sel yang ada dan hidup pada saat tertentu tersebut. Demikianlah, bagaimana maujud hidup itu pada umumnya tetap bertahan bersama. Karena, proses kehidupan menggantikan pada dirinya sel-sel yang mati dengan sel-sel baru. Maka, terus berlangsung kehidupan itu sampai kemungkinan-kemungkinannya habis dan nyala kehidupannya padam. Tetapi, terdapat kontradiksi, jika kematian dan kehidupan mencakup semua sel maujud hidup pada saat tertentu. Tetapi ini bukanlah yang kita ketahui dari watak kehidupan dan maujud hidup. Maujud hidup tidak membawa dalam dirinya kecuali kemungkinan mati. Kemungkinan mati tidak berkontradiksi dengan kehidupan. Tetapi, yang berkontradiksi dengan kehidupan adalah kematian aktual.

3. Kontradiksi dalam kemampuan manusia untuk tahu. Berkata Engels, menerangkan prinsip kontradiksi dalam dialektika: “Seperti yang telah kita lihat, kontradiksi, misalnya, antara kemampuan orang untuk mengetahui, kernampuan yang mengakar dan tidak terbatas, dan realisasi kemampuan tersebut secara aktual pada manusia yang terbatas oleh kondisi-kondisi lingkungannya dan kesiapan menerima pengetahuan secara mental untuk mendapatkan ketetapannya dalam suksesi tak terbatas generasi-generasi dalam kemajuan tak terhingga, paling tidak berkenaan dengan kita, dan menurut pandangan praktis.”[178]

Dalam hal ini kita mendapatkan contoh baru, bukan tentang prinsip kontradiksi, tetapi tentang kesalahpahaman Marxisme terhadap prinsip non-kontradiksi. Kalau benar bahwa manusia mampu berpengetahuan sempurna, dan mampu mendapatkan pengetahuan tersebut dengan dirinya sendiri, maka ini takkan membenarkan dialektika, juga takkan menjadi fenomena yang merupakan kekecualian bagi logika metafisis serta prinsip dasar logika ini. Tetapi, ia seperti keyakinan kita bahwa tentara mampu mempertahankan negeri, dan anggota tentara itu tidak memiliki kemampuan itu. Nah, apakah ini adalah kontradiktif? Apakah ini sesuatu yang pada penolakannya logika metafisis bersandar? Sungguh tidak. Kontradiksi ada di antara penafian dan penetapan, jika subjek keduanya satu. Kalau penetapan berkenaan dengan seluruh manusia, sementara penafian berkenaan dengan masing-masing individu secara berdiri sendiri – seperti pada contoh yang dikemukakan Engels – maka di sini tidak terdapat pertentangan antara penafian dan penetapan.

4. Kontradiksi dalam fisika: antara muatan negatif dan positif.[179] Apa yang diduga sebagai kontradiksi ini mengandung dua kesalahan: Pertama, menganggap muatan positif dan negatif sebagai termasuk dalam kategori ada dan tak ada, penafian dan penetapan, dikarenakan bahwa ungkapan ilmiah untuk yang pertama adalah “muatan positif” dan untuk yang lain “muatan negatif”. Padahal kita semua tahu bahwa ungkapan-ungkapan tersebut semata-mata istilah fisikal teknis. Hal ini tidak berarti bahwa keduanya adalah dua hal yang kontradiktif, sebagaimana non-positif dan positif, atau penafian dan penetapan. Maka muatan positif adalah yang sama dengan muatan yang dihasilkan oleh batangan kaca yang digosok dengan sepotong sutra. Dan muatan negatif adalah sama dengan muatan yang dihasilkan oleh ion yang digosok dengan kulit kucing. Jadi, masing-masing dua muatan itu adalah satu jenis tertentu muatan listrik. Yang satu bukanlah adanya sesuatu, dan yang lain tidak adanya sesuatu itu. Kedua, menganggap atraksi sebagai sejenis persatuan. Berdasarkan ini, hubungan atraksi antara muatan positif dan muatan negatif diterangkan sebagai hubungan kontradiksi, dan kontradiksi itu dianggap sebagai salah satu fenomena dialektika. Padahal faktanya, muatan negatif dan positif tersebut tidak berkumpul dalam satu muatan. Tetapi keduanya adalah dua muatan yang berdiri sendiri-sendiri yang saling menarik satu sama lain, sebagaimana saling menariknya dua kutub magnet yang berbeda, tanpa mengindikasikan satu muatan yang positif dan sekaligus negatif pada saat yang sama, atau adanya satu kutub magnetik yang utara dan sekaligus selatan. Jadi, saling menarik antara muatan-muatan yang berbeda itu (atau penolakan antar-muatan yang sama) adalah satu corak interaksi antara hal-hal kontradiktif eksternal yang berdiri sendiri satu sama lain. Dalam uraian yang lalu kita telah tahu bahwa interaksi antara hal-hal kontradiktif eksternal sama sekali bukanlah dialektika, dan tidak berhubungan sama sekali dengan kontradiksi yang ditolak logika metafisis. Karena itu, permasalahannya adalah permasalahan dua kekuatan yang satu mempengaruhi yang lain, bukan permasalahan kekuatan yang melibatkan kontradiksi dalam kandungan dalamnya, seperti diklaim dialektika.

5. Kontradiksi aksi dan reaksi dalam mekanika. [180] Menurut Marxisme dan Newton, hukum mekanika yang mengatakan bahwa setiap aksi pasti mempunyai reaksi yang menyamainya dalam kuantitas dan bertentangan arah dengannya (bagi setiap aksi ada reaksi yang sama dan bertentangan) adalah salah satu fenomena kontradiksi dialektik. Sekali lagi kita mendapati diri kita perlu menegaskan bahwa hukum Newton ini tidak dengan corak apa pun membenarkan kontradiksi-kontradiksi dialektik. Karena aksi dan reaksi adalah dua kekuatan yang ada dalam dua tubuh, bukan dua kontradiksi yang berkumpul dalam satu tubuh. Dua roda belakang mobil mendorong bumi dengan kekuatan. Ini adalah aksi. Bumi mendorong dua roda mobil itu dengan kekuatan lain yang secara kuantitatif sama dan berkebalikan arah dengan kekuatan yang pertama. Ini adalah reaksi, dan melalui ini, mobil bergerak. Jadi, tubuh yang satu tidak mengandung dua kekuatan yang kontradiktif, dan kandungan dalamnya juga tidak mengalami pergulatan antara penafian dan penetapan, atau antar hal yang kontradiktif. Tetapi, mobil itu mendorong bumi ke satu arah, dan bumi mendorong mobil ke arah lain.

Dialektika berusaha menjelaskan pertumbuhan dan gerak sesuatu dengan dua kekuatan penolak internal atau pergulatan dua kontradiktif internal, masing-masing melawan yang lain agar yang satu menang atas yang lain dan membentuk sesuatu (yang mengandung keduanya) mengikuti dirinya. Apakah ini tak berbeda dengan dua kekuatan luar yang satu melahirkan aksi tertentu dan yang lain reaksi? Kita semua tahu bahwa dua kekuatan yang saling berlawanan itu, yang keduanya dilahirkan oleh aksi dan reaksi itu ada dalam dua tubuh, dan tidak mungkin keduanya ada dalam satu tubuh. Karena, keduanya saling bertentangan dan saling menafikan. Dan ini tidak lain kecuali karena prinsip non-kontradiksi.

6. Kontradiksi-kontradiksi perang yang dikemukakan Mao Tse Tung (dalam kata-katanya): “Sesungguhnya, dalam perang, menyerang dan bertahan, maju dan mundur, menang dan kalah, semuanya itu adalah fenomena-fenomena kontradiktif. Yang satu tak mungkin ada tanpa yang lain. Kedua ekstrem itu saling menyerang (konflik), sebagaimana keduanya menyatu satu sama lain, sehingga membentuk totalitas perang, sehingga berkembang, dan memecahkan problem-problem perang.”[181]

Pada faktanya, teks tersebut adalah teks yang paling aneh di antara teks-teks terdahulu. Di dalamnya, Mao Tse Tung menganggap perang sebagai suatu maujud hidup real yang mengandung dua kontradiksi, menang dan kalah. Padahal ide tentang perang ini tidak benar kecuali bagi mentalitas primitif yang telah terbiasa memandang segala sesuatu dalam kerangka yang umum. Peperangan, dalam analisis filosofis, tak lain adalah multiplisitas peristiwa-peristiwa, yang tersatukan hanya dalam cara pengungkapannya saja. Menang bukanlah kalah, dan tentara yang menang bukanlah tentara yang kalah, dan metode-metode atau titik-titik kekuatan yang mempersiapkan untuk kemenangan bukanlah metode-metode atau titik-titik kelemahan yang menyebabkan kekalahan. Hasil-hasil yang menentukan yang ke sini peperangan mengarah, bukan disebabkan oleh konflik dialektik dan hal-hal berlawanan yang menyatu. Tetapi disebabkan oleh konflik antara kedua kekuatan luar yang dari sini yang satu mengatasi yang lain.

7. Kontradiksi-kontradiksi penilaian yang dibicarakan Kedrov: “Betapapun[182] sederhananya suatu penilaian dan bagaimanapun biasanya penilaian itu, ia mengandung benih-benih atau elemen-elemen kontradiksi dialektik yang bergerak dan mmbuh dalam kerangka semua pengetahuan manusia.” [183] Hal ini ditegaskan Lenin dalam kata-katanya: “Memulai dengan proposisi paling sederhana atau dengan proposisi paling biasa dan umum, dan lain-lain, seperti: ‘Daun-daun pohon hijau’, ‘Ivan adalah seorang laki-laki’, ‘Zhucha adalah anjing’, dan seterusnya, juga melibatkan dialektika. Yang khusus adalah yang umum; yakni hal-hal berlawanan (yang khusus itu adalah lawan yang umum) adalah identik. Bahkan di sini juga ada prinsip-prinsip primer, ide-ide niscaya, dan hubungan objektif dengan alam, dan seterusnya. Maka, yang aksidental, yang niscaya, yang lahir, yang substansi, ada di sini. Jadi, kalau saya berkata: ‘Ivan adalah seorang laki-laki’, ‘Zhucha adalah anjing’, ‘Ini adalah daun pohon’, dan seterusnya, maka saya hanya menolak deretan lambang-lambang, karena hal-hal itu adalah aksidental, dan saya memisahkan permukaan dari subtansi serta menetapkaan kontradiksi antara keduanya. Demikian pula, dalam setiap proposisi dan dalam setiap sel, kita dapat mengungkapkan semua unsur dialektika.” [184]

Tetapi, adalah hak kita untuk bertanya kepada Lenin tentang sifat umum yang dinisbahkannya kepada makna kata “seorang laki-laki”. Apakah ia adalah sifat ide yang kita ciptakan dalam akal kita tentang kata “seorang laki-laki”, atau realitas objektif kata tersebut? Pertanyaan ini tidak membutuhkan banyak permenungan agar mencapai jawaban yang benar, yaitu sebagai berikut. Umum adalah sifat ide, bukan sifat realitas. Ide kita tentang kata “seorang laki-laki” membuat ide umum yang mengungkapkan banyak partikular yang memiliki nama ini. Ivan adalah seorang laki-laki, Kedrov adalah seorang laki-laki, dan Lenin adalah seorang laki-laki, dalam arti bahwa ide yang kita miliki tentang kata “laki-laki” adalah produk mental yang mencakup individu-individu tersebut. Sedangkan realitas objektif laki-laki selalu adalah sesuatu tertentu dan terbatas. Kalau pernyataan ini kita pertimbangkan, kita dapat mengetahui bahwa kontradiksi dalam kata-kata kita: “Ivan adalah seorang laki-laki” hanya ada jika kita ingin menilai ide tertentu kita tentang Ivan sebagai sama dengan ide umum yang kita miliki tentang laki-laki. Ini adalah kontradiksi yang jelas dan sama sekali tidak benar. Karena, ide tertentu tentang Ivan tidak mungkin menjadi ide umum tentang laki-laki. Kalau tidak demikian, tentu yang umum dan yang khusus (tertentu) akan menjadi hal yang sama seperti yang dipikirkan Lenin.

Dengan demikian, apabila kita mengambil Ivan sebagai ide khusus, dan laki-laki sebagai ide umum, kita akan mendapatkan diri kita dalam kontradiksi ketika kita mencoba menyatukan dua ide tersebut. Tetapi, ucapan kita, “Ivan adalah seorang laki-laki”, tidak lantas berarti bersatunya dua ide tersebut, namun bersatunya realitas objektif kata “Ivan” dan realitas objektif kata “laki-laki”, dalam arti bahwa kedua ungkapan itu adalah satu realitas objektif. Adalah jelas bahwa realitas laki-laki tidak berkontradiksi dengan realitas eksternal Ivan; tetapi ia adalah satu dan serupa dengannya. Karena itu, penyatuan keduanya itu tidak mengandung kontradiksi. Demikianlah, menjadi jelas bahwa kontradiksi, yang diduga Marxisme ada dalam proposisi “Ivan adalah seorang laki-laki” tersebut didasarkan pada penafsiran yang salah terhadap proposisi tersebut, yang menganggap proposisi tersebut sebagai penyatuan dua ide, yang satu umum dan yang lain khusus, bukan dua realitas yang sama-sama objektif.

Sekali lagi, kita tanyakan kontradiksi yang diduga ada dalam proposisi “Ivan adalah seorang laki-laki”. Apa konsekuensinya? Bagaimana perkembangan yang muncul darinya? Kontradiksi-kontradiksi internal itu, dalam pendapat Marxisme, menyalakan konflik dan dianggap sebagai bahan bakar bagi perkembangan itu. Nah, bagaimana Marxisme dapat menerangkan kepada kita cara berkembangnya proposisi “Ivan adalah seorang laki-laki”? Apakah proposisi itu menjadi bentuk lain disebabkan kontradiksi-kontradiksinya?

Kesimpulan-kesimpulan dari studi kita terhadap kontradiksi-kontradiksi dialektik adalah bahwa semua kontradiksi yang dikemukakan Marxisme dalam lapangan filsafat dan ilmu atau dalam lapangan umum bukanlah jenis kontradiksi yang ditolak prinsip dasar logika metafisis, dan tidak mungkin dianggap sebagai dalil untuk menolak prinsip tersebut. Tetapi itu tidak lebih daripada hal-hal yang berlawanan dari Maltese Chrysippus[185] (2000 tahun lalu) terhadap prinsip non-kontradiksi sembari [186] berkata: “Kalau bapakmu datang kepadamu dengan memakai selubung, engkau tidak akan mengenalnya. Jadi engkau tahu dan sekaligus tidak tahu bapakmu.” Adalah intuitif bahwa corak-corak hal-hal berlawanan sederhana itu tidak mungkin menghancurkan prinsip niscaya umum pikiran manusia, yaitu prinsip non-kontradiksi. Kebenaran yang jelas bagi kita dari sejumlah contoh kontradiksi dialektik adalah konflik dan interaksi antara hal-hal berlawanan secara eksternal. Kita telah tahu bahwa corak interaksi ini antara hal-hal berlawanan itu bukanlah salah satu atribut dialektika, tetapi ia adalah salah satu ketetapan metafisika, seperti kita ketahui dari teks-teks Aristoteles. Apabila kita mau mengabaikan kesalahan-kesalahan Marxisme dalam memahami kontradiksi dan kegagalannya membuktikan hukum dialektika, kita tetap akan mendapatkan bahwa kontradiksi dialektik tidak mengajukan kepada kita penjelasan yang dapat diterima tentang alam, dan ia juga tidak dapat memberikan justifikasi yang sahih, sebagaimana akan kita terangkan dalam bab “Materi dan Tuhan”.

Adalah menarik untuk menunjuk ke contoh kontradiksi yang diajukan salah seorang penulis modern [187] untuk menolak prinsip non-kontradiksi. Ia mengatakan bahwa prinsip non-kontradiksi menetapkan bahwa setiap kuantitas dapat berhingga dan dapat juga tak berhingga, dan tidak mungkin berhingga dan sekaligus tidak berhingga disebabkan oleh mustahilnya kontradiksi. Jika masalahnya demikian, maka setengahnya kuantitas yang berhingga itu selalu berhingga. Ia tidak mungkin tidak berhingga. Kalau tidak, jumlah dua kuantitas tak berhingga itu berhingga. Dan ini mustahil. Maka deretan yang mengandung kuantitas 1, 1/2, 1/4, 1/8, 1/16, 1/32 ( yang masing-masing kuantitas memiliki separuhnya kuantitas yang mendahuluinya), setiap bagian dari deretan ini harus berhingga, bagaimanapun panjangnya deretan ini. Kalau deretan tanpa batas, tentu ada sukses tak terhingga kuantitas-kuantitas yang masing-masing darinya berhingga. Maka jumlah bagian-bagian deretan itu akan menjadi jumlah bilangan tak berhingga kuantitas-kuantitas yang berhingga. Itulah sebabnya ia harus tak berhingga. Tetapi, dengan sedikit mengetahui matematika kita akan tahu ia berhingga, karena ia adalah 2. [188]

Demikianlah, penulis tersebut hendak menyimpulkan bahwa kontradiksi antara yang berhingga dan yang tak berhingga itu memperbolehkan dua kutub yang kontradiksi untuk berkumpul dalam satu kuantitas. Tetapi, ia lupa bahwa kuantitas yang tidak berhingga dalam contohnya itu adalah bukan kuantitas yang berhingga. Karenanya, tidak ada kontradiksi. Tidak benar bahwa satu kuantitas itu berhingga dan bukan berhingga, kalau kita tengok prinsip non-kontradiksi, seperti yang dicoba simpulkan penulis tersebut. Hal itu karena kuantitas-kuantitas yang diasumsikan dalam deretan tadi, yang darinya masing-masing adalah separuhnya kuantitas yang mendahului, karena itu adalah unit-unit, dan kita dapat menghitungnya seperti kita menghitung satuan-satuan buah kenari, atau kita seperti menghitung matarantai-matarantai dari rantai besi yang panjang. Dalam kasus ini, kita akan menghadapi sejumlah tak terhingga satuan-satuan. Jadi, bilangan lengkap (1) adalah satuan pertama, dan pecahan 1/2 adalah satuan kedua, dan pecahan 1/4 adalah satuan ketiga. Demikianlah, jumlah bertambah satu demi satu sampai tak berhingga. Jadi, ketika menambahi bilangan-bilangan tersebut, kita tidak menghadapi sesuatu seperti satuan-satuan. (2). Tetapi kita menghadapi bilangan yang banyak sekali tanpa hingga. Sedangkan jika kita hendak menambahi kuantitas-kuantitas yang dilambangkan bilangan-bilangan tersebut, maka kita akan mencapai bilangan 2 saja. Karena, jumlah matematis kuantitas-kuantitas defisien tersebut adalah cuma itu. Jadi, yang tak berhingga adalah kuantitas bilangan yang sama yang dapat ditambah karena hal itu adalah satuan-satuan yang kita tambahkan satu dengan yang lain, seperti kita menambahkan pena kepada pena atau buah kenari kepada buah kenari. Dan yang berhingga bukanlah kuantitas bilangan-bilangan yang dapat ditambah karena itu satuan-satuan dan sesuatu-sesuatu yang dapat ditambah, tetapi kuantitas-kuantitas yang dilambangkan bilangan-bilangan tersebut. Dengan kata lain, ada dua kuantitas: yang pertama adalah kuantitas bilangan-bilangan yang sama karena mereka satuan-satuan, yang kedua adalah kuantitas dari apa yang secara matematis dilambangkan oleh bilangan-bilangan itu, disebabkan oleh fakta bahwa setiap bilangan dalam deretan tersebut melambangkan kuantitas tertentu. Yang pertama tak berhingga, dan mustahil itu berhingga. Yang kedua adalah berhingga, dan mustahil itu tak berhingga.


Sasaran Politis Luar Gerak Kontradiktif
Gerak dan kontradiksi – keduanya adalah dua hal dialektik yang telah kami kritik dengan terinci – membentuk bersama-sama hukum gerak dialektik atau hukum gerak kontradiktif yang perkembangannya senantiasa berdasarkan prinsip-prinsip dialektik. Marxisme telah mengambil hukum tersebut sebagai hukum permanen alam. Ia bertujuan mengeksploitasi hukum ini di lapangan politis bagi kepentingannya sendiri. Maka, aksi politis adalah sasaran pertama yang mengharuskan Marxisme menuangkan hukum ini dalam cetakan filosofis yang membantunya membuat kebijakan baru bagi dunia seluruhnya. Hal ini dikatakan Marx dengan sedikit hati-hati: “Para filosof itu tidak berbuat apa-apa, selain menafsirkan dunia dalam berbagai cara. Tetapi masalahnya adalah masalah perkembangannya.”[189]

Jadi, permasalahannya adalah perkembangan politis yang dikemukakan yang harus menemukan logika untuk membenarkannya, dan filsafat yang pada prinsip-prinsipnya ia bertumpu. Karena itu, Marxisme mengemukakan hukum yang cocok dengan rencana-rencana politisnya, kemudian mengupayakan bukti untuk hukum ini dalam lapangan-lapangan ilmiah seraya percaya sebelumnya dan sebelum bukti apa pun pada keniscayaan mengambil hukum ini, selama hukum ini menyoroti jalan aksi dan perjuangan. Dalam kesempatan ini, ada baiknya kita mendengarkan Engels ketika ia berbicara tentang penelitian-penelitian yang dilakukannya dalam bukunya, Anti Duhring: “Tak perlu dikatakan, saya telah mengemukakan dengan terburu-buru dan ringkas mengenai subjek-subjek matematika dan ilmu alam untuk mendapatkan kedamaian pikiran berkenaan dengan detil-detil dari apa yang tak saya ragukan pada umumnya, (yakni) bahwa hukum-hukum dialektik gerak itu sendiri, yang menguasai spontanitas terang peristiwa-peristiwa dalam sejarah , juga melicinkan jalannya dalam alam.”[190]

Dalam teks tersebut, Marxisme meringkaskan untuk kita metodenya dalam upaya-upaya filosofisnya, dan bagaimana ia sangat mempercayai penemuan hukum-hukum dunia dan meyakini hukum-hukum itu sebelum ia tahu sejauh mana aktualitas hukum-hukum itu dalam lapangan-lapangan ilmiah dan matematis. Setelah itu, Marxisme berhati-hati menerapkan hukum-hukum itu pada lapangan-lapangan tersebut, dan menundukkan alam kepada dialektika dalam presentasi yang terburu-buru, menurut istilah Engles, tak soal dengan biaya yang kiranya dikeluarkan ini, dan walaupun hal tersebut menimbulkan protes para ahli matematika dan ilmu alam, seperti diakui Engels dalam frasa yang mendekati teks yang kami nukil barusan. Karena tujuan pokok menciptakan logika baru itu ialah menciptakan senjata mental bagi Marxism dalam pergulatan politisnya maka adalah wajar bahwa Marxisme memulai – pertama-tama dan sebelum segalanya – dengan menerapkan hukum dialektik pada lapangan politis dan sosial. Ia menerangkan masyarakat dengan segala bagiannya menurut hukum gerak kontradiktif atau kontradiksi bergerak. Ia menundukkan masyarakat kepada dialektika yang diklaimnya sebagai hukum pikiran dan sekaligus hukum dunia eksternal. Marxisme lantas berasumsi bahwa masyarakat itu berkembang dan bergerak mengikuti kontradiksi-kontradiksi kelas yang terkandung di dalamnya. Masyarakat, dalam setiap tahap perkembangan, mengambil bentuk kemasyarakatan hal yang selaras dengan kelas yang dominan dalam masyarakat. Kemudian mulailah pergulatan berdasarkan kontradiksi yang dikandung dalam bentuk tersebut. Sebagai hasil dari hal ini, Marxisme menyimpulkan bahwa analisis atas kandungan sosial masyarakat kapitalis adalah pergulatan antara hal-hal kontradiktif di dalam masyarakat tersebut, antara kelas pekerja di satu pihak dan kelas pemilik modal di pihak lain. Pergulatan ini memberi masyarakat gerak berkembang yang akan melumatkan kontradiksi-kontradiksi kapitalis ketika kepemimpinan diserahkan kepada kelas pekerja yang terwakili dalam partai yang didirikan berdasarkan materialisme dialektik, yang dapat mengangkat kepentingan-kepentingan kelas pekerja dengan metode ilmiah yang terkomposisi.

Sekarang kita hendak mendiskusikan penjelasan dialektik Marxis mengenai masyarakat dan perkembangannya, suatu penjelasan yang tumbang secara alami, sehingga kita dapat mengkritik dan mengungkapkan kekeliruan dialektika sebagai logika umum, seperti yang kita determinasikan dalam studi kita ini. Materialisme historis akan kami studi secara kritis dan terinci dalam buku Masyarakat Kita atau Ekonomi Kita.[191] Tetapi, sekarang kami hanya hendak menjelaskan satu hal penting dalam aplikasi sosial dialektika yang berkaitan dengan dialektika itu sendiri secara umum. Hal tersebut adalah bahwa aplikasi sosial dan politis dialektika seperti yang dituntut. Marxisme menyebabkan segera ditolaknya dialektika. Karena jika gerak berkembang masyarakat memperoleh bahan bakar niscayanya dari pergulatan kelas antara kontradiksi-kontradiksi yang terkandung dalam struktur kemasyarakatan umum, dan jika justifikasi kontradiktif gerak itu adalah penjelasan satu-satunya tentang masyarakat dan sejarah, maka pada akhirnya gerak pasti akan diam. Juga perbedaan-perbedaan antara hal-hal kontradiktif dan antara rentang gerak hal-hal kontradiktif akan menjadi diam dan beku, karena Marxisme menganggap tahapan yang dihasilkan berdasarkan hal-hal kontradiksi itu, dan yang ke sana ia berupaya memandu perjalanan ras manusia adalah tahap yang di dalamnya tak ada kelas-kelas dan masyarakat akan menjadi satu kelas. Kalau macam-macam kelas dalam masyarkat sosialis yang dikedepankan itu sudah tidak ada, maka padamlah nyala konflik, dan lenyaplah gerak-gerak kontradiktif sama sekali, dan mencapailah masyarakat suatu stabilitas konstan. Karena, bahan bakar satu-satunya bagi perkembangan masyarakat, dalam pandangan Marxisme, adalah legenda kontradiksi kelas yang diciptakan perkembangan itu. Nah, jika kontradiksi itu sudah hilang, itu berarti bebasnya masyarakat dari pengaruh dialektika, dan dengan begitu, maka dialektika akan melepaskan posisi menguasai alam.

Demikianlah, kita tahu bahwa penjelasan Marxisme mengenai perkembangan masyarakat berdasarkan kontradiksi kelas dan prinsip-prinsip dialektika menyebabkan terhentinya sama sekali perkembangan tersebut. Kebalikan dari hal itu juga benar apabila kita menempatkan api perkembangan atau bahan bakar gerak dalam kesadaran atau pikiran atau pada apa pun saja selain kontradiksi kelas yang dianggap Marxisme sebagai sumber umum semua perkembangan dan gerak.

Nah, selanjutnya, bukankah pantas kita menggambarkan penjelasan dialektik tentang sejarah dan masyarakat itu sebagai satu-satunya penjelasan yang .menerakan kebekuan dan ketetapan pada manusia, bukan penjelasan yang meletakkan sumber perkembangan pada sumber yang tidak pernah kering, yaitu kesadaran dengan berbagai coraknya? Selain ini juga kebekuan yang dihasilkan Marxisme sendiri, dan yang membencanai dialektika mental manusia yang dibangga-banggakan Marxisme, ketika dialektika dan infinitas dunia dianggap sebagai kebenaran-kebenaran mutlak, dan ketika negara mengambil dialektika sebagai doktrin resmi yang tak dapat lagi diperdebatkan dan didiskusikan, dan sebagai rujukan akhir yang kepadanya segenap ilmu dan pengetahuan harus ditundukkan. Pikiran apa pun atau upaya mental yang tak selaras dengannya dan yang tidak dimulai dengannya harus dihentikan. Maka pikiran manusia dalam berbagai lapangan kehidupan tertawan oleh suatu logika tertentu. Segenap bakat dan kapasitas intelektual dimasukkan ke dalam lingkaran yang dirancang untuk manusia oleh filosof resmi negara.

Dalam bab-bab mendatang, insya Allah, kami akan membantah legenda kontradiksi kelas, dan mengungkapkan kekontroversialan Marxisme dalam memerinci kontradiksi-kontradiksi hak milik, dan memberikan penjelasan yang sahih tentang masyarakat dan sejarah.[192]

Lompatan-Lompatan Suatu Perkembangan
Stalin berkata: “Dialektika, berbeda dengan metafisika, tidak menganggap perubahan-perubahan kualitatif. Tetapi, ia menganggapnya sebagai perkembangan yang bergerak dari perubahan-perubahan kuantitatif kecil dan tersembunyi kepada perubahan-perubahan yang fenomenal dan mendasar, yakni kepada perubahan-perubahan kualitatif. Perubahan- perubahan kualitatif tersebut bukan berangsur-angsur, tetapi cepat dan tiba-tiba, terjadi secara melompat-lompat dari satu tahap ke lain tahap. Perubahan-perubahan itu bukan hanya mungkin, tetapi merupakan keniscayaan. Ia adalah hasil akumulasi perubahan-perubahan kuantitatif tak terinderai dan berangsur-angsur. Karena itu, menurut metode dialektika, adalah perlu untuk memahami gerak berkembang, bukan sebagai gerak melingkar atau semata-mata pengulangan prosedur yang sama, tetapi sebagai gerak maju linier dan perpindahan dari tahap kualitatif lama ke tahap kualitatif baru.”[193]

Dalam hal ini, dialektika menegaskan bahwa perkembangan dialektis materi itu memiliki dua corak: yang pertama, perubahan kuantitatif secara berangsur-angsur; dan yang kedua, perubahan kualitatif secara tiba-tiba, yang terjadi segera, sebagai hasil dari perubahan-perubahan kuantitatif berangsur-angsur. Ini berarti bahwa perubahan-perubahan kuantitatif – ketika mencapai titik transisi – berubah dari kuantitas tertentu ke kualitas baru.

Perkembangan dialektis itu bukan gerak melingkar materi yang di dalamnya materi kembali kepada sumber yang sama. Tetapi, ia adalah gerak menyempurna yang senantiasa menaik. Jika dalam hal ini orang keberatan kepada Marxisme seraya mengatakan bahwa alam bergerak secara melingkar, seperti pada buah yang berkembang menjadi pohon, kemudian pada gilirannya kembali menjadi buah seperti sebelumnya. Marxisme menjawab bahwa gerak tersebut adalah juga gerak menyempurna, dan bukan melingkar seperti gerak-gerak yang dibuat oleh jangka. Hanya saja penyempurnaan di dalamnya itu disebabkan oleh segi kuantitatif, bukan kualitatif. Jadi, meskipun buah kembali dalam perjalanannya yang linier menjadi buah lagi, ia menyempurna secara kuantitatif. Karena, pohon, yang tumbuh dari satu buah, berbiak menjadi beratus-ratus buah. Maka, tidak pernah terjadi kembali (return) ke gerak (asal).[194]

Pertama-tama kita harus memperhatikan tujuan yang ada di balik masalah dialektis baru itu. Kita telah tahu bahwa Marxisme membuat rancangan praktis bagi pengembangan politis yang dimauinya. Kemudian ia mengupayakan pembenaran logis dan filosofis untuk rancangan tadi. Nah, bagaimanakah rancangan-rancangannya, yang untuk itu hukum dialektis tersebut dibangun?

Adalah mudah sekali menjawab pertanyaan itu. Marxisme berpendapat bahwa satu-satunya hal yang melicinkan jalan bagi penguasaan politisnya atau bagi penguasaan politis dari kepentingan kepentingan yang dibangunnya, adalah penjungkirbalikan (revolusi). Karena itu ia terus mengupayakan pembenaran filosofis bagi revolusi itu. Tetapi ia tidak mendapatkannya, baik dalam hukum gerak maupun dalam kotradiksi. Karena, kedua hukum itu menuntut masyarakat untuk berkembang mengikuti kontradiksi-kontradiksi yang menyatu di dalamnya. Prinsip gerak kontradiksi tidak cukup untuk menjelaskan metode dan langsungnya perkembangan. Karena itu, menjadi niscaya untuk membuat hukum lain yang menjadi tumpuan revolusi tersebut. Hukum itu adalah hukum “lompatan-lompatan perkembangan,” yang menyatakan adanya transformasi langsung kuantitas ke kualitas. Berdasarkan hukum itu, revolusi bukan saja dapat, tetapi merupakan keniscayaan dan keharusan, sesuai dengan hukum-hukum umum alam semesta. Jadi, perubahan-perubahan kuantitatif yang berangsur-angsur dalam masyarakat menjadi – dalam kisaran-kisaran historis yang besar – perubahan kualitatif. Maka, tumbanglah bentuk kualitatif lama bangunan masyarakat umum dan berubah ke bentuk baru.

Demikianlah, seharusnya – bukan hanya sebaiknya – kontradiksi- kontradiksi bangunan masyarakat umum timbul dari prinsip revolusioner yang luas aplikasinya, yang menurutnya, kelas yang sebelumnya berkuasa, dan yang menjadi kelompok kedua (turunan) dalam proses kontradiksi tumbang dan hancur, sehingga kontradiksi yang baru yang telah diunggulkan oleh kontradiksi-kontradiksi internal sebagai sisi utama dalam proses kontradiksi, akan memiliki kesempatan untuk berkuasa. Berkata Marx dan Engels: “Orang-orang komunis tidak hendak menyembunyikan pendapat mereka, maksud-maksud serta rencana-rencana mereka. Mereka memproklamasikan dengan lantang bahwa tujuan mereka tidak mungkin dicapai dan direalisasikan, kecuali dengan merubuhkan segenap sistem kemasyarakatan tradisional, dengan kekerasan dan kekuatan.”[195] Berkata pula Lenin: “Revolusi proletariat tidaklah mungkin terjadi tanpa penghancuran dengan kekerasan sistem borjuasi negara.” [196]

Setelah membuat hukum lompatan-lompatan perkembangan, ia harus memberikan sejumlah contoh, “menyajikannya dengan cepat”, menurut istilah Engels, untuk mendemonstrasikan dengannya hukum itu dalam kasus-kasus umum dan khususnya. Inilah tepatnya yang dilakukan Marxisme; ia memberi kita sejumlah contoh yang menjadi landasan hukum umumnya. Di antara contoh-contoh yang dikemukakan Marxisme mengenai hukum tersebut adalah contoh air: Ketika air diletakkan di atas api, maka naiklah temperaturnya secara berangsur-angsur. Karena kenaikan yang berangsur-angsur itulah terjadi perubahan-perubahan kuantitatif secara pelan-pelan. Perubahan-perubahan itu, pada mulanya, tidak mempengaruhi keadaan air, karena ia itu cair. Tetapi, kalau temperaturnya naik menjadi 100°C, maka pada saat itu air itu akan berubah dari keadaan cair ke uap. [197] Kuantitas berubah menjadi kualitas. Demikian pula, jika temperatur air itu menurun ke 0°C, air itu akan segera berubah menjadi es. [198] [199]

Engels mengemukakan contoh-contoh lain tentang lompatan-lompatan dialektik asam-asam organik dalam kimia, yang masing-masing memiliki derajat tertentu untuk mencair atau mendidihnya. Dengan mencapai derajat tersebut, ia melompat ke keadaan kualitatif baru. Asam formik, misalnya, akan mendidih pada 100°C dan meleleh pada 15°C, dan asam asetik titik didihnya adalah 118°C dan titik lelehnya 17°C dan seterusnya. [200] Jadi, dalam mendidih dan meleleh, senyawa hidrokarbon mengikuti hukum lompatan-lompatan dan transformasi- transformasi langsung.

Kita tidak ragu bahwa perkembangan kualitatif sejumlah fenomena alam berlangsung dengan lompatan-lompatan seketika, seperti perkembangan air dalam contoh yang sudah disebutkan tadi atau perkembangan asam organik dalam keadaan mendidih dan mencairnya, juga seperti semua senyawa lainnya yang watak dan kualitas-kualitasnya bergantung pada proporsi-proporsi yang dari proporsi-proporsi itu masing-masing tersusun. [201] Tetapi, hal itu tidak berarti bahwa dalam segala bidang perkembangan itu niscaya melompat pada tahapan-tahapan tertentu agar menjadi perkembangan kualitatif. Memberikan sejumlah contoh tidaklah cukup untuk membuktikan secara ilmiah atau filosofis keharusan lompatan-lompatan tersebut dalam sejarah perkembangan, terutama ketika Marxisme menyeleksi contoh-contoh seperti itu dan mengabaikan contoh-contoh yang digunakan untuk menjelaskan hukum dialektika yang lain, hanya karena contoh-contoh itu tidak cocok dengan hukum baru tersebut. Marxisme telah menggambarkan kontradiksi-kontradiksi perkembangan dengan germ hidup di dalam telur yang cenderung menjadi anak ayam [202] dan dengan benih yang melibatkan kontradiksinya, yang dengan demikian berkembang dan menjadi pohon berkat konflik internalnya. Tidakkah kita berhak meminta Marxisme mempertimbangkan lagi contoh-contoh tersebut, supaya kita tahu bagaimana ia bisa menjelaskan kepada kita lompatan-lompatan perkembangan dalam contoh-contoh tersebut? Apakah proses menjadinya benih ke pohon, atau germ ke anak ayam (berkembangnya tesis menjadi antitesis), atau menjadinya anak ayam ke ayam dewasa (berkembangnya antitesis menjadi sintesis) itu, disebabkan oleh salah satu lompatan dialektik, dan dengan demikian mengubah seketika germ menjadi anak ayam dan benih menjadi pohon, dan tranformasi itu terjadi dengan gerak linier berangsur-angsur? Bahkan dalam elemen-elemen kimiawi yang bisa meleleh, kita mendapatkan dua corak perubahan sekaligus. Seperti perubahan terjadi dalam elemen-elemen kimiawi tersebut dengan satu lompatan, ia bisa pula terjadi dengan berangsur-angsur. Kita tahu, misalnya, bahwa elemen-elemen kristal berubah dari keadaan keras ke keadaan cair secara tiba-tiba, seperti es yang meleleh pada temperatur 80°C. Pada saat itu es segera menjadi cair. Kebalikan hal itu adalah elemen-elemen yang tidak kristal, seperti kaca dan lilin. Keduanya tidak meleleh dan tidak berubah secara kualitatif sekaligus, tetapi secara berangsur-angsur. Dengan demikian temperatur lilin, misalnya, meninggi selama proses pelelehan, sehingga jika mencapai derajat tertentu, soliditas lilin menjadi melunak dan melembek. Lilin mulai menjadi, secara berangsur-angsur dan terlepas dari segala sesuatu yang lain, lebih fleksibel dan mudah dibentuk (malleable). Dalam keadaan fleksibel, ia (berubah) berangsur-angsur; ia tidak solid dan tidak cair. Ini bersinambungan sampai ia menjadi elemen yang cair.

Mari kita ambil contoh lain dari fenomena-fenomena kemasyarakatan yaitu bahasa sebagai fenomena yang berkembang dan berubah dan yang tidak tunduk kepada hukum dialektika. Sejarah bahasa tidak menceritakan kepada kita tentang perubahan kualitatif langsung bahasa dalam perjalanan sejarahnya. Tetapi, ia mengungkapkan transformasi- transformasi berangsur-angsur dalam bahasa dari segi kuantitas dan kualitas. Kalau bahasa tunduk kepada hukum lompatan-lompatan, dan jika perubahan-perubahan kuantitatif berangsur menjadi perubahan langsung dan menentukan, tentu kita dapat menangkap hal-hal yang menentukan dalam kehidupan bahasa, yang di dalamnya bahasa berubah dari satu bentuk ke lain bentuk sebagian hasil perubahan-perubahan kuantitatif pelan-pelan. Tetapi ini adalah sesuatu yang tidak berlaku untuk setiap bahasa yang digunakan orang dalam kehidupan bermasyarakatnya.

Jadi, kita bisa mengetahui, berdasarkan segenap fenomena alam itu, bahwa lompatan dan kesegeraan (immediacy) bukanlah keniscayaan bagi perkembangan kualitatif. Selanjutnya, sebagaimana perkembangan bisa segera, ia juga bisa secara berangsur-angsur. Mari kita ambil contoh air yang dalam keadaan beku dan mendidihnya, seperti yang sudah disebutkan tadi. Mari kita perhatikan berikut ini: Pertama, gerak perkembangan yang dikandung contoh tersebut bukanlah gerak dialektik, karena eksperimen tidak membuktikan bahwa perkembangan ini adalah hasil dari kontradiksi-kontradiksi internal air, sebagaimana yang dituntut kontradiksi-kontradiksi perkembangan dialektik itu. Kita semua tahu bahwa kalau bukan karena temperatur dari luar, air akan tetap air, dan tidak akan berubah menjadi uap. Jadi, tidak berlangsung perkembangan konversional air secara dialektik. Kalau kita mau menganggap hukum yang mengatur perubahan-perubahan kemasyarakatan itu sama dengan hukum yang menurutnya perubahan segera air atau segenap senyawa kimiawi terjadi (seperti diasumsikan Marxisme), tentu ini membawa ke hasil yang berbeda dengan yang dimaksudkan Marxisme. Alasannya begini: Lompatan-lompatan perkembangan dalam sistem kemasyarakatan menjadi konversi-konversi yang disebabkan oleh faktor-faktor luar, bukan oleh semata-mata kontradiksi-kontradiksi yang dikandung di dalam sistem itu sendiri. Dan hilanglah sifat keniscayaan dari lompatan-lompatan tersebut, dan menjadi bukan keniscayaan, jika faktor-faktor luar tidak tersedia.

Adalah jelas bahwa kita, selain dapat menjaga keadaan fluiditas air dan menjauhkan air dari faktor-faktor yang membuatnya melompat ke keadaan uap, juga dapat pula menjaga sistem kemasyarakatan dan menjauhkannya dari faktor-faktor luar yang membuatnya hancur. Karena itu, menjadi jelas bahwa menerapkan juga hukum dialektik atas perkembangan segera air dalam mendidih dan membekunya, dan atas masyarakat dalam perubahan-perubahannya, berarti membuat kesimpulan-kesimpulan yang bertentangan dengan apa yang justru diharapkan oleh dialektika.

Kedua, gerak berkembang air bukanlah gerak linier. Tetapi, ia adalah gerak melingkar yang di dalamnya air berubah menjadi uap dan uap kembali lagi ke keadaan semula, tanpa menghasilkan penyempurnaan kuantitatif atau kualitatif. Kalau gerak itu dianggap dialektik, maka artinya bahwa bukanlah keniscayaan bagi gerak itu untuk linier dan maju selamanya. Bukan pula keharusan bagi perkembangan dialektik di dalam dunia alam atau masyarakat untuk menjadi sempurna dan maju.

Ketiga, lompatan air ke uap yang terjadi bila temperatur mencapai derajat tertentu, tidak harus meliputi sekaligus seluruh air. Setiap orang tahu bahwa berbagai kuantitas air laut dan samudera menguap berangsur-angsur. Tidak benar bahwa seluruh air itu membuat lompatan seketika ke keadaan uap. Ini menunjukkan bahwa perkembangan kualitatif di tempat-tempat yang di dalamnya perkembangan ini segera terjadi tidak serta merta meliputi perkembangan wujud sebagai suatu keseluruhan. Tetapi perkembangan ini dimulai pada bagian-bagian wujud itu, yang melompat bersama bagian-bagian itu ke keadaan uap. Lompatan-lompatan itu terjadi beriring-iringan dan berulang-ulang sampai keseluruhannya berubah. Perubahan kualitatif tidak akan bisa mencakup keseluruhannya. Maka, ia tetap terbatas pada bagian-bagian yang di dalam bagian-bagian ini ada kondisi-kondisi luar perubahan itu. Kalau ini adalah yang dimaksudkan oleh hukum dialektik berkenaan dengan alam, mengapa lompatan itu dalam lapangan kemasyarakatan diterapkan atas sistemnya secara menyeluruh? Mengapa, menurut hukum alami masyarakat, mesti menumbangkan struktur kemasyarakatan dalam setiap tahapan melalui perubahan yang segera lagi menyeluruh (revolusi)? Dan mengapa lompatan dialektik dalam lapangan kemasyarakatan tidak dapat menggunakan metode yang sama dengan metode yang digunakan di lapangan alam – dengan demikian tidak mempengaruhi apa pun selain aspek-aspek yang di dalamnya kondisi-kondisi perubahan terpenuhi, dan yang kemudian bergerak berangsur-angsur sampai pada akhirnya perubahan umum terealisasikan?

Akhirnya, perubahan kuantitas ke kualitas tidak dapat diterapkan dengan saksama pada contoh air yang berubah menjadi uap atau es, sesuai dengan naik dan turunnya derajat temperatur air, seperti yang diperbuat Marxisme. Ini karena Marxisme menganggap temperatur sebagai kuantitas, sedang uap dan es sebagai kualitas. Karena itu, ia menegaskan bahwa kuantitas dalam contoh tersebut berubah ke kualitas. Paham Marxis tentang temperatur uap dan es ini tidak berdasar. Sebab, ungkapan kuantitatif temperatur yang digunakan ilmu pengetahuan ketika berkata bahwa temperatur air itu 1000 atau 50 (misalnya), bukanlah esensi temperatur. Namun itu ungkapan metode ilmiah untuk mereduksi fenomena alami ke kuantitas-kuantitas, untuk memudahkan pengaturan dan penetapannya. Jadi, berdasarkan metode ilmiah dalam mengungkapkan sesuatu, temperatur bisa dianggap sebagai kuantitas. Metode ilmiah itu tidak hanya menganggap temperatur sebagai fenomena kuantitatif. Malah perubahan air ke uap, misalnya, juga diungkapkan secara kuantitatif. Persis seperti temperatur, dalam menjadi fenomena kuantitatif di dalam bahasa ilmiah. Ini karena ilmu pengetahuan menentukan perpindahan dari keadaan cair ke keadaan uap dengan tekanan yang bisa diukur secara kuantitatif, atau dengan hubungan-hubungan dan sifat- sifat atom-atom yang juga bisa diukur secara kuantitatif, sebagaimana begitu pula dengan temperatur. Jadi, dalam kaca mata ilmiah, contoh tersebut tidak mengandung apa pun selain kuantitas-kuantitas yang sebagiannya berubah ke sebagian yang lain. Adapun dalam kaca mata empirik – yaitu gagasan tentang temperatur yang diberikan oleh persepsi inderawi ketika kita celupkan tangan kita ke dalam air, atau gagasan tentang uap yang diberikan oleh persepsi inderawi ketika melihat air berubah menjadi uap – temperatur itu suatu keadaan kualitatif, seperti uap, keadaan ini mengganggu kita ketika temperaturnya tinggi. Jadi, kualitas berubah ke kualitas.

Karena itu kita mendapati bahwa air, dalam temperatur dan penguapannya, tidak mungkin diberikan sebagai contoh perubahan kuantitas ke kualitas, kecuali jika kita balik sendiri, yaitu melihat temperatur dengan kaca mata ilmiah dan melihat keadaan uap dengan kaca mata empirik.  Akhirnya, ada baiknya kita sendiri akhiri pembicaraan tentang lompatan-lompatan perkembangan ini dengan contoh perkembangan ini yang diberikan Marx dalam bukunya, The Capitalism. Ia menyebutkan bahwa tidak setiap kuantitas uang dapat diubah secara serampangan menjadi modal. Memang untuk terjadinya pengubahan itu, pemilik uang sebelumnya harus menguasai (memiliki) sejumlah minimum uang yang membuat kehidupannya melebihi taraf penghidupan pekerja biasa. Hal itu bergantung pada kemampuannya mempekerjakan delapan pekerja. Untuk menjelaskan itu, Marx memakai paham-paham utama ekonominya, yaitu nilai surplus, transformable capital dan modal tetap. Ia mengambil contoh pekerja yang bekerja delapan jam bagi dirinya sendiri, yakni untuk menghasilkan nilai upahnya, dan akibatnya bekerja empat jam untuk pemilik modal untuk menghasilkan nilai suprlus yang didapat pemilik uang. Dalam keadaan ini, pemilik modal (kapitalis) terkondisikan untuk memiliki sejumlah tertentu uang yang cukup memampukannya memasok dua pekerja dengan bahan-bahan mentah, sarana-sarana kerja dan upah, supaya setiap hari ia dapat menciptakan nilai lebih yang cukup memampukannya memiliki makanan yang sama dengan yang dimiliki salah satu pekerjanya.

Tetapi, karena tujuan kapitalis bukan semata-mata makanan, namun menambah kekayaan, maka produser dengan dua pekerja ini tetap bukan kapitalis. Agar ia dapat memiliki kehidupan (taraf hidup) yang melebihi taraf hidup pekerja biasa, ia harus dapat mempekerjakan delapan pekerja, selain mengubah separuh nilai surplus yang dihasilkan menjadi modal. Akhirnya, Marx mengomentari hal itu: “Dalam hal ini, seperti dalam ilmu alam, keabsahan hukum, yang ditemukan Hegel – yaitu hukum transformasi perubahan-perubahan kuantitatif ke perubahan-perubahan kualitatif – menjadi kuat ketika perubahan-perubahan kuantitatif mencapai batas tertentu.[203]

Contoh Marx itu dengan jelas menunjukkan kepada kita sejauh mana toleransi yang ditampakkan Marxisme dalam menyajikan contoh-contoh hukum-hukum yang dibuatnya. Meskipun toleransi dalam segala hal itu baik dan bajik, dalam lapangan ilmiah – terutama ketika maksudnya adalah menyingkapkan rahasia-rahasia alam, untuk mendirikan alam baru berdasarkan rahasia-rahasia dan hukum-hukum tersebut – toleransi itu adalah cacat (shortcoming) yang tak terampunkan. Bagaimanapun, sekarang kami tidak ingin membahas isu-isu aktual ekonomi, yang menjadi tumpuan contoh di atas, seperti isu yang berhubungan dengan nilai surplus dan konsep laba kapitalis menurut Marx. Tapi, yang penting bagi kami adalah penerapan secara filosofis hukum lompatan terhadap kapital. Karena itu, mari kita tutup pandangan kita terhadap segi-segi lain, dan kita arahkan ke satu segi ini.

Marx berpendapat bahwa uang bergerak melalui perubahan-perubahan kuantitatif sederhana dan berangsur-angsur. Kalau laba kapitalis mencapai batas tertentu, segera terjadilah perubahan esensial dan perubahan kualitatif. Dan uang pun menjadi modal batas itu dua kali lipat gaji pekerja biasa, setelah separuh (nilai surplus itu) dijadikan lagi sebagai modal. Selama uang tidak mencapai batas ini, ia tak akan mengalami perubahan kualitatif mendasar, dan tak akan menjadi kapital. Jadi, “kapital” adalah kata yang diucapkan Marx untuk menunjuk kepada sejumlah tertentu uang. Setiap orang memiliki kebebasan yang penuh untuk menerapkan dan menggunakan istilah-istilahnya. Baiklah kita anggap benar istilah Marx ini. Walau demikian itu tetap tidak benar dan secara filosofis tidak karuan bila beranggapan bahwa dengan mencapai batas tertentu itu uang berarti mengalami perubahan kualitatif dan lompatan dari satu kualitas ke kualitas lain. Sampainya uang pada batas tersebut tidak berarti apa-apa selain kenaikan kuantitatif. Tidak ada perubahan kualitatif uang selain apa yang selalu dihasilkan oleh kenaikan-kenaikan kuantitatif berangsur-angsur.

Kalau mau, kita bisa kembali kepada tahapan-tahapan terdahulu perkembangan elemen-elemen uang dalam perubahan-perubahan kuantitatifnya yang berturut-turut. Kalau seseorang memiliki uang yang memungkinkan ia dapat memasok tujuh pekerja dengan alat-alat dan upah mereka, maka apa keuntungan (profit)-nya menurut Marx? Menurut kalkulasi Marx, keuntungannya itu berupa nilai surplus yang sebanding dengan gaji tiga setengah pegawai, yakni yang sama dengan dua puluh delapan jam kerja. Karena itu, ia bukan kapitalis. Sebab, kalau separuh dari nilai surplus itu diubah menjadi kapital, tentu sisa dari nilai surplus itu tidak cukup memberinya dua kali gaji salah satu pekerja itu. Kalau kita andaikan ada kenaikan dalam nilai sederhana uang yang dimiliki sang pemilik, sehingga si pemilik itu dapat membeli – selain yang sudah dimilikinya – tenaga-tenaga setengah hari dari seorang pekerja yang bekerja untuk sang pemilik kapital selama enam jam, dan bekerja untuk orang lain selama enam jam lainnya, maka ia akan memperoleh dari pekerja tersebut setengah dari yang diperolehnya dari pekerjaan masing-masing tujuh pekerja lainnya. Ini berarti bahwa keuntungannya akan sama dengan tiga puluh jam kerja, ia akan bisa hidup lebih baik dari sebelumnya.

Kita ulangi lagi asumsi itu. Dapat kita bayangkan si pemilik, yang dapat, sebagai akibat dari sejumlah tambahan baru uangnya, membeli dari pekerja kedelapan tiga per empat jam, sehingga pekerja itu tidak lagi berhubungan dengan majikan lain kecuali tiga jam. Apakah, dalam hal ini, kita menghadapi kenaikan jumlah keuntungan dan standar hidup si pemilik, selain yang kita hadapi ketika terjadi perubahan kuantitatif di atas? Misalkan pemilik itu mampu memperbesar uangnya dengan menambahkan sejumlah baru yang memungkinkan membeli dari pekerja kedelapan seluruh pendapatannya setiap hari. Nah, apa yang bakal terjadi ada kenaikan nilai surplus dan standar hidup selain yang biasa terjadi sehagai akibat dari kenaikan-kenaikan kuantitatif sebelumnya? Memang, satu hal terjadi pada uang yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini adalah sesuatu yang berhubungan dengan segi kata saja, yaitu bahwa Marx tidak menamakan uang itu kapital. Sedangkan sekarang, ia tepat dinamakan dengan kata itu (kapital). Nah, apakah ini adalah perubahan kualitatif yang terjadi pada uang? Apakah perbedaan menyeluruh antara tahap uang ini dan tahap-tahap sebelumnya itu adalah masalah kata semata, sehingga kalau kita terapkan kata “kapital” pada tahap sebelumnya, maka akan terjadi perubahan kualitatif pada waktu itu?

Kaitan Umum
Stalin berkata: “Dialektika, berbeda dengan metafisika, tidak menganggap alam sebagai akumulasi aksidental hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang sebagian terpisah, terisolasi atau lepas dari sebagian yang lain. Tapi, ia menganggap alam sebagai satu keseluruhan yang kukuh yang di dalamnya hal-hal dan peristiwa-peristiwa saling berhubungan secara organik, dan saling bergantung satu sama lain. Sebagian merupakan kondisi (syarat) bagi sebagian yang lain secara timbal balik.”[204]

Jadi, alam, dengan bagian-bagiannya yang bermacam-macam, tidak mungkin dipelajari menurut metode dialektik ketika bagian-bagian ini saling terpisah satu sama lain dan terpisah dari kondisi-kondisi dan keadaan-keadaannya, dan juga dari apa pun yang lalu dan kini yang berhubungan dengan realitasnya, tidak seperti metafisika yang tidak melihat alam sebagai jaringan hubungan (net of lingkage and conjuction) tetapi melihat secara abstraktif murni. Karena itu, menurut paham dialektik, setiap peristiwa tidak dapat dimengerti jika terpisah dari peristiwa-peristiwa lain di sekitamya, dan jika dipelajari secara metafisik murni. Memang, kalau untuk menumbangkan filsafat itu cukup melontarkan tuduhan-tuduhan yang tidak benar terhadapnya, tentu tuduhan-tuduhan yang dilontarkan Marxisme dalam hal baru ini terhadap metafisika akan cukup untuk menghancurkan metafisika dan menolak pandangan isolasionisnya tentang alam yang berlawanan dengan jiwa hubungan yang kuat di antara bagian-bagian alam. Namun, biarlah Marxisme berkata kepada kita yang meragukan hubungan itu, dan yang metafisika tidak menerimanya, jika dilepaskan dari titik-titik lemah yang merepresentasikannya sebagai memiliki watak dialektik, dan jika ia bertumpu di atas asas filsafat yang kukuh dari prinsip kausalitas dan hukum-hukumnya (Bab VI kami khususkan untuk menelaahnya).

Peristiwa-peristiwa, dalam pandangan umum terhadap alam, tidak lain adalah: (1) merupakan himpunan akumulasi kebetulan, dalam arti setiap peristiwa terjadi secara kebetulan semata-mata, tanpa ada keniscayaan yang menuntut adanya. Ini adalah pandangan pertama; (2) bagian-bagian alam itu pada esensinya adalah keniscayaan-keniscayaan. Setiap bagian itu maujud karena keniscayaan esensialnya sendiri tanpa membutuhkan atau terpengaruh oleh, faktor eksternal. Ini adalah pandangan kedua. Kedua pandangan ini tidak sesuai dengan prinsip kausalitas yang menyatakan: setiap peristiwa, dalam wujudnya, berhubungan dengan sebab-sebab dan kondisi-kondisinya yang khusus. Prinsip ini menolak kebetulannya peristiwa-peristiwa, dan juga menolak keniscayaan esensial peristiwa-peristiwa. Karena itu, menurut prinsip ini, ada pandangan lain tentang alam. Yaitu ini: (3) alam dianggap sebagai saling berhubungan secara sempurna, sesuai dengan prinsip dan hukum-hukum kausalitas. Masing-masing bagian alam itu menempati tempat khusus dalam alam yang dituntut oleh syarat-syarat keberadaannya dan himpunan sebab-sebabnya. Ini adalah pandangan ketiga yang menegakkan metafisika di atas dasar pemahamannya terhadap alam. Karena itu timbul perlanyaan: “Mengapa alam ada?” Ini salah satu dari empat pertanyaan[205] yang menuntut jawaban yang tepat dan sepatutnya, menurut logika metafisika, untuk mengetahui secara ilmiah sesuatu.

Ini jelas berarti bahwa metafisika sama sekali tidak menerima kcmungkinan memisahkan peristiwa dari lingkungan dan kondisi-kondisinya, dan tidak mempertanyakan hubungannya dengan peristiwa-peristiwa lain. Jadi, keyakinan akan hubungan umum tidak bergantung pada dialektika. Tetapi, ia termasuk di antara hal-hal yang ke sana asas-asas filsafat, yang dibangun metafisika dalam menelaah kausalitas dan hukum-hukumnya, niscaya memandu.

Adapun rancangan-rancangan hubungan di antara bagian-bagian alam, dan pengungkapan rincian-rincian dan misteri-misterinya, itu diserahkan metafisika kepada berbagai ilmu pengetahuan. Logika filsafat umum tentang alam hanya mcmaparkan masalah utamanya saja. Ia membuat teori hubungannya berdasarkan kausalitas dan hukum-hukum filosofisnya. Selanjutnya, tinggallah tugas ilmu pengetahuan untuk menjelaskan rincian-rincian bidang-bidang yang dapat dijangkau metode-metode ilmiah dan menjelaskan corak-corak hubungan aktual dan misteri-misteri corak-corak ini, sehingga dengan demikian memberikan kepada setiap hal apa yang menjadi haknya.

Kalau kita mau berbuat adil terhadap metafisika dan dialektika, kita harus menunjukkan bahwa hal baru yang dibawa dialektika Marx bukanlah hukum umum hubungan itu sendiri, yang tentangnya metafisika sudah berbicara dengan caranya sendiri dan yang sekaligus jelas bagi semua, dan bukanlah lagi menjadi ajang diskusi. Tetapi Marxisme adalah yang pertama menganjurkan tujuan-tujuan politik atau aplikasi-aplikasi politik hukum tersebut yang memberikan kemungkinan baginya untuk mengoperasikan rencana-rencana dan program-programnya. Jadi, masalah inovasi berkaitan dengan penerapan, bukan dengan hukum itu, berkenaan dengan aspek logis dan filosofisnya.

Dalam kesempatan ini, baiklah akan kami paparkan apa yang dicatat penulis Marxis, Emile Burns,[206] tentang hubungan tersebut dalam konsep Marxis. Ia menulis: Alam, termasuk di dalamnya masyarakat manusia, tidak terbentuk dari hal-hal yang berdiri sendiri satu sama lain. Setiap ilmuwan tahu itu, dan merasa benar-benar sulit untuk menentukan sebab-sebab, bahkan, dari faktor-faktor utama yang mempengaruhi hal-hal tertentu yang dipelajarinya. Air adalah air. Tetapi, jika temperaturnya naik sampai derajat tertentu, ia berubah menjadi uap, dan jika temperaturnya menurun (sampai derajat tertentu), ia berubah menjadi es. Ada juga faktor- faktor lain yang mempengaruhi air. Setiap orang awam, kalau mengalami hal-hal, menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang sepenuhnya berdiri sendiri, dan bahwa segala sesuatu dipengaruhi oleh segala sesuatu yang lain. Selanjutnya ia berkata:

Hubungan di antara segala sesuatu itu tampak intuitif sedemikian, sehingga setiap sebab yang memalingkan perhatian kepadanya itu jelas. Tetapi sebenarnya begini. Orang tidak selalu tahu (mencerap) hubungan di antara segala sesuatu, dan tidak juga tahu bahwa apa yang hakiki pada kondisi-kondisi tertentu itu bisa tidak hakiki pada kondisi-kondisi lain. Mereka selamanya menerapkan paham-paham yang telah mereka bentuk di bawah situasi-situasi tertentu atas situasi-situasi lain yang sama sekali berbeda dengan situasi-situasi yang pertama. Contoh terbaik yang bisa diberikan dalam hal ini adalah sudut pandang sekitar kebebasan berbicara. Kebebasan berbicara secara umum melayani tujuan demokrasi dan membantu orang untuk mengungkapkan kehendaknya. Karena itu, ia berguna bagi perkembangan masyarakat. Tetapi, kebebasan berbicara fasisme (prinsip pertama yang mencoba mengekang demokrasi) adalah hal yang sama sekali berbeda, karena ia menghentikan gerak maju masyarakat. Tak soal dengan seruan berulang-ulang untuk kebebasan berbicara, apa yang berlaku padanya dalam kondisi-kondisi normal berkenaan dengan kelompok-kelompok yang mengupayakan demokrasi itu, tidak berlaku pada kelompok-kelompok fasis. [207]

Teks Marxis ini mengakui bahwa hubungan umum itu dipahami oleh setiap ilmuwan, bahkan setiap orang awam yang telah mengalami hal-hal, sebagaimana dinyatakan Emile Burns, dan bukan sesuatu yang baru dalam pemahaman umum manusia. Tetapi, yang baru adalah apa yang diupayakan Marxisme dari (hubungan) itu, berdasarkan rentang hubungan solid antara permasalahan kebebasan berbicara dan permasalahan-permasalahan lain yang masuk dalam lingkungannya. Seperti itu pula yang berlaku pada penerapan-penerapan lain yang serupa yang dapat kita jumpai dalam teks-teks Marxisme yang lain. Nah, mana penyingkapan logis lagi tajam dialektika itu?

Dua Hal mengenai Kaitan Umum
Adalah perlu menunjukkan, dalam konteks pembicaraan tentang teori hubungan umum dalam metafisika, dua hal penting: Yang pertama adalah bahwa dalam konsep metafisika, hubungan masing-masing bagian dari alam dengan sebab-sebab, kondisi-kondisi dan situasi-situasi yang relevan dengannya tidak berarti tidak adanya kemungkinan melihatnya secara mandiri, atau membuat definisi khusus tentangnya. Karena itu, definisi adalah salah satu topik yang dibahas logika metafisik. Sangat mungkin bahwa hal itulah yang mendorong Marxisme menuduh bahwa metafisika tidak mempercayai adanya hubungan umum, dan tidak mempelajari alam berdasarkan hubungan tersebut. Alasannya ialah Marxisme mendapati bahwa metafisika mengambil satu hal, lantas mencoba mengidentifikasikan dan mendefinisikannya secara tersendiri terlepas dari hal-hal yang lain. Disebabkan oleh hal itu, Marxisme beranggapan bahwa ahli metafisika tidak mengakui hubungan di antara hal-hal dan tidak mempelajari hal-hal kecuali apabila sebagiannya terpisah dari sebagian yang lain. Dengan demikian, ketika ahli metafisika mendefinisikan manusia sebagai kehidupan dan pikiran; dan mendefinisikan hewan sebagai kehidupan dan kehendak, ia telah memisahkan kemanusiaan dan kehewanan dari kondisi-kondisi dan ikatan-ikatan keduanya, dan melihat keduanya sebagai berdiri sendiri.

Tetapi, faktanya adalah bahwa defeniisi-defenisi yang logika metafisik biasa berikan kepada hal khusus apa pun sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip yang mengatakan adanya hubungan umum di antara segala sesuatu, juga tidak dimaksudkan untuk menunjukkan kebebasan hal-hal atau cukupnya mempelajari hal-hal ini dengan memberikan kepada hal-hal ini definisi-defenisi khusus. Ketika kita mendefinisikan manusia sebagai “hidup dan berpikir”, kita tidak mengupayakan hal ini dengan pengingkaran terhadap hubungan manusia dengan faktor-faktor dan sebab-sebab luar. Tapi, lewat definisi itu, kita bermaksud memberikan gagasan tentang sesuatu yang berhubungan dengan faktor-faktor dan sebab-sebab itu, agar kita dapat menelaah faktor-faktor dan sebab-sebab yang berkaitan dengan hal itu. Bahkan Marxisme sendiri menganggap definisi sebagai metode untuk merealisasikan tujuan yang sama. Maka ia mendefinisikan dialektika, materi dan seterusnya. Lenin, misalnya, telah mendefinisikan dialektika sebagai “ilmu tentang hukum-hukum umum gerak”.[208] Ia juga mendefinisikan materi sebagai realitas objektif yang diberikan kepada kita oleh indera. [209]

Dapatkah dari definisi-definisi itu dipahami bahwa Lenin memisahkan dialektika dari bagian-bagian lain pengetahuan ilmiah manusia, dan tidak meyakini adanya hubungan dialektika dengan bagian-bagian itu? Dapatkah dipahami bahwa ia memandang materi sebagai mandiri dan menelaahnya tanpa memperhatikan hubungan-hubungan dan interaksi-interaksinya? Sama sekali tidak! Suatu definisi tidak berarti, baik sebagai suatu keseluruhan maupun bagian, tidak menghiraukan dan mengabaikan hubungan di antara segala sesuatu. Tetapi, ia menetapkan bagi kita paham yang berbagai hubungannya kita coba ungkapkan, agar memudahkan kita membicarakan dan mempelajari hubungan-hubungan itu.

Yang kedua adalah bahwa hubungan antara bagian-bagian alam tidak mungkin melingkar. Maksudnya adalah bahwa dua peristiwa yang saling berhubungan, seperti mendidih dan panas, tidak mungkin masing-masingnya menjadi syarat bagi keberadaan yang lainnya. Nah, karena panas merupakan syarat bagi adanya mendidih, maka tidak mungkin mendidih menjadi syarat bagi adanya panas juga.[210]

Jadi, setiap bagian dari alam – dalam catatan tentang hubungan umum – memiliki derajatnya sendiri yang menetapkan baginya keadaan-keadaan yang mempengaruhi keberadaannya dan fenomena-fenomena yang keberadaannya dipengaruhinya. Adapun bila masing-masing dari dua bagian atau dua peristiwa itu adalah penyebab adanya yang lainnya dan sekaligus keberadaannya adalah berkat yang lain, ini akan membuat hubungan kausal itu melingkar, berputar-putar, kembali ke titik mulanya. Ini tidak mungkin.

Akhirnya, mari kita telaah sebentar pernyataan Engels tentang hubungan umum dan banyaknya bukti-bukti ilmiah tentangnya. Ia berkata: “Terutama ada tiga penemuan yang membantu memajukan langkah para pemikir besar berkenaan dengan pengetahuan kita tentang hubungan-proses-proses alami yang progresif. Pertama adalah ditemukannya sel sebagai kesatuan yang darinya tetumbuhan organik dan elemen hewan semuanya berkembang melalui pembiakan dan pengelompokan. Kita tak tahu bahwa perkembangan semua elemen organik primer dan yang menyerupainya mengikuti satu sama lain sesuai dengan satu hukum umum saja. Tetapi, kemampuan sel untuk berubah menunjukkan jalan yang menurutnya elemen-elemen organik dapat mengubah jenis-jenis mereka. Dengan begitu, mereka mencapai perkembangan yang lebih besar daripada yang dapat dicapai masing-masing secara individual. Dan kedua adalah ditemukannya perubahan energi yang menjelaskan bahwa semua potensi yang memiliki pengaruh primer atas alam, bukanlah elemen-elemen organik. Ini menunjukkan bahwa kekuatan-kekuatan tersebut adalah manifestasi-manifestasi yang berbeda-beda dari suatu gerak umum, yang masing-masing manifestasi ini berlalu ke yang lain dengan proporsi-proporsi kuantitatif tertentu. Yang ketiga adalah hujjah yang komprehensif, di mana Darwin [211] adalah orang pertama yang membicarakannya dan yang menyatakan babwa semua produk alam, termasuk manusia, yang ada di sekitar kita kini, tidak lain adalah produk-produk suatu proses panjang perkembangan.” [212]

Penemuan yang pertama adalah termasuk penemuan ilmiah yang di dalamnya metafisika mencatat suatu kemenangan, karena penemuan ini membuktikan bahwa sumber kehidupan adalah sel hidup (protoplasma). Maka dengan itu, ia menghilangkan ilusi yang mengatakan adanya kemungkinan berlangsungnya kehidupan di dalam elemen organik apa pun, yang di dalamnya ada faktor-faktor materi tertentu. Dan ia juga membuat pembedaan antara makhluk-makhluk hidup dan mati, berdasarkan fakta bahwa germ tertentu kenidupan sajalah yang bertanggung jawab membawa misterinya sendiri yang besar. [213] Karena itu, penemuan sel hidup, yang menunjukkan adanya satu asal bagi makhluk-makhluk hidup, juga sekaligus menunjukkan sejauh mana perbedaan antara makhluk hidup dan lainnya.

Sedangkan penemuan kedua dianggap juga penemuan besar lain bagi metafisika, karena ia membuktikan secara ilmiah bahwa semua bentuk yang diambil energi termasuk kualitas material adalah-kualitas kualitas dan karakteristik-karakteristik aksidental. Karena itu, ia membutuhkan sebab dari luar, sebagaimana akan kami jelaskan pada Bab VII. Penemuan tersebut berlawanan dengan hukum-hukum dialektika. Karena ia berasumsi bahwa energi memiliki kuantitas terbatas dan tetap yang tidak dapat terkena gerak dialektik yang oleh argumen Marxis diklaim sebagai berlaku pada semua segi dan fenomena alam. Nah, kalau ilmu pengetahuan membuktikan bahwa segi tertentu alam merupakan kekecualian bagi hukum-hukum dialektika, maka hilanglah keniscayaan dan sifat pastinya.

Adapun teori Darwin tentang perkembangan spesies dan evolusi sebagiannya dari sebagian yang lain, juga tidak sesuai dengan hukum-hukum dialektika. Ia tak mungkin dijadikan sandaran ilmiah bagi metode dialektik di dalam menerangkan peristiwa-peristiwa. Charles Darwin dan lain-lainnya yang ikut membangun dan memperbaiki teori ini menerangkan perkembangan spesies menjadi spesies lain berdasarkan bahwa sebagian spesies pertama memperoleh atribut-atribut dan karakteristik-karakteristik secara mekanik (mechanical coincidence) atau melalui faktor luar tertentu, seperti lingkungan dan komunitas. Segala atribut yang diperoleh individu akan tetap pada dirinya dan dialihkan ke keturunannya secara pewarisan. Dengan itu, lahirlah generasi yang kuat [214] berkat atribut-atribut yang didapatkannya. Dalam sengitnya upaya mendapatkan makanan dan bertahan hidup antara yang kuat dari generasi tersebut dan individu-individu yang lemah[215] dari spesies yang tidak mendapatkan atribut-atribut semacam itu, hukum upaya bertahan hidup memenuhi fungsinya. Maka musnahlah yang lemah, dan kekallah individu-individu yang kuat. Karakteristik-karakteristik itu terhimpun melalui penurunan dari satu generasi ke generasi berikutnya karakteristik-karakteristik yang dicapai generasi sebelumnya berkat komunitas dan lingkungan hidupnya. Demikianlah seterusnya, sampai lahir spesies baru yang menikmati seluruh karakteristik yang telah didapat generasi pendahulunya melalui perjalanan waktu. Kita dapat mengetahui dengan jelas sejauh mana kontradiksi antara teori Darwin ini dan metode dialektik umum.

Watak mekanik teori itu terjelaskan dalam penafsiran Darwin tentang perkembangan hewan yang disebabkan oleh faktor-faktor luar. Karakteristik-karakteristik dan perbedaan-perbedaan individual yang diperoleh generasi yang kuat dari suatu spesies bukanlah hasil proses perkembangan, bukan pula hasil kontradiksi internal, tetapi itu adalah hasil kejadian mekanik atau faktor-faktor luar, seperti komunitas dan lingkungan. Jadi, kondisi-kondisi objektif, yang di dalamnya individu-individu yang kuat hidup, itulah yang memberi mereka elemen-elemen kekuatan mereka dan karakteristik-karakteristik yang membedakan mereka dari yang lain, bukan upaya (struggle) internal dalam wujud mereka yang paling dalam, seperti yang diasumsikan oleh dialektika.

Karakteristik-karakteristik yang diperoleh dari individu secara mekanik – yakni melalui faktor-faktor luar dari lingkungan-lingkungan yang di dalamnya ia hidup – tidak berkembang melalui gerak dinamik dan tidak tumbuh melalui kontradiksi internal, sehingga ia mengubah hewan menjadi jenis baru. Tapi, ia itu tetap, dan berpindah secara terus-menerus dan tanpa berkembang, dan terus begitu melalui perubahan sederhana dan tetap. Kemudian, karakteristik lain tertambahkan pada yang sebelumnya yang, pada gilirannya, dilahirkan secara mekanik melalui kondisi-kondisi obyektif. Maka, terjadilah perubahan sederhana yang lain. Demikian seterusnya, dan beginilah karakteristik-karakteristik lahir secara mekanik, dan meneruskan keberadaan mereka pada keturunan mereka secara turun-temurun. Mereka itu stabil dan tetap. Ketika berhimpun, mereka akhirnya membentuk jenis baru yang lebih tinggi.

Ada juga perbedaan besar antara hukum upaya bertahan hidup dalam teori Darwin dan gagasan tentang upaya lawan dalam dialektika. Gagasan tentang upaya lawan, menurut penganut dialektika, mengungkapkan konflik antara dua sosok yang berlawanan yang, pada analisis akhirnya, memandu ke penyatuan keduanya dalam susunan yang lebih tinggi yang sesuai dengan tiga scrangkai: tesis, antitesis dan sintesis. Jadi, di dalam konflik kelas, misalnya, peperangan antara dua sosok yang berlawanan itu berkobar dalam struktur internal masyarakat. Kedua kelas itu adalah kelas kapitalis dan kelas pekerja. Konflik akan berakhir dengan diserapnya kelas kapitalis oleh kelas pekerja. Dan menyatulah kedua kelas itu bersama-sama dalam masyarakat tak berkelas, yang masing-masing individunya adalah pemilik sekaligus pekerja. Di lain pihak, upaya bertahan hidup antara yang kuat dan yang lemah, dalam teori Darwin, tidak dialektik, sebab ia tidak memandu ke penyatuan sosok-sosok yang berlawanan dalam komposisi yang lebih tinggi. Sebagai gantinya ia mendatangkan kehancuran salah satu dari dua sosok yang berlawanan dan mengekalkan yang lain. Ia sepenuhnya melenyapkan individu-individu yang lemah dari spesies itu dan mengekalkan yang kuat dan tidak menghasilkan suatu komposisi baru yang di dalamnya yang lemah dan yang kuat (dua sosok yang berlawanan yang berkonflik) menyatu, sebagaimana diasumsikan dialektika dalam tiga serangkai tesis, antitesis dan sintesis.

Kalau kita membuang gagasan tentang upaya bertahan hidup atau hukum seleksi alami sebagai penjelas perkembangan spesies-spesies, dan kita gantikan dengan gagasan konflik antara hewan dan lingkungannya, suatu struggle yang membantu membentuk sistem organik yang sesuai dengan kondisi-kondisi komunitas, dan jika kita katakan bahwa struggle yang terakhir (sebagai ganti konflik antara yang kuat dan yang lemah adalah sumber perkembangan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Roger Garaudy, [216] “Saya katakan jika kita kembangkan teori ini dan kita terangkan progresivitas spesies berdasarkan konflik antara binatang [217] dan lingkungannya, maka kita tidak akan pernah sampai pada kesimpulan dialektik juga. Ini karena struggle antara komunitas dan sistem organik tidak menyebabkan bertemu dan bersatunya keduanya dalam suatu komposisi yang lebih tinggi. Tetapi, tetap saja tesis dan antitesis terpisah. Dalam hal ini, meski dua hal yang berlawanan di sini – hewan [218] dan lingkungan – tetap ada pada akhir struggle, yang di antara keduanya tidak ada yang hancur, tetap saja keduanya tidak menyatu dalam komposisi baru, seperti menyatunya kelas kapitalis dan kelas pekerja dalam susunan masyarakat yang baru.”

Akhirnya, mana kesegeraan dan mana penyempurnaan biologis menurut Darwin itu? Dialektika menyatakan bahwa transformasi-transformasi kualitatif terjadi segera, yang berbeda dengan perubahan kuantitatif yang terjadi perlahan-lahan. Ia juga menyatakan bahwa gerak itu terus-menerus mengarah kepada kesempurnaan dan menaik. Teori Darwin atau ide perkembangan biologis menunjukkan kemungkinan terbalik sama sekali. Para ahli biologi menjelaskan bahwa dalam alam hidup ada keadaan-keadaan gerak berangsur-angsur, sebagaimana di dalamnya ada pula keadaan-keadaan gerak dengan lompatan-lompatan yang tiba-tiba. [219] Lagi pula interaksi yang dipaparkan Darwin antara makhluk hidup dan alam tidak memerlukan adanya penyempurnaan makhluk hidup yang berkembang. Tapi, justru oleh sebab itu, makhluk hidup dapat kehilangan sebagian kesempurnaan yang didapatnya, sesuai dengan hukum-hukum Darwin dalam teorinya tentang interaksi antara kehidupan dan alam. Ini tercontohkan pada hewan-hewan yang terpaksa sejak masa-masa dahulu hidup di gua-gua dan meninggalkan kehidupan cahaya. Maka hewan-hewan itu, menurut Darwin, kehilangan penglihatan karena berinteraksi dengan lingkungan tertentu, dan karena mereka tidak menggunakan indera mata mereka dalam kehidupan. Dengan begitu, perkembangan komposisi organik mereka mengalami kemunduran. Ini berbeda dengan pandangan Marxis yang menyatakan bahwa proses-proses perkembangan yang berkait-kaitan di dalam alam dan yang timbul dari kontradiksi-kontradiksi dalam, selalu bertujuan menyempurna, karena itu adalah proses-proses maju lagi linier.

Catatan:

137. Al-Madiyyah wa Al-Mitsaliyyah fi Al-Falsafah, h. 83.
138. Ibid.
139. Sebagai tambahan, apa yang diduga sebagai kontradiksi dalam tiga serangkai eksistensi bertumpu pada kekacauan lain antara ide tentang sesuatu dan realitas objektif sesuatu itu. Konsep tentang eksistensi tak lain adalah ide tentang eksistensi dalam benak kita. Itu bukanlah realitas objektif eksistensi. Kalau kita mengenali antara ide tentang eksistensi dan realitas eksistensi, maka akan lenyaplah kontradiksi itu. Realitas eksistensinya tertentukan dan terbatas. Tak mungkin sama sekali untuk melepaskannya dari atribut eksistonsi. Ide kita tentang eksistensi, di lain pihak, bukanlah suatu eksistonsi real. Tapi, itu merupakan suatu konsep mental yang diambil dari eksistensi real itu.
140. Al-Maddiyyah Al-Dialaktikiyyah wa Al-Maddiyyah Al-Tarikhiyyah, h. 7.
141. Hadzihi Hiya Al-Dialaktikiyyah, h. 97-98.
142. Zeno dari Elea adalah para filosof Yunani (490-430 S.M.). Murid dan pembela Parmenides. Terkenal karena paradoks-paradoksnya tentang ruang, waktu, gerak dan perubahan. Beberapa fragmen dari karyanya, yang di dalamnya ia mengemukakan paradoks-paradoksnya, masih ada.
143. Potensialitas adalah kemungkinan sesuatu, sedang aktualitas adalah eksistensi real sesuatu.
144. Dengan kata lain, gerak untuk mendapatkan tahap-tahap berkembang atau menyempurna ini. Karena itu, ketika tahap-tahap itu tercapai, berhentilah gerak.
145. Shadruddin Asy-Syirazi, lebih dikenal dengan Mulla Shadra (1572-1641 M). Lahir di Syiraz. Di sini ia mengajar pada sebuah sekolah keagamaan. Konon pergi berhaji ke Makkah tujuh kali dengan jalan kaki. Ia percaya bahwa filsafat kuno dipadu dengan kebenaran samawi memberikan bentuk tertinggi kebenaran. Ia menulis komentar-komentar tentang Hikmah Al-Isyraq-nya As-Suhrawardi dan bagian-bagian dari Al-Syifa-nya Ibnu Sina. Juga menulis sejumlah karya asli, yang terkenal adalah Kitab Al-Hikmah Al-Muta’alliyah – judul lain karya ini adalah Kitab Al-Asfar Al-Arba’ah (Empat Perjalanan, yaitu pembahasan tentang jiwa).
146. Bukti pokok untuk gerak substansial dapat dirangkum dalam dua hal berikut. Pertama, sebab langsung gerak aksidental dan terluar benda – baik itu mekanik maupun alami – merupakan suatu daya spesifik dalam benda itu. Ide ini benar, bahkan tentang gerak mekanik yang pada mulanya tampak seolah-olah berasal dari suatu daya tersendiri. Misalnya, jika Anda mendorong suatu benda pada garis horisontal atau vertikal, konsep sederhana tentang gerak ini adalah bahwa gerak ini merupakan efek dari daya eksternal dan sebab tersendiri. Tapi ini tidak benar. Penggerak sejatinya adalah daya yang maujud dalam benda itu. Karena hal ini, gerak bersinambung setelah terpecahnya benda yang bergerak dari daya eksternal dan sebab eksternal; dan sistem mekanik yang dapat digerakkan terus bergerak sebentar, setelah terkena sebab instrumental yang bergerak. Berdasarkan hal ini, mekanika modern membuat hukum limitasi esensial (qanun al-qushur al-dzatiy). Hukum ini mengatakan jika suatu benda digerakkan, ia terus bergerak, kecuali ada sesuatu eksternal yang menghentikan geraknya. Namun hukum ini disalahgunakan, sebab ia dianggap sebagai hujah bahwa bila gerak mulai, setelah itu, ia tak memerlukan alasan spesiftk atau sebab khusus. Ia diambil untuk menolak prinsip kausalitas dan hukum-hukumnya. Sebenarnya, eksperimen-eksperimen ilmiah dalam mekanika modern menunjukkan bahwa sebab eksternal yang berdiri sendiri itu bukanlah sebab sejati gerak; kalau tidak demikian, gerak benda takkan bersinambung setelah benda itu terpisah dari sebab eksternal yang mandiri itu. Karena hal ini, sebab langsung gerak (terus-menerus) tentulah suatu daya yang ada dalam benda itu (yang dikenal sebagai momentum), dan sebab-sebab eksternal tentulah kondisi-kondisi bagi, dan pengaruh-pengaruh terhadap daya itu. Kedua, efek haruslah sesuai dengan sebab dalam hal stabil dan dapat diperbarui. Jika sebab itu stabil, efeknya harus pula stabil; dan jika efek dapat diperbarui dan prosesif, sebabnya juga harus dapat diperbarui dan prosesif. Berdasarkan hal ini, sebab gerak niscaya dapat digerakkan dan diperbarui, selaras dengan pembaruan dan progresi gerak itu scndiri. Karena, jika sebab gerak itu stabil, maka apa pun yang dihasilkannya akan stabil. Maka, gerak menjadi diam. Tapi ini bertentangan dengan arti gerak dan berkembang. Berdasarkan dua hal di atas, tersimpul hal-hal sebagai berikut. Pertama, daya yang ada dalam suatu benda dan yang menggerakkannya adalah daya yang dapat digerakkan dan progrresif. Berkat progresinya, daya ini merupakan sebab bagi segenap gerak aksidental dan terluar. Selanjutnya, ia adalah daya substansial, sebab ia niscaya menyebabkan gerak substansial; karena suatu aksiden itu maujud berkat suatu substansi. Ini membuktikan adanya gerak substansial dalam alam. Kedua, benda selalu tersusun dari suatu materi yang diperjelas oleh gerak, dan suatu daya substansial prosesif, yang berkat daya ini gerak terluar terjadi pada fenomena-fenomena dan aksiden-aksiden benda itu. Pada kesempatan ini kami tak dapat membabas gerak substansial dan hujah-hujahnya dengan lebih panjang lebar lagi.
147. Problem hubungan antara yang baru dan yang lama adalah begini. Karena sebab itu lama dan abadi, tentu ia merupakan sebab bagi apa yang sesuai dengannya baik dalam hal lama maupun abadi. Berdasarkan hal ini, sejumlah ahli metafisika membayangkan bahwa mempercayai Pcncipta yang Abadi secara filosofis meniscayakan mempercayai lama dan abadinya alam, sehingga efek takkan terpisah dari sebabnya. Asy-Syirazi memecahkan problem ini dengan gerak substansial. Menurut gerak ini, alam materi itu terus memperbarui dan berkembang. Maka, berdasarkan hal ini, memaujudnya alam ini adalah efek niscaya dari watak yang dapat diperbaruinya sendiri, bukan efek dari maujud dan pembaruan Pencipta Pertama.
148. Asy-Syirazi menyodorkan pcnjelasan baru tentang waktu, yang di dalamnya waktu dinisbahkan kepada gerak substansial alam. Maka, dalam pandangan filsafat Asy-Syirazi, waktu menjadi elemen pembentuk benda, dan tak lagi terpisah dan mandiri darinya.
149. Pada bab terakhir buku ini, akan kami bahas tentang dapat dipisahkannya materi dan hubungan jiwa dengan tubuh.
150. Dhid Duharnak Al-Falsafah, h. 202.
151. Fakhruddin Ar-Razi, teolog dan filosof agama Muslim (1149-1209 M). Pengikut Asy’ari. Banyak berdebat dengan orang-orang Mu’tazilah. Namun, pada akhir hayatnya, ia melihat tak bernilainya metode dialektika itu. Pada awal karirnya, ia menulis Lubab Al-Isyarah (sebuah ulasan tentang Al-Isyarah wa Al-Tanbihah-nya Ibn Sina). Ulasan ini dikritik oleh Nasiruddin Ath-Thusi). Karya-karya awal lainnya: Al-Mabahits Al-Masyriqiyyah dan sebuah karya semi otobiografis, Munazharah Al-‘Allamah Fakhr Al-Din (sebuah deskripsi tentang pertemuannya dengan tokoh-tokoh tertentu). Karya teologisnya yang terpenting adalah sebuah ulasan tentang Al-Quran, Mafatih Al-Ghayb. Karya penting lainnya adalah Manaqib Al-Imam Asy-Syafi’i.
152. Marx, Engels wa Al-Marksiyyah, h. 24.
153. Ma Hiya Al-Madda, h. 56.
154. Al-Manthiq Al-Syakliy wa Al-Manthiq Al-Dialaktikiy, h.9.
155. Ibid., h. 12.
156. Lihat h. 172 (teks asli).
157. Lihat h. 172 (teks asli).
158. Louis Pasteur, kimiawan sekaligus mikrobilog Prancis (1822-1895). Ia menunjukkan bahwa fermentasi dan penyakit-penyakit tertentu disebahkan oleh mikroorganisme-mikroorganisme. Pelopor dalam penggunaan vaksin. Yang pertama, misalnya, menggunakan vaksin untuk rabies. Konon dialah yang menyelamatkan industri-industri anggur, bir dan sutera di sejumlah negara Eropa. Kita berutang kepadanya untuk pengetahuan kita tentang pasteurisasi. Publikasi utamanya adalah Studies on Beer (1876 M). Pada 1879, karya ini diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul Studies on Fermentation.
159. Germ: I. Poni suatu organisme hidup yang mampu menjadi suatu organisme baru; 2. Mikroba atau hasil, khususnya yang menimbulkan penyakit (penyunting).
160. Al-Manthiq Al-Syakliy Ula Al-Manthiq Al-Dialaktikiy, h. 12-15.
161. Teks: al-tsiql (berat).
162. Teks: al-tsiql (berat).
163. Fa-ashbahat al-quwwah al-mikanikiyyah khassat handasa li al-‘alam.
164. Bandingkan apa yang telah kami sebutkan dengan keterangan Marxis tentang transformasi dalam ilmu-ilmu mekanika. Keterangan ini diberikan oleh Dr. Taqi Arni dalam bukunya, Materialism Diyalaktic, h. 23. Keterangannya didasarkan atas adanya kebenaran pada mekanika relativitas dan mekanika Newton, dan pada berkembangnya kebenaran pada kedua mekanika ini, menurut dialektika.
165. Al-Maddiyyah Al-Dialaktikiyyah wa Al-Maddiyyah Al-Tarikhiyyah, h. 12.
166. Hawl Al-Tanaqud, h. 4.
167. Al-Manthiq Al-Syakliy wa Al-Manthiq Al-Dialaktikiyyah, h. 9.
168. Perhatikan, Semua teks Marxis menyalahgunakan istilah “kontradiksi” dan “penentangan”. Maka, Marxisme menganggap kedua istilah ini dalam arti yang sama, meskipun keduanya tak sama dalam tradisi-tradisi filsafat. Kontradiksi adalah keadaan penafian dan afirmasi; sedangkan penentangan berarti dua afirmasi yang bertentangan. Lurus dan tidak lurusnya suatu garis adalah kontradiksi, karena keduanya itu (masing-masing) merupakan afirmasi dan penafian. Namun, lurusnya sebuah garis dan bengkoknya sebuah garis adalah dua hal yang bertentangan. Kontradiksi dalam arti filsafat tak berlaku pada yang terakhir, sebab salah satu dari keduanya tak menafikan yang lain. Tapi, itu adalah afirmasi yang paralel dongan afirmasi terhadap yang lain. Begitu pula, Marxisme salah memahami penentangan, atau menyalahgunakan istilah “penentangan”. Ia memandang sesuatu yang berbeda dari yang lain sebagai lawannya. Maka, menurutnya, anak ayam itu lawan telur, dan ayam dewasa itu lawan anak ayam, meskipun penentangan dalam arti filsafat bukan saja perbedaan di antara hal-hal, tetapi juga atribut yang tak dapat bersatu dengan atribut lain dalam satu hal. Dalam buku ini, kami (menggunakan istilah-istilah ini) sesuai dengan arti Marxis untuk kemudahan dan kejelasan.
169. Teks: wa khuluwuihima (kehampaan dua prinsip ini).
170. Al-Kawn wa Al-Fasad, h. 168-169.
171. Ibid., h. 154.
172. Georges Lefebvre, sejarahwan Prancis (1874-1959 M). Kontribusinya terutama dalam bidang sosial-ekonomi. Ia melakukan studi atas sejarah-agrarian Revolusi Prancis. Karya utamanya, The Agrarian Question during the Reign of Terror (diterjemahkan ke bahasa Rusia pada 1936), The French Revolution dan A Study of the French Revolution.
173. Karl Marx, h. 58.
174. Hawl Al-Tanaqud, h. 13.
175. Karl Marx, h. 60.
176. Dhid Duharnak, h. 203.
177. Sel (cell): Unit mikroskopis materi hidup yang mengurong suatu nucleus dengan gen-gen yang memproduksi-sendiri (penyunting).
178. Ibid., h. 203-204.
179. Hawl Al-Tanaqud, h. 14.
180. Ibid., h. 14-15.
181. Ibid.
182. Ayyam.
183. Al-Manthiq Al-Syakliy wa Al-Manthiq Al-Dialaktikiy, h. 20-21.
184. Ibid.
185. Teks: Ubulidas. Kami tak dapat mengcnali siapa penulis yang bernama seperti ini. Meskipun yang dirujuk di sini adalah Chrysippus yang disebut oleh Diogenes sebagai telah memberikan argumen tentang ayah yang berselubung itu (Life of Diogenes, VII, Bab 44 dan 82).
186. Teks: Ubulidas.
187. Al-Mas’alah Al-Falsafiyyah, Muhammad ‘Abd Al-Rahman Marhaba, h. 103.
188. Tak pernah mencapai 2, tapi mendekati 2.
189. Karl Marx, h. 21; Hadzihi Hiya Al-Dialaktikiyyah, h. 78.
190. Dhid Duharnak: al-iqtishad al-siyasiy, h. 195.
191. Iqtishaduna sudah terbit. Di dalamnya tercakup salah satu studi paling ekstensif tentang materialisme sejarah, berdasarkan prinsip-prinsip filsafat dan jalur umum sejarah manusia dalam kehidupan nyata.
192. Lihat Iqtishaduna (Ekonomi Kita).
193. Al-Maddiyyah Al-Dialaktikiyyah wa Al-Maddiyyah Al-Tarikhiyyah, h. 8-9.
194. Yaitu, ke keadaan semulanya.
195. At-Bayan Al-Syuyu’i, h.8.
196. Usus Al-Lininiyyah, h.66.
197. Melti disebutkan bahwa hal ini demikian hanya di bawah tekanan normal (76 sentimeter air raksa).
198. Dhid Duharnak, h. 211-212; At-Maddiyyah Al-Dialaktikiyyah wa Al-Maddiyyah Al- Tarikhiyyah, h. 10.
199. Yaitu, hanya jika air tidak sepenuhnya murni dan di bawah tekanan normal yang konstan.
200. Dhid Duharnak, h.214.
201. Tetapi perubahan-perubahan fase ini dari solid ke cair lalu ke uap sama sekali tidak berlaku pada senyawa-senyawa yang dikutip.
202. Hadzihi Hiya Ad-Dialaktikiyyah Mabadi’ Al-Falsafah Al-Awwaliyyah, George Politzer, h.10.
203. Dhid Duharnak, h. 210.
204. Al-Maddiyyah Al-Dialaktikiyyah wa Al-Maddiyyah Al-Tarikhiyyah, h. 6.
105. Empat pertananyaan itu adalah seperti berikut: “Apakah itu?” “Adakah itu?” “Seperti apakah itu?” “Kenapa itu?” Untuk memperjelas, kami akan memberlakukan pertanyaan- pmanyaan ini pada salah satu fenomena alam.
Mari kita ambil contoh, panas, dan kemudian memberlakukan pertanyaan-pertanyaan ini kepadanya. “Apakah panas itu?” Dengan pertanyaan ini, kita berusaha menjelaskan paham tertentu tentang panas. Dengan demikian, kita jawab pertanyaan ini, misalnya – dengan mengatakan – bahwa ia meripakan sebentuk daya. “Apakah panas ada di alam?” Jawaban kita tentu saja: “Ya.” “Seperti apakah panas itu?” Dengan kata lain, apakah fenomena-fenomena dan sifat-sifat panas itu? Jawabannya diberikan oleh fisika. Dengan demikian dikatakan, misalnya, bahwa di antara sifat-sifat panas itu adalah memanaskan, memperbesar, memperkecil, mengubah beberapa karakteristik alami materi, dan seterusnya. Akhirnya, “Kenapa panas itu ada?” Pertanyaan ini muncul karena kepentingan dalam memahami faktor-faktor dan aebab-sebab yang menimbulkan panas, dan kondisi-kondisi eksternal yang menjadi tumpuan panas. Jawabnya, misalnya, adalah bahwa bumi memperoleh daya panas dari mataharl, dan kemudian memancarkannya, dan seterusnya.
Dengan ini Anda tahu bahwa logika metafisika menempatkan isu hubungan sesuatu dengan sebab-sebab dan keadaan-keadaannya pada kelas yang sama dengan isu-isu utamna lain yang berkenaan dengan realitas, eksistensi, dan sifat-sifat hal ini.
206. Emile Burns, seorang Marxis Inggris (1899- ).
207. Ma Hiya Al-Marxiyyah, h. 75-76.
208. Marx Engels wa Al-Marxiyyah, h. 24.
209. Ma Hiya Al-Madda, h. 29.
210. Interaksi antara hal-hal berlawanan secara eksternal tidak dapat dianggap sebagai hujah untuk kemungkinan hal ini, karena interaksi antara hal-hal berlawanan secara eksternal tidak berarti bahwa masing-masing hal itu merupakan kondisi dan sebab bagi eksistensi hal berlawanan yang lain. Namun, interaksi ini sebenarnya disebabkan oleh fakta bahwa masing-masing hal berlawanan itu memperoteh atribut yang sebelumnya tidak dimilikinya dan yang berkenaan dengan hal berlawanan yang lain. Dengan demikian, muatan negatif dan muatan positif berinteraksi, bukan dalam arti bahwa masing-masing dari dua muatan itu maujud sebagai hasil dari yang lain, tetapi dalam arti bahwa muatan negatif menghasilkan keadaan tertarik tertmtu pada muatan positif. Begitu pula dengan kebalikan dari hal ini.
211. Charles Robert Darwin, seorang naturalis Inggris (1809-1882). Salah satu pembela tergigih dan terkenal evolusi organik. Karya terpentingnya adalah The Origin of Species by Means of Natural Selection (1859).
212. Ludwig Feuerbach, h, 88,
213. Mesti dicatat bahwa perbedaan ini tidak lagi diakui.
214. Yaitu, suatu generasi yang teradaptasi.
215. Yaitu, tak teradaptasi.
216. Al-Ruh Al-Hizbiyyah fi Al-‘Ulum, h. 43.
217. Teks: al-bi’a (komunitas).
218. Teks: al-bi’a (komunitas).
219. Ibid., h.44.

Sumber:  Sayyid Muhammad Baqir as Shadr,
FALSAFATUNA
Penerjemah : M. Nur Mufid bin Ali
Penerbit : Mizan
Tahun Penerbitan : Jumada Al-Awwal 1415/Oktober 1994

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar