Sabtu, 21 Februari 2015

Falsafatuna Bab 3: Teori Pengetahuan dalam Filsafat Kita


Oleh Sayyid Muhammad Baqir as Shadr (Penerjemah: Muhammad Nur Mufid) dan disunting ulang oleh Sulaiman Djaya


Sekarang, dari studi dan kritik terhadap doktrin-doktrin dari berbagai aliran pemikir yang telah dibahas pada bab sebelumnya, kita dapat menyimpulkan pokok-pokok doktrin kita sendiri berkenaan dengan subjek tersebut, yaitu sebagai berikut: Pertama, pengetahuan manusia itu terbagi atas dua bagian: (1) konsepsi (tashawwur), dan (2) tashdiq. Konsepsi, dengan berbagai macamnya, tidak memiliki nilai objektif, karena ia merupakan kehadiran sesuatu dalam fakultas-fakultas intelektif kita. Konsepsi, jika terlepas dari segala elemen tambahan takkan menunjukkan eksistensi objektif sesuatu di luar pengetahuan. Satu-satunya yang memiliki kualitas untuk secara esensial mengungkapkan realitas objektif adalah tashdiq atau pengetahuan tashdiqi. Jadi, tashdiq-lah yang mengungkapkan adanya realitas objektif konsepsi.

Kedua, segenap pengetahuan tashdiqi dapat dinisbahkan kepada pengetahuan primer yang keniscayaannya tidak mungkin dibuktikan dan yang kebenarannya tak dapat dipaparkan. Tetapi pikiran menyadari keniscayaan untuk menerimanya dan mempercayai kebenarannya. Contoh tentang pengetahuan seperti itu adalah prinsip non-kontradiksi, prinsip kausalitas, dan prinsip-prinsip matematis primer. Prinsip-prinsip seperti ini adalah sorotan-sorotan cahaya rasional pertama. Dengan panduan sorotan-sorotan itu, semua pengetahuan dan tashdiq yang lain harus didirikan. Makin akurat pikiran menerapkan dan mengarahkan cahaya tersebut, makin jauh ia dari kesalahan. Selanjutnya nilai pengetahuan bergantung pada sejauh mana kadar bertumpunya pengetahuan pada prinsip-prinsip tersebut, dan sejauh mana ia menarik kesimpulan darinya. Karena itu, adalah mungkin berdasarkan prinsip-prinsip ini, untuk mendapatkan pengetahuan yang benar dalam metafisika, matematika dan ilmu-ilmu alam, sekalipun ilmu-ilmu alam berbeda dalam satu hal, yaitu bahwa mendapatkan pengetahuan alam dengan menerapkan prinsip-prinsip primer itu bergantung pada eksperimen, yang menyediakan kondisi-kondisi penerapan bagi manusia (orang yang membuat penelitian laboratoris – penerj.), sedangkan metafisika dan matematika, penerapannya kiranya tidak membutuhkan eksperimen eksternal sama sekali.

Inilah sebabnya, mengapa kebanyakan kesimpulan-kesimpulan metafisika dan matematika adalah kesimpulan-kesimpulan yang pasti, tidak seperti kesimpulan ilmiah dalam ilmu-ilmu alam. Karena menerapkan prinsip-prinsip primer dalam ilmu-ilmu alam membutuhkan eksperimen yang menyiapkan kondisi-kondisi aplikasi, dan karena eksperimen itu sendiri lazimnya tidak sempurna dan tidak mampu mengungkap semua kondisi, maka kesimpulan yang didasarkan pada eksperimen seperti itu tidak pasti.

Baiklah kita ambil contoh: panas. Kalau kita hendak mengungkapkan sebab alami panas, kita melakukan sejumlah eksperimen ilmiah, dan akhirnya kita membuat teori yang mengatakan bahwa gerak adalah sebab panas. Sebenamya, teori alam ini adalah hasil dari menerapkan sejumlah keping pengetahuan dan prinsip niscaya pada data empirikal yang telah kita kumpulkan dan kita pelajari. Karena itu, hasil ini benar dan pasti dikarenakan ia bertumpu pada prinsip-prinsip niscaya tersebut. Jadi, seorang ahli ilmu alam mula-mula mengumpulkan setiap gejala panas (yang merupakan subjek penelitiannya), seperti darah beberapa hewan, besi yang dipanaskan, benda-benda yang terbakar, dan benda panas lainnya yang termasuk di antara beribu-ribu benda panas. Kemudian mulai menerapkan prinsip-prinsip rasional niscaya terhadap benda-benda tersebut, yaitu prinsip kausalitas yang mengatakan bahwa sesungguhnya setiap peristiwa mempunyai sebab. Dengan demikian ia lantas tahu bahwa fenomena tersebut, yaitu panas, memiliki sebab tertentu. Namun hingga kini sebab tersebut masih belum diketahui dan berfluktuasi di antara sekumpulan benda. Nah, bagaimana menentukan sebab tersebut di antara himpunan benda tadi? Pada tahap ini, seorang ilmuwan alam mencari bantuan dari salah satu prinsip rasional niscaya tadi, yaitu prinsip yang menyatakan kemustahilan terpisahnya sesuatu dari sebabnya.

Berdasarkan prinsip ini, ia kemudian mempelajari kelompok tersebut yang meliputi sebab hakiki panas. Ia menganggap sejumlah hal sebagai mustahil, sehingga menyingkirkannya dari pertimbangan lebih lanjut. Darah hewan, misalnya, tidak mungkin menjadi sebab panas, karena ada beberapa hewan yang darahnya dingin. Kalau darah hewan adalah sebab panas, tentu panas itu sendiri tidak mungkin terpisah dari darah tersebut, sementara beberapa hewan memiliki darah dingin. Nah, adalah jelas bahwa memandang mustahil darah hewan itu penyebab panas, tidak lain adalah menerapkan prinsip yang disebut tadi yang menyatakan bahwa sesuatu tidak mungkin terpisah dari sebabnya. Dengan demikian ilmuwan alam mempelajari setiap hal yang diduganya sebagai sebab panas, dan membuktikan bahwa itu bukanlah sebab berdasarkan penilaian prinsip rasional niscaya. Jika ia dapat menangkap apa pun yang dapat menjadi sebab panas, dengan eksperimen-eksperimen ilmiahnya, dan membuktikan bahwa ia bukan sebab – seperti yang ia lakukan terhadap darah hewan – tentu ia akan menangkap, pada akhir analisis ilmiahnya, sebab hakiki (tentu saja setelah menyingkirkan hal-hal lain dari perhitungan). Pada saat ini, hasil ilmiahnya menjadi kebenaran yang pasti, karena bertopang pada prinsip-prinsip rasional niscaya. Sementara itu, sebaliknya, jika dua hal atau lebih tetap ada pada akhirnya, dan ia tidak dapat menentukan sebab berdasarkan prinsip-prinsip niscaya tersebut, maka hasil ilmiah dalam wilayah ini adalah dugaan saja.

Atas dasar itu, kita tahu: Pertama, bahwa prinsip-prinsip rasional niscaya adalah dasar umum bagi semua kebenaran ilmiah, sebagaimana telah dinyatakan di bagian awal bab ini. Kedua, nilai teori-teori dan hasil-hasil ilmiah dalam bidang-bidang eksperimental itu bergantung pada sejauh mana akurasi teori-teori dan hasil-hasil itu dalam menerapkan prinsip-prinsip niscaya tersebut pada totalitas data empirikal yang terhimpun. Karena itu, tidaklah mungkin memberikan suatu teori ilmiah dengan keyakinan penuh, kecuali jika eksperimen tersebut menjamah seluruh objek yang mungkin yang relevan dengan persoalan yang ditelaah, dan mencapai keluasan dan cukup ketelitian yang memungkinkannya menerapkan prinsip-prinsip niscaya tersebut pada objek-objek yang mungkin itu, dan pada gilirannya membuat hasil ilmiah yang padu berdasarkan aplikasi tersebut.

Ketiga, dalam bidang-bidang non-eksperimental, seperti dalam persoalan-persoalan metafisika, teori filsafat mendasarkan dirinya pada, penerapan prinsip-prinsip niscaya tersebut pada bidang-bidang itu. Tetapi, penerapan tersebut dapat dibuat dalam bidang-bidang itu tanpa eksperimen. Jadi, dalam persoalan membuktikan (adanya) sebab pertama bagi alam misalnya, nalar harus menerapkan prinsip-prinsip niscayanya pada persoalan ini supaya dapat membuat teori afirmatif atau negatifnya sesuai dengan prinsip-prinsip ini. Selama persoalan tersebut bukan eksperimental, aplikasinya pun terjadi melalui proses berpikir dan penyimpulan rasional murni yang terlepas dari eksperimen. Dengan demikian, dalam banyak aspeknya, persoalan-persoalan metafisika berbeda dengan ilmu alam. Kami katakan, “dalam banyak aspeknya”, karena kadang menarik suatu kesimpulan filsafat atau metafisika dari prinsip-prinsip niscaya itu juga bergantung pada eksperimen. Dengan demikian, suatu teori filsafat memiliki nilai dan derajat yang sama dengan nilai dan derajat teori-teori ilmiah.

Keempat, kita tahu bahwa pengetahuan tashdiqi adalah yang mengungkapkan objektivitas konsepsi dan adanya suatu realitas objektif konsep yang ada di dalam benak kita. Kitajuga tahu bahwa pengetahuan tashdiqi itu adalah pasti karena ia bertumpu pada prinsip-prinsip niscaya tersebut. Persoalannya kemudian adalah sejauh mana kesesuaian konsep mental dengan realitas objektif yang kita yakini adanya berdasarkan konsep ini – dengan kata lain, apakah konsep ini tepat dan benar. Jawaban untuk persoalan ini adalah bahwa konsep mental yang kita bentuk tentang suatu realitas objektif tertentu mengandung dua sisi. Ia, dari satu sisi, adalah bentuk sesuatu dan eksistensi khususnya di dalam benak kita. Karena itu, sesuatu itu harus terepresentasikan di dalamnya. Kalau tidak, tentu ia bukan bentuk sesuatu itu. Namun, dari sisi lain, ia berbeda secara mendasar dengan realitas objektif.

Karena, ia tidak memiliki karakteristik-karakteristik realitas objektif sesuatu itu, dan juga tak memiliki berbagai bentuk efektivitas dan aktivitas realitas itu. Jadi, konsep mental yang kita bentuk tentang materi, matahari atau panas, tak soal dengan presisi dan detilnya, tidak mungkin melaksanakan peranan efektif yang dilaksanakan oleh realitas objektif eksternal konsep-konsep mental tersebut. Dengan demikian, kita dapat menentukan sisi yang diambil dari realitas objektif dan sisi yang dinisbahkan kepada formasi mental privatnya. Jadi, ide adalah objektif karena sesuatu itu terepresentasikan di dalamnya secara mental. Tetapi dikarenakan pengelolaan subjektifnya, sesuatu yang terepresentasikan secara mental dalam bentuk itu kehilangan setiap efektivitas dan kegiatan yang dimilikinya di dalam dunia luar. Perbedaan antara ide dan realitas ini, secara fisikal, adalah perbedaan antara esensi (mahiyyah)[83] dan eksistensi, sebagaimana akan kita lihat dalam penelaahan kedua dari buku ini[84] (Bab V).

Relativisme Developmental
Sekarang, setelah membahas berbagai aliran filosofis teori pengetahuan, kita sampai pada peran dialektika dalam teori pengetahuan tersebut. Kaum materialis dialektik telah berupaya menghindarkan filsafat mereka dari skeptisisme dan sofisme. Karenanya, mereka menolak idealisme dan relativisme subjektif dan juga berbagai bentuk skeptisisme dan keragu-raguan yang ke sana sejumlah doktrin memandu. Mereka juga yakin bahwa mengetahui alam secara hakiki adalah mungkin. Dengan demikian, di tangan mereka, teori pengetahuan mengambil bentuk keyakinan filosofis yang berdasarkan pada prinsip-prinsip teori empirikal dan doktrin empirikal. Lantas, apa yang menjadi tumpuan mereka bagi proyek penting dan rencana filosofis besar ini? Mereka, untuk menolak idealisme, bertumpu pada pengalaman inderawi. Mereka juga, untuk menolak relativisme, bertumpu pada gerak.

Pengalaman Inderawi dan Idealisme
Berkata Engels[85] tentang idealisme: “Yang paling kuat untuk menolak ilusi filosofis ini, dan segala ilusi filosofis lainnya, adalah kerja, percobaan dan industri secara khusus. Apabila kita dapat membuktikan kebenaran pemahaman kita tentang fenomena alam tertentu dengan menciptakan dalam diri kita sendiri fenomena itu dan melahirkannya dengan cara memenuhi kondisi-kondisinya, dan lebih dari itu apabila kita dapat menggunakannya dalam merealisasikan tujuan-tujuan kita, maka hal itu akan menjadi penilaian pasti yang menolak konsep Kant tentang sesuatu dalam dirinya sendiri.” [86] Dan berkata Marx: “Permasalahan untuk mengetahui apakah pikiran manusia dapat menangkap suatu realitas objektif, bukanlah permasalahan teoretis. Tetapi, ia adalah permasalahan praktis. Hal ini karena orang harus membuat dalil untuk realitas pikirannya atas dasar bidang praktis.” [87] Jelaslah dari teks-teks di atas bahwa Marxisme berusaha membuktikan realitas objektif dengan pengalaman inderawi, dan memecahkan problem mendasar yang besar dalam filsafat – problem idealisme dan realisme – dengan metode-metode ilmiah.

Ini adalah satu segi di antara banyak segi yang di dalamnya kekacauan terjadi antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Sebagian berupaya menelaah banyak dari soal-soal filosofis dengan metode-metode ilmiah, sebagian pemikir menelaah sejumlah soal ilmiah secara filosofis. Maka, terjadilah kesalahan, baik pada soal-soal ilmiah maupun pada soal-soal filosofis.

Problem yang menjadi sengketa kaum idealis dan realis adalah problem yang di dalamnya pengalaman inderawi tidak mungkin memiliki otoritas tertinggi, dan tidak mungkin pula memiliki sifat ilmiah. Sebab, perselisihan mengenai problem ini berpusat pada persoalan eksistensi realitas objektif pengalaman inderawi. Seorang idealis menganggap bahwa segala sesuatu tidak ada kecuali dalam persepsi inderawi dan pengetahuan empirikal kita, dan seorang realis yakin akan adanya realitas luar yang berdiri sendiri yang terlepas dari persepsi dan pengalaman inderawi. Sudah barang tentu bahwa persoalan ini meletakkan pengalaman inderawi itu sendiri di bawah pengujian. Karena itu, tidaklah mungkin bagi seorang realis untuk membuktikan objektivitas pengalaman dan persepsi inderawi dengan pengalaman dan persepsi inderawi itu sendiri, juga tidak mungkin ia menolak idealisme dengan keduanya, karena[88] keduanya adalah ajang perdebatan dan pertanyaan bagi dua kelompok tadi: kaum idealis dan realis.

Jadi, setiap problem objektif dapat dianggap ilmiah, dan dapat dipecahkan dengan metode-metode ilmiah eksperimental, hanya jika validitas dan objektivitas eksperimen ilmiah sudah diakui. Dengan demikian, metode ilmiah dapat diterapkan dalam menelaah dan memecahkan problem ukuran rembulan, jauhnya matahari dari bumi, struktur atom, susunan tetumbuhan atau jumlah anasir sederhana. Tetapi jika eksperimen yang sama dijadikan subjek penelaahan, dan jika pembahasan berpusat pada nilai objektifnya, maka berdasarkan eksperimen itu sendiri tidak ada tempat bagi bukti ilmiah dalam wilayah ini berkenaan dengan validitas eksperimen dan nilai objektifnya. Objektivitas persepsi inderawi dan eksperimen, dengan demikian, adalah fondasi yang menjadi tumpuan struktur semua ilmu. Studi atau perlakuan ilmiah tak mungkin dapat berlangsung kecuali berdasarkan hal itu. Karena itu, fondasi tersebut harus ditangani secara filosofis murni, sebelum mengambil kebenaran ilmiah apa pun.

Nah, kalau kita pelajari persoalan tersebut secara filosofis, akan kita dapatkan bahwa persepsi eksperimental tidak lebih daripada suatu bentuk konsepsi. Maka, tak soal dengan variasi dalam totalitas eksperimen, toh itu memberi manusia keping-keping pengetahuan yang empirikal dan berbeda-beda. Kami bicarakan persepsi inderawi dalam studi kami tentang idealisme. Di sana kami katakan bahwa selama persepsi inderawi hanyalah konsepsi-konsepsi saja, ia tidak membuktikan realitas objektif dan merubuhkan konsep idealisme.[89] Kita harus mulai dengan doktrin rasional agar dapat membangun di atas dasar-dasarnya konsep realistik persepsi inderawi dan eksperimen. Dengan begitu, kita harus yakin adanya prinsip-prinsip niscaya dalam pikiran. Dan berdasarkan prinsip-prinsip itu, kita paparkan objektivitas persepsi inderawi dan eksperimen.

Mari kita ambil contoh untuk ini, yaitu tentang prinsip kausalitas, yang merupakan salah satu dari prinsip-prinsip niscaya tadi. Prinsip kausalitas ini menetapkan bahwa setiap peristiwa pasti memiliki sebab di luar dirinya, dan berdasarkan sebab ini kita yakin adanya realitas objektif persepsi inderawi dan ide-ide yang terjadi pada diri kita, karena mereka membutuhkan sebab yang mewujudkan mereka, dan sebab itu adalah realitas objektif.

Demikianlah kita dapat membuktikan objektivitas persepsi inderawi atau pengalaman inderawi dengan prinsip kausalitas. Nah, apakah mungkin Marxisme mengambil metode tersebut? Tentu tidak. Karena dua hal berikut: Pertama, Marxisme tidak mempercayai adanya prinsip-prinsip rasional niscaya. Prinsip kausalitas, baginya – misalnya – hanyalah suatu prinsip empirikal yang ditunjukkan oleh pengalaman inderawi. Karenanya, ia tidak dapat dianggap sebagai dasar bagi validitas dan objektivitas pengalaman inderawi. Kedua, dialektika menjelaskan perkembangan materi dan peristiwa-peristiwanya dengan kontradiksi-kontradiksi yang terkandung di dalamnya. Peristiwa-peristiwa alam, dalam penjelasannya, tidak membutuhkan sebab luar. Hal ini akan dijelaskan secara rinci dalam pembahasan kedua. [90] Kalau saja penjelasan dialektika ini cukup untuk membenarkan wujudnya peristiwa-peristiwa alam, mengapa kita melangkah lebih jauh dari ini? Mengapa kita dituntut untuk mengasumsikan sebab luar dan realitas objektif bagi setiap pengetahuan yang timbul di dalam jiwa kita? Memang, idealisme boleh mengatakan tentang fenomena pengetahuan dan persepsi inderawi persis seperti yang telah dikatakan dialektika tentang alam, dan menduga bahwa fenomena seperti itu, dalam kejadian dan suksesinya, tunduk kepada hukum kontradiksi (qanun naqdh al-naqdh) [91] yang menisbahkan perubahan dan perkembangan kepada kandungan dalamnya. Dengan demikian, kita tahu bahwa dialektika tidak hanya mengalangi kita dari suatu sebab yang berada di luar alam saja, tetapi pada gilirannya juga mengalangi kita dari alam itu sendiri, dan juga dari segala sesuatu yang berada di luar alam kesadaran dan pengetahuan. [92]

Akan kami kemukakan beberapa teks Marxis yang berupaya memecahkan problem tersebut (dengan cara) yang tidak sesuai dengan watak dan karakter filosofis Marxisme. Berkata Roger Garaudy: “Ilmu-ilmu mengajarkan kita bahwa manusia itu muncul di muka bumi pada tahap yang akhir sekali, demikian pula pikirannya. Menyatakan bahwa pikiran itu ada di bumi sebelum materi, berarti menyatakan bahwa pikiran itu bukanlah pikiran manusia. Idealisme, dalam segala bentuknya, tidak dapat terlepas dari teologi.” [93]  “Bumi sudah ada bahkan sebelum segala yang sensitif, yaitu sebelum segala maujud hidup. Tak ada materi organik apa pun di atas bola bumi pada tahap terawal eksistensi planet ini. Jadi, materi non-organik mendahului kehidupan yang harus tumbuh berkembang selama beribu-ribu tahun sebelum munculnya manusia beserta pengetahuannya. Jadi, ilmu menuntun kita kepada keyakinan bahwa alam sudah ada dalam keadaan yang di dalamnya bentuk apa pun dari kehidupan atau sensibilitas tidak mungkin ada.” [94]

Demikianlah Roger Garaudy menganggap kebenaran ilmiah yang menyatakan niscaya lebih dahulunya pertumbuhan materi non-organik atas materi organik sebagai bukti adanya alam objektif. Karena, selama materi organik merupakan produk suatu perkembangan panjang, dan satu dari tahap-tahap akhir pertumbuhan materi, maka materi tidak mungkin diciptakan oleh kesadaran manusia yang pada gilirannya, datang setelah adanya benda-benda organik hidup yang mempunyai suatu sistem saraf pusat. Seolah-olah Garaudy mengasumsikan terlebih dahulu bahwa idealisme menerima adanya materi organik. Ia lantas membangun penalarannya berdasarkan asumsi itu. Tetapi asumsi itu tidak beralasan, sebab materi, dengan berbagai macam dan divisinya – entah itu organik dan lainnya dalam konsep idealisme, hanyalah bentuk mental yang kita ciptakan dalam persepsi dan konsepsi kita. Jadi bukti yang dikemukakan Garaudy mengandung suatu Petitio principii (mushadara), [95] dan berangkat dari titik yang tidak diakui oleh idealisme.

Berkata Lenin: “Kalau kita hendak melontarkan masalah tersebut dari satu-satunya cara pandang yang benar, yakni pandangan materialisme dialektik, maka sebaiknya kita pertanyakan apakah elektron, udara, dan seterusnya itu ada di luar pikiran manusia; apakah mereka memiliki realitas objektif atau tidak? Terhadap pertanyaan ini, sebaiknya para ahli sejarah alam menjawabnya, yang jawabannya selalu kukuh dan afirmatif, karena mereka tidak ragu-ragu menerima lebih dahulunya eksistensi alam atas eksistensi manusia, atau atas eksistensi materi organik.” [96] Kita lihat dalam teks ini sumber yang sama dengan yang digunakan Garaudy, bersama dengan pujian tinggi untuk ilmu dan anggapan atasnya sebagai penentu akhir permasalahan tersebut. Karena ilmu sejarah alam telah menunjukkan adanya alam sebelum munculnya kesadaran dan pengetahuan, maka tidak ada pilihan lain bagi idealisme kecuali tunduk kepada kebenaran-kebenaran ilmiah dan mengambilnya. Tetapi ilmu sejarah alam hanyalah satu bentuk pengetahuan manusia. Dan idealisme menafikan realitas objektif setiap pengetahuan, tak soal dengan bentuknya. Ilmu, dalam konsep idealisme, hanyalah pikiran subjektif murni. Bukankah ilmu adalah produk eksperimen yang bermacam-macam? Bukankah eksperimen-eksperimen dan persepsi-persepsi inderawi menjadi ajang perdebatan yang berpusat pada apakah mereka memiliki realitas objektif atau tidak? Nah, bagaimana ilmu dapat memiliki kata penentu dalam persoalan ini?

Berkata Georges Politzer: “Tidak ada orang yang meragukan bahwa kehidupan material masyarakat terlepas dari kesadaran manusia. Sebab, tidak ada orang yang berharap terjadinya krisis ekonomi, baik ia kapitalis maupun proletar, meskipun krisis itu pasti akan terjadi.” [97] Ini adalah corak baru yang diambil oleh Marxisme untuk menanggapi idealisme. Politzer, dalam teks itu, tidak bersandar pada kebenaran-kebenaran ilmiah. Tetapi ia mendasarkan pembuktiannya pada kebenaran intuitif, sebab kita semua menyadari secara intuitif bahwa ia tidak menghendaki banyak peristiwa yang terjadi, dan tidak menghendaki adanya. Namun peristiwa-peristiwa itu terjadi dan maujud tidak sesuai dengan kehendaknya. Jadi, peristiwa-peristiwa dan suksesi sinambungnya harus memiliki realitas objektif yang berdiri sendiri. Upaya baru ini juga tidak berhasil sebagaimana upaya-upaya yang sudah disebutkan terdahulu. Karena, konsep idealisme – yang menurutnya segala sesuatu dinisbahkan kepada persepsi-persepsi dan ide-ide sadar – tidak mengklaim persepsi dan ide sadar seperti itu muncul dari pilihan dan kehendak bebas manusia, dan juga tidak tunduk kepada hukum dan prinsip umum. Tetapi idealisme dan realisme sepakat bahwa alam berjalan sesuai dengan hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang berlaku dan menguasainya. Keduanya hanya berbeda dalam menjelaskan alam tersebut dan dalam menganggapnya sebagai subjektif (atau) sebagai objektif.

Kesimpulan yang kita tegaskan sekali lagi adalah bahwa tidak mungkin menisbahkan suatu pandangan yang sahih kepada filsafat realisme, dan mempercayai objektivitas (al-waqi’iyyah) persepsi inderawi dan pengalaman inderawi, kecuali dengan doktrin rasional yang berpendapat adanya prinsip-prinsip rasional niscaya yang berdiri sendiri yang terlepas dari pengalaman inderawi. Kalau kita memulai pembahasan tentang masalah idealisme dan realisme dengan pengalaman inderawi dan persepsi inderawi yang dipersengketakan kaum idealis dan realis, kita akan berputar-putar pada lingkaran kosong. Kita tidak akan dapat membuat hasil apa pun untuk kepentingan realisme filosofis.

Pengalaman Inderawi dan Sesuatu dalam Dirinya Sendiri
Marxisme menyerang beberapa bentuk konsep “sesuatu dalam dirinya sendiri” yang dikemukakan Kant. Marxisme juga menyerang ide-ide konseptual idealistik. Mari kita lihat metodenya dalam masalah ini.

Berkata Georges Politzer: “Faktanya, dialektika – bahkan dialektika idealismenya Hegel – menyatakan bahwa perbedaan antara kualitas-kualitas sesuatu dan sesuatu dalam dirinya sendiri adalah perbedaan kosong. Kalau kita mengetahui setiap kualitas sesuatu, kita juga mengetahui sesuatu itu dalam dirinya sendiri. (Mengapa dapat begitu) [98] bahwa kualitas-kualitas sesuatu terlepas darinya. Karena hal itu, khususnya dalam hal ini, menyatakan bahwa makna materialitas alam tertentukan. Namun karena mengetahui kualitas-kualitas realitas objektif tersebut, maka tidak mungkin mengatakan bahwa ia tak dapat diketahui. Jadi, adalah tidak masuk akal jika mengatakan, misalnya, bahwa kepribadian Anda adalah satu hal dan kualitas-kualitas serta cacat-cacat Anda adalah hal yang lain, dan bahwa saya tahu kualitas-kualitas dan cacat-cacat Anda tetapi saya tidak tahu kepribadian Anda. Karena, kepribadian secara pasti adalah totalitas cacat dan kualitas. Demikian pula, seni fotografi adalah totalitas aksi mengambil gambar. Karena itu, adalah tak masuk akal. kalau mengatakan bahwa ada lukisan, pelukis, warna, gaya dan aliran (lukis), (di satu pihak), dan bahwa ada fotografi dalam dirinya sendiri yang berada di atas realitas dan tak dapat diketahui. Jadi, tak ada dua bagian bagi realitas. Tetapi realitas itu adalah apa pun yang satu yang berbagai segi suksesifnya kita temukan melalui aplikasi. Dialektika telah mengajarkan kita bahwa kualitas segala sesuatu yang bermacam macam itu mengungkapkan dirinya dengan perantaraan konflik internal hal-hal yang bertentangan, dan bahwa konflik inilah yang membuat suatu pengubahan. Dengan demikian, keadaan fluiditas pada dirinya secara pasti adalah keadaan ekuilibrium relatif, yang kontradiksi internalnya terungkap pada saat membeku atau mendidih. [99] Dari sini, Lenin berkata: “Tidak ada dan tidak mungkin ada perbedaan prinsipil apa pun antara fenomena dan sesuatu dalam dirinya sendiri. Dan tidak ada perbedaan antara yang diketahui dan yang akan diketahui. Jadi semakin bertambah kedalaman pengetahuan kita terhadap realitas, semakin sesuatu dalam dirinya sendiri itu menjadi sesuatu bagi diri kita secara berangsur-angsur.” [100]

Untuk mempelajari Marxisme dalam teks ini, kita harus membedakan dua makna konsep pemisahan sesuatu dalam dirinya, dari sesuatu bagi kita.

Pertama, karena pengetahuan manusia bergantung, dalam pandangan prinsip empirikal, pada indera, dan karena indera tidak mendapatkan apa-apa kecuali fenomena alam, dan tidak dapat menembus jantung dan esensinya, maka pengetahuan manusia terbatas pada fenomena-fenomena yang dapat dijangkau pengalaman inderawi ini. Dengan begitu, ada jurang pemisah antara fenomena dan esensi. Fenomena adalah sesuatu bagi kita, karena ia adalah sisi alam yang eksternal yang dapat diketahui. Dan esensi adalah sesuatu dalam dirinya sendiri yang tak dapat ditembus pengetahuan manusia. Georges Politzer mencoba menghancurkan dualitas ini dengan membuang materi atau esensi dari realitas objektif. Ia menekankan bahwa dialektika tidak membedakan antara kualitas-kualitas sesuatu dan sesuatu dalam dirinya sendiri, bahkan malah menganggap sesuatu itu adalah totalitas kualitas dan fenomena. Adalah jelas bahwa ini adalah satu bentuk idealisme yang dikumandangkan Berkeley ketika ia membantah kepercayaan para filosof terhadap adanya materi dan esensi di balik kualitas-kualitas dan fenomena-fenomena yang tampak dalam pengalaman-pengalaman inderawi kita. Ini adalah satu bentuk idealisme yang dibuat niscaya oleh prinsip empirikal. Jadi, selama indera adalah fondasi pokok bagi pengetahuan dan tidak menangkap apa pun selain fenomena, maka esensi harus disingkirkan dari perhitungan. Dan bila esensi telah tersingkir, tidak ada apa-apa lagi kecuali fenomena-fenomena dan kualitas-kualitas yang dapat diketahui.

Kedua, fenomena-fenomena yang dapat dipersepsikan dan diketahui itu tidak berada di dalam indera dan fakultas kognitif kita, sebagaimana mereka ada dalam realitas objektif mereka. Jadi, dualitas di sini bukan antara fenomena dan esensi, tetapi antara fenomena seperti yang tampak bagi kita dan fenomena sebagaimana ia ada secara objektif dan berdiri sendiri. Nah, dapatkah Marxisme menghilangkan dualitas itu? Dan dapatkah membuktikan bahwa realitas objektif tampak pada kita di dalam pikiran dan persepsi inderawi kita sebagaimana ia ada dalam dunia eksternalnya yang berdiri sendiri? Kita menjawabnya dengan penafian, karena pengetahuan, dalam konsep materialisme, adalah aksi fisiologik semata-mata. Dalam hal ini, kita harus tahu bentuk hubungan yang ada, dalam konsep materialisme – baik berdasarkan materialisme mekanik maupun materialisme dialektik – antara pengetahuan, pikiran dan persepsi inderawi, dan sesuatu yang objektif.

Berdasarkan materialisme mekanik, konsep atau persepsi inderawi adalah refleksi mekanik dalam sistem saraf mengenai realitas objektif, sebagaimana refleksi sebuah gambar dalam kaca cermin atau lensa. Materialisme mekanik tidak mengakui bahwa materi melibatkan gerak dan aktivitas esensial. Ia malah menerangkan segala fenomena secara mekanik. Karena itu, ia tidak mungkin dapat memahami hubungan-hubungan materi eksternal dengan aktivitas mental sistem saraf kecuali dalam bentuk pasti refleksi tadi. Dalam hal ini, materialisme mekanik menghadapi dua pertanyaan berikut: (1) Apakah di dalam persepsi inderawi terdapat sesuatu yang objektif, yaitu sesuatu yang tidak bergantung pada manusia, dan yang ditransfer ke indera dari realitas eksternal materi? (2) Apabila ada sesuatu seperti itu dalam persepsi inderawi, maka bagaimana sesuatu itu ditransfer dari realitas objektif ke indera? Materialisme mekanik tidak dapat menjawab pertanyaan pertama secara afirmatif. Sebab, kalau ia menetapkan adanya sesuatu yang objektif dalam persepsi inderawi, ia harus menjustifikasi cara bagaimana realitas objektif ditransfer ke persepsi inderawi. Yakni ia harus menjawab pertanyaan kedua dan menjelaskan proses perpindahan tersebut. Dan ini yang tidak dapat dilakukannya. Karena itu, ia terpaksa membuat teori refleksi dan menjelaskan hubungan antara ide dan sesuatu yang objektif seperti ketika ia menjelaskan hubungan antara gambar dalam cennin atau lensa dan realitas objektif yang tecennin di dalam keduanya.

Adapun materialisme dialektika – yang menolak pemisahan antara materi dan gerak, dan menganggap cara wujudnya materi itu sebagai gerak – telah berusaha memberikan penjelasan baru mengenai hubungan ide dengan realitas objektif dengan dasar itu pula (ketakterpisahan materi dari gerak). Ia yakin bahwa ide bukanlah gambar mekanik murni realitas tersebut. Tetapi realitas diubah ke dalam ide. Karena keduanya, realitas dan ide, adalah bentuk tertentu gerak. Perbedaan kualitatif antara bentuk-bentuk dan macam-macam gerak tidak mengalangi gerak perpindahan dari satu ke lain bentuk. Jadi, materi objektif, karena dalam proses wujudnya merupakan bentuk tertentu gerak, maka gerak fisikal sesuatu berubah menjadi gerak psiko-fisiologik di dalam indera kita, dan gerak fisiologik itu berubah menjadi gerak psikologik ide.[101] Karenanya, posisi pikiran bukanlah posisi negatif, begitu pula refleksi tersebut bukanlah mekanik, sebagaimana dinyatakan materialisme mekanik.

Upaya materialisme dialektika ini tak dapat mengungkapkan hubungan antara sesuatu dan idenya selain sebagai hubungan sebab dengan akibatnya atau realitas dengan gambarnya yang terefleksi. Karena, perubahan gerak fisis sesuatu menjadi gerak fisiologik – dan pada gilirannya menjadi gerak psikologik– bukanlah konsep yang benar dan bukan penjelasan yang rasional mengenai persepsi inderawi atau pikiran. Perubahan tersebut berarti rusaknya bentuk pertama gerak dan pindahnya ke bentuk yang baru, seperti perkataan kita tentang gerak palu di atas landasan – yakni ia berubah menjadi panas. Panas dan gerak mekanik adalah dua bentuk gerak. Jadi, kekuatan yang mengekspresikan eksistensinya dalam bentuk tertentu gerak, yakni gerak mekanik, berubah dari bentuk tersebut ke bentuk barunya, yaitu panas, yang di dalamnya ia mengekspresikan dirinya. Panas menahan sejumlah kekuatan yang sama yang telah mengekspresikan eksistensinya dalam gerak mekanik. Inilah arti tepat perubahan gerak dari satu ke lain bentuk. Mari kita asumsikan bahwa ini adalah mungkin. Tetapi tidaklah mungkin untuk menjelaskan persepsi inderawi atau pikiran dengan proses perubahan seperti ini. Hal ini karena gerak fisikal realitas objektif terinderai tidak diubah oleh persepsi inderawi ke gerak psikologis. Sebab, perubahan berarti pergantian gerak dari satu bentuk ke bentuk lain. Adalah jelas bahwa gerak alami atau fisikal materi terinderai tidak berganti ke gerak fisiologik dan (kemudian) ke gerak ideasional. Karena, pengertian pergantiannya seperti ini adalah hilangnya bentuk awal gerak, dan pada gilirannya hilangnya materi yang mengekspresikan wujudnya dalam bentuk tertentu tersebut.

Jadi, gerak objektif sesuatu yang terinderai itu bukan seperti gerak palu. Dan persepsi inderawi bukanlah perubahan gerak objektif tersebut yang merupakan proses adanya materi – ke gerak psikologis, sebagaimana gerak palu berubah menjadi panas. Kalau tidak demikian, tentu persepsi inderawi akan menjadi proses penggantian materi oleh ide, sebagaimana gerak mekanik diganti oleh panas. Karena itu, persoalan persepsi bukanlah persoalan berubahnya gerak fisikal ke gerak psikologis yang tak ada apa-apa dalam dirinya selain berubahnya realitas objektif ke ide. Tetapi, pada sesuatu yang terinderai terdapat realitas objektif, dan pada persepsi inderawi terdapat realitas lain di dalam diri kita. Selama ada dua eksistensi: eksistensi subjektif persepsi inderawi dan pikiran, dan eksistensi objektif sesuatu yang terinderai; kita tidak dapat memahami hubungan antara dua jenis eksistensi tersebut, kecuali seperti kita memahami hubungan antara sebab dan akibat, atau seperti kita memahami hubungan antara realitas dan gambar yang merefleksikan realitas itu. Dengan demikian, jelaslah bahwa kita menghadapi masalah pokok yang memang sedang kita diskusikan. Karena ide adalah efek dari sesuatu yang objektif, dan karena hubungan yang terpahami antara keduanya adalah hubungan kausalitas, mengapa kita harus mengasumsikan bahwa efek ini dan sebabnya berbeda dengan efek lain dan sebabnya, dan terbedakan darinya (sebab lain dari efek lain) oleh karakteristik tertentu, yaitu bahwa efek tersebut menggambarkan kepada kita sebabnya dan merefleksikannya dengan penuh?

Ada banyak fungsi fisiologik yang merupakan efek-efek sebab-sebab luar tertentu. Tetapi kita tidak mendapatkan efek-efek ini yang mampu menggambarkan sebabnya. Efek ini malah menunjukkan secara samar adanya sebab-sebab di luar wilayahnya. Nah, bagaimana kita dapat mengakui bahwa ide tersebut memiliki lebih dari indikasi samar itu? Anggaplah Marxisme berhasil menerangkan pikiran dan persepsi dengan proses perpindahan gerak fisiologik ke gerak psikologis. Apakah ini berarti bahwa ide itu dapat sepenuhnya sesuai dengan realitas objektif? Keterangan ini membuat kita melihat ide dan realitas luarnya seperti kita melihat panas dan gerak mekanik yang berubah menjadi panas. Adalah jelas bahwa perbedaan kualitatif antara dua bentuk gerak di dalam panas dan gerak mekanik membuat keduanya tidak sesuai satu sama lain. Nah, bagaimana kita dapat mengasumsikan kesesuaian antara ide dan realitas objektifnya? Tampak ada kebingungan dan kekacauan pada Marxisme ketika menghadapi persoalan ini. Kita dapat menarik sejumlah teks yang berbeda-beda dan kacau dari dua dalil yang diberikan Marxisme atas hal itu. Dalil pertama adalah dalil filosofis, dan yang kedua adalah dalil biologi ilmiah. Dalil filosofis terangkum dalam teks berikut: “Pikiran dapat mengetahui sepenuhnya alam. Ini karena ia adalah bagian dari alam, disebabkan fakta bahwa ia adalah produk alam dan ekspresi tertinggi tentangnya. Pikiran adalah alam yang sadar akan dirinya di dalam maujud terdalam manusia.”[102]

Lenin berkata: “Alam semesta adalah gerak materi yang diatur oleh hukum-hukum. Dan karena pengetahuan kita hanyalah produk tertinggi alam, maka ia hanya dapat mencerminkan hukum-hukum itu.” [103] Dalam bukunya, Anti-Duhring, Engels mencoba menjelaskan bahwa materiatisme filosofis adalah satu-satunya hal yang dapat mendirikan nilai mengetahui di atas prinsip-prinsip yang kukuh, sebab ia memandang kesadaran dan pikiran sebagai dua anugerah. Kadang-kadang mereka adalah hal-hal yang ada dan merupakan opposite nature. Karena itu, ini mau tak mau membuat kita mendapati sebagai persesuaian penuh yang luar biasa antara kesadaran kita akan alam, pikiran tentang maujud-maujud, dan hukum-hukum pikiran. Tetapi jika kita bertanya apa pikiran dan kesadaran itu dan bagaimana asal-usulnya, kita mendapati bahwa manusia itu sendiri adalah produk alam. Mereka tumbuh dalam suatu komunitas dan bersama tumbuhnya komunitas itu. Karena itu, tak perlu menunjukkan bagaimana produk-produk pikiran manusia, yang dalam analisis akhirnya adalah produk-produk alam, tidak bertentangan, tetapi sesuai dengan bagian lain alam yang solid itu. [104]

Pikiran, dalam konsep Marxisme, adalah bagian dari alam atau produk tertingginya. Baiklah kita asumsikan bahwa konsep ini benar – padahal tidak benar. Apakah hal itu cukup untuk membuktikan kemungkinan mengetahui sepenuhnya alam? Benar bahwa jika pikiran adalah bagian dari alam dan produknya, maka pasti ia menggambarkan hukum-hukum alam. Tetapi, ini tidak berarti bahwa, disebabkan hal tersebut, pikiran menjadi pengetahuan yang benar tentang alam dan hukum-hukumnya. Apakah pikiran metafisis dan idealistik itu bukan pikiran, dan pada gilirannya tentu bukan bagian dari alam dan produknya, dalam anggapan materialisme? Apakah semua isi proses fisiologik bukan fenomena-fenomena alam dan produknya?

Dengan demikian, hukum-hukum alam itu terepresentasikan dalam pemikiran materialisme dialektika dan bekerja sesuai dengannya, sebagaimana hukum-hukum itu terepresentasikan dalam pikiran idealistik dan metafisis juga. Begitu pula hukum-hukum itu terepresentasikan dalam semua proses dan fenomena alam. Kenapa pikiran Marxis harus merupakan pengetahuan yang benar tentang alam, dan yang lain bukan, padahal semua pikiran itu adalah produk-produk alam? yang mencerminkan hukum-hukum alam? Dengan begitu kita tahu bahwa semata-mata menganggap pikiran sebagai fenomena dan produk alam, tidak cukup untuk membentuk pengetahuan yang hakiki tentang alam. Sungguh, hubungan satu-satunya yang dibuatnya antara ide dan subjeknya adalah hubungan kausalitas yang pasti antara setiap efek dan sebab alaminya. Ide dapat menjadi pengetahuan hakiki jika kita terima bahwa ide itu memiliki kuaIitas mengungkap dan mengambil gambar yang membedakannya dari segala sesuatu yang lain.

Adapun dalil biologis mengenai hubungan pengetahuan atau persepsi inderawi dengan realitas objektif dikemukakan dalam teks berikut: “Ide – pada level persepsi inderawi – tak berguna secara biologis dalam mempertahankan kehidupan, kecuali jika ia mencerminkan realitas objektif.” [105] “Kalau benar bahwa persepsi inderawi hanyalah simbolis dan tak memiliki keserupaan apa pun dengan sesuatu (yang aktual), dan pada gilirannya kaIau kesesuaian banyak sesuatu yang berbeda-beda adalah mungkin, atau sesuatu yang ilusif dan aktual mungkin memiliki keserupaan apa pun yang persis satu sama lain, maka adaptasi biologis terhadap komunitas adalah mustahil, jika kita mengasumsikan bahwa indera tidak memberikan kita kemampuan menentukan arah kita dengan pasti berkenaan dengan posisi segala sesuatu dan meresponnya dengan efektif, meskipun semua aktivitas praktis biologis manusia dan hewan menunjukkan kadar kesempurnaan kesadaran ini.” [106]

Jelas bahwa kenisbian persepsi inderawi tidak berarti bahwa banyak sesuatu yang berbeda-beda memiliki satu simbol terinderai sehingga simbol itu menjadi sepenuhnya kurang nilai, dan tidak dapat menentukan arah yang mempertahankan kehidupan kita dan menentukan posisi kita berkenaan dengan segala sesuatu yang eksternal. Tetapi teori relativitas fisiologik berdiri di atas asas bahwa semua bentuk persepsi inderawi adalah simbol yang berkaitan dengan realitas objektif tertentu yang tidak mungkin dilambangkan oleh bentuk persepsi inderawi lainnya. Dengan simbol-simbol seperti itu, kita dapat menentukan posisi kita berkenaan dengan segala sesuatu, dan meresponnya dengan efektivitas yang selaras dengan simbol itu dan yang dituntut alam kehidupan bagi simbol tersebut.


Gerak Dialektik Pikiran
Selanjutnya, Marxisme mengambil teori relativitas kebenaran. Marxisme menganggapnya sebagai semacam sofisme. Karena, kenisbian, dalam teori ini, berarti perubahan pada kebenaran-kebenaran dari sudut pandang subjektif. Marxisme menetapkan relativitas dalam suatu bentuk baru yang di dalam bentuk baru itu ia menjelaskan bahwa kebenaran berubah sesuai dengan hukum-hukum perkembangan dan perubahan dalam materi eksternal. Jadi, dalam pikiran manusia tidak ada kebenaran mutlak. Tetapi, kebenaran yang kita ketahui itu selamanya hanya relatif. Apa yang benar dalam satu waktu, temyata pada waktu lain adalah salah. Inilah sesuatu yang disetujui bersama oleh relativisme dan Marxisme. Marxisme menambahkan dengan mengatakan bahwa relativitas dan perubahan serta perkembangan ini pada faktanya hanyalah cermin perubahan realitas dan perkembangan materi yang kita representasikan dalam kebenaran-kebenaran ide-ide kita. Sebenarnya relativitas itu sendiri adalah relativitas objektif, bukan relativitas subjektif yang dihasilkan oleh subjek yang berpikir. Itulah sebabnya itu tidak berarti tidak adanya pengetahuan hakiki manusia. Tetapi realitas relatif yang berkembang yang mencerminkan alam dalam perkembangannya adalah pengetahuan hakiki dalam pandangan dialektika.

Berkata Lenin: “Fleksibilitas sempurna-menyeluruh dari bangsa-bangsa, yaitu fleksibilitas sedemikian sehingga mereprentasikan hal-hal berlawanan, adalah substansi permasalahan. Fleksibilitas ini, jika digunakan secara subjektif, akan menyebabkan purisme (al-intiqa’iyyah) dan sofisme. Tetapi fleksibilitas yang digunakan secara objektif, yakni fleksibilitas yang mencerminkan semua aspek gerak dan unitas perkembangan material, adalah dialektika yang merupakan refleksi tepat perkembangan abadi alam.”[107] Ia juga berkata: “Kita dapat, dengan berangkat dari teori relativitas murni, membenarkan setiap bentuk sofisme.” [108]  Berkata Kedrov: [109] “Tetapi, ada tendensi subjektif tertentu, bukan hanya ketika bertindak berdasarkan kategori-kategori kaku dan beku dari logika formal, tetapi juga ketika kita bertindak dengan kategori-kategori fleksibel dan berubah. Dalam kasus pertama, kita sampai pada metafisika, dan dalam kasus yang kedua kita sampai pada teori rclativitas, sofisme dan purisme.” [110] Ia menambahkan: “Metode dialektika Marxis menghendaki kesesuaian refleksi alam objektif dalam benak manusia dengan sesuatu yang terefleksikan, dan bahwa ia tidak mengandung sesuatu yang asing bagi sesuatu itu, yaitu tiada yang dimasukkan oleh subjektivitas. Penafsiran subjektif, menurut cara pandang relativisme dan fleksibilitas konsep-konsep, adalah sepenuhnya tambahan dari luar. Hal ini tercontohkan pada berlebihannya metafisika subjektif berkenaan dengan konsep-konsep abstrak logika formal.” [111]

Teks-teks ini menunjukkan keinginan Marxisme untuk membangun dogma filosofisnya berdasarkan usahanya untuk menerapkan hukum dialektika pada realitas. Jika manusia tidak merniliki kebenaran mutlak dalam totalitas ide-idenya, maka penyangkalan bahwa ide-idenya memiliki kebenaran-kebenaran mutlak bukanlah karena ide-idenya adalah agregat kesalahan-kesalahan mutlak yang membuat pengetahuan yang benar menjadi mustahil sama sekali bagi manusia, tetapi karena kebenaran-kebenaran yang dimiliki pikiran manusia adalah kebenaran-kebenaran progresif yang tumbuh dan berintegrasi sesuai dengan hukum-hukum dialektika. Karena itu, kebenaran-kebenaran ini adalah relatif dan terus menerus berkembang.

Berkata Lenin: “Pikiran, yakni (benak) manusia tidak boleh mengkonsepsikan kebenaran sebagai semata-mata gambar yang lemah dan diam tanpa gerak. Pengetahuan adalah kedekatan tak ada habisnya dan abadi pikiran dengan sesuatu. Refleksi alam dalam pikiran manusia haruslah dipahami tidak sebagai sesuatu yang tak bergerak, statis dan abstrak yang bebas dari kontradiksi-kontradiksi, tetapi sebagai proses terus-menerus perkembangan gerak untuk melahirkan kontradiksi-kontradiksi dan untuk melenyapkan kontradiksi-kontradiksi tersebut.”[112] Ia melanjutkan: “Adalah penting dalam teori pengetahuan, seperti juga dalam segala lapangan lain pengetahuan, bahwa pikiran itu dialektik, yakni tidak diasumsikan bahwa kesadaran kita itu konstan, tidak berkembang.” [113] Berkata Kedrov: “Metode dialektika tidak menghadapi penilaian ini sebagai sesuatu yang sempurna, tetapi sebagai ungkapan suatu ide yang mampu tumbuh dan berkembang. Bagaimanapun sederhananya suatu penilaian tertentu, bagaimanapun tampaknya lazim penilaian itu, tetap saja ia mengandung benih-benih atau anasir kontradiksi dialektik, yang di dalam ruang lingkupnya semua pengetahuan manusia bergerak dan tumbuh.” [114] Kedrov menunjuk kepada suatu pernyataan yang dalam pernyataan itu Lenin menentukan gaya metode dialektik dalam berpikir ketika ia berkata: “Logika dialektik menghendaki agar sesuatu itu diambil dalam pertumbuhan, perkembangan dan perubahannya.” [115] Ia melanjutkan: “Berbeda dengan metode dialektika, logika formal, dalam memecahkan persoalan kebenaran, menggunakan pemecahan masalah ini secara sangat mendasar, yakni dengan formula ‘ya-tidak’. Ia tahu dalam satu kata, dan dengan pasti jawaban terhadap pertanyaan: ‘Apakah fenomena itu ada atau tidak?’ Jawaban, misalnya, ya terhadap pertanyaan: ‘Apakah matahari itu ada?’ Dan ‘tidak’ terhadap pertanyaan: ‘Apakah lingkaran segi empat itu ada?’ Dalam logika formal, orang berhenti pada jawaban-jawaban sederhana sekali: ‘ya’ atau ‘tidak’. Yakni pada perbedaan menyeluruh antara benar dan salah. Karena itu, kebenaran dihadapi sebagai sesuatu anugerah, kaku, stabil, final dan berlawanan secara mutlak dengan kesalahan.”[116]

Mari kita simpulkan, dari teks-teks Marxis tersebut, tiga pendapat yang satu sama lainnya sangat berkaitan. Pertama, kebenaran tumbuh dan berkembang sedemikian sehingga mencerminkan pertumbuhan dan perkembangan realitas. Kedua, kebenaran dan kesalahan itu mungkin datang bersama, sehingga satu ide dapat salah sekaligus benar. Dan tidak ada pertentangan mutlak antara salah dan benar, seperti yang dipercayai logika formal, menurut Kedrov. Ketiga, penilaian apa pun, bagaimanapun tampak jelas kebenarannya, tetap mengandung kontradiksi tertentu, dan pada gilirannya mengandung aspek kesalahan. Kontradiksi inilah yang membuat pengetahuan dan kebenaran tumbuh dan menjadi keseluruhan. Nah, apakah kebenaran yang ada dalam pikiran manusia itu berkembang dan berintegrasi sebagai kebenaran? Apakah mungkin kebenaran berada bersama kesalahan? Apakah setiap kebenaran mengandung kontradiksinya, dan berkernbang dikarenakan kontradiksi internal ini? Inilah sesungguhnya yang ingin kita ketahui.

Perkembangan dan Gerak Kebenaran
Sebelum membicarakan lebih lanjut (tentang perkembangan kebenaran dan geraknya ini), kita harus tahu apa yang dimaksud dengan frasa “kebenaran pada pikiran manusia” yang perkembangan dan integrasinya diyakini Marxisme? Realisme yakin akan adanya realitas di luar batas-batas kesadaran dan pikiran, dan menganggap berpikir sebagai usaha untuk merefleksikan dan mengetahui realitas tersebut. Berdasarkan ini, kebenaran adalah ide yang sesuai dan mirip dengan realitas ini. Kepalsuan, di lain pihak, terepresentasikan dalam ide, pendapat atau keyakinan yang tak sesuai atau mirip dengan realitas ini. Jadi, kriteria yang membedakan antara kebenaran dan kepalsuan, antara yang benar dan yang salah, adalah persesuaian ide dengan realitas.

Kebenaran, dalam konsep realisme ini, adalah topik perdebatan filosofis yang keras di antara kaum realis di satu pihak, dan kaum konseptualis dan sofis di lain pihak. Kaum realis yakin akan kemungkinan kriteria seperti itu, sementara kaum konseptualis dan sofis menafikannya, atau meragukan kemampuan manusia untuk mendapatkannya. Tetapi, ungkapan “kebenaran” telah dipergunakan dalam sejumlah pengertian lain yang sama sekali berbeda dengan pengertian realisme tadi. Karena itu, pengertian yang berbeda ini terjauhkan dari lapangan pokok konflik antara filsafat dogmatik dan filsafat-filsafat skeptisisme dan penafian.

Perkembangan relativisme subjektif adalah salah satu perkembangan yang dialami kebenaran. Perkembangan ini berupaya membuat makna baru bagi kata “kebenaran”. Ia beranggapan bahwa kebenaran adalah pengetahuan yang cocok dengan watak sistem saraf dan kondisi-kondisi bagi pengetahuan di dalam sistem ini. Kita telah membicarakan realisme subjektif. Telah kami katakan bahwa memberikan pengertian ini kepada kebenaran berarti bahwa kebenaran tak lebih daripada sesuatu yang subjektif. Karenanya, kebenaran tidak akan menjadi kebenaran kecuali secara nominal saja. Dengan begitu, kebenaran, dalam pengertian relativisme subjektif, kehilangan sifatnya sebagai subjek perbedaan dan pertentangan filosofis antara tendensi dogmatik, skeptik dan penyangkalan dalam filsafat. Jadi, relativisme subjektif adalah salah satu doktrin skeptisisme yang tertutup selubung kebenaran.

Ada penafsiran filosofis lain tentang kebenaran. Yakni yang dikemukakan oleh William James[117] dalam doktrin barunya tentang pengetahuan manusia, yaitu pragmatisme atau doktrin instrumentalisme. [118] Penafsiran ini tidak lebih dekat kepada realisme, juga tidak lebih jauh dari filsafat-filsafat skeptisisme dan penyangkalan dibanding penafsiran terdahulu yang diupayakan oleh relativisme subjektif. Doktrin pragmatisme tersimpulkan dalam pengajuan kriteria baru untuk mengukur pikiran-pikiran dan membedakan kebenaran dan kepalsuan pikiran-pikiran tersebut. Kriteria ini adalah kemampuan ide tertentu manusia untuk mencapai tujuan-tujuan manusia dalam kehidupan praktisnya. Kalau pendapat-pendapat bertentangan, maka yang paling real dan benar adalah yang paling berguna, yaitu pendapat yang manfaatnya ditunjukkan oleh pengalaman praktis. Ide yang tidak memiliki nilai praktis dan efek yang berguna dalam pengalaman-pengalaman hidup, sama sekali bukanlah kebenaran. Tetapi harus dianggap sebagai ungkapan-ungkapan kosong yang tidak mengandung arti apa pun. Jadi, semua kebenaran, dalam doktrin ini, dapat dinisbahkan pada kebenaran tertinggi dalam eksistensi, yakni pertama-tama menjaga kelestarian hidup, dan kedua, mengangkatnya ke kesempurnaan. Karenanya, setiap ide yang dapat digunakan sebagai sarana untuk sampai pada kebenaran tertinggi tersebut adalah kebenaran yang nyata yang harus diterima. Dan setiap ide yang tidak berfungsi begini tidak boleh diambil.

Berdasarkan ini, Bergson[119] mendefinisikan kebenaran sebagai penciptaan sesuatu yang baru, bukannya menemukan sesuatu yang telah ada. [120] Schiller[121] mendefinisikannya sebagai sesuatu yang melayani manusia saja. Dewey[122] mengidentifikasikan fungsi ide sambil berkata bahwa ide adalah sarana untuk meningkatkan kehidupan, dan bukan alat untuk mengetahui sesuatu dalam dirinya. Dalam doktrin ini terdapat kekacauan yang jelas antara kebenaran itu sendiri dan tujuan pokok usaha mendapatkan kebenaran. Tujuan mendapatkan kebenaran adalah untuk memakainya dalam lapangan praktis dan mendapatkan penerangan dengan kebenaran itu dalam pengalaman-pengalaman kehidupan. Tetapi, ini bukan arti kebenaran itu sendiri. Kami ringkaskan tanggapan kami terhadap pandangan tentang kebenaran di atas sebagai berikut. Pertama, memberikan makna praktis murni kepada kebenaran, dan melepaskannya dari kualitas pengungkapan apa yang ada dan yang sebelumnya adalah mengakui mutlak skeptisisme filosofis – yang justru karenanya (skeptisisme) konseptualisme dan sofisme beraksi. Dan semata-mata mempertahankan ungkapan “kebenaran” dalam arti lain tidak cukup untuk menolak atau melepaskan diri darinya. Kedua, adalah hak kita untuk mempertanyakan kegunaan praktis ini yang dianggap pragmatisme sebagai kriteria kebenaran dan kepalsuan. Apakah itu kegunaan individu tertentu yang berpikir atau kegunaan kelompok? (Jika yang terakhir): Siapakah kelompok itu? Apa batas-batasnya? Apakah yang dimaksudkan dengan kelompok adalah manusia secara umum? Atau hanya sebagian? Semua asumsi ini[123] tidak memberi doktrin baru ini keterangan rasional. Jika kegunaan individual adalah patokan yang benar bagi kebenaran, mau tidak mau kebenaran-kebenaran harus berbeda satu sama lain sesuai dengan perbedaan kepentingan masing-masing individu. Maka kalau demikian, akan terjadi masyarakat yang kacau yang mengerikan ketika masing-masing individu memilih kebenarannya sendiri-sendiri, tanpa memperhatikan kebenaran yang lain, yang muncul dari kepentingan mereka sendiri. Kekacauan ini berbahaya sekali bagi mereka semua. Kalau kegunaan manusia seluruhnya yang menjadi patokan, maka patokan ini akan bergantung pada sejumlah penelaahan dan lapangan, karena sering berbenturan dan berbedanya kepentingan manusia. Memang, pada titik ini, tidak mungkin mendapatkan kebenaran, bagaimanapun jenisnya, selama belum melewati pengalaman masyarakat (teruji) yang panjang. Ini berarti James sendiri tak mungkin menganggap benar doktrinnya, kalau belum melewati pengalaman tersebut, dan kalau belum menunjukkan kepatutannya sendiri dalam kehidupan praktis. Dengan demikian James mengakhiri doktrin ini sendiri. Ketiga, fakta adanya maslahat manusiawi dalam benarnya ide tertentu tidak cukup untuk membenarkan ide ini. Seorang ateis tidak mungkin menerima agama, meskipun ia mempercayai peranan agama yang efektif dalam memperbaiki manusia, menggugah harapan dan semangatnya dalam kehidupan praktis. George Santayana, [124] misalnya, menganggap bahwa iman adalah kekeliruan yang indah, yang lebih sesuai dengan kecenderungan jiwa ketimbang kehidupan itu sendiri. Jadi, membenarkan suatu ide tidak sama dengan jenis-jenis lain aktivitas praktis yang dapat dilaksanakan manusia apabila kegunaannya terjamin. Demikianlah, pragmatisme didasarkan pada membedakan antara menerima (aktivitas mental tertentu) dan berbagai aktivitas praktis yang dilakukan manusia berdasarkan kepentingan dan kegunaannya.

Dari studi di atas, kita simpulkan bahwa konsep satu-satunya tentang kebenaran yang dapat diambil realisme adalah bahwa idelah yang sesuai dengan realitas. Jika Marxisme, yang menyerukan kemungkinan pengetahuan sejati dan, karena itu, menolak tendensi-tendensi konseptual, skeptis dan solis, mengartikan “kebenaran” sebagai sesuatu selain arti realistik, maka itu sama sekali tidak bertentangan dengan tendensi-tendensi tersebut. Sebab, tendensi skeptisisme dan sofisme hanya menolak kebenaran dalam arti kesesuaian ide dengan realitas, dan tidak menolak kebenaran dalam arti apa pun. Jadi, Marxisme tidak dapat melepaskan diri dari tendensi skeptisisme dan sofisme hanya karena mengambil ungkapan kebenaran dan menuangkannya lagi dalam konsep baru. Karena itu, untuk benar-benar menolak tendensi-tendensi tersebut, Maxisme harus mengambil kebenaran dalam arti realistik yang menjadi tumpuan filsafat realisme. Jika mau menganggap Marxisme sebagai filsafat realistik yang benar-benar menopang nilai objektif pikiran.

Jika kita telah mengetahui konsep realistik yang benar tentang kebenaran, tiba saatnya bagi kita untuk mengetahui apakah kebenaran, dalam arti ini yang di atasnya realisme bertumpu, dapat berkembang dan berubah melalui gerak linier, sebagaimana mula-mula diajarkan Marxisme, atau tidak? Kebenaran tidak mungkin berkembang dan tumbuh, sementara ia dibatasi pada setiap tahapan perkembangannya oleh batas-batas tertentu setiap tahapan. Memang suatu ide atau setiap ide haruslah salah satu dari dua hal: benar sama sekali atau palsu.

Saya tahu bahwa kata-kata di atas itu menjijikkan kaum Marxis dan membuat mereka membombardir pemikiran metafisis dengan tuduhan-tuduhan yang sering mereka lakukan. Mereka mengatakan bahwa pemikiran metafisis membekukan alam dan menganggapnya sebagai keadaan tetap dan stabil. Ini karena pernikiran metafisis meyakini adanya kebenaran mutlak dan menolak prinsip perkembangan dan gerak dalam alam, padahal prinsip kebenaran mutlak itu telah hancur sama sekali dengan ditemukannya perkembangan dan gerak alam. Tetapi fakta yang harus dipahami pembaca yang budiman adalah bahwa mempercayai adanya kebenaran-kebenaran mutlak dan menolak perubahan dan gerak dalam alam tidak berarti membekukan alam sama sekali, tidak pula menafikan perkembangan dan perubahan realitas objektif. Konsep filsafat kita menerima perkembangan sebagai hukum umum dalam dunia alam dan keberadaan eksternalnya sebagai keadaan menjadi terus-menerus, dan dalam waktu yang sama, kita menolak setiap temporalitas dan berubahnya kebenaran.

Untuk menjelaskan hal itu, mari kita asumsikan bahwa suatu sebab tertentu membuat panas semakin panas dalam air tertentu. Temperatur air itu selalu dalam gerak terus-menerus dan berkembang secara berangsur-angsur. Ini berarti bahwa setiap derajat temperatur yang dicapai oleh air adalah derajat yang sementara. Air itu akan meninggalkan derajat tersebut menuju derajat yang lebih tinggi dengan semakin meningginya temperaturnya. Dalam keadaan ini, air itu tidak memiliki derajat temperatur yang mutlak. Begitu pula dengan realitas objektif yang maujud secara eksternal. Kalau kita ukur temperaturnya pada saat tertentu, dan mendapati bahwa, ketika pengukuran telah terpengaruh temperatur realitas ini, temperatur telah mencapai, misalnya, 90° Celcius, maka kita akan mendapatkan kebenaran melalui eksperimen. Kebenaran itu adalah bahwa derajat temperatur air pada saat tertentu tersebut adalah 90. Kita katakan bahwa 90 itu adalah kebenaran, karena ia adalah ide yang tentang kesesuaiannya dengan realitas – yakni realitas temperatur pada waktu tertentu – kita jamin. Adalah alami bahwa temperatur itu tidak akan berhenti pada derajat tersebut (angka 90), tetapi ia akan terus naik hingga mencapai derajat mendidih.

Tetapi, kebenaran yang kita dapatkan itu adalah kebenaran yang tidak berubah. Artinya ketika kita perhatikan saat tertentu kerika kita mengukur temperatur air tersebut, kita menilai dengan sangat yakin bahwa temperatur air itu adalah 90. Karena itu, meskipun temperatur 90° yang dicapai air tersebut merupakan derajat sementara pada waktu tertentu, dan segera berubah karena naiknya temperatur ke derajat yang lebih tinggi, tetapi ide yang kita dapatkan dengan eksperimen itu – ide itu adalah bahwa temperatur pada waktu tertentu adalah 90° – adalah suatu ide yang benar dan suatu kebenaran yang mutlak. Karena itu, kita dapat menegaskan kebenarannya selamanya. Yang dimaksud “selalu menegaskan kebenarannya” bukanlah bahwa temperatur 90° selalu merupakan derajat temperatur air yang tetap. Kebenaran yang kita dapatkan dengan eksperimen tidaklah menyinggung tentang temperatur air kecuali pada waktu tertentu. Jadi, ketika kita katakan bahwa ia adalah kebenaran mutlak dan bukan sementara, kita maksudkan bahwa temperatur pada waktu tertentu itu telah sepenuhnya tertentukan pada derajat 90. Meskipun dapat saja bahwa temperatur air mencapai derajat 100, misalnya, setelah saat itu, tetapi tidak boleh apa yang telah kita ketahui tentang derajat temperatur pada waktu tertentu tersebut menjadi salah setelah ia benar.

Nah, jika kita tahu kebenaran adalah ide yang sesuai dengan realitas, dan tahu bahwa kalau ide itu sesuai dengan realitas dalam kondisi tertentu, setelah itu tidaklah mungkin ia tidak sesuai dengan realitas tersebut dalam kondisi tertentu itu; saya katakan kalau kita telah tahu semua itu nyatalah dengan jelas bahwa adalah salah jika menetapkan hukum gerak atas kebenaran. Hal ini karena gerak menetapkan perubahan dalam kebenaran tersebut dan membuatnya selalu berkaitan dan terbatas pada masa tahapan tertentu perkembangannya. Padahal kita sudah tahu bahwa tidak ada perubahan dan kesementaraan pada kebenaran. Begitu pula, perkembangan dan kemenyeluruhan kebenaran berarti bahwa melalui gerak ide itu menjadi semakin benar. Sekali lagi, melalui gerak, temperatur meningkat ke derajat yang lebih tinggi meskipun kebenaran berbeda dengan temperatur. Temperatur dapat menjadi semakin intens dan kuat; tetapi kebenaran, seperti kita ketahui, mengekspresikan ide yang sesuai realitas, dan tidak mungkin kesesuaian ide itu benar-benar menjadi lebih kuat, seperti halnya dengan temperatur. Benak manusia dapat saja mengungkap sisi baru realitas tersebut yang belum diketahui sebelumnya. Tetapi, ini bukan perkembangan kebenaran yang telah diketahui sebelumnya. Ini adalah kebenaran baru yang ditambahkan akal kepada kebenaran sebelumnya.

Nah, jika kita telah mengetahui, misalnya, bahwa Marx terpengaruh oleh logika Hegel, maka pengetahuan ini adalah kebenaran pertama yang telah kita ketahui tentang hubungan Marx dengan pemikiran Hegel. Ketika kita mempelajari sejarah dan filsafat Marx, tahulah kita bahwa Marx berlawanan dengan idealisme Hegel. Kita ketahui juga bahwa Marx menerapkan dialektika Hegel secara material terhadap sejarah, masyarakat, dan hubungan-hubungan intelektual lainnya antara dua personalitas mereka. Semua itu adalah pengetahuan baru yang mengungkap berbagai aspek realitas, dan bukan pertumbuhan atau perkembangan kebenaran pertama yang telah kita dapatkan sejak awal. Semangat Marxisme untuk menundukkan kebenaran kepada hukum gerak dan perkembangan tidak lain hanyalah untuk menafikan kebenaran-kebenaran mutlak yang diyakini filsafat metafisis.

Marxisme tak tahu bahwa justru dengan semangat menundukkan kebenaran terhadap hukum gerak tersebut, ia sebenarnya menafikan doktrinnya sendiri. Sebab, kalau gerak adalah hukum umum yang menguasai kebenaran, tentulah tidak mungkin untuk menetapkan kebenaran mutlak apa pun, dan pada gilirannya, hukum gerak itu sendiri bukanlah kebenaran mutlak. Dengan demikian, adalah aneh bahwa Marxisme yakin pada gerak dan berubahnya kebenaran mengikuti hukum dialektika, dan menganggap bahwa pengungkapan itu adalah titik pusat teori Marxis tentang pengetahuan, sementara ia melupakan bahwa pengungkapan itu sendiri adalah salah satu kebenaran tersebut yang gerak dan perubahannya diterima Marxisme. Kalau kebenaran tersebut bergerak dan berubah sesuai dengan metode dialektik, sebagaimana juga semua kebenaran lain, ia tentu mengandung kontradiksi yang akan sirna dengan perkembangan dan perubahannya, seperti yang dipastikan dialektika. Apabila kebenaran itu mutlak, tidak bergerak dan tidak berubah, cukuplah hal ini untuk menolak penerapan gerak dan hukum-hukum dialektika pada (semua) kebenaran dan pengetahuan dan cukuplah hal ini sebagai bukti bahwa kebenaran tidak tunduk kepada prinsip-prinsip gerak dialektika. Dialektika yang dimaksudkan untuk menguasai kebenaran dan pengetahuan manusia mengandung kontradiksi yang nyata dan penegasan yang jelas untuk meniadakan dirinya sendiri pada salah satu keadaan. Kalau dianggap sebagai kebenaran mutlak, akan terlanggarlah kaidah-kaidah sendiri, dan jelaslah bahwa gerak dialektik tidak menguasai dunia kebenaran. Jika ia menguasainya, tentu tak ada satu kebenaran mutlak, meskipun kebenaran itu adalah dialektika itu sendiri. Dan kalau dianggap sebagai kebenaran nisbi yang tunduk kepada perkembangan dan perubahan, maka melalui kontradiksi-kontradiksi dalamnya sendiri, kebenaran itu akan berubah, dan hilanglah metode dialektik, dan kontradiksinya akan menjadi kebenaran yang mapan.


Bersatunya Kebenaran dan Kesalahan
Dalam teks-teks Marxis di muka, terlihat bahwa Marxisme mencela logika formal (sebagaimana dikemukakan Marxisme) untuk menerima pertentangan mutlak antara kesalahan dan kebenaran, padahal keduanya dapat bersatu, karena kesalahan dan kebenaran adalah dua hal yang nisbi dan karena kita tidak memiliki kebenaran mutlak. Ide Marxis yang menyatakan bersatunya kebenaran dan kesalahan itu berdasarkan dua ide berikut. Pertama, ide Marxis tentang perkembangan dan gerak kebenaran. Ide ini menyatakan bahwa setiap kebenaran bergerak dan berubah terus-menerus. Kedua, ide Marxis tentang kontradiksi gerak. Ide ini menyatakan bahwa gerak tak lain adalah serangkaian kontradiksi. Jadi sesuatu yang bergerak pada setiap saat adalah berada pada suatu titik tertentu, dan tidak berada pada titik tertentu tersebut. Karena itu, Marxisme menganggap gerak sebagai penolakan terhadap prinsip identitas (huwiyah). Hasil dari dua ide di atas adalah bahwa kebenaran dan kepalsuan itu bersatu, dan di antara keduanya tidak ada pertentangan mutlak. Hal ini karena, kebenaran berada dalam gerak, dan gerak berarti kontradiksi terus-menerus. Jadi, kebenaran adalah kebenaran, dan itu tidak demikian dikarenakan kontradiksi-kontradiksi geraknya.

Dari uraian terdahulu, kita menjadi jelas tentang sejauh mana kesalahan ide pertama tentang bergerak dan berkembangnya kebenaran. Akan kami uraikan dengan rinci ide kedua, yaitu dalam membahas dialektika dalam studi yang komprehensif tentang persoalan kedua (konsep filosofis tentang alam). Akan semakin jelas nanti kesalahan dan ambiguitas dalam hukum-hukum dialektika secara umum, dan dalam penerapannya terhadap ide tersebut secara khusus. Adalah jelas bahwa menerapkan hukum-hukum dialektika kontradiksi dan perkembangan kepada ide-ide dan kebenaran-kebenaran dengan cara yang dibuat-buat itu akan menyebabkan hancurnya nilai semua penilaian dan pengetahuan rasional bagaimanapun jelasnya itu. Bahkan penilaian logika dan penilaian matematika sederhana pun kehilangan nilainya, karena tunduk – berdasarkan kontradiksi yang ada di dalamnya menurut pendapat dialektika – kepada hukum-hukum perkembangan dan perubahan terus-menerus. Kebenaran-kebenaran yang kita ketahui sekarang, seperti “2 + 2 = 4” dan “bagian itu lebih kecil daripada keseluruhan”, tidak dapat dipastikan, (karena) berdasarkan kontradiksi dialektik tersebut, keduanya berubah, sehingga kita mengetahuinya dalam bentuk berbeda.[125]

Revisi-Revisi Ilmiah dan Kebenaran-Kebenaran Mutlak
Engels, dalam mengkritik prinsip kebenaran mutlak yang menyatakan ketidakmungkinan bersatunya kebenaran dan kesalahan melalui revisi-revisi atas teori-teori dan hukum-hukum ilmiah, berkata: “Mari kita ilustrasikan hal itu dengan hukum Boyle[126] yang sangat masyhur yang menyatakan bahwa bervolume-volume gas secara terbalik seimbang dengan tekanan terhadapnya, kalau derajat temperaturnya masih tetap. “Regnault [127] mendapatkan bahwa hukum itu, dalam keadaan- keadaan tertentu, tidak benar. Kalau saja Renan adalah seorang realis, ia akan mencapai kesimpulan berikut: ‘Karena hukum Boyle dapat berubah, maka hukum tersebut tak sepenuhnya benar. Ini berarti bahwa ia sama sekali bukan kebenaran. Jadi, ia adalah hukum yang salah.’ Jika Renan mengikuti jalan ini, ia pasti akan berbuat kesalahan yang lebih besar daripada yang dilakukan dalam hukum Boyle. Sedikit kebenaran yang dikandung kritiknya terhadap hukum ini akan hilang dan terkubur di tengah-tengah pasir kesalahan. Dalam analisis terakhirnya, ini akan membuatnya mendistorsi kebenaran yang sahih yang telah didapatnya, dan mengubahnya menjadi kesimpulan dengan kekeliruan-kekeliruan yang jelas, jika dibandingkan dengan kesimpulan yang dicapai hukum Boyle yang tampak benar, meskipun mengandung kekeliruan-kekeliruan tertentu.” [128]

Kritik tersebut dapat terangkum dalam (pernyataan) bahwa jika ide metafisis itu benar dalam pernyataannya bahwa kebenaran-kebenaran itu mutlak dan sepenuhnya bertentangan dengan kesalahan, tentu setiap hukum ilmiah harus ditolak karena jelas sebagiannya tidak benar dan tak berlaku dalam keadaan-keadaan tertentu. Jadi, hukum Boyle, menurut metode metafisika dalam berpikir, mungkin benar sama sekali dan mungkin salah sama sekali. Kalau hukum Boyle itu ternyata kadang-kadang tidak benar dalam lapangan eksperimen, maka, karenanya, salah mutlak, dan tak ada kebenaran sedikit pun di dalamnya. Karena, kebenaran tidak dapat bersatu dengan kesalahan. Karena itu ilmu pengetahuan kehilangan segi kebenaran dari hukum tersebut. Adapun menurut metode dialektik, kesalahan nisbi tersebut tidak dianggap sebagai bukti gugurnya hukum itu secara mutlak, tetapi sekaligus adalah kebenaran nisbi. Sungguh kebenaran bersatu dengan kesalahan.

Kalau saja Engels mengetahui teori metafisika tentang pengetahuan dengan tepat, dan memahami apa yang dimaksudkannya dengan “kebenaran mutlak”, tentu ia tidak akan mengkritiknya seperti itu. Kebenaran dan kesalahan tidak dapat bersatu dalam satu realitas, baik dalam hukum Boyle maupun dalam hukum-hukum ilmiah lainnya. Kebenaran hukum Boyle adalah kebenaran mutlak, tidak ada kesalahan di dalamnya. Apa yang salah dari hukum tersebut tentulah sepenuhnya salah. Eksperimen-eksperimen ilmiah, yang dilakukan Renan dan yang telah menjelaskan kepadanya bahwa hukum Boyle, misalnya, tidak benar apabila tekanan mencapai titik ketika gas-gas berubah menjadi benda-benda cair, tidak menukar kebenaran dengan kesalahan. Eksperimen-eksperimen tersebut hanya membagi hukum itu menjadi dua bagian, dan menjelaskan bahwa salah satu dari dua bagian itu merupakan kesalahan murni. Jadi, bersatunya kesalahan dan kebenaran adalah persatuan nominal, bukan persatuan dalam arti yang sebenarnya.

Lebih jelasnya, setiap hukum ilmiah, yang benar mengandung kebenaran-kebenaran yang sama dengan kasus-kasus yang dihadapinya dan yang kepadanya itu dapat diterapkan. Kalau eksperimen menunjukkan kesalahannya dalam beberapa dari kasus-kasus itu dan kebenarannya dalam sebagian lain kasus-kasus itu, ini tidak berarti bahwa kebenaran adalah nisbi dan bahwa ia bersatu dengan kesalahan. Yang dimaksud ini adalah bahwa kandungan hukum itu sesuai dengan realitas dalam sebagian kasus, dan tidak sesuai dengan sebagian kasus lain. Kesalahan memiliki tempatnya tersendiri, dan dalam tempat itu ia adalah kesalahan murni. Dan kebenaran juga memiliki tempat tersendiri, dan dalam tempat itu ia adalah kebenaran mutlak.

Pemikiran metafisis tidak memaksa ilmuwan alam untuk sepenuhnya menolak suatu hukum jika terbukti hukum itu salah dalam beberapa kasus. Karena, pemikiran metafisis menganggap setiap kasus memiliki proposisi yang menyangkut kasus itu. Proposisi yang menyangkut kasus tertentu tidak harus salah, jika proposisi yang menyangkut kasus lain salah.

Sebagai ganti usaha-usaha kekanak-kanakan yang dibuat Engels untuk membenarkan kebenaran relatif dan bersatunya kebenaran dengan kesalahan, seharusnya ia mengetahui perbedaan antara proposisi sederhana dan proposisi majemuk, dan mengetahui bahwa proposisi sederhana tak dapat dibagi menjadi dua proposisi, seperti dalam kata-kata kita, “Plato meninggal dunia sebelum Aristoteles”, dan bahwa proposisi majemuk adalah proposisi yang tersusun dari sejumlah proposisi, seperti kata-kata kita, “Partikel-partikel jasadi memuai oleh panas”. Kata-kata ini adalah kumpulan proposisi. Kita dapat mengatakannya dalam sejumlah proposisi, dengan mengatakan, “Besi memuai karena panas”, “emas memuai karena panas”, “timah memuai dengan panas”.

Karena proposisi sederhana adalah proposisi tunggal, maka tidak mungkin ia benar dari satu segi dan salah dari segi lain. Kematian Plato sebelum Aristoteles dapat benar dan dapat salah. Tetapi karena proposisi majemuk merupakan tempat pertemuan sejumlah proposisi, maka satu segi darinya dapat benar dan segi lain dapat salah. Misalnya, kalau kita asumsikan bahwa besi memuai karena panas, dan emas tidak memuai karena panas, maka hukum umum alam, yakni partikel-partikel jasadi memuai karena panas, dianggap benar pada satu sisi dan salah di sisi yang lain. Tetapi ini tidak berarti bahwa kebenaran dan kesalahan dapat bersatu, sehingga proposisi yang sama menjadi benar dan sekaligus salah. Namun kesalahan ada pada proposisi, seperti misalnya: “Besi tidak memuai oleh panas”. Karena itu, kesalahan bukanlah kebenaran, dan kebenaran bukanlah kesalahan.

Dalam pembahasan kita tentang gerak berkembang kebenaran dan pengetahuan sebagai bagian dari dialektika yang pembahasannya kami khususkan pada bab kedua dari penelaahan berikut, konsep filsafat tentang alam, kami akan kemukakan penalaran Marxisme dan bentuk-bentuk pembuktian tentang perkembangan kebenaran dan pengetahuan, dan sejauh mana kelemahan kekeliruan-kekeliruannya. Terutama, kami akan memaparkan upaya Marxisme dalam menganggap ilmu-ilmu alam dalam perkembangan pesatnya mengikuti perjalanan zaman, banyak aktivitasnya dan lompatan-lompatan kuatnya, sebagai sesuai dengan gerak berkembang kebenaran dan pengetahuan, meskipun perkembangan ilmu dalam arti filosofis yang dimaksud Marxisme, tidak ada hubungannya sama sekali dengan perkembangan kebenaran dan pengetahuan di sepanjang sejarah panjang ilmu-ilmu ini. Ilmu-ilmu berkembang, tetapi dalam arti bahwa kebenaran-kebenarannya semakin bertambah dan kesalahan-kesalahannya semakin berkurang kami bicarakan hal ini pada pembahasan kedua. [129]

Kesimpulan kita dari uraian di atas adalah: Pertama, kebenaran adalah mutlak dan tidak progresif, meskipun realitas objektif alam senantiasa berkembang dan bergerak. Kedua, kebenaran itu sama sekali bertentangan dengan kesalahan. Satu proposisi sederhana tidak mungkin benar dan sekaligus salah. Ketiga, memberlakukan dialektika kepada kebenaran dan pengetahuan mengharuskan kita sepenuhnya meragukan setiap kebenaran, selama kebenaran berubah dan bergerak terus-menerus. Bahkan juga dialektika menghukum dirinya sendiri dengan kematian dan perubahan, karena ia sendiri termasuk kebenaran-kebenaran yang mesti berubah sesuai dengan metode perkembangan tertentunya itu.

Marxisme Menjadi Subjektivisme Lagi
Akhirnya, kami harus menunjukkan bahwa Marxisme – meskipun terus menolak relativisme subjektif dengan menaikkan (dirinya di atas bentuk subjektivisme ini), menekankan karakter objektif relativismenya sendiri, dan (menyatakan) bahwa Marxisme adalah relativisme yang menyertai realitas progresif dan mencerminkan relativitas realitas ini – sekali lagi bergerak mundur dan terjungkir dalam pelukan relativisme subjektif ketika ia menghubungkan pengetahuan dengan elemen kelas dan menyatakan bahwa adalah mustahil bagi filsafat, misalnya, untuk melepaskan diri dari elemen kelas dan politis. Dalam hal ini, berkata Morris Comforth: [130] “Filsafat selamanya mengungkapkan dan hanya dapat mengungkapkan pandangan kelas.” [131] Berkata pula Chiang[132]: “Dengan gigih Lenin menyerang tendensi objektif dalam teori.” [133]

Adalah jelas bahwa tendensi Marxis tersebut mengaitkan pengetahuan dengan subjektivitas. Namun ini adalah subjektivitas kelas, bukan individual, sebagaimana dinyatakan oleh kaum relativis subjektif. Pada gilirannya, kebenaran menjadi kesesuaian idenya pemikir dengan kepentingan-kepentingan kelas. Sebab, setiap pemikir tak dapat mengetahui realitas, kecuali dalam perspektif kepentingan tersebut. Berdasarkan hal itu, seseorang tak mungkin menjamin adanya kebenaran dalam ide filosofis apa pun atau ilmiah apa pun, dalam arti kesesuaian ide tersebut dengan realitas objektif. Bahkan Marxisme sendiri, selama ia mempercayai keharusan watak kelas, tidak dapat mengajukan konsepnya kepada kita tentang alam semesta dan masyarakat sebagai ungkapan yang sesuai dengan realitas. Apa yang dapat Marxisme nyatakan hanyalah bahwa konsep ini mencerminkan sisi-sisi realitas yang sesuai dengan kepentingan-kepentingan kelas pekerja. [134]

Catatan:

83. Al-Mahiyyah. Intisari sesuatu adalah esensi atau watak sesuatu dalam abstraksi.
84. Aspek subjektif yang dikandung konsep mental ini adalah, menunut kita, berbeda dengan aspek subjektif yang dibicarakan Kant, dan yang dinyatakan kaum relativis subjektif. Unsur subjektif, menuntut kita, bukan disebabkan aspek konseptual pengetahuan, seperti diklaim oleb Kant, juga bukan karena pengetahuan adalah produk interaksi materi. lnteraksi memalukan aksi dua pihak. Tetapi, itu didasarkan pada perbedaan antara dua jenis eksistensi, yaitu eksistensi mental dan eksternal. Maka, bertentangan dengan pandangan kaum relavitis, sesuatu yang ada dalam konsep mental itu sama dengan yang ada di luar. Namun jenis eksistensi yang dimilikinya dalam konsep, berbeda dengan jenis eksistensi yang dimilikinya Bremen eksternal.
85. Friedrich Engels (1820-1895). Lahir di Bremen dalam keluarga kaya. Pada 1844 ia bertemu Karl Marx di Prancis. Dia sepakat dengan Marx mengenai teori materialis sejarah. Keduanya menjadi akrab dan bersama-sama menggarap sejumlah karya, yang terkenal di antaranya adalah The Communist Manifesto (1848).
86. Ludwig Feuerbach, II. 54.
87. Ibid., h. 112.
88. Teks: ma’anna (meskipun).
89. Lihat Bab II.
90. Lihat Bab V.
91. Secara harfiah, hukum kontradiksi yang kontradiktif. Sebagai gantinya harus dibaca “hukum nonkontradiksi yang kontradiktif”, sebab ia mengatakan bahwa kontradiksi itu mungkin. Maka, hal itu merupakan kebalikan prinsip nonkontradiksi yang menyatakan mustahilnya kontradiksi.
92. Engels menyatakan dalam baris-baris terkutip di atas bahwa penciptaan dan perkembangan gejala punya nilai ojektif, dan bahwa dalam hal ini ada penolakan pasti terhadap tendensi idealistik.
Saya pikir jika pernyataan ini dibuat oleh aliran Marxis, maka takkan mengandung makna filosofis tertentu apa pun. Meskipun peneliti filsafat dapat membangun darinya bukti tertentu yang menunjukkan bahwa realitas objektif bertumpu pada pengetahuan tentang sesuatu dalam dirinya sendiri, karena agen diketahui melalui efek-efeknya dan melalui pengetahuan tentang sesuatu dalam dirinya sendiri yang diciptakannya. Pengetahuan tentang sesuatu dalam dirinya sendiri itu sama dengan eksistensi objektif sesuatu itu. Karena itu, manusia berhubungan dengan realitas objektif hal-hal dalam dirinya sendiri yang diketahuinya. Jika idealisme menyingkirkan dan pengetahuan objektif pengetahuan tentang bentuk sesuatu, yang tak menghubungkan kita dengan apa pun selain ide-ide kita, maka pengetahuan tentang sesuatu dalam dirinya sendiri itu akan memadai bagi realisme.
Namun, bukti ini didasarkan pada ide yang salah tentang pengetahuan mengenai sesuatu dalam dirinya sendiri. Dasar kita mengetahui sesuatu adalah mengetahui bentuk sesuatu itu. Mengetahui sesuatu dalam dirinya sendiri, di lain pihak, berarti adanya objek real yang diketahui oleh yang mengetahui. Karena ini, setiap manusia mengetahui jiwanya itu sendiri, meskipun banyak orang mengingkari adanya jiwa. Ruang untuk studi ini tak mengizinkan pemaparan tentang hal ini secara mendalam.
93. Ma Hiya Al-Madda, h, 32.
94. Ibid., h. 4.
95. Petitio principii adalah suatu kesalahan logika yang mengasumsikan dalam premis-premis itu konklusi yang harus dibuktikan.
96. Ibid., h.21.
97. Al-Maddiyyah wa Al-Mitsaliyyah li Al-Falsafah, h. 68.
98. Teks: ma yabgha.
99. Tak ada referensi untuk pasase ini dari penulis. Tak jelas apakah itu berakhir di sini atau bagaimana.
100. Ibid., h. 108-9.
101. Lihat Ma Hiya Al-Madda, h. 48.
102. Tak ada referensi dari penulis.
103. Tak ada refetensi dari penulis.
104. Ibid., h.46-7.
105. Ma Hiya Al-Madda, h. 62.
106. Ibid., h. S6.
107. Al-Manthiq Al-Syakliy wa Al-Manthiq Al-Dialaktikiyyah, h. 50-1.
108. Ibid., h. 51.
109. Kedrov, Boniface Mikhailovitch, ahli filsafat, ahli sejarah ilmu alam, kimiawan Rusia (1903- ....). Karya-karyanya, khususnya dalam berbagai cabang ilmu, terkenal di Rusia. Karya-karya pentingnya, antara lain, Engels and the Natural Science (1947), The Atomism of Dalton (1949) dan Great Discovery (1958).
110. Ibid., h. 50.
111. Ibid., h. 51.
112. Ibid., h. 10.
113. Ibid., h. 11.
114. Ibid., h.20-1.
115. Tak ada refensi dari penulis.
116. Ibid., h. 14.
117. William James, psikolog sekaligus filosof Amerika, dan saudara Henry James, novelis (1842-1910). Menerima MD dari Harvard, di sini ia mengajar anatomi, psikologi, filsafat dan fisiologi. Dari Charles Peirce ia meminjam dan memopulerkan istilah “pragmatisme”. Menurut doktrin ini, makna dan kebenaran pernyataan dapat direduksi menjadi konsekuensi spesifik dalam kehidupan praktis mendatang. Karya terkenalnya, The Pins of Psychology the Will to Believe, The Varieties of Religious Experience, dan Essays in Radical Empiricism.
118. Pragmatisme atau doktrin instrumentalisme merupaan suatu gerakan filosofis baru yang menurutnya kriteria makna dan, menurut sebagian, seperti William James, kebenaran proposisi harus ditafsirkan melalui konsekuensinya.
119. Henri Bergson adalah filosof Prancis (1859-1941). Ia mengajarkan bahwa filsafat harus memola dirinya sesuai dengan data pengalaman. Kita memiliki intuisi dan nalar. Intuisi mempersepsi aspek dinamis sesuatu – ini adalah aspek lebih dasariah dan real dari kesadaran sedangkan nalar cenderung ke aspek statisnya. Kedua keadaan kesadaran ini sesuai dengan dua keadaan alam semesta. Karya-karya pentingnya, Matter and Memory, Laughter, Introduction to Metaphysics, Creative Evolution, dan The Two Sources of Morality.
120. Bergson: Hayatuh wa Falsafatuh: Muntakhabat, Silsilah Zidni ‘Ilman, (25), mansyurat ‘Uwaydah. (Tak ada nomor halaman).
121. F.C.S. Schiller adalah filosof Inggris (1864-1937). Baginya, kebenaran dan realitas itu lama dengan baik dan indah karena keduanya, sebagian, adalah hasil niat dan kehendak manusia. Ia yakin benar pada kebebasan dan kreativitas manusia. Karya-karya terkenalnya, The Riddles of the Sphinx, Humanism, Logic for Use, Must Philosopher Disagree? dan Our Human Truths.
122. John Dewey adalah filosof Amerika (1859-1952). Karya pentingnya, Psychology, Ethics, Reconstruction Philosophy, Human Nature and Conduct, Experience and Nature, The Quest for Certainty, Art as Experience dan Experience and Education.
123. Yakni, tak ada jawaban afirmatif terhadap pertanyaan-pertanyaan ini yang dapat diterima akal sehat dalam konteks doktrin pragmatisme.
124. George Santayana adalah filosof Spanyol Amerika (1863-1952). Lahir di Madrid dalam keluarga kaya, tetapi sebagian besar pendidikan dan pengalaman akademiknya diraih di AS, di Harvard khususnya. Karya utamanya, Sense of Beauty, Life of Reason, Scepticism and Animal Faith dan Realms of Beings.
125. Upaya-upaya yang dibuat atas nama pengetahuan, untuk menolak proposisi-proposisi yang jelas-jelas rasional, entah matematis atau logis, merupakan sesuatu yang mengherankan. Meskipun pengetahuan harus bertumpu pada proposisi-proposisi seperti itu. Contoh upaya-upaya seperti itu diberikan oleh Dr. Nuri Ja’far dalam bukunya, Falsafah Al-Tarbiyyah, h.66.
Berdasarkan yang telah kami sebutkan, dapat dikatakan bahwa semua hukum pengetahuan itu relatif. Berlaku pada wilayah-wilayah tertentu. Yang kami katakan ini juga berlaku pada hukum-hukum matematika dan beberapa ungkapannya yang sekilas tampak seolah-olah itu materi yang jelas yang tak berubah dengan berubahnya ruang dan waktu. Maka, misalnya, jumlah “2+2” tak selalu sama dengan “4”. Begitu pula, misalnya, jika kita menambahkan dua volume alkohol pada dua volume air, hasilnya akan kurang dari empat volume gabungan. Karena, bagian-bagian dari salah satu cairan itu berbeda dengan (bagian-bagian) cairan yang lain dalam intensitas soliditunya. Maka, ketika bercampur, bagian-bagian dari cairan yang lebih solid, yaitu bagian air, menerobos sekat-sekat (gaps) relatif yang ada di antara bagian-bagian alcohol. Hasilnya adalah sama dengan bercampurnya sekuantitas jeruk dengan semangka, di mana bagian jeruk menerobos sekat-sekat yang ada dalam semangka. Lalu, hasil penambahan satu galon air dengan satu galon asam sulfur ialah suatu ledakan yang dahsyat. Jika persatuan ini terjadi dengan presisi ilmiah dan dengan cara yang di dalamnya terhindarkan terjadinya ledakan, hasilnya akan tetap kurang dari dua galon campuran itu. Namun pada saat lain 2+2 = 2. Jika, misalnya, dua gas kita campurkan, suhu masing-masing adalah 2°C, derajat suhu percampuran itu tetap dua.
Teks ini memberikan tiga formula matematika. Pertama, jika dua volume alkohol kita campur dengan dua volume air, jumlahnya kurang dari 4 volume. Ini salah : sebenarnya kita tidak menambahkan 2 volume dengan 2 volume; tetapi kita kehilangan sesuatu dalam penambahan itu. Dan ini tampak dalam hasilnya. Sebab, volume alkohol tidak dibentuk oleh bagian-bagiannya saja, tetapi dibentuk oleh bagian-bagiannya dan sekat-sekat relatif yang ada di antara bagian-bagiannya. Jika kita persiapkan 2 volume alkohol, 2 volume ini akan mengungkapkan bagian-bagian, dan sekat-sekat di antara bagian-bagian itu, dan bukan bagian-bagian saja. Bila 2 volume air dituang ke alkohol itu, dan bagian-bagian air monerobos sekat-sekat relatif di antara bagian-bagian alkohol – hingga menduduki sekat-sekat itu – maka kita akan kehilangan sekat-sekat relatif yang tadinya ada dalam volume alkohol ini. Karena itu, kita tidak menambahkan 2 volume alkohol dengan 2 volume air. Tapi kita menambahkan 2 volume air plus bagian-bagiannya dengan 2 volume alkohol. Sekat-sekat relatif yang ada di antara bagian-bagian itu hilang. Jelas, jika kita mau hati-hati dalam membuat formula matematika ini, harus dikatakan bahwa penambahan 2 volume lengkap air dengan 2 volume alkohol (tak termasuk sekat-sekat yang ada di antara bagian-bagiannya) sama dengan 4 volume (tak termasuk sekat-sekat itu sendiri). Kasus volume-volume ini seperti beribu-ribu analog dan contoh alami yang dilihat orang dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang dapat dikatakan tentang benda kapas yang panjangnya 1 meter dan sekeping besi yang parliangnya juga 1 meter? Jika kita gabungkan keduanya, apakah hasilnya akan 2 meter panjangnya? Jika kita gabungkan tanah yang tingginya 1 meter dengan air yang tingginya 1 meter pula, apakah hasilnya akan 2 meter tingginya? Tentu tidak. Bolehkah menganggap ini sebagai hujah untuk menolak aksioma-aksioma matematika? Kedua, penambahan 1 galon air dengan 1 galon asam sulfur tidak monghasilkan 2 galon, tapi suatu ledakan dahsyat. Ini juga tak bertentangan dengan aksioma matematika tentang penambahan bilangan-bilangan. Karena, 1+1=2 hanya jika salah satu atau keduanya tidak lenyap selama penambahan atau percampuran itu; kalau tidak, takkan ada penambahan dalam arti sesungguhnya antara 1 dengan 1. Dalam contoh ini, dua unit, yaitu 2 galon, tak ada pada titik penyempurnaan proses penambahan, sehingga hasilnya akan 2 (galon). Ketiga, penambahan 2 gas, suhu masing-masingnya 2°C, menghasilkan percampuran dengan derajat suhu yang sama, yaitu tanpa bertambah. Ini jenis lain distorsi, karena proses itu menambahkan dan mencampurkan dua gas, bukan 2 derajat suhunya. Dua derajat suhunya akan bertambah, jika (masing-masing) derajat suhu bertambah dalam subjeknya. Kita tidak menambahkan satu suhu dengan suhu lain untuk mengharapkan derajat suhu yang lebih tinggi, tapi menambahkan dan mencampurkan sesuatu dengan suhu tertentu dan sesuatu yang lain dengan suhu tertentu. Maka jelas, menolak atau meragukan proposisi-proposisi yang jelas-jelas niscaya ini dikarenakan salah memahami proponisi-proponisi itu. Ini akan sangat jelas jika kita kemukakan kritik Marxisme yang berupaya menolak prinsip nonkontradiksi.
126. Robert Boyle adalah kimiawan dan fisikawan Inggris (1627-1691). Ia menelaah gas-gas dan menunjukkan bahwa kompresibilitas dan ekspansibilitas udara secara sebaliknya sebanding dengan tekanan yang diltenakan. Ini dikenal sebagai “hukum Boyle”. Jika tekanan dinaikkan sepuluh kali, misalnya, maka volume udara berkurang sepuluh kali. Sebaliknya, jika tekanan diturunkan sepuluh kali, maka volume bertambah sepuluh kali. Karya utamanya, The Sceptical Chemist. 
127. Henri Victor Regnault adalah kimiawan sekaligus fisikawan Prancis (1810-1878). Terkenal karena karyanya tentang sifat-sifat gas. Pada 1835, ia memulai serangkaian studi dalam kimia organik terhadap halogen dan derivatif-derivatif unsaturated hydrocarbons. Karyanya dalam fisika cermat dan akurat. Ia mendesain instrumen-instrumen standar untuk sejumlah besar pengukuran. Ia membuat determinasi yang tepat atas panas spesifik dari banyak solid, likuid dan gas. Ia menelaah ekspansi gas-gas karena panas, dan membuktikan bahwa tak ada dua gas yang memiliki koefisien eksak ekspansi, seperti dikemukakan sebagian ahli sebelumnya. Ia menunjukkan bahwa “hukum elastisitas suatu gas sempurna”-nya Boyle hanyalah kira-kira benar bagi gas-gas real. Hidrometernya Regnault, sebuah instrumen untuk mengukur humiditas, adalah desainnya sendiri. Karya utamanya dapat dijumpai dalam Memoires de l’Academie de Science, Vol 21 dan 23.
128. Dhid Duharnak Al-Falsafah, h.153.
129. Lihat Bab V.
130. Teks: Kunfurt. Tapi, kami berasumsi ini adalab profesor Inggris, Morris Cornforth.
131. Al-Maddiyyah Al-Dialaktikiyyah, h.32.
132. Chiang. Kami tak dapat mengidentifikasi tokoh ini.
133. Al-Ruh Al-Hizbiyyah fi Al-Falsafah wa Al-‘Ulum, h. 70.
134. Untuk lebih jelasnya, lihat Iqtishaduna, karya penulis, h. 93-100.

Sumber:  Sayyid Muhammad Baqir as Shadr,
FALSAFATUNA
Penerjemah : M. Nur Mufid bin Ali
Penerbit : Mizan
Tahun Penerbitan : Jumada Al-Awwal 1415/Oktober 1994

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar