Sabtu, 21 Februari 2015

Falsafatuna Bab 2: Nilai Pengetahuan (Axiologi)


Oleh Sayyid Muhammad Baqir as Shadr (Penerjemah: Muhammad Nur Mufid) dan disunting ulang oleh Sulaiman Djaya


Dalam pembahasan terdahulu kita sudah menelaah sumber-sumber pokok pengetahuan atau persepsi manusia pada umumnya. Kini, kita bicarakan pengetahuan dari sudut-pandang lain agar kita dapat mendefinisikan nilai objektifnya dan sejauh mana ia dapat mengungkapkan realitas (kebenaran). Jalan satu-satunya yang dimiliki oleh manusia untuk menangkap esensi realitas dan mengungkapkan rahasia-rahasia alam adalah melalui seluruh ilmu dan pengetahuan yang ada padanya. Karena itu, pertama-tama kita harus mempertanyakan apakah jalan tersebut dapat benar-benar membawa kepada tujuan, dan apakah manusia mampu menangkap realitas objektif dengan pengetahuan dan kapasitas-kapasitas pikirannya. Dalam hal ini, filsafat Marxisme percaya akan kemungkinan mengetahui alam dan akan kemampuan pikiran manusia untuk mengungkapkan realitas-realitas objektif. (Dengan kata lain) ia menolak skeptisisme dan sofisme (sophistry).

“Berbeda dengan idealisme yang mengingkari kemungkinan mengetahui alam dan hukum-hukumnya; yang tidak melihat nilai pengetahuan kita, yang tidak mengakui adanya realitas objektif, dan menganggap bahwa alam itu penuh dengan benda-benda yang berdiri sendiri dan bahwa ilmu selamanya tidak akan mengetahui alam tersebut, materialisme filosofis Marxis berdiri di atas prinsip yang mengatakan bahwa adalah mungkin untuk benar-benar mengetahui alam dan hukum-hukumnya. Pengetahuan kita tentang hukum-hukum alam, yang merupakan pengetahuan yang dicapai melalui praktek dan pengalaman indera adalah pengetahuan yang memiliki nilai dan menunjukkan realitas objektif. Tak ada sesuatu pun di alam ini yang tak dapat diketahui. Tetapi alam mengandung sesuatu yang masih belum diketahui dan akan terungkap serta akan diketahui lewat perantaraan metode ilmiah dan praktis.”[52]

“Penyangkalan terkuat terhadap ilusi filosofis, yakni ilusi Kant, Hume dan filosof-filosof idealis lainnya, dan setiap ilusi filosofis lainnya, adalah praktek, pengalaman inderawi dan industri pada khususnya. Apabila kita dapat membuktikan bahwa kita memahami dengan tepat fenomena alam, fenomena yang tidak kita ciptakan sendiri, atau membuatnya terjadi dengan cara memenuhi kondisi-kondisinya sendiri; dan lebih dari itu, jika kita dapat menggunakan fenomena ini dalam merealisasikan tujuan-tujuan kita; maka hal itu akan menjadi pukulan telak bagi konsep Kant tentang sesuatu di dalam dirinya yang tak terjangkau pengetahuan”[53]

Pernyataan-pernyataan itu dengan jelas menunjukkan bahwa filsafat Marxis tidak puas dengan berdiri di barisan sofisme dan aliran-aliran pengingkaran atau skeptisisme yang memaklumkan kehancuran mereka di lapangan filsafat. Sebab bangunan yang ingin ditegakkan oleh Marxisme itu haruslah di atas prinsip-prinsip filosofis dan aturan-aturan berpikir yang pasti. Selama prinsip-prmsip itu tidak pasti, maka bangunan pemikiran yang berdiri di atasnya itu tidak mungkin kuat berdiri tegak. Sekarang kami berusaha mengetahui apakah filsafat tersebut berhak mengklaim bahwa dirinya mengandung kepastian filosofis dan mengklaim bahwa pengetahuan yang pasti itu adalah mungkin; dalam arti dapatkah filsafat Marxisme – yang metode berpikirnya dialektis – menegaskan suatu pengetahuan hakiki tentang alam dan hukum-hukumnya, serta membebaskan dirinya dari cengkeraman skeptisisme dalil sofisme? Dalam kata lain, apakah filsafat yang dibanggakan oleh filosof Marxis sebagai memiliki nilai yang lebih tinggi dan watak yang lebih unggul daripada pengetahuan dalam filsafat Kant, kaum idealis, dan kaum materialis dari kelompok filosof-filosof aliran skeptisisme yang dikritik dan diserang Marxisme?

Untuk memahami persoalan tersebut, yaitu mengetahui apakah mungkin untuk memecahkannya melalui filsafat Marxis, dan untuk memahami pandangan filsafat Islam tentangnya, kami harus menyebutkan secara ringkas doktrin-doktrin filsafat terpenting yang membahas problem tersebut, sehingga akan jelaslah posisi Marxisme berkenaan dengan problem tersebut, pandangan yang harus diambil Marxisme yang sesuai dengan prinsip-prinsip pokoknya, dan analisis yang layak untuk problem ini.

Pandangan (Para Filosof) Yunani
Pemikiran Yunani dibinasakan oleh gelombang sofisme pada abad ke-5 SM, pada masa metode berdebat meruyak di arena retorika dan hukum, pada saat pandangan-pandangan filosofis dan asumsi-asumsi non-empirikal saling menghantam satu sama lain sedemikian rupa, sementara pemikiran filosofis belum mengkristal dan belum mencapai kematangan intelektual yang tinggi. Dengan demikian, konflik antara pandangan-pandangan filosofis yang saling bertentangan ini merupakan sebab kekacauan pemikiran serta kecemasan yang mendalam. Kebiasaan berdebat menyemarakkan situasi tersebut dengan ambiguitas-ambiguitas dan silogisme-silogisme semu yang mengilhami tokoh-tokoh debatnya. Tokoh-tokoh ini mengingkari alam berdasarkan ambiguitas-ambiguitas dan silogisme-silogisme tersebut dengan menolak segala prinsip pemikiran manusia dan proposisi-proposisi terinderai dan intuitif.

Gorgias (483-380 SM)[54] – salah satu tokoh aliran tersebut – mengarang satu buku tentang ketiadaan. Ia berupaya membuktikan, dalam buku itu, beberapa hal: Pertama, tak ada sesuatu. Kedua, jika ada sesuatu, orang tak dapat mengetahuinya. Ketiga, kalau kita asumsikan bahwa orang dapat mengetahuinya, ia tak dapat menyampaikan hat itu kepada orang lain.

Sofisme terus mengungkapkan dalam berbagai cara, untuk beberapa lama; ketakpeduliannya terhadap filsafat dan ilmu, sampai akhirnya muncullah Socrates, Plato dan Aristoteles yang bersikap anti sekali terhadap sofisme. Aristoteles menggariskan logika terkenalnya untuk menemukan kesalahan sofisme dan untuk mengorganisasikan pikiran manusia. Doktrin epistemologisnya dapat diringkaskan sebagai berikut. Pengetahuan inderawi dan pengetahuan rasional primer atau sekunder, yang didapat dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip logika, adalah realitas-realitas yang sangat bernilai. Karena itu, Aristoteles memperbolehkan penggunaan pengetahuan inderawi dan rasional dalam pembuktian (“bukti mutlak” dalam istilah logikanya).

Setelah itu terjadilah usaha merujukkan dua orientasi yang saling bertentangan, yaitu antara orientasi yang cenderung kepada pengingkaran sepenuhnya (sofisme), dan orientasi yang membenarkan (logika Aristotelian). Usaha ini terwakili dalam doktrin skeptisisme yang dianggap didirikan oleh Pyrrho[55] yang terkenal dengan sepuluh hujjahnya mengenai keniscayaan skeptisisme mutlak. Setiap proposisi, dalam pandangan Pyrrho, mengandung dua kemungkinan yang sama kuat: positif atau negatif. Tetapi, akhirnya doktrin keyakinan menguasai bidang filsafat. Dan bertahtalah penalaran di atas singgasana yang diberikan kepadanya oleh Aristoteles, yang menilai dan membuat keputusan-keputusan di dalam batasan-batasan kriteria logika. Untuk beberapa abad, padamlah api skeptisisme, sampai abad ke-16 ketika ilmu-ilmu alam bangkit dan menemukan realitas-realitas yang tak pernah dibayangkan sebelumnya, terutama dalam bidang astronomi dan tatanan umum alam semesta. Perkembangan-perkembangan ilmiah tersebut sama pesatnya dengan perdebatan pada masa Yunani. Maka, tak lama kemudian bangkitlah doktrin skeptisisme dan penyangkalan yang berpuncak pada maujudnya berbagai macam metode. Dan timbullah konflik antara para penganut “keyakinan” itu sendiri berkenaan dengan batasan-batasan keyakinan, yaitu keyakinan yang harus menjadi tumpuan orang.  Dalam suasana yang penuh dengan jiwa skeptis dan berontak terhadap wewenang akal itu, muncullah Descartes dengan filsafat “keyakinan” yang mempunyai andil besar dalam mengembalikan derajat tertentu keyakinan kepada kecenderungan filosofis.

Rene Descartes (1596-1650)
Descartes adalah salah seorang tokoh rasionalis dan peletak dasar kebangkitan filsafat di Eropa. Ia memulai filsafatnya dengan badai skeptisismenya. (Ia berpikir bahwa) karena gagasan-gagasan saling berlawanan, maka gagasan-gagasan itu merupakan ajang kesalahan. Sementara itu persepsi inderawi pun sering menipu; karena itu ia pun tak boleh diperhitungkan. Dengan dua penimbangan ini, badai skeptisisme pun muncul dan menumbangkan dunia material dan spiritual sekaligus, karena jalan ke arah kedua dunia itu adalah melalui gagasan dan persepsi inderawi. Descartes menegaskan keniscayaan skeptisisme yang mutlak ini, dan menunjukkan logikanya dengan fakta bahwa manusia mungkin saja berada dalam cengkeraman kekuatan yang menguasai eksistensi dan pikirannya dan yang berusaha menipu dan menyesatkannya. Cengkeraman itulah yang mengilhami manusia dengan gagasan-gagasan yang tidak berhubungan dengan realitas, dan dengan persepsi-persepsi yang salah. Bagaimanapun jelasnya gagasan dan persepsi itu, kita tidak akan dapat menghindari asumsi tersebut yang mengharuskan kita mengambil skeptisisme sebagai suatu doktrin yang abadi. Tetapi, Descartes mengecualikan satu kebenaran yang tidak dapat diguncangkan badai skeptisisme, yaitu pikirannya, yang adalah realitas aktual yang tidak dapat diragukan lagi. Keraguan tidak mempengaruhinya, kecuali barangkali dengan memperkuat stabilitas dan kejelasannya. Karena, keraguan tidak lain adalah corak pikiran itu sendiri. Bahkan seandainya kekuatan yang menipu itu maujud, ia tidak dapat menipu kita berkenaan dengan kepercayaan kita terhadap pikiran tersebut. Karena, ia hanya dapat menipu kita dengan cara mengilhami kita dengan gagasan-gagasan yang salah. Artinya, berpikir adalah suatu kebenaran yang pasti, bagaimanapun; yaitu apakah persoalan pikiran manusia merupakan persoalan penipuan dan penyesatan, atau persoalan pemahaman dan pemastian. Realitas tersebut merupakan asas filsafat Descartes dan titik tolak bagi keyakinan filosofis. Melalui realitas ini Descartes berusaha keluar dari konsepsi menuju eksistensi, dan dari subjektivitas ke objektivitas. Bahkan, melalui realitas tersebut ia berusaha membuktikan subjek dan objek sekaligus. Ia lantas memulai dengan dirinya sendiri, dan membuktikan eksistensi dirinya itu dengan realitas tersebut dengan mengatakan, “Aku berpikir, maka aku ada.”[56] [57]

Dapat dilihat bahwa hujhah Cartesian ini mengandung penerimaan tak sadar terhadap realitas-realitas yang, bagi Descartes, tetap dapat diragukan. Hujjah ini merupakan ungkapan non-teknis tentang bentuk pertama dari silogisme dalam logika Aristotelian. Secara teknis, bentuknya seperti ini: “Aku berpikir, setiap pemikir itu ada, karena itu aku ada.” Agar penalaran Descartes ini absah, ia harus percaya kepada logika, dan yakin bahwa bentuk pertama dari silogisme itu menghasilkan kesimpulan dan bahwa kesimpulannya benar, meskipun ia masih berada pada permulaan tahap pertama, dan keraguan di benaknya masih menguasai segala pengetahuan dan realitas, termasuk logika dan kaidah-kaidahnya.

Perlu diingat bahwa fakta ketika Descartes memulai tahap pemaparan pikirannya dengan “aku berpikir, maka aku ada”, ia tak merasa perlu menerima bentuk-bentuk silogisme dalam logika. Ia malah percaya bahwa pengetahuan mengenai eksistensinya melalui pikirannya merupakan suatu masalah intuitif yang tak memerlukan penyusunan bentuk-bentuk silogistik dan penerimaan akan premis-premis minor dan mayor. Karena proposisi tersebut benar, karena itu intuitif, sehingga tidak dapat diragukan lagi, maka segala sesuatu yang derajat intuitifnya sepadan adalah juga benar. Dan dengan demikian, Descartes menambahkan proposisi yang lain pada proposisi intuitif yang pertama, dan membenarkan bahwa sesuatu tidak mungkin maujud dari ketiadaan (ex nihilo nihilfit). Setelah menerima segi subjektif, Descartes kemudian membuktikan realitas obyektif. Ia lantas menyusun pemikiran manusia dalam tiga kelompok: 

1. Gagasan-gagasan instinktif atau fitri, yaitu gagasan-gagasan alami manusia yang tampak sangat jelas, seperti gagasan tentang Tuhan, gerak, perentangan (extension), dan jiwa.
2. Gagasan-gagasan samar yang terjadi dalam pikiran karena adanya gerak yang datang pada indera dari luar. Hal ini tidak mempunyai asas di dalam pikiran manusia.
3. Gagasan-gagasan yang berbeda-beda yang disusun manusia dari gagasan-gagasan mereka yang lain, seperti gagasan bahwa seorang manusia mempunyai dua kepala.

Pada kelompok pertama itu, Descartes memulai dengan mengemukakan gagasan tentang Tuhan. Ia lantas menyatakan bahwa gagasan tentang Tuhan itu adalah gagasan yang mempunyai hakikat objektif, karena ia, dalam hakikat objektifnya, mengatasi manusia yang berpikir dan pikiran-pikirannya, karena manusia yang berpikir itu tak sempurna dan terbatas, sementara gagasan tentang Tuhan adalah gagasan tentang suatu maujud yang sepenuhnya sempurna dan tidak memiliki keterbatasan. Karena Descartes telah mempercayai bahwa sesuatu tidak mungkin maujud dari ketiadaan, maka ia tahu bahwa konsep fitri dalam pikirannya itu mempunyai “sebab”. Dia sendiri bukan menjadi sebab bagi konsep itu, karena konsep itu lebih tinggi dan sempurna daripada dirinya. Sesuatu tidak mungkin lebih tinggi daripada sebabnya. Jika tidak demikian, tentu penambahan pada (nilai) objek yang bersebab timbul dari ketiadaan. Jadi, gagasan tentang Tuhan harus muncul dari suatu maujud yang tidak terbatas yang kesempurnaan dan keagungannya sama dengan miliknya sendiri. Maujud tersebut adalah Hakikat Objektif Luar Pertama yang diakui oleh filsafat Descartes, yaitu Tuhan.

Melalui maujud yang sepenuhnya sempurna ini, Descartes membuktikan bahwa setiap pikiran fitri di dalam manusia adalah pikiran yang benar yang mencerminkan suatu hakikat objektif, karena pikiran-pikiran rasional pada kelompok pertama itu berasal dari Tuhan. Kalau tidak benar, maka diberikannya itu oleh Tuhan kepada manusia adalah tipuan dan bohong belaka. Ini jelas mustahil dalam kasus suatu maujud yang sepenuhnya sempurna.

Karena itu, Descartes percaya kepada pengetahuan fitri atau rasional manusia dan kepada fakta bahwa pengetahuan itu adalah pengetahuan yang benar dan absah. Descartes percaya kepada pikiran-pikiran fitri saja, bukan pada pikiran-pikiran yang muncul karena sebab-sebab luar. Karena itu, ia membagi pikiran-pikiran tentang materi menjadi dua bagian:

1. Pikiran-pikiran fitri (innate ideas), seperti gagasan tentang perentangan (extension).
2. Pikiran-pikiran yang maujud (kemudian) yang mengekspresikan reaksi-reaksi tertentu jiwa karena pengaruh-pengaruh luar, seperti gagasan tentang suara, bau, rasa, panas dan warna.

Bagian pertama adalah kualitas-kualitas pertama yang hakiki; sementara bagian kedua adalah kualitas-kualitas kedua yang tidak mengekspresikan hakikat-hakikat objektif, tetapi hanya menunjukkan reaksi-reaksi subjektif, yaitu konsep-konsep mental suksesif yang terjadi di dalam alam mental karena pengaruh benda-benda luar. Dan gambaran konsep itu tidak sama dengan sesuatu pun dari benda-benda tersebut. Demikianiah uraian selintas tentang teori pengetahuan menurut Descartes.

Sebelum melangkah lebih jauh, perlu diketahui bahwa kaidah pokok yang di atasnya Descartes membangun doktrin dan keyakinan filsafatnya, yaitu “aku berpikir, maka aku ada”, telah terbantah dalam filsafat Islam, beberapa abad sebelum Descartes (mengemukakannya), ketika Al-Syaikh Al-Rais Ibnu Sina[58] membentangkan dan mengkritiknya bahwa kaidah itu tak mungkin dapat dianggap sebagai metode pembuktian ilmiah atas eksistensi manusia yang berpikir itu sendiri. Jadi, manusia tidak dapat membuktikan eksistensinya melalui pikirannya. Karena, jika mengatakan “aku berpikir, maka aku ada”, ia hendak membuktikan eksistensinya dengan pikiran tertentunya saja, maka ia sebenarnya telah membuktikan eksistensinya yang tertentu sejak semula dan mengakui eksistensinya dalam frasa pertama itu sendiri. Dan kalau yang dikehendakinya adalah menjadikan pikiran mutlak sebagai bukti eksistensinya, maka ini jelas salah. Karena pikiran mutlak menetapkan eksistensi sang pemikir mutlak, bukan pemikir khusus. Jadi, eksistensi khusus setiap pemikir haruslah diketahuinya terlebih dahulu, terlepas dari pemikiran apa pun, termasuk keraguan dan pikirannya. Selanjutnya, kita melihat Descartes mendirikan keseluruhan bangunan eksistensi itu di atas satu titik, yaitu bahwa pikiran-pikiran yang diciptakan Tuhan dalam diri manusia itu menunjukkan hakikat-hakikat objektif. Nah, jika tidak benar, maka berarti Tuhan menipu, dan mustahil Tuhan menipu.

Kita dengan mudah dapat melihat kerancuan antara pengetahuan reflektif atau kontemplatif dan pengetahuan praktis dalam dalil Descartes. Sesungguhnya proposisi “Penipuan itu mustahil” adalah suatu terjemahan tidak tepat bagi proposisi “Penipuan itu buruk”. Proposisi ini bukan proposisi filosofis, tetapi gagasan praktis. Nah, mengapa Descartes meragukan segala sesuatu, dan tidak meragukan pengetahuan praktis, itu yang dijadikannya sebagai asas pengetahuan reflektif filosofis? Selain itu, suksesi pengetahuan, dalam doktrin Descartes, memainkan peranan yang jelas. Ketika mempercayai posisi teologis, Descartes membangun kepercayaan itu pada suatu proposisi yang diasumsikan benar secara a-priori, yaitu “Sesuatu tak mungkin maujud dari ketiadaan”. Proposisi ini, pada gilirannya, membutuhkan pengukuhan posisi teologis agar terjamin kebenarannya. Jadi, jika tidak tampak bahwa manusia itu berada di bawah suatu kekuasaan (kekuatan) yang bijaksana dan tidak menipu, maka Descartes tidak boleh mempercayai proposisi tersebut dan mengakhiri keraguannya terhadap suatu kekuatan menipu yang menguasai pikiran manusia. Akhirnya, sebenarnya kita tidak perlu menunjukkan kerancuan lain yang dibuat Descartes antara gagasan tentang Tuhan dan hakikat objektif yang ditunjukkan oleh gagasan tentang Tuhan itu, ketika ia menyatakan kemustahilan munculnya gagasan tentang Tuhan dari diri manusia, karena gagasan ini lebih tinggi daripada pikiran manusia. Adalah mustahil bagi manusia untuk dapat menciptakan hakikat objektif gagasan tersebut. Bukanlah tujuan kami berpanjang lebar dalam mendiskusikan Descartes. Kami hanya ingin mengemukakan sudut pandangnya tentang nilai pengetahuan manusia yang terangkum dalam kepercayaan terhadap nilai pasti bagi pengetahuan rasional, khususnya pengetahuan fitri.

John Locke (1632-1704)
Seperti telah kita ketahui, John Locke adalah tokoh teori empirikal. Pendapatnya dalam teori pengetahuan adalah bahwa pengetahuan itu terbagi sebagai berikut:

1. Pengetahuan intuitif (al-ma’rifah al-wijdaniyyah), yaitu pengetahuan yang dapat dicapai pikiran tanpa perlu mengakui sesuatu yang lain, seperti pengetahuan kita bahwa satu separuh dua.
2. Pengetahuan reflektif (al-ma’rifah al-ta’ammuliyyah), yaitu pengetahuan yang tidak mungkin didapat tanpa bantuan informasi sebelumnya, seperti pengetahuan kita bahwa jumlah sudut-sudut sebuah segitiga adalah sama dengan dua sudut siku-siku.
3. Pengetahuan yang merupakan hasil dari pengetahuan empirikal atas suatu objek yang sudah diketahui.

Locke yakin bahwa pengetahuan intuitif adalah pengetahuan hakiki yang mempunyai nilai filosofis yang sempurna. Demikian pula pengetahuan reflektif yang dapat dijelaskan sebagai penalaran (reasoning) yang valid. Sedangkan pengetahuan empirikal tidak mempunyai nilai filosofis, meskipun bernilai dalam kriteria-kriteria kehidupan praktis. Karena itu, Locke tidak percaya kepada objektivitas semua kualitas materi yang dikenai oleh indera. Tetapi, ia menganggap sebagiannya sebagai hakiki dan objektif, seperti bentuk, perentangan dan gerak, sementara sebagian yang lain dianggapnya sebagai reaksi-reaksi subjektif, seperti warna, rasa, bau dan sifat-sifat lain.

Teori Locke tentang pengetahuan ini dan robot filosofisnya tidak sesuai dengan pendapatnya sendiri tentang analisis pengetahuan. Segenap pengetahuan, menurut Locke, diturunkan dari indera dan pengalaman inderawi. Malah pengetahuan intuitif, seperti prinsip non-kontradiksi dan prinsip-prinsip pokok serupa lainnya dalam pikiran manusia, tidak mungkin terdapat pada manusia kecuali dengan cara itu (penginderaan dan pengalaman inderawi). Indera ini, yang adalah sumber pokok pengetahuan tersebut, tidak mempunyai nilai filosofis yang pasti dalam teori pengetahuan Locke. Karena itu, kesimpulan alaminya adalah skeptis mutlak terhadap nilai setiap pengetahuan manusia; sebab, pada esensi dan realitas dasarnya, pengetahuan itu hanyalah persepsi inderawi yang didapat dengan pengalaman lahir atau batin.

Dengan demikian, jelaslah bahwa dibagi-baginya pengetahuan manjadi tiga bagian oleh Locke dan pembedaannya secara filosofis itu bertentangan dengan asas-asas yang dibangunnya sendiri. Begitu juga, pembagian kualitas-kualitas benda-benda yang terinderai olehnya, sama seperti yang dilakukan Descartes, secara logika tidak konsisten dengan prinsip-prinsipnya, meskipun secara logika agak konsisten dengan prinsip-prinsip Descartes. Hal itu karena Descartes membagi pengetahuan ke dalam: (1) pengetahuan rasional, dan (2) pengetahuan inderawi (empirikal). Ia percaya pada yang pertama dari segi filosofis, bukan pada yang kedua. Descartes menduga bahwa gagasan manusia tentang sebagian kualitas benda adalah termasuk gagasan rasional fitri, sedangkan gagasannya tentang sebagian kualitas benda yang lain adalah empirikal. Karena itu, adalah mungkin bagi Descartes untuk membagi kualitas-kualitas tersebut menjadi kualitas primer dan sekunder. Ia percaya bahwa kualitas primer adalah hakiki dan objektif, dan kualitas sekunder tidak hakiki dan tidak objektif.

Sementara itu John Locke memulai upaya pemikiran filosofinya dengan menghindari pikiran-pikiran fitri, dan percaya kepada dominasi indera atas semua pengetahuan. Jadi, hanya inderalah yang dapat mempersepsi kualitas-kualitas benda. Lantas, apakah perbedaan filosofis antara kualitas yang satu dengan kualitas yang lain?

Kaum Idealis
Doktrin idealisme memiliki akar yang mendalam dalam sejarah pemikiran manusia, dan bentuknya bermacam-macam. Kata “idealisme” adalah salah satu kata yang memainkan peran penting sepanjang sejarah fusafat. Kata itu mengubah sejumlah paham filsafat yang di dalamnya ia mengkristal, dan karena itu, (arti kata idealisme) menjadi tidak jelas dan kabur. Idealisme memainkan peran pertamanya dalam tradisi filsafat di tangan Plato, yang mengemukakan teori tertentu tentang akal dan pengetahuan manusia. Teori itu dikenal dengan nama “teori bentuk-bentuk Platonik”. Plato adalah seorang idealis. Tetapi idealisme Plato tidak berarti mengingkari realitas-realitas terinderai, tidak pula berarti melepaskan pengetahuan empirikal dari realitas-realitas objektif yang tidak bergantung pada wilayah konsepsi dan pengetahuan. Tapi Plato mengukuhkan objektivitas persepsi inderawi. Plato bahkan menyatakan tentang objektivitas pengetahuan rasional, yang mengungguli pengetahuan empirikal, dengan menegaskan bahwa pengetahuan rasional – yaitu pengetahuan tentang bentuk-bentuk umum, seperti mengetahui gagasan tentang “manusia”, “air” dan “cahaya” – mempunyai hakikat objektif yang tak bergantung pada proses akal (intellect), sebagaimana telah dijelaskan dalam bagian pertama pembahasan ini. Demikianlah, kita tahu bahwa idealisme kuno adalah satu corak berlebihan di dalam mempercayai realitas objektif, karena ia percaya kepada realitas objektif penginderaan, yaitu mengetahui gagasan-gagasan yang berkenaan dengan indera, dan realitas pengetahuan rasional, yaitu mengetahui gagasan secara umum. la sama sekali tidak mengingkari atau meragukan realitas.

Dalam sejarah modern, idealisme mengambil arti yang lain sama sekali dengan arti yang disebutkan di atas. Kalau idealisme Platonik sangat menekankan realitas objektif pengetahuan rasional dan empirikal sekaligus, maka idealisme dalam coraknya yang modern merupakan upaya untuk mengguncangkan asas realitas objektif dan memproklamasikan doktrin baru tentang teori pengetahuan manusia, yang melaluinya ia dapat menghapus nilai filosofis pengetahuan. Paham idealis baru inilah yang kita pelajari dan kita coba diskusikan dalam pembahasan ini.

Paham itu memiliki beberapa corak dan bentuk. Beberapa penulis buku-buku filsafat malah menganggap idealisme sebagai suatu gambaran setiap falsafat yang bertopang pada skeptisisme yang mengandung usaha menjauhkan sisi objektif sesuatu dari kerangka pengetahuan manusia, atau yang menegaskan adanya prinsip metafisis bagi alam. Spiritualisme, agnostisisme, empirisisme, rasionalisme, kritisisme, fenomenalisme eksistensial, menurut mereka,[59] adalah filsafat-filsafat idealistik. Nah, agar peranan idealisme dalam teori pengetahuan manusia itu menjadi jelas, kami akan membahas beberapa tendensi penting dalam idealisme modern, yaitu tendensi filosofis, tendensi fisikal, dan tendensi fisiologik.


Idealisme Filosofis
Pendiri idealisme filosofis adalah George Berkeley (1685-1753) yang dianggap sebagai Bapak Idealisme Modern. Filsafatnya dianggap sebagai titik tolak bagi tendensi idealistik atau tendensi konseptual pada abad-abad terakhir filsafat. Inti idealisme dalam doktrin Berkeley dapat dipadatkan dalam ucapannya yang sangat terkenal: “Esse est Percipi”, (Untuk ada, berarti mengetahui at au diketahui).[60] Dengan kata lain, sesuatu tak mungkin dinyatakan ada selama sesuatu itu tidak mengetahui atau tidak diketahui. Sesuatu yang mengetahui adalah jiwa, dan sesuatu yang diketahui adalah konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan yang berada dalam wilayah persepsi dan pengetahuan inderawi. Dengan demikian, kita harus percaya adanya jiwa dan gagasan-gagasan itu. Segala sesuatu yang berada di luar lingkup pengetahuan, yaitu segala sesuatu yang objektif, tidak ada karena tidak diketahui.

Berkeley kemudian membahas benda-benda yang oleh para filosof dinamakan “substansi material”, untuk menyisihkan benda-benda itu dari “pentas” wujud, dengan mengatakan bahwa kita tidak dapat mempersepsi apa pun tentang materi yang mereka (para filosof) asumsikan, kecuali sekumpulan konsepsi mental dan fenomena terinderai, seperti warna, rasa, bentuk, bau dan beberapa sifat lainnya. Dalam konsep idealismenya tentang alam, Berkeley memberi komentar tegas bahwa ia bukanlah sofistis dan bukan pula skeptis terhadap eksistensi alam dan isinya, yaitu realitas dan entitas. Ia bahkan mengakui dari segi filsafat, adanya semua itu, dan dalam hal ini ia tidak berbeda dengan para filosof lain; Tetapi, ia berbeda dengan mereka hanya dalam mendefinisikan konsep eksistensi. Eksistensi, menurut Berkeley, bukan eksistensi dalam konsep para filosof lainnya. Apa yang maujud bagi para filosof itu, juga maujud bagi Berkeley, tetapi menurut metodenya sendiri dalam menafsirkan eksistensi, yang artinya adalah bahwa eksistensi sesuatu adalah eksistensinya dalam pengetahuan kita mengenai sesuatu itu. Berkeley kemudian dihadapkan pada pertanyaan: “Jika materi itu tidak ada, maka dari mana kita dapat memperoleh sensasi-sensasi yang muncul dalam diri kita setiap saat tanpa ada pengaruh kehendak personal kita atas pemunculan dan keberturutan sensasi-sensasi itu?” Berkeley telah memiliki jawabannya: “Tuhan Sendiri yang memunculkan sensasi-sensasi tersebut dalam diri kita.” Demikianlah, Berkeley mengakhiri pengembaraan filosofisnya dengan memperuntukkan bagi dirinya sendiri dua realitas disamping pengetahuan. Salah satu dari realitas-realitas itu adalah pikiran (mind, subjek yang mengetahui), dan yang kedua adalah Tuhan (realitas pencipta sensasi kita). Teori tersebut sama sekali mengabaikan persoalan pengetahuan manusia dan studi objektif atas nilai pengetahuan. Karena teori tersebut tidak mengakui objektivitas pikiran (akal) dan pengetahuan, atau eksistensi sesuatu di luar batas keduanya.

Konsep idealisme Berkeley mengandung kekaburan yang memungkinkan untuk diberi berbagai penafsiran, yang berbeda-beda dalam tingkat idealismenya dan kedalaman tendensi konseptualnya. Kita mengambil arti yang paling idealistik, yaitu arti yang benar-benar idealistik yang tidak mengakui apa pun selain eksistensi jiwa yang mengetahui dan persepsi-persepsi inderawi yang berturut-turut di dalam jiwa. Arti (idealisme murni) inilah yang terkenal sekali di antara pernyataan-pernyataan filosofisnya dan juga sesuai dengan dalil-dalil yang dengan dalil-dalil itu ia berusaha menegaskan konsep idealismenya. Dalil-dalil atas konsep ini dapat dirangkum sebagai berikut:

• Dalil pertama adalah bahwa semua pengetahuan manusia berdasarkan dan berasal dari indera. Jadi, indera adalah prinsip-pokok pengetahuan. Kalau kita berusaha meneliti prinsip ini, kita mendapatinya mengandung kontradiksi dan kesalahan. Indera penglihatan, misalnya, selalu mengalami kontradiksi dalam melihat benda-benda dari jarak dekat dan jauh. Ia akan melihatnya berukuran kecil, jika benda itu jauh darinya, dan melihatnya berukuran besar, jika benda itu dekat darinya. Indera raba juga mengalami kontradiksi. Maka dengan indera raba kita memiliki dua persepsi yang berbeda tentang satu hal. Berkeley lantas menjelaskan: “Celupkan kedua tanganmu ke dalam air hangat, setelah engkau mencelupkan salah satunya ke dalam air panas dan yang lainnya ke dalam air dingin. Nah, bukankah air itu terasa dingin bagi tangan yang panas, dan terasa panas bagi tangan yang dingin? Apakah dengan demikian akan kita katakan bahwa air itu dingin dan sekaligus panas dalam waktu yang sama? Bukankah perkataan itu sepenuhnya tak masuk akal? Nah, kalau begitu mari kita simpulkan: Bahwa air itu sendiri tidak ada sebagai materi yang berdiri sendiri yang terlepas dari eksistensi kita. Itu hanya suatu nama yang kita berikan kepada penginderaan kita. Jadi, air itu ada dalam diri kita. Pendek kata, materi adalah gagasan yang kita buat mengenai materi. Apabila penginderaan tak memiliki realitas objektif berkenaan dengan kontradiksi yang tampak di dalamnya, maka pengetahuan manusia tidak memiliki nilai objektif sama sekali. Hal ini karena pengetahuan manusia itu, secara umum, didasarkan pada indera. Nah, kalau dasarnya sudah rubuh (tidak dapat dipertanggungjawabkan lagi), maka rubuh pulalah seluruh bangunan (pendapat) tersebut.

Tetapi dalil di atas tidak mempunyai nilai apa-apa, karena alasan-alasan berikut:  Pertama, tidak semua pengetahuan manusia itu berdasarkan indera dan pengalaman inderawi. Karena doktrin rasional, yang telah kita pelajari dalam bab “sumber pokok pengetahuan”, menegaskan adanya pengetahuan niscaya dan primer yang ada dalam akal manusia. Pengetahuan niscaya seperti itu tidak muncul dari indera, dan di dalamnya tidak terdapat kontradiksi sama sekali. Jadi, tidak mungkin pengetahuan seperti itu dicerabut dengan emosi yang mempengaruhi indera dan pengetahuan inderawi. Selama kita memiliki pengetahuan yang tidak terpengaruh emosi, maka adalah mudah untuk mendirikan pengetahuan obiektif yang valid di atasnya.

Kedua, dalil tersebut berkontradiksi dengan prinsip filosofis idealisme Berkeley – yaitu teori empirikal dan doktrin empirikal. Hal itu terjadi karena Berkeley menganggap prinsip non-kontradiksi sebagai kenyataan (realitas) yang pasti. Ia, sejak semula, mendapati bahwa mustahil-lah terjadi kemungkinan kontradiksi dalam realitas obiektif. Berdasarkan itu, Berkeley menarik kesimpulan dari pengetahuan kontradiksi dan pengalaman inderawi bahwa pengetahuan kontradiksi dan pengalaman inderawi tak memiliki realitas objektif. Berkeley lupa bahwa prinsip non-kontradiksi dalam doktrin empirikal tidak lain hanyalah prinsip empirikal yang ditunjukkan oleh pengalaman inderawi. Nah, kalau pengetahuan dan pengalaman inderawi itu kontradiktif, maka bagaimana mungkin bagi Berkeley untuk mempercayai prinsip non-kontradiksi, dan untuk membuktikan tidak adanya realitas objektif dengan cara tersebut? Mengapa, menurut Berkeley, di sana tak mungkin terdapat realitas objektif yang di dalamnya fenomena dan segala sesuatu itu saling berkontradiksi satu sama lain? Sebenarnya, Berkeley secara tak sadar bersandar pada fitrahnya yang menyatakan bahwa prinsip nonkontradiksi itu berdiri sendiri terlepas dari indera dan pengalaman inderawi.

Ketiga, adalah keharusan bagi kita untuk membedakan dua hal ini: (1) persoalan adanya realitas objektif bagi pengetahuan dan persepsi inderawi dan (2) persoalan kesesuaian realitas tersebut dengan apa yang tampak oleh pengetahuan dan persepsi inderawi kita. Kalau kita sudah membedakan keduanya, kita dapat mengetahui bahwa kontradiksi persepsi inderawi tidaklah dapat dianggap sebagai bukti tidak adanya realitas objektif, seperti pendapat Berkeley. Hal itu hanya menunjukkan tidak adanya kesamaan antara gagasan yang dipersepsikan oleh indera dan realitas luar yang objektif. Artinya, persepsi inderawi tidak harus sepenuhnya sesuai dengan benda-benda luar. Hal ini berbeda dengan upaya Berkeley untuk mengingkari objektivitas persepsi inderawi. Kita – ketika mencelupkan kedua tangan kita ke dalam air, kemudian tangan yang satu merasakan panas, sementara yang lain merasakan dingin – tidak lantas harus, untuk menghindari kontradiksi itu, mengingkari objektivitas indera secara mutlak. Tapi, kita dapat menjelaskan kontradiksi tersebut dengan cara lain, yaitu bahwa persepsi inderawi kita adalah reaksi kejiwaan terhadap benda-benda luar. Jadi, harus ada benda luar ketika kita mengindera atau bereaksi. Namun, kesamaan persepsi inderawi dengan realitas objektif bukanlah suatu keharusan, sebab persepsi inderawi merupakan suatu reaksi subjektif, tidak dapat terpisah dari segi subjektif. Dengan dasar itu, kita dapat segera menyimpulkan bahwa air yang dianggap Berkeley sebagai hangat, bukan panas dan bukan pula dingin, merupakan realitas objektif yang membuat pada diri kita muncul dua persepsi inderawi yang berlawanan, dan bahwa dua persepsi inderawi berkontradiksi satu sama lain karena adanya segi subjektif yang kita tambahkan pada sesuatu ketika kita mengetahui atau bereaksi terhadapnya.

• Dalil kedua, adalah bahwa mempercayai adanya sesuatu di luar jiwa dan konsepsi kita bertumpu pada fakta bahwa kita melihat dan merabanya – yakni kita mempercayai adanya sesuatu itu karena ia memberikan kepada kita persepsi inderawi tertentu. Tetapi persepsi inderawi kita itu hanyalah pikiran-pikiran yang dikandung jiwa kita. Jadi, sesuatu yang dipersepsikan oleh indera kita tidak lain adalah pikiran, dan pikiran itu tidak mungkin berada di luar jiwa kita. Dalam dalil ini Berkeley berusaha menjadikan persoalan menerima realitas objektif sesuatu bergantung kepada “kontak” langsung dengan realitas tersebut. Selama kita tidak diberi kemungkinan untuk dapat “mengontak” langsung sesuatu apa pun selain eksistensi yang ada dalam konsepsi dan gagasan itu sendiri. Jika kita tidak memiliki konsepsi dan gagasan itu (tidak mempercayai adanya realitas objektif sesuatu), tentu tidak ada sesuatu pun yang dapat kita ketahui atau yang dapat kita akui eksistensinya.

Tetapi sebelumnya kita mesti ingat bahwa alasan yang dikemukakan oleh Berkeley untuk membuktikan (kebenaran) konsep idealismenya itu tidak benar, bahkan menurut Berkeley sendiri. Sebenarnya, tanpa disadarinya, ia sependapat dengan kita tentang tidak benar dan tidak memadainya alasan membenarkan konsep idealisme. Hal ini karena alasan itu justru mendatangkan idealisme subjektif yang mengingkari eksistensi individu-individu lain, dan juga mengingkari eksistensi alam. Apabila realitas itu terbatas pada pengetahuan dan kesadaran saja karena kita tidak dapat mengontak sesuatu yang berada di luar batas akal budi dan kandungan kesadarannya, maka pengetahuan dan kesadaran seperti ini adalah pengetahuan dan kesadaran saya. Padahal, saya tidak mengontak pengetahuan dan kesadaran orang lain, seperti juga tidak mengontak alam itu sendiri. Ini tentu saja mengharuskan (mengasumsikan) saya terisolasi dari segaia sesuatu kecuali eksistensi dan akal saya. Maka, saya tidak dibenarkan menerima adanya orang-orang lain, karena mereka hanyalah konsepsi akal saya dan pikiran subjektif saya. Demikianlah, masalahnya kemudian berakhir pada idealisme individualistis yang tak masuk akal. Nah, apakah Berkeley dapat mengambil bentuk ekstrem alasannya dan menarik darinya idealisme seperti itu?

Kalau ia telah mengusahakan sesuatu seperti itu, ia pasti akan berkontradiksi dengan dirinya sendiri, sebelum dengan orang lain. Kalau tidak demikian, dengan siapa ia berbicara, untuk siapa ia menulis dan mengarang, untuk siapa ia menyampaikan ceramah dan pelajarannya? Bukankah itu suatu penegasan yang pasti dari Berkeley mengenai realitas objektif orang-orang lain? Dengan demikian jelaslah bahwa Berkeley sepakat dengan kita tentang tidak dapat diterimanya alasan yang dikemukakannya, dan diterimanya, meskipun secara tak sadar, gugurnya (tak dapat dipertahankannya) alasan itu.

Selanjutnya tinggallah bagi kami untuk menjelaskan misteri kesalahan yang ada dalam dalil tersebut, agar kita tahu apa sebabnya dalil itu tidak sedemikian memuaskan bagi orang dan bahkan bagi Berkeley sendiri. Dalam hal ini kita harus ingat apa yang telah kita ketahui dalam bagian pertama – “sumber pokok pengetahuan” – yaitu terbaginya pengetahuan menjadi dua kelompok besar: (1) pembenaran (tashdiqi), dan (2) konsepsi. Kita mesti mengetahui kualitas pokok yang membedakan pembenaran dengan konsepsi. Hal ini membuat pengetahuan yang membenarkan sebagai penghubung antara diri kita dan alam luar. Untuk lebih jelasnya, konsepsi adalah ungkapan adanya bentuk salah satu esensi dalam fakultas-fakultas intelektif tertentu kita. Dalam indera kita, bentuk itu dapat ada. Keberadaan seperti ini menciptakan persepsi inderawi terhadap bentuk tersebut. Bentuk itu dapat ada dalam fakultas imajinatif kita. Melalui keberadaan ini, terjadilah imajinasi. Selanjutnya bentuk dapat hadir di dalam pikiran dalam watak abstrak umumnya. Kehadiran seperti ini disebut “inteleksi”. Dengan demikian, persepsi inderawi, imajinasi dan inteleksi adalah corak-corak konsepsi, dan berbagai cara menghadirkan bentuk sesuatu di dalam fakultas intelektif. Kita mencerap buah apel di atas pohon melalui penglihatan. Arti penglihatan (penginderaan) kita terhadap apel tersebut adalah bahwa bentuk apel itu hadir di dalam indera kita. Bentuk itu terus ada dalam pikiran kita, meskipun kita sudah tidak melihat pohon itu lagi. Bentuk kehadiran yang terakhir inilah yang disebut imajinasi. Lantas kita dapat tanggalkan dari bentuk ini kualitas-kualitas yang membedakannya dari apel-apel lain, dan mempertahankan hanya gagasan umumnya, yaitu gagasan universal sebuah apel. Bentuk universal ini adalah inteleksi. lni adalah tiga tahapan konsepsi yang dilalui pengetahuan manusia. Setiap tahapan menampakan adanya bentuk dalam sebagian fakultas intelektif kita. Jadi, secara umum, konsepsi – baik yang jelas, seperti penginderaan, maupun yang lemah seperti imajinasi dan inteleksi – tidak lebih daripada hadirnya bentuk sesuatu dalam fakultas-fakultas intelektif kita.

Karena itu, konsepsi tidak mungkin melicinkan jalan bagi kita untuk mencapai apa yang ada di balik bentuk yang kita konsepsikan di dalam fakultas-fakultas intelektif kita itu; dan tidaklah menjamin bergerak dari yang subjektif ke yang objektif; karena, adanya bentuk suatu esensi di dalam fakultas intelektif kita adalah satu hal, sementara kehadiran objektif dan mandiri esensi itu di luar kita adalah sesuatu yang lain. Karena itu, persepsi inderawi menjadikan kita mengkonsepsikan banyak hal yang tidak kita percayai sebagai memiliki realitas objektif yang berdiri sendiri. Misalnya, kita melihat tongkat di dalam air dalam keadaan terpecah, padahal tongkat itu sesungguhnya tidak pecah. Tetapi kita melihatnya demikian, karena refraksi sinar dalam air. Kita juga mempersepsikan (merasakan) air hangat sebagai sangat panas, ketika kita celupkan tangan kita yang sangat dingin, padahal kita yakin bahwa panas yang kita persepsikan itu tidak memiliki realitas objektif.

Adapun pembenaran, yaitu bentuk lain pengetahuan, dapat kita jadikan titik tolak bagi kita untuk melangkah dari yang konseptual kepada yang objektif. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Mari kita perhatikan!  Pengetahuan tashdiqi, adalah penilaian jiwa akan adanya suatu realitas tertentu di balik konsepsi, seperti dalam ucapan kita: “Garis lurus adalah jarak paling pendek antara dua titik.” Penilaian ini berarti kita yakin akan adanya suatu realitas di balik konsepsi kita akan garis lurus, titik dan jarak. Karena itu, hal ini sangat berbeda dengan berbagai konsepsi murni.

Pertama, penilaian ini bukan merupakan bentuk suatu esensi tertentu yang dapat kita inderai dan konsepsikan. Ia adalah aksi kejiwaan yang menghubungkan berbagai bentuk. Karena itu, ia tidak bisa hadir di dalam akal melalui penginderaan, ia adalah salah satu aksi internal jiwa yang mengetahui. Kedua, penilaian ini memiliki sifat subjektif yang tak ada dalam bagian konsepsi mana pun, yang dapat mengungkapkan realitas di balik batas-batas pengetahuan. Karena itu, Anda dapat saja menginderai atau mengkonsepsikan sesuatu tanpa mempercayai realitasnya di balik pengetahuan dan kesadaran. Tetapi tidak mungkin Anda memiliki pengetahuan tashdiqi, yakni mempercayai bahwa garis lurus adalah jarak paling dekat antara dua titik, dan sekaligus meragukan adanya realitas objektif yang diceritakan oleh pengetahuan dan kesadaran Anda.

Jelaslah bahwa pengetahuan tashdiqi merupakan satu-satunya yang dapat membantah argumen Berkeley yang menyatakan bahwa kita tidak berhubungan dengan realitas secara langsung, tetapi kita berhubungan dengan pikiran kita. Jadi, tidak ada apa pun selain pikiran kita sendiri. Meskipun jiwa tidak berhubungan dengan sesuatu secara langsung kecuali dengan pengetahuannya, ada pengetahuan yang dengan wataknya mampu mengungkapkan secara esensial sesuatu yang berada di luar pengetahuan. Ini adalah penilaian, yaitu pengetahuan tashdiqi. Nah, argumentasi Berkeley didasarkan pada tercampur-adukkan olehnya antara konsepsi dan penilaian, dan pada ketidaktahuannya akan perbedaan asasi antara keduanya.

Berdasarkan hal itu, jelaslah bahwa doktrin empirikal dan teori empirikal memaujudkan tendensi idealisme. Keduanya harus menerima argumentasi Berkeley. Karena, menurut kedua prinsip tersebut, jiwa manusia tidak memiliki pengetahuan niscaya atau fitri sama sekali. Pengetahuan jiwa muncul dari persepsi inderawi, dan berbagai kognisinya berdasarkan persepsi ini, persepsi inderawi yang tak lain adalah sebentuk konsepsi. Jadi, meskipun banyak dan bermacam-macam persepsi inderawi itu, ia tak akan melampaui batas-batas konseptualnya, sebagaimana manusia tidak dapat menggunakannya untuk menapakkan satu langkah menuju objektivitas.

• Dalil ketiga, jika kognisi dan pengetahuan manusia mempunyai kemampuan mengungkapkan secara esensial apa yang ada di balik kognisi dan pengetahuan itu, maka setiap pengetahuan dan kognisi itu benar, karena pada watak dan esensinya ia memang mampu mengungkapkannya; dan sesuatu tidak dapat tidak memiliki sifatnya yang esensial. Padahal, semua pemikir mengakui bahwa banyak dari informasi dan penilaian manusia itu adalah salah dan tidak mengungkapkan realitas. Bahkan para pakar sepakat untuk menerima teori tertentu, ternyata selang beberapa waktu, teori itu salah. Nah, bagaimana ini dapat dipahami menurut klaim-klaim filsafat realisme – yakni bahwa ilmu memiliki daya ungkap esensial? Apakah ada jalan keluar bagi filsafat ini selain mengakui bahwa pengetahuan tidak memiliki sifat tersebut? Jika ia mengakui demikian, maka idealisme adalah suatu keharusan. Karena, dalam hal ini, kita tidak dapat sampai kepada realitas objektif dengan pikiran-pikiran kita, selama kita mengakui bahwa pikiran-pikiran itu tidak memiliki kemampuan pengungkapan yang esensial terhadap realitas tersebut.

Untuk menjawab dalil ini, kita harus tahu apakah arti pengungkapan esensial pengetahuan itu? Arti pengungkapkan esensial ialah bahwa pengetahuan memperlihatkan kepada kita objek yang dinyatakan sebagai pasti ada dalam realitas di luar batas-batas pengetahuan dan kesadaran kita. Pengetahuan kita bahwa matahari terbit dan bahwa segitiga bukan segiempat, menjadikan kita melihat terbitnya matahari dan perbedaan segitiga dengan segiempat itu ada di dalam suatu realitas yang berada di luar kita dan berdiri sendiri. Hal ini seperti kaca cermin. Apa yang diperlihatkannya kepada kita yang berupa realitas mandiri adalah pengungkapan esensialnya. Pencerminan itu tidak berarti bahwa terbitnya matahari benar-benar ada, dan bahwa perbedaan segitiga dengan segiempat adalah ada di dalam realitas. Adanya sesuatu itu di dalam realitas bukanlah adanya sesuatu itu seperti yang dicerminkan itu. Dengan demikian kita tahu bahwa pengungkapan esensial pengetahuan tidak terpisah dari pengetahuan, bahkan kalau salah dan meragukan sekalipun. Pengetahuan orang-orang dahulu bahwa matahari mengitari bumi mempunyai derajat pengungkapan esensial seperti pengetahuan kita bahwa bumi mengitari matahari. Artinya, mereka melihat pengitaran matahari di sekeliling bumi itu sebagai benar-benar real dan tidak bergantung pada diri mereka. Dengan demikian mereka melihat eksistensi objektif pengitaran itu, yaitu mereka mempercayainya, meskipun sebenarnya tidak ada di dalam realitas.[61]

Karenanya, manusia tentu dapat keluar dari yang konseptual ke yang objektif dengan menggunakan pengetahuan tashdiqi berkat pengungkapan esensial pengetahuan ini. Apakah pengetahuan benar-benar salah atau benar, ia tetap pengetahuan dan pengungkapan.

• Dalil keempat, jika pengetahuan tashdiqi dapat salah, dan jika pengungkapan esensialnya tidak melindunginya dari kesalahan tersebut, maka mengapa semua pengetahuan tashdiqi kita tidak boleh salah? Bagaimana kita dapat mempercayai pengungkapan esensial pengetahuan, kalau pengungkapan seperti itu adalah sifat niscaya pengetahuan, ketika salah maupun benar?

Tujuan upaya ini berbeda dengan upaya yang terdahulu. Dalam upaya yang terakhir, idealisme bertujuan menganggap pengetahuan manusia sebagai sesuatu yang subjektif yang tidak melicinkan jalan bagi kita untuk menuju realitas objektif. Kita telah mengalangi upaya tersebut dengan menunjukkan pengungkapan esensial yang membedakan pengetahuan tashdiqi dengan konsepsi murni. Sementara itu, upaya ini bermaksud menghilangkan pengetahuan tashdiqi secara total dari pikiran manusia. Karena ia terkadang salah, atau karena pengungkapan esensialnya tidak berarti selalu benar, maka mengapa tidak kita ragukan dan kita huang saja semuanya? Kalau demikian, tidak ada lagi yang menjamin eksistensi alam obyektif.

Apabila pikiran manusia tidak memiliki sejumlah pengetahuan yang niscaya benar, tentu keraguan ini tak dapat dihindarkan. Kita tidak mungkin mengetahui realitas apa pun, selama pengetahuan seperti itu tidak didasarkan pada kebenaran yang niscaya, dan selama kesalahan dimungkinkan dalam segala hal. Tetapi, doktrin rasional membantah keraguan itu. Doktrin rasional – lihat pembahasan “sumber pokok pengetahuan” – menegaskan adanya pengetahuan niscaya yang dijamin kebenarannya atau tidak mungkin salah. Kesalahan hanya mungkin terjadi dalam metode membuat penyimpulan dari pengetahuan ini. Berdasarkan hal itu, pengetahuan manusia, seperti dipaparkan dalam pembahasan di atas, terbagi dalam (1) pengetahuan yang keniscayaannya terjamin, yang dari pengetahuan ini terbentuk prinsip pokok berpikir, (2) pengetahuan sekunder yang dihasilkan dari priusip pokok tersebut. Pada pengetahuan yang kedua inilah bisa terjadi kesalahan. Jadi, meskipun kita ragu, kita tidak bisa meragukan prinsip tersebut, karena kebenarannya niscaya terjamin.

Sekarang saya ingin menjelaskan bolehkah filosof idealis Berkeley mengingkari prinsip yang dijamin tersebut dan menolak adanya pengetahuan niscaya primer yang tidak mungkin salah dan kabur. Tak diragukan lagi bahwa jawabnya adalah penafian. Karena, selama ia berusaha membuktikan idealismenya itu dengan dalil-dalil tersebut di atas, Berkeley harus mengakui adanya pengetahuan yang pasti benar. Manusia tidak mungkin bisa membuktikan sesuatu pun tanpa berdasarkan prinsip-prinsip yang dijamin kebenarannya baginya.

Kalau kita perhatikan benar-benar dalil-dalil Berkeley itu, kita mendapatinya terpaksa mengakui hal-hal berikut: Pertama, ia mengakui adanya prinsip non-kontradiksi yang di atasnya dalil pertama didasarkan. Kalau saja kontradiksi itu dimungkinkan, tentu dari kontradiksi persepsi inderawi dapat disimpulkan bahwa prinsip ini tidak objektif. Kedua, ia juga percaya kepada prinsip kausalitas dan keniscayaan. Jika ia menolak prinsip ini, dalilnya tidak ada gunanya. Sebab, orang mendasarkan dalilnya pada pendapatnya, hanya karena ia percaya bahwa dalil adalah sebab niscaya untuk mengetahui kesahihan pendapat tersebut. Apabila ia tidak mempercayai prinsip kausalitas dan keniscayaan, boleh saja dalil itu benar, tetapi ia tetap tidak dapat membuktikan melaluinya tentang pendapat tersebut.

Nah, jika adanya pengetahuan yang sudah dijamin kebenarannya itu sudah terbukti dalam pemikiran manusia, maka tak dapat diragukan bahwa bagian dari pengetahuan itu adalah pengetahuan kita akan alam objektif yang berdiri sendiri di luar diri kita. Akal sendiri terpaksa membenarkan adanya alam luar secara keseluruhan dan menolak segala bentuk keraguan tentangnya, meskipun ada perbedaan antara kesadaran dan aktualitas pikirannya, atau antara pikiran dan realitas pikiran. Meragukan adanya alam yang mandiri dianggap sebagai jenis kegilaan.

Dari diskusi tentang idealisme filosofis di atas, dapat disimpulkan bahwa realisme berdasarkan pada dua prinsip: (1) pengakuan adanya pengungkapan esensial pengetahuan tashdiqi; (2) pengakuan adanya prinsip dasar bagi pengetahuan manusia yang kebenarannya niscaya dijamin. Kedua prinsip itu kita dapati telah diakui oleh Berkeley. Sebab, jika tidak ada pengungkapan esensial pengetahuan tashdiqi, ia tak akan mengetahui orang lain, ia tidak dapat membentuk hidupnya atas dasar eksistensi orang-orang lain itu. Jika bukan karena pengetahuan yang pasti benar dalam pikiran manusia, tentu ia tidak dapat membuktikan klaim-klaim idealismenya.


Idealisme Fisis
Sebelum abad terakhir ini, fisika menafsirkan alam secara realistik-materialistik sebagai dikuasai oleh hukum-hukum mekanik umum. Bagi para fisikawan, alam adalah realitas, dalam arti ia ada, berdiri sendiri terlepas dari akal dan kesadaran. Alam juga material, karena, menurut analisis ilmiah mereka, alam tersusutkan menjadi partikel-partikel kecil dan solid yang tidak dapat berubah dan tidak terbagi-bagi yaitu substansi-substansi individual yang dikatakan oleh Democritus[62] dalam filsafat Yunani. Partikel-partikel atau massa-massa primordial alam itu bergerak terus-menerus. Jadi, materi adalah segenap partikel tersebut, dan fenomena-fenomena alam di dalamnya adalah hasil dari perpindahan dan gerak spasial massa-massa itu.

Karena gerak itu membutuhkan penjelasan dari ilmu pengetahuan, fisika menjelaskannya secara mekanik, seperti ia menjelaskan gerak bandul jam atau gelombang suara. Ia juga berasumsi bahwa massa-massa itu mengandung kekuatan-kekuatan dan hubungan-hubungan tertentu di antara mereka agar penjelasan mekanik terhadap fenomena alam itu menjadi sempurna. Pada gilirannya, kekuatan dan hubungan itu harus tunduk kepada penjelasan mekanik, dan dari situ timbullah konsep pengandaian udara di dalam fisika, yang sejumlah fungsi dianggap berasal darinya, seperti pancaran sinar yang diduga dibawa udara ketika berpindah dari satu massa ke massa lain, sebagaimana juga ia membawa panas, listrik dan kekuatan-kekuatan serupa alam lainnya.

Kesimpulannya, bahwa alam merupakan suatu realitas material objektif yang dikendalikan oleh sistem mekanik yang sempurna, tetapi Konsep fisikawi ini tidak dapat bertahan ketika berhadapan dengan penemuan-penemuan modern yang mengharuskan para ilmuwan mengubah sepenuhnya teori-teori mereka tentang alam. Penemuan-penemuan itu menunjukkan kepada mereka bahwa akal ilmiah itu masih dalam tahap permulaan. Salah satu penemuan paling penting dari akal ilmiah tersebut adalah penemuan elektron, yang menunjukkan adanya struktur majemuk pada atom, serta menunjukkan bahwa radiasinya dapat diurai.

Sementara atom adalah unit materi pokok yang alam tersusun darinya, pada gilirannya ia terbukti majemuk; dan cerita tidak hanya sampai di sini, bahkan mungkin saja atom menguap sebagai listrik. Sementara gerak itu terbatas pada gerak mekanik – ini sesuai dengan keterangan mekanik mengenai alam – ditemukan pula adanya gerak lain. Sementara pandangan umum menyatakan bahwa massa materi – suatu istilah matematis tentang substansi materi – itu tetap, tidak berubah, maka sesungguhnya ia tidak tetap tetapi relatif menurut bukti ilmiah dan dalam arti realnya ia tidak mengungkapkan apa-apa selain suatu kekuatan tersembunyi. Karena itu massa benda itu berfluktuasi menurut geraknya.

Jelaslah bagi para fisikawan bahwa materialisme telah mati, bahwa konsep materialisme mengenai alam bertentangan dengan ilmu dan bukti-bukti empirikal. Karena itu, para ahli dapat membuat konsep substansial tentang alam yang lebih dalam daripada konsep materialisme. Materialisme hanyalah satu segi saja dari konsep baru ini. Sebagian ahli fisika malah sampai berpendapat bahwa alam dapat dianggap sebagai berasal dari gerak semata-mata (gerak murni). Dengan ini mereka berusaha untuk tidak memerlukan realitas substansial apa pun maupun alam. Berkata Ostwald:[63] “Tongkat yang dipukulkan pada Scaban tidak muncul atas dasar eksistensi alam luar. Tongkat itu tidak ada. Yang ada hanya daya gerak tongkat itu.” [64] Berkata pula Karl Pearson: [65] “Materi adalah non-material yang bergerak.” [66]

Di tengah-tengah penemuan-penemuan bau ini yang mengguncangkan bangunan material dan yang menunjukkan bahwa materi adalah ilusi umum manusia tentang alam, bukan konsep ilmiah yang sesuai dengan alam itu sendiri, muncul tendensi idealisme dalam fisika dan menarik banyak fisikawan. Kata mereka, karena ilmu setiap hari menemukan bukti-bukti baru yang menyangkal nilai objektif pengetahuan manusia dan segi material alam, maka atom atau struktur pokok materi, setelah lenyap berdasarkan ilmu pengetahuan, hanyalah metode yang tepat untuk mengungkapkan pikiran dan metafor atau isyarat yang tidak mengandung realitas objektif apa pun.

Berkata Eddington: [67]Dalam segenap sistem hukum ilmu alam, tak ada sesuatu pun yang tak dapat disimpulkan dengan jelas dari pemikiran tentang teori komprehensif mutlak tentang pengetahuan. Pikiran, yang tidak mengetahui eksistensi kita, tetapi mengetahui sistem berpikir, yang melaluinya pikiran menerangkan pengalaman empirikalnya, dapat mencapai pengetahuan tentang ilmu alam yang dihasilkan dari pengalaman inderawi. Akhirnya saya katakan bahwa yang saya ketahui tentang alam ini benar-benar adalah sesuatu itu sendiri yang saya kaitkan pada alam agar ia terpahami.” [68]

Selanjutnya Eddington mengungkapkan harapannya: “Dalam tahun-tahun mendatang akan dapat diketahui apa yang masih tersembunyi dalam nucleus atom, meskipun kita menduga bahwa hal itu telah tersembunyi sejak sebelum kita.” [69] Sebenarnya tendensi idealistik kaum fisikawan timbul karena kesalahan dalam pemikiran filosofis, bukan karena bukti fisikawi dalam lapangan ilmiah. Hal ini karena persoalan pokok dalam filsafat – yang respon terhadapnya membagi para filosof menjadi filosof idealis dan realis – bagi mereka tampak keliru. Persoalan pokok tersebut adalah apakah alam ini mempunyai realitas objektif di luar akal dan kesadaran kita. Bagi para fisikawan, hanya ada dua jawaban terhadap persoalan pokok tersebut. Pertama, bahwa alam dianggap berasal dari akal dan kesadaran, karena itu tidak memiliki wujud objektif. Kedua, bahwa alam ini adalah suatu realitas material yang maujud di luar akal dan kesadaran.

Kalau kita menolak jawaban kedua dengan bukti-bukti dan eksperimen-eksperimen ilmiah yang menunjukkan bahwa materialisme hanyalah tabir yang menutupi realitas alam, maka kita harus menerima jawaban pertama dan menerima konsep idealistik murni tentang alam. Akan tetapi, sebenarnya kedua jawaban tadi tidak benar. Karena, mengemukakan penentangan sepanjang garis-garis idealisme itu tak mengharuskan kita untuk mempercayai keniscayaan segi material bagi realitas objektif. Hal ini karena realisme sendiri, yang berlawanan dengan idealisme, tidak berarti lebih daripada sekadar mengakui adanya realitas objektif yang berdiri sendiri di luar pikiran dan kesadaran. Adapun apakah realitas objektif mandiri tersebut materi, gerak, gelombang listrik atau suatu kekuatan, adalah soal lain yang harus dijawab oleh realisme, yang menerima suatu alam objektif, secara ilmiah dan berdasarkan penemuan-penemuan eksperimental. Nah, jika dua permasalahan tersebut kita bedakan secara tegas, kita akan dapat menisbahkan tendensi idealisme itu kepada kesalahan yang menjadi tumpuannya.

Terhadap pertanyaan pertama, yaitu apakah alam memiliki realitas yang berdiri sendiri yang terlepas dari pikiran manusia, ada dua jawaban yang diberikan oleh idealisme dan realisme. Idealisme menjawab dengan negatif, sedangkan realisme menjawabnya dengan positif. Dua jawaban itu sama-sama harus berdasarkan alasan-alasan filosofis semata-mata. Ilmu dan pengalaman inderawi tidak berkata apa-apa dalam hal ini. Sementara pertanyaan lainnya, yaitu apakah realitas objektif yang berdiri sendiri itu, apakah kualitas-kualitas atau sifat-sifat materi menyertainya. Pertanyaan ini cenderung kepada realisme, karena tak ada ruang baginya dalam konsep idealistik. Sementara sebagian kaum realis menjawabnya dengan menyodorkan konsep materialistik tentang realitas objektif mandiri, sebagian lagi menyodorkan konsep-konsep lain. Dalam hal ini ilmu ikut berperan. Eksperimen dan penemuan ilmiahlah yang membentuk konsep ilmiahnya kaum realis itu tentang alam obyektif.

Kalau ilmu menolak konsep materialistik tentang alam, tidak berarti bahwa ilmu itu menolak realisme dan lantas menjadi idealistik. Karena penemuan ilmiah tidak menunjukkan tidak adanya realitas objektif yang berdiri sendiri. Yang ditunjukkannya adalah bahwa segi material bukanlah elemen niscaya dari realitas objektif itu. Jadi, apakah alam itu dinisbahkan kepada potensi, gerak atau apa saja selain materi, ini tidak merugikan realisme, tidak dapat pula membuktikan idealisme, selama alam itu memiliki realitas objektif yang maujud dan berdiri sendiri di luar pikiran dan kesadaran.

Jika benar bahwa materi berubah menjadi listrik, bahwa massa berubah menjadi energi, bahwa energi menjadi massa, bahwa alam mengungkapkan gerak yang bebas dari materi, maka semua itu sama sekali tidak akan mengubah sikap kita terhadap pertanyaan pertama, sebab kita yakin bahwa realitas bukanlah produk kesadaran semata-mata, tetapi juga produk dari realitas yang berdiri sendiri itu.

Teori-teori ilmiah ini ada pengaruhnya juga di dalam menjawab pertanyaan kedua, yaitu bagaimana alam itu sesungguhnya? Dengan itu kita tahu bahwa penemuan-penemuan ilmu modern sama sekali tidak membantah realism, yang dibantahnya adalah materialisme yang berpendapat bahwa materialisme adalah gambaran yang diperlukan tentang realitas (objektif) itu secara umum. Adalah aneh mengapa sebagian kaum materialis berusaha mempertahankan kedudukan materialisme dan seraya mengatakan bahwa bukti-bukti ilmiah dan empirikal itu tidak menunjukkan tidak adanya segi material alam, tetapi merupakan penyebab kedalaman paham kita terhadap materi dan karakteristiknya. Berkata Lenin: “Lenyapnya materi membuat tingkat pengetahuan tentang materi yang kita capai juga lenyap, dan membuat kesadaran kita menjadi lebih mendalam. Jadi, beberapa kualitas materi, seperti tidak dapat ditembus, tidak bergerak dan massa, tampak mutlak, konstan dan primer bagi kita, tetapi kini lenyap. Hal-hal itu telah dikenal sebagai secara niscaya dan relatif menyertai sebagian keadaan materi saja. Hal ini karena karakteristik satu-satunya materi, yang penerimaannya ditentukan materialisme filosofis, adalah keadaan materi sebagai realitas objektif yang berada di luar kesadaran kita.”[70]

“Sendi-sendi konsep materialisme tentang alam tidak mungkin diguncangkan oleh perubahan apa pun pada konsep ilmiah tentang katakteristik materi. Ini bukan karena persepsi filosofis tentang materi itu tidak ada hubungannya dengan persepsi ilmiah hipotetik. Tetapi, karena materi tidak dapat melepaskan karakteristik memaujud sebagai realitas aktual objektif yang merupakan salah satu kualitas dasar materi ini.” [71]

Dengan itu Lenin bermaksud menolak idealisme fisikawi dan memperkuat konsep materialismenya. Dari ucapannya tampaklah bahwa Lenin mengabaikan setiap filsafat realisme, kecuali filsafat realisme yang berdasarkan atas landasan-landasan material. Nah, untuk menghilangkan kontradiksi antara konsep materialisme di satu pihak dan kebenaran- kebenaran ilmu serta fisika di lain pihak, Lenin menerangkan konsep materi secara aneh. Keterangannya itu ekstensif dan cukup komprehensif untuk mencakup objektivitas dan kemandirian realitas materi. Dengan itu ia mencoba mengajukan materialisme sebagai ganti idealisme sebagai solusi filosofis yang khas bagi persoalan eksistensi alam. Adalah jelas bahwa jika materi adalah ungkapan tepat realitas objektif mandiri, dan karakteristik niscayanya satu-satunya adalah keberadaannya di luar kesadaran kita, maka metafisika teologis adalah filsafat materialisme itu sendiri, dalam konsep baru tentang materi tersebut. Dengan demikian, hilanglah pertentangan antara metafisika dan filsafat materialisme berikut konsepnya tentang alam.

Seorang filosof teologis yang percaya kepada metafisika akan berkata secara eksak tentang alam (seperti seorang materialis). Baginya, alam adalah realitas objektif di luar kesadaran kita. Prinsip teologis yang diterima filsafat metafisika tidak lain adalah realitas objektif di luar kesadaran kita.

Sebenarnya tidak ada gunanya bermain kata-kata. Jadi, memperluas konsep materialisme sampai konsep itu mencakup konsep yang justru menentangnya dan selaras dengannya tidak berarti apa-apa selain ia malah meninggalkan realitas filosofisnya sendiri, dan tak dapat menjawab konsep-konsep yang menentangnya. Bahkan materialisme dialektika tidak membenarkan Lenin mengakui adanya realitas mutlak. Karena hal ini bertentangan dengan dialektika yang mengatakan adanya perkembangan setiap realitas yang sesuai dengan kontradiksi-kontradiksi yang ada di dalamnya. Nah, apakah karakteristik dasar materi, dalam kerangka konsep Neo-Leninian itu adalah karakteristik mutlak yang tidak berkembang dan tidak tunduk kepada hukum dialektika dan kontradiksi-kontradiksinya? Jika demikian, maka realitas mutlak yang ditolak dialektika dan tak diakui oleh prinsip-prinsip dialektika Marxisme itu tentu ada. Apabila karakteristik itu adalah karakteristik dialektik dan mengandung kontradiksi-kontradiksi yang mendorongnya berkembang dan berubah seperti juga realitas-realitas alam lainnya, maka ini berarti materialisme juga mengalami kontradiksi, dan karena itu ia harus mengubah, menukar dan melepaskan diri dari sifat pokok materi.

Kesimpulannya adalah tendensi idealistik kaum fisikawan muncul karena tidak berhasil membedakan dua persoalan filsafat yang kita uraikan tadi, dan bukan merupakan produk langsung bukti-bukti ilmiah. Meskipun demikian, kita harus menyebutkan faktor lain yang memainkan peranan penting di dalam menggoyahkan keyakinan para ahli terhadap realitas objektif. Ini merupakan collapse-nya aksioma-aksioma ilmiah dalam bidang ilmiah modern. Dengan demikian, sementara aksioma-aksioma seperti itu dianggap sebagai kebenaran-kebenaran pasti yang tidak dapat diragukan lagi, ilmu pengetahuan berhasil membuktikan ke- salahan-kesalahannya – dan dengan demikian segera melelehkan atom-atom John Dalton,[72] dan goyahlah hukum tidak rusaknya materi. Eksperimen-eksperimen menunjukkan bahwa materi adalah ilusi manusia selama beribu-ribu tahun. Karena itu, reaksi terhadap hal ini adalah munculnya kembali keragu-raguan dan pada gilirannya meracuni pikiran-pikiran sementara para ahli.

Kalau aksioma-aksioma ilmu pengetahuan kemarin adalah salah di hari ini, mengapa kita tidak boleh meragukan setiap realitas, meskipun jelas bagi kita, dan mengapa kita mengasumsikan masalah pokok – masalah adanya realitas objektif, yang tak dapat diragukan? .

Demikianlah, tendensi idealisme dan agnostisisme muncul, bukan karena ilmu membuktikan kebenaran tendensi ini, tetapi karena goyahnya keyakinan para ilmuwan terhadap ilmu, serta tumbangnya kepercayaan mereka terhadap kebenaran mutlak aksioma-aksiomanya. Namun, faktor ini tidak lebih merupakan pendorong kejiwaan atau krisis kejiwaan yang mengilhami kecenderungan kepada idealisme. Krisis seperti ini akan segera hilang ketika permasalahan itu ditelaah secara filosofis. Karena, keyakinan akan adanya realitas objektif alam bukanlah hasil dari bukti-bukti ilmiah dan empirikal. Kita telah tahu bahwa eksperimen tidak mungkin dapat menumbuhkan keyakinan seperti itu dan menggerakkan manusia dari konsepsi kepada objektivitas. Tetapi, itu adalah keyakinan fitri dan niscaya dalam tabiat manusia. Karena itu, ia bersifat umum. Semua orang memilikinya, bahkan kaum idealis, yang secara lisan menentangnya. Padahal mereka meyakininya juga – seperti ditunjukkan oleh kehidupan praktis mereka.

Semua aksioma itu, yang kesalahan-kesalahannya tampak jelas, berkisar pada struktur alam objektif, dan kepastian realitas serta unsur-unsur pokoknya. Adalah jelas bahwa aksioma-aksioma seperti itu hanya dikukuhkan oleh eksperimen ilmiah. Jadi, rubuhnya aksioma-aksioma dan kesalahan aksioma-aksioma yang jelas itu – apakah karena ketidaklengkapan atau ketidaktepatan eksperimen yang di atasnya aksioma-aksioma ini ditegakkan, atau tidak tepatnya penyimpulan rasional teori itu dari eksperimen – sama sekali tak berarti bahwa aksioma-aksioma rasional-niscaya dapat saja salah.


Idealisme Fisiologis
Ini adalah jenis lain dari idealisme yang dianut sementara ahli fisiologi. Ia berdasarkan, menurut klaim-klaim mereka, atas realitas-realitas fisiologik yang diungkapkan oleh ilmu pengetahuan. Idealisme ini berangkat dari suatu titik-tolak yang tidak dapat diperdebatkan. Yaitu bahwa kepastian bentuk subjektif persepsi inderawi manusia itu bergantung pada susunan indera kita dan pada sistem organik secara umum. Jadi, watak persepsi inderawi yang datang dari alam luar kepada kita tidak dengan sendirinya menentukan bentuk sesuatu dalam persepsi inderawi kita. Tetapi, bentuk ini ditentukan oleh sistem syaraf, lebih daripada apa pun lainnya. Berdasarkan hal itu, mereka menyangka bahwa indera tidak memberikan kepada kita informasi tentang alam luar. Indera hanya mengabarkan kepada kita tentang sistem organik privat kita. Ini tidak berarti bahwa indera tidak ada hubungannya dengan sesuatu yang eksternal. Tetapi sesuatu yang eksternal merupakan sebab pertama yang membangkitkan tindak-tindak persepsi inderawi. Tetapi watak sistem organik privatlah yang mengkristalkan tindak-tindak persepsi inderawi dalam cara persepsi inderawi mengekspresikan dirinya. Karena itu, persepsi inderawi dapat dianggap sebagai simbol, bukan bentuk sebenarnya. Hal itu karena bentuk dituntut untuk memiliki kesamaan tertentu dengan sesuatu yang dicerminkannya. Sementara itu, tak perlu ada keserupaan apa pun bagi simbol dengan sesuatu yang dimaksudkan oleh simbol tersebut.

Tendensi idealisme ini adalah termasuk komplikasi tak terhindarkan dari konsep materialisme tentang pengetahuan yang kita tolak mentah-mentah. Jika pengetahuan adalah tindak fisiologik semata-mata atau interaksi material tertentu antara sistem syaraf dan sesuatu yang objektif dan eksternal, tentulah kualitas tindak fisiologik itu berhubungan dengan watak sistem syaraf saja, atau dengan watak sistem tersebut dan sekaligus dengan watak sesuatu yang objektif. Meskipun hal ini mendatangkan idealisme yang jelas dan penafian terhadap realitas alam objektif, selama kita mempertahankan untuk sesuatu yang eksternal segi yang menyebabkan proses-proses sistem syaraf, namun bolehlah meragukan tingkat kesesuaian antara persepsi inderawi dan realitas objektif, meragukan apakah pengetahuan itu semata-mata reaksi tertentu yang menunjukkan sebabnya secara simbolik, dan tanpa keserupaan baik dalam realitas maupun kandungannya. Kami akan membahas lagi konsep idealisme fisiologik ini nanti.

Pendukung Skeptisisme Modern
Sebenarnya, skeptisisme modern ini dapat dianggap berasal dari doktrin lama skeptisisme yang dianut oleh aliran skeptisisme Yunani yang dipelopori Pyrrho, yang yakin bahwa manusia tak dapat memberikan penilaian apa pun atas segala sesuatu. Skeptisisme modern berkembang dalam kondisi yang mirip dengan kondisi yang mengitari skeptisisme lama ini dan yang membantu penumbuhannya. Skeptisisme Yunani datang sebagai peredam konflik yang dahsyat antara sofisme dan filsafat. Sofisme lahir beberapa abad sebelum filsafat. Ia menolak segala realitas dan mengingkari proposisi-proposisi ilmiah dan empirikal. Para filosof lantas bangkit menentang sofisme, saya menunjukkan kontradiksinya. Mereka mengungkapkan ketakberdayaannya menghadapi kritik, sampai akhirnya gelombang pengingkaran memusnahkannya. Lalu muncullah konsep skeptisisme yang menegaskan agnostisisme mutlak. Ia berusaha membenarkan agnostisisme dengan membeberkan kontradiksi-kontradiksi indera dan penentangan pemikiran yang melucutinya dari kualitas kepercayaan ilmiah. Agnostisisme, dengan begitu, merupakan bentuk ringan sofisme. Demikian pula halnya dengan skeptisisme modern. Ia berusaha mengajukannya sebagai upaya untuk memecahkan kontradiksi antara idealisme dan realisme, jika adalah benar menganggap menyerah kepada skeptisisme sebagai memecahkan kontradiksi tersebut – dan oleh sebab itu, ia merupakan bentuk lebih ringan dari idealisme.

Skeptisisme modern tidak bertumpu pada hal-hal yang menunjukkan hanya kontradiksi-kontradiksi persepsi inderawi dan pengetahuan. Ia bahkan bertumpu pada hal-hal yang menganalisis pengetahuan yang mengarah kepada skeptisisme, menurut klaim-klaim pendukung-pendukungnya. David Hume, tokoh filsafat skeptisisme karena pengaruh filsafat Berkeley, berpendapat bahwa kepastian tentang nilai objektif pengetahuan manusia merupakan masalah yang tak terjangkau. Sarana pengetahuan manusia adalah kognisi atau pikiran, dan tak sesuatu pun yang dapat ada pada akal-pikiran itu selain pengetahuan. Adalah tak mungkin mengkonsepsi atau menciptakan gagasan tentang sesuatu, jika gagasan itu berbeda dengan konsep-konsep dan reaksi-reaksi. Karena itu, sebaiknya kita pusatkan perhatian kita ke alam luar sesuka kita, dan biarkan imajinasi kita menjelajah langit-langit atau ujung-ujung alam semesta. Kita selamanya tak akan dapat melangkah kepada hal-hal di luar diri kita sendiri. Karena itu, kita tidak dapat menjawab permasalahan pokok dalam filsafat yang dipenentangkan oleh kaum idealis dan kaum realis. Idealisme menduga bahwa realitas itu ada dalam kesadaran dan pengetahuan; sementara menurut realisme, realitas itu ada secara objektif dan mandai. Skeptisisme menolak untuk menjawab persoalan tersebut, karena (menurutnya) menjawabnya adalah mustahil. Maka, dibiarkanlah persoalan tadi selamanya.

Sebenarnya, David Hume tidak menambahkan apa pun pada argumentasi Berkeley, kalaupun ia telah memperkuat keraguan tentang realitas-realitas, dan mengabaikan realitas-realitas itu. Skeptisismenya tak terbatas pada materi luar. Bahkan ia merubuhkan dua realitas yang justru dipenahankan oleh filsafat Berkeley, yaitu jiwa dan Tuhan. Ini sesuai dengan bentuk ekstrem prinsip empirikal. Untuk maksud ini, Hume memakai gaya dan metode Berkeley. Substansi materi, menurut Berkeley, hanyalah sekumpulan fenomena yang tersusun secara artifisial dalam pikiran. Demikian pula jiwa, ia tidak lain hanyalah sekumpulan fenomena batin dan hubungan-hubungannya. Tidaklah mungkin membuktikan “aku” (diri) dengan kesadaran, karena ketika saya menembus ke jantung dari apa yang saya beri nama “aku”, tiba-tiba saya mendapati fenomena tertentu. Nah, jika semua pengetahuan lenyap, tak ada lagi sesuatu pun yang dapat saya beri nama “aku”.

Adapun gagasan tentang Tuhan itu berdasarkan prinsip kausalitas. Tetapi tak mungkin menerima kebenaran prinsip ini, menurut klaim-klaim David Hume. Sebab indera tidak memperlihatkan kepada kita adanya suatu keharusan antara fenomena-fenomena dan peristiwa-peristiwa. Namun, gagasan tentang kausalitas itu dianggap berasal dari kebiasaan semata-mata atau satu bentuk asosiasi gagasan-gagasan. Demikianlah, Hume sampai pada hal-hal puncak teori empirikal dan doktrin empirikal yang secara alami teori dan doktrin ini mengantarkannya kepada puncak tersebut. Sebagai ganti membuktikan lewat metode itu (keniscayaan) menolak prinsip empirikal atau eksperimental dalam pikiran, ia malah rnengikuti prinsip itu sampai ia terbawa ke ujungnya yang tak terhindarkan. Kami tidak hendak berdiskusi tentang Hume lagi, karena argumen-argumennya merupakan pengulangan dari dalil-dalil dan pendapat-pendapat Berkeley. Kami hanya mendiskusikan satu hal saja, yakni kebiasaan, yang oleh Hume prinsip kausalitas dan banyak hubungan antara hal-hal dalam pikiran dianggap berasal darinya. Kita pertanyakan: “Apakah kebiasaan itu?” Kalau ia adalah keniscayaan yang ada antara gagasan tentang sebab dan gagasan tentang akibat, tentu ia hanya kata lain dari prinsip kausalitas. Jika ia adalah sesuatu yang lain, ia tidak berbeda dengan kausalitas dalam hal sebagai gagasan yang tak tampak yang kita tidak memiliki reaksi atau persepsi inderawi terhadapnya. Tetapi Hume harus menolak (pandangan) ini, sebagaimana ia menolak seluruh realitas yang tak dapat dijangkau indera. Dalam mengkritik doktrin empirikal sebelumnya, tanggapan diberikan kepada penjelasan yang gagal mengenai kausalitas ini yang diupayakan oleh Hume. Mari kita lihat (tanggapan) itu.

Kaum Relativis
Relativisme dianggap sebagai salah satu doktrin yang menyatakan adanya realitas dan kemungkinan pengetahuan manusia. Tapi pengetahuan atau realitas ini, yang dapat diperoleh pikiran manusia, adalah pengetahuan nisbi dan realitas nisbi, dalam arti ia bukan realitas yang bebas dari pengikatan subjektif atau realitas mutlak. Ia adalah gabungan sisi objektif sesuatu dan sisi subjektif pikiran yang mengetahui. Karenanya, realitas objektif dalam pikiran tidak mungkin dipisahkan dari sisi subjektif, dan tidak bebas dari tambahan tertentu dari luar. Pada relativisme, ada dua tendensi pokok yang berbeda dalam gagasan keduanya tentang relativisme dan batas-batasnya dalam ilmu- ilmu pengetahuan manusia. Yang pertama adalah tendensi relativisme dalam filsafat Immanuel Kant. Yang kedua ialah tendensi relativisme subjektif sejumlah filosof materialis modern. Tendensi terakhir inilah yang melicinkan jalan bagi relativisme developmental yang diserukan materialisme dialektik.

Relativisme Kant
Pertama-tama harus diketahui bahwa penilaian rasional, menurut Kant, ada dua: Pertama, penilaian analitik. Yaitu penilaian yang dipakai akal untuk menjelaskan saja, seperti ucapan kita: “Benda padat itu memuai, dan segitiga memiliki tiga sisi.” Penilaian di sini berdasarkan pada analisis konsep tentang subjek (benda-benda atau segitiga), penyimpulan unsur-unsur yang terkandung di dalam konsep ini, seperti pemuaian, yang terkandung dalam konsep tentang benda padat dan segitiga, yang terkandung pada konsep tentang segitiga, dan penisbahan unsur-unsur ini kepada subjek tersebut. Penilaian analitik tidak memberi kita informasi baru tentang subjek itu. Ia hanya berperan sebagai penjelas.

Kedua penilaian sintetik yaitu suatu penilaim yang predikatnya menambahkan sesuatu yang baru kepada subjek itu. Seperti ucapan kita: “Benda-benda itu berat, panas memuaikan partikel-partikel jasadi dan 2 + 2 = 4”. Kualitas yang kita berikan kepada subjek dalam proposisi-proposisi tersebut tidak tersimpulkan dari subjek oleh analisis, tetapi itu merupakan tambahan. Karenanya, timbullah pengetahuan baru yang tidak ada sebelumnya. Penilaian-penilaian sintetik terkadang merupakan penilaian-penilaian primer, terkadang juga merupakan keputusan sekunder. Penilaian primer adalah penilaian yang sudah ada di dalam pikiran sebelum pengalaman inderawi, seperti hukum-hukum matematis, misalnya: garis lurus adalah jarak terdekat antara dua titik. Akan dijelaskan nanti apa sebabnya demikian. Penilaian-penilaian sintetik sekunder juga ada dalam pikiran setelah pengalaman inderawi, seperti ucapan kita: “Sinar matahari dapat memanaskan batu, dan setiap benda mempunyai bobot.”

Teori Kant tentang pengetahuan terangkum dalam pembagian pengetahuan atau penilaian rasional menjadi tiga kelompok.[73] Pertama, matematika. Semua pengetahuan rasional dalam kelompok ini adalah penilaian-penilaian sintetik primer yang mendahului pengalaman inderawi, sebab ia membahas subjek-subjek alam dalam jiwa manusia. Ilmu ukur itu mengkhususkan diri dalam ruang. Subjek ilmu hitung ialah bilangan, dan bilangan adalah pengulangan satuan (unit), dan pengulangan berarti suksesi dan pengikutan. Itulah waktu dalam konsep filsafat Kant. Jadi, dua “kutub” pokok, yang di sekitar ini prinsip-prinsip matematis berkisar, adalah ruang dan waktu. Menurut Kant, ruang dan waktu adalah dua bentuk alami dalam sensibilitas formal manusia. Artinya, bentuk keduanya itu ada dalam sensibilitas formal yang berdiri sendiri di luar pengalaman indera. Konsekuensi dari hal ini ialah bahwa setiap penilaian yang berkaitan dengan ruang atau waktu yang kita nisbahkan kepada suatu hal diambil dari fitrah kita. Dalam penilaian ini, kita tidak berdasarkan atas apa yang kita dapatkan dari luar diri kita dengan perantaraan indera. Itulah sebabnya setiap proposisi matematis berasal dari alam pikiran kita, dalam arti bahwa kitalah yang menciptakannya, kita tidak mendapatkannya dari luar. Hal ini karena proposisi-proposisi tersebut berfokus pada ruang dan waktu yang kedua-duanya alami. Dengan demikian, matematika dan prinsip-prinsip matematis menjadi dapat dipahami. Karena itu tak ada kemungkinan salah atau kontradiksi dalam bidang matematis, selama bidang itu merupakan bidang alami dalam jiwa, dan selama proposisi-proposisinya timbul dari diri kita, dan tidak diambil dari realitas objektif yang tak bergantung pada kita; sehingga dapat kita ragukan kemungkinan mengetahui realitas ini dan membeberkan misterinya.

Kedua, ilmu pengetahuan alam. Yaitu pengetahuan manusia tentang alam objektif yang tunduk kepada pengalaman inderawi. Di sini Kant memulai dengan menjauhkan materi dari bidang ini. Karena, akal tak mengetahui apa pun tentang alam selain fenomena-fenomenanya. Ia sependapat dengan Berkeley bahwa materi tidak dapat diketahui dan tidak dapat terkena pengalaman inderawi. Tetapi di sisi lain ia berbeda dengan Berkeley. Kant tidak menganggap hal tersebut di atas sebagai bukti tidak adanya materi dan dan sebagai justifikasi filosofis untuk menolaknya seperti telah diklaim Berkeley. Kalau materi sudah dikesampingkan, maka bagi ilmu-ilmu alam tak ada lagi apa pun selain fenomena yang tunduk kepada pengalaman inderawi. Fenomena-fenomena itu adalah garapan ilmu-ilmu tersebut. Karena itu, penilaian dalam ilmu alam adalah sintetik dan sekunder, didasarkan pada studi terhadap fenomena-fenomena objektif alam yang diketahui oleh pengalaman inderawi.

Jika kita mau menganalisis penilaian sintetik sekunder dari perspektif pikiran, kita akan mendapati penilaian itu tersusun dari dua unsur: unsur empirikal dan unsur rasional. Segi empirikal penilaian rasional ini adalah persepsi inderawi yang diperoleh pengalaman inderawi dari luar, setelah sensibilitas formal mencurahkan persepsi-persepsi ini ke dalam intuisi waktu dan ruang. Adapun segi rasional adalah hubungan alami yang ditimpakan akal atas objek-objek persepsi inderawi, sehingga ilmu atau pengetahuan dapat terbentuk darinya. Jadi, pengetahuan itu merupakan perpaduan subjektivitas dan objektivitas. Pengetahuan itu subjektif dalam bentuknya, objektif dalam materinya. Karena pengetahuan adalah hasil penyatuan antara materi empirikal, yang diambil dari luar, dan salah satu bentuk pikiran yang sudah ada secara fitri dalam akal. Kita tahu, misalnya, bahwa benda-benda logam akan memuai karena panas, kalau pengetahuan ini kita analisis sadikit saja nyatalah bahwa materi mentah pengetahuan ini – yaitu fenomena pemuaian pada benda-benda logam dan fenomena panas – diberikan melalui pengalaman inderawi. Dan jika bukan karena pengalaman inderawi, tentu kita tak dapat mengetahui fenomena-fenomena tersebut.

Adapun segi formal pengetahuan, yakni kausasi fenomena yang satu atas yang lain, itu bukanlah empirikal. Tapi itu dapat dinisbahkan kepada kategori kausalitas yang adalah salah satu kategori alamiah akal. Jika kita tidak mempunyai bentuk primer tersebut, tentu takkan ada pengetahuan apa pun. Begitu pula, kalau kita tidak mendapatkan materi-materi tersebut melalui persepsi inderawi, kita tidak akan mendapatkan pengetahuan. Jadi, pengetahuan itu ada sebagai hasil dari akal mengadaptasikan subjek-subjek empirikal dengan kerangka-kerangka dan pola-pola tertentunya, dengan kategori-kategori fitrinya. Bukan lantaran akal itulah yang beradaptasi, dan bukan kerangka-kerangka dan pola-polanya yang mengkristal mengikuti subjek-subjek yang diketahui. Jadi, dalam hal ini, akal mirip dengan seseorang yang berusaha menaruh sekuantitas tertentu air ke dalam botol sempit yang terlalu kecil bagi sekuantitas air tersebut. Ia lantas mengurangi kuantitas air itu agar air itu dapat termuat di dalam botol itu, sebagai ganti memperbesar botol agar air dalam kuantitas sebesar itu dapat dimuat di dalamnya. Jelaslah kini bagaimana revolusi pemikiran yang diciptakan Kant tentang masalah pikiran manusia itu. Karena, ia menjadikan segala sesuatu berpusat di sekitar pikiran dan mengkristal sesuai dengan kerangka- kerangka tertentunya. Hal ini bertentangan dengan apa yang telah diyakini oleh orang banyak, yakni bahwa pikiranlah yang berpusat di sekitar segala sesuatu dan beradaptasi mengikuti segala sesuatu itu.

Atas dasar hal-hal tersebut, Kant membuat pembedaan antara “sesuatu itu sendiri” dan “sesuatu itu pada diri kita”. Yang pertama adalah realitas luar tanpa tambahan apa pun dari diri kita. Realitas yang tanpa tambahan subjektif itu tidak dapat diketahui, sebab, dalam bentuknya, pengetahuan itu adalah subjektif dan rasional. Yang kedua ialah perpaduan subjek empirikal dan bentuk fitri primer yang bersatu dengannya di dalam pikiran. Karena itu, relativitas ada pada segala realitas yang mencerminkan sesuatu yang eksternal dalam pikiran kita, dalam arti bahwa pengetahuan kitalah yang menunjukkan kepada kita realitas sesuatu pada diri kita, bukan realitas sesuatu dalam diri sesuatu itu sendiri. 

Dengan demikian, ilmu-ilmu alam berbeda dengan ilmu-ilmu matematis. Dalam ilmu-ilmu matematis, karena subjeknya ada dalam jiwa secara fitri, tidak ada dualisme: sesuatu pada dirinya sendiri dan sesuatu pada diri kita. Sebaliknya, ilmu-ilmu alam menggarap fenomena-fenomena luar yang tunduk kepada pengalaman inderawi. Yakni fenomena-fenomena yang ada secara mandiri terlepas dari diri kita. Kita dapat mengetahui fenomena-fenomena itu melalui pola-pola fitri kita. Karena itu, tidaklah aneh kalau sesuatu pada dirinya sendiri dan sesuatu pada kita itu berbeda.

Ketiga, metafisika. Kant berpendapat bahwa adalah mustahil untuk sampai pada pengetahuan dalam metafisika melalui akal-teoretis, dan bahwa usaha apa pun untuk mendirikan pengetahuan metafisis di atas dasar filsafat adalah upaya yang sia-sia, tak memiliki nilai. Alasan untuk ini adalah tidak mungkin ada penilaian-penilaian sintetik primer atau sekunder dalam proposisi-proposisi metafisis. Karena penilaian-penilaian sintetik primer itu mandiri terlepas dari pengalaman inderawi, maka penilaian-penilaian itu tidak dapat diterapkan pada apa pun selain subjek-subjek yang diciptakan pada jiwa secara alami, dan sudah ada dalam akal tanpa pengalaman inderawi, seperti ruang dan waktu – dua subjek ilmu-ilmu matematis. Tidak demikian halnya dengan hal-hal yang menjadi garapan metafisika – yaitu Tuhan, jiwa dan alam. Metafisika tidak menelaah entitas-entitas mental. Ia hanya berupaya membahas segala sesuatu yang objektif dan mandiri. Adapun penilaian-penilaian sintetik sekunder menggarap subjek-subjek empirikal, seperti subjek-subjek ilmu alam yang termasuk dalam lapangan empirikal. Itulah sebabnya penilaian-penilaian ini sekunder: memerlukan pengalaman inderawi. Jelaslah bahwa subjek-subjek metafisika tidak empirikal. Karena itu, tidaklah mungkin terjadi di dalam metafisika penilaian sintetik sekunder. Selanjutnya, dalam metafisika hanya ada penilaian-penilaian analitik, yaitu penjelasan dan penafsiran tentang konsep-konsep metafisis. Penilaian-penilaian itu sama sekali tidak membentuk pengetahuan hakiki, sebagaimana telah kita ketahui.  Dari uraian di atas, yang disimpulkan Kant adalah:

1. Bahwa penilaian-penilaian ilmu matematis adalah sintetik primer, dan memiliki nilai mutlak.
2. Bahwa penilaian-penilaian yang berdasarkan pengalaman inderawi dalam ilmu-ilmu alam adalah penilaian-penilaian sintetik sekunder. Kebenaran yang ada pada penilaian-penilaian itu tidak lebih daripada kebenaran nisbi.
3. Bahwa dalam subjek-subjek metafisika tak mungkin ada pengetahuan rasional yang sahih, yang tidak berdasarkan penilaian-penilaian sintetik primer, tidak pula berdasarkan penilaian- penilaian sintetik sekunder.

Hal-hal pokok dalam teori Kant adalah bahwa pengetahuan rasional primer bukanlah ilmu yang berdiri sendiri yang terlepas dari pengalaman inderawi. Tetapi, adalah hubungan-hubungan yang membantu mengorganisasikan dan menghubungkan segala sesuatu. Jadi, satu-satunya peranannya adalah menjadikan kita mengetahui hal-hal empirikal, sesuai dengan kerangka-kerangka tertentunya. Akibat wajarnya adalah mengabaikan metafisika. Karena, pengetahuan primer ini bukan ilmu, tetapi hubungan-hubungan. Agar menjadi ilmu, ia membutuhkan subjek yang dihasilkan atau diketahui akal melalui pengalaman inderawi. Padahal subjek-subjek metafisika bukan dihasilkan akal, bukan pula diketahui melalui pengalaman inderawi. Akibat wajar lain ialah bahwa kebenaran dalam ilmu-ilmu alam selalu menjadi nisbi, karena, hubungan-hubungan tersebut merupakan bagian dari struktur terdalam pengetahuan kita tentang fenomena-fenomena luar, dan merupakan hubungan-hubungan subjektif. Dengan demikian, berbedalah sesuatu dalam dirinya sendiri dengan sesuatu pada diri kita.

Teori Kant ini mengandung dua kesalahan pokok:

1. Ilmu-ilmu matematis dianggap sebagai yang memunculkan kebenaran-kebenaran matematis dan prinsip-prinsipnya. Dengan pertimbangan ini, Kant membebaskan prinsip dan kebenaran matematika dari kemungkinan salah dan kontradiksi, karena ia diciptakan pada jiwa dan digali darinya dan bukan dari luar sehingga orang curiga jangan-jangan itu salah atau kontradiktif.

Tetapi, kebenaran yang menjadi landasan setiap filsafat realisme tidak kreatif, dan tidak pula produktif. Ia hanya mengungkap apa yang ada di luar batas-batas mental tertentunya. Kalau saja bukan karena (kualitas) pengungkapan esensial itu, tak mungkinlah membantah filsafat idealisme sama sekali, seperti telah diuraikan di muka. Pengetahuan kita bahwa 2 + 2 = 4 adalah tentang pengetahuan realitas matematis tertentu. Tapi pengetahuan kita tentang realitas ini tak berarti bahwa kita memunculkan dan menciptakan realitas ini dalam jiwa kita – seperti penafsiran yang diusahakan oleh idealisme. Dalam wataknya, pengetahuan itu seperti kaca cermin. Cermin menunjukkan eksistensi real bentuk yang tecermin di dalam kaca tersebut berada di luar batas-batasnya; begitu juga pengetahuan, ia mengungkapkan realitas yang berdiri sendiri.

Karena, 2 + 2 = 4, baik di muka bumi ini ada ahli matematika atau tidak, baik realitas itu diketahui orang atau tidak. Artinya, bahwa prinsip- prinsip dan realitas-realitas matematis itu mempunyai realitas objektif. Itu adalah hukum-hukum yang operatif dan dapat diterapkan. Ilmu-ilmu matematis hanyalah cermin prinsip-prinsip dan realitas-realitas ini dalam akal pikiran manusia. Dalam hal itu, prinsip-prinsip dan realitas-realitas ini sangat persis seperti prinsip-prinsip dan hukum-hukum alam, dalam arti mereka adalah realitas-realitas yang objektif yang tecermin dalam akal-pikiran. Karena itu, Kita menghadapi pertanyaan tentang pencerminan mentalnya dan sejauh mana kebenaran dan akurasinya, sebagaimana pertanyaan itu kita hadapi juga dalam setiap ilmu. Bagi pertanyaan tersebut hanya ada satu jawaban. Yakni jawaban yang diajukan oleh doktrin rasional yang menyatakan bahwa karena pencerminan prinsip-prinsip matematis dalam akal manusia itu bersifat fitri dan niscaya, maka kebenarannya secara esensial pasti. Jadi, realitas-realitas matematis mungkin diketahui, bukan lantaran kita yang menciptakannya, tetapi karena kita yang merefleksikannya dalam ilmu-ilmu alam yang niscaya.

2. Kant menganggap hukum-hukum yang berakar dalam akal manusia sebagai hukum-hukum pikiran, bukan cerminan ilmiah hukum-hukum objektif yang menguasai alam secara umum, hukum-hukum itu tak lebih daripada sekadar hubungan-hubungan dalam akal secara fitri, dan digunakan pikiran untuk mengorganisasikan pengetahuan empirikalnya. Sudah dijelaskan bahwa kesalahan inilah yang menimbulkan pendapat relativitas realitas-realitas yang diketahui tentang dunia alam, dan pendapat tidak mungkinnya mempelajari metafisika secara rasional, dan tidak mungkinnya mendirikannya di atas dasar pengetahuan rasional fitri tersebut. Karena, pengetahuan ini hanyalah hubungan-hubungan, yang melalui ini akal mengorganisasikan pengetahuan empirikalnya. Dan kita tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang subjek-subjek metafisis, agar pengetahuan itu terorganisasikan dengan hubungan-hubungan tadi.

Mengikuti doktrin kritisisme ini, pasti membawa kita ke idealisme. Karena, jika pengetahuan primer dalam akal pikiran adalah hubungan-hubungan yang tak mandiri yang menanti suatu subjek untuk menampakkan diri di dalam subjek itu, bagaimana kita dapat beranjak dari konsepsi ke objektivitas, bagaimana pula kita dapat membuktikan realitas objektif bermacam-macam persepsi inderawi kita – yaitu gejala alam yang objektivitasnya diakui Kant? Kita tahu bahwa cara menetapkan realitas objektif persepsi inderawi adalah prinsip kausalitas yang menyatakan bahwa setiap reaksi empirikal itu pasti muncul dari suatu sebab yang menimbulkan reaksi tertentu tadi. Jika kausalitas, dalam konsep Kant, dinisbahkan kepada hubungan antara fenomena-fenomena empirikal, ia dengan sendirinya tak akan dapat melaksanakan apa pun selain mengungkapkan persepsi inderawi kita dan fenomena-fenomena yang tampak padanya. Dalam hal ini, kita berhak bertanya kepada Kant tentang justifikasi filosofisnya untuk menerima realitas objektif alam terinderai selama kita tidak memiliki pengetahuan fitri sempurna seperti prinsip kausalitas, agar dengan itu kita dapat membuktikan realitas tadi.

Tetapi kita hanya memiliki sejumlah hubungan dan hukum untuk mengorganisasikan pikiran dan pengetahuan.  Berdasarkan hal itu, realisme harus mengakui bahwa pengetahuan alami dalam akal pikiran adalah ungkapan ilmiah hukum-hukum objektif yang berdiri sendiri. Dengan itu, relativisme Kant yang dinisbahkannya kepada pengetahuan kita tentang alam, akan hilang. Karena, meskipun setiap pengetahuan dalam ilmu-ilmu alam membutuhkan pengetahuan alami tertentu yang atas dasar ini penyimpulan ilmiah ditarik dari eksperimen, tetapi pengetahuan alami itu bukan subjektif murni. Tetapi ia hanya cerminan alami hukum objektif yang berdiri sendiri yang terlepas dari batas-batas kesadaran dan pengetahuan.

Jadi, pengetahuan kita bahwa panas adalah sebab bagi pemuaian benda-benda logam, itu berdasarkan pada pengetahuan empirikal atau eksperimental tentang panas dan pemuaian, dan pada pengetahuan rasional niscaya tentang prinsip kausalitas. Kedua pengetahuan itu mencerminkan realitas objektif. Dan pengetahuan kita bahwa panas memuaikan benda-benda logam itu adalah hasil dari pengetahuan kita tentang dua realitas objektif dari kedua pengetahuan tersebut. Jadi, apa yang dikatakan oleh Kant sebagai “bentuk” bukan bentuk rasional pengetahuan murni. Tetapi ia adalah pengetahuan yang dicirikan oleh karakteristik-karakteristik ilmu, seperti pengungkapan esensial dan pencerminan realitas objektif dalam pengungkapan itu.

Jika kita mengetahui bahwa akal pikiran secara fitri memiliki pengetahuan niscaya tentang sejumlah hukum dan realitas objektif, maka kita akan mampu mendasarkan proposisi-proposisi metafisis di atas landasan filosofis dengan mempelajarinya berdasarkan pengetahuan niscaya tadi. Karena, pengetahuan itu bukan semata-mata hubungan-hubungan murni. Tetapi, ia adalah pengetahuan primer yang dapat memaujudkan pengetahuan baru dalam pikiran manusia.

Relativisme Subjektif
Setelah Kant, datanglah kaum relativis subjektif. Mereka adalah orang-orang yang yakin pada watak relatif dalam setiap yang tampak benar bagi manusia menurut peranan akal setiap individu dalam mencari kebenaran itu. Jadi, dalam konsep baru ini, kebenaran hanyalah sesuatu yang diniscayakan oleh kondisi-kondisi dan situasi-situasi untuk mengetahui. Karena situasi dan kondisi seperti itu berbeda pada masing-masing individu dan berbagai keadaan, maka kebenaran dalam setiap sesuatu adalah berkaitan dengan hal tertentunya, sesuai dengan situasi dan kondisi yang terkandung dalam sesuatu itu. Kebenaran bukanlah kesesuaian gagasan dengan realitas, sehingga gagasan itu menjadi mutlak berkenaan dengan setiap kasus dan individu-individu.

Memang relativisme ini membawa slogan realitas, tetapi slogan ini palsu. Jelas, relativisme ini tidak lain hanya salah satu dari doktrin-doktrin skeptisisme terhadap setiap realitas objektif. Relativisme subjektif ini ditopang oleh tendensi idealistik fisiologik yang berpendapat bahwa persepsi inderawi tidak lebih daripada lambang, dan bahwa yang menentukan kualitas dan jenisnya bukanlah sesuatu yang eksternal, tetapi watak sistem syaraf. Sebenamya, sebab pokok yang membuat dapat munculnya relativisme subjektif ini adalah penjelasan materialistik mengenai pengetahuan, dan menganggap pengetahuan sebagai mengandung proses material yang di dalamnya sistem syaraf yang mengetahui dan sesuatu yang objektif saling berinteraksi – seperti pencernaan yang terjadi melalui proses interaksi tertentu antara sistem pencernaan dan unsur-unsur nutritif. Jadi, sebagaimana makanan tidak berinteraksi (dengan sistem pencernaan) dan tidak tecerna kecuali dengan mengalami sejumlah perubahan dan perkembangan; demikian pula sesuatu yang kita ketahui tidak dapat kita ketahui kecuali setelah mengubah dan berinteraksi dengannya. Relativisme subjektif ini berbeda dengan relativisme Kant dalam dua hal:

Pertama, ia menundukkan segala realitas, tanpa kecuali, kepada relativitas subjektif; sementara Kant menganggap pengetahuan dan prinsip-perinsip matematis sebagai realitas (kebenaran) mutlak jadi baginya 2+2 = 4 adalah realitas mutlak yang tidak dapat diragukan. Menurut kaum relativis subjektif, ini adalah kebenaran nisbi, dalam arti ini terniscayakan oleh tak lain watak pengetahuan kita dan sistem tertentu kita.  Kedua, kebenaran nishi, bagi kaum relativis subjektif, berbeda-beda pada individu-individu. Bukanlah keharusan bagi semua orang untuk sama memiliki realitas-realitas tertentu. Karena, setiap individu memiliki peran dan aktivitas tertentu. Karena itu, tidaklah mungkin menilai bahwa apa yang diketahui oleh seseorang itu adalah juga yang diketahui oleh orang lain, selama perbedaan keduanya dalam metode dan watak pengetahuan adalah mungkin. Adapun bagi Kant, pola-pola formal adalah fitri. Semua akal pikiran manusia ikut serta di dalamnya. Karena itu, kebenaran relatif ada pada semua orang. Akan kita bahas masalah ini,[74] juga kesalahannya, dalam pembahasan kita tentang penjelasan materialistik mengenai pengetahuan yang menjadi landasan berdirinya relativisme subjektif.

Skeptisisme Ilmiah
Kita telah melihat bahwa skeptisisme yang tersebar di kalangan ilmuwan alam setelah kemenangan besar mereka di bidang fisika – bukan skeptisisme ilmiah – tidak pula berdasarkan bukti-bukti ilmiah. Ia adalah skeptisisme yang didasarkan pada kesalahan filosofis, atau pada krisis (kesulitan) kejiwaan. Namun, di bidang lain, kita mendapatkan teori-teori ilmiah yang dengan pasti mengarah kepada keragu-raguan, dan kepada pengukuhan pengingkaran terhadap pengetahuan manusia, meskipun sementara para pendukungnya tidak berpikir untuk mencapai hasil seperti itu. Mereka malah terus mempercayai nilai pengetahuan dan objektivitasnya. Karena itu, skeptisisme yang lahir dari teori-teori tersebut kita sebut sebagai “skeptisisme ilmiah”. Sebab, teori-teori ini ilmiah, atau, paling tidak, tampak ilmiah. Di antara teori-teori terpenting tersebut adalah: 1. Behaviourisme, yang menafsirkan ilmu jiwa berdasarkan fisiologi, 2. Doktrin psikoanalisisnya Freud,[75] 3. Materialisme-historis, yang membentuk pendapat-pendapat Marxisme mengenai sejarah.

Behaviourisme
Behaviorisme adalah salah satu aliran terkenal dalam ilmu jiwa yang berorientasi materialistik. Ia disebut behaviourisme karena menempatkan tingkah laku makhluk hidup dan gerak-gerik jasmaniahnya, yang dapat ditundukkan kepada observasi ilmiah dan eksperimen sebagai subjek ilmu jiwa. Ia menolak mengakui apa yang ada di balik observasi ilmiah, yaitu subjek-subjek non-empirikal seperti pikiran dan kesadaran. Ia juga berupaya menafsirkan psikologi manusia dan segenap kehidupan kejiwaan dan kesadarannya tanpa berasumsi bahwa manusia mempunyai pikiran dan ide-ide gaib serupa. Sebab, seorang ahli jiwa tidak mendapati dan mencerap secara ilmiah pikiran manusia-manusia lain ketika melakukan eksperimen-eksperimennya terhadap mereka. Ia hanya mencerap tingkah laku, gerak dan aktivitas-aktivitas fisiologi mereka. Karena itu, agar riset tersebut ilmiah, segala fenomena psikologis harus ditafsirkan dalam kerangka yang terinderai. Hal itu dilakukan dengan memandang manusia sebagai mesin yang fenomena dan geraknya dapat juga dijelaskan dalam kerangka metode mekanik dan berdasarkan prinsip kausasi rangsangan-rangsangan eksternal yang menuju ke mesin itu yang lantas mempengaruhinya. Jadi, menurut behaviourisme, ketika kita mempelajari gejala-gejala kejiwaan, kita tak mendapati pikiran, kesadaran atau pengetahuan. Kita hanya dihadapkan pada gerak dan aktivitas material fisiologik yang dihasilkan oleh sebab-sebab material eksternal atau internal. Nah, ketika kita katakan, misalnya, “Seorang guru sejarah berpikir tentang bagaimana mempersiapkan ceramahnya mengenai kepemilikan individual orang-orang Romawi”, kita sebenarnya mengungkapkan aktivitas dan gerak material dalam sistem syaraf yang secara mekanik ditimbulkan oleh sebab-sebab eksternal atau internal, seperti panasnya perapian di mana sang guru sejarah duduk di depannya, atau proses-proses pencernaan yang terjadi setelah ia menyantap makanan.

Dalam rangsangan-rangsangan terkondisikan, yang berdasarkan eksperimen-eksperimen Pavlov,[76] behaviourisme mendapatkan sandaran besar yang memungkinkan ia mempertegas banyaknya rangsangan yang diterima manusia “karena perkembangan dan pertambahan rangsangan-rangsangan tersebut melalui pengkondisian”, sehingga dapat dikatakan bahwa totalitas rangsangan alamiah dan terkondisikan sama dengan totalitas ide-ide dalam kehidupan manusia. “Bagaimanakah behaviourisme mengambil manfaat dari eksperimen-eksperimen Pavlov?” “Bagaimanakah rangsangan-rangsangan terkondisikan yang disingkapkan oleh eksperimen-eksperimen ini sehingga melipatgandakan jumlah rangsangan, sesuatu yang menjadi dasar penjelasan behaviourisme mengenai ide-ide manusia?” “Sejauh manakah eksperimen Pavlov dapat membuktikan sudut-pandang behaviouristik ini?” Hal ini akan kami jawab dalam bahasan khusus tentang pengetahuan. [77] Sekarang kami akan menjelaskan pandangan behaviourisme yang menundukkan kehidupan pemikiran manusia kepada penafsiran mekanik, dan memahami pikiran dan kesadaran sebagai aktivitas fisiologik yang dibangkitkan oleh berbagai faktor material.

Adalah jelas bahwa setiap upaya untuk membuat suatu teori pengetahuan berdasarkan behaviourisme semacam ini pasti mendatangkan sikap negatif terhadap nilai pengetahuan, dan penolakan terhadap nilai objektifnya. Pada gilirannya, setiap pembahasan mengenai sahnya ide ilmiah atau doktrin filosofis atau pendapat sosial ini atau itu, akan menjadi percuma dan tak beralasan. Sebab setiap ide, bagaimanapun watak atau wilayah ilmiah, filosofis atau sosialnya, tidak mengungkapkan sesuatu pun, selain keadaan-keadaan tertentu yang terjadi di dalam badan para pemilik ide itu sendiri. Karena itu, kita tidak dapat mempertanyakan secara filosofis mana yang benar di antara dua filsafat ini: Apakah materialismenya Epicurus[78] atau teologinya Aristoteles. Kita juga tidak dapat mempertanyakan secara ilmiah: Mana yang benar di antara kedua hal ini: Ide Newton[79] yang menyatakan bahwa alam harus dijelaskan dalam kerangka konsep gravitasi, atau relativitas umumnya Einstein, [80] pemikiran ekonominya Marx atau Ricardo, [81] misalnya. Hal yang sama juga berlaku dalam segala bidang. Sebab pertanyaan-pertanyaan kita itu, dalam pandangan behaviourisme, mirip dengan pertanyaan tentang proses pencernaan dua pemikir, mana yang benar di antara dua proses itu? Karena, tidak benar kita pertanyakan: Proses mana yang benar, apakah proses pencernaannya Epicurus, Newton, dan Marx, atau Aristoteles, Einstein dan Ricardo. Maka tidak benar pula kita pertanyakan: Doktrin atau ide siapa yang benar. Alasannya, ide-ide para pemikir itu, seperti proses pencernaan yang berbeda-beda dalam perut mereka, hanyalah fungsi-fungsi jasmani dan aktivitas-aktivitas organik. Karena itu, kalau aktivitas perut dalam proses pencernaan itu dapat mengungkapkan kepada kita kualitas makanan, dan dapat menggambarkan watak makanan, maka aktivitas urat syaraf dalam otak pun dapat mencerminkan beberapa realitas luar. Dan selama kita tidak boleh mempertanyakan apakah aktivitas perut itu benar atau bohong selama itu pula kita tidak boleh mempertanyakan apakah aktivitas pemikiran itu benar atau palsu.

Kita juga mengetahui dengan jelas bahwa ide dalam aliran behaviourisme, berhubungan dengan rangsangan-rangsangannya, bukan dengan bukti-buktinya. Karenanya, hilanglah kepercayaan aliran behaviourisme terhadap setiap pengetahuan manusia, sebab ide dapat berganti-ganti dan disusul oleh ide yang kontradiktif, jika rangsangan-rangsangan dan kondisi-kondisi luarnya berbeda. Karena itu, adalah sia-sia bagi seorang pemikir untuk membahas ide dan bukti-buktinya. Sebagai gantinya, ia harus menelaah rangsangan-rangsangan material ide tersebut dan hilangnya rangsangan-rangsangan itu. Jadi, misalnya, jika ide itu timbul karena panasnya perapian di dalam kamar yang di dalamnya pemikir berpikir, dan karena proses pencernaannya sedang berlangsung, maka satu-satunya jalan untuk menghilangkan ide tadi adalah mengubah udara kamar dan menghentikan proses pencernaan tersebut. Dengan demikian, pengetahuan manusia menjadi sia-sia, omong kosong, tanpa nilai objektif.




Freud
Doktrin psikoanalisis Freud merekam kesimpulan-kesimpulan yang sama dengan yang diperoleh behaviourisme yang berhubungan dengan teori pengetahuan. Meskipun doktrin Freud tidak mengingkari pikiran, tetapi ia membagi pikiran menjadi dua kelompok. Pertama, unsur-unsur sadar, yaitu sekumpulan ide, emosi dan keinginan yang kita rasakan di dalam diri kita. Kedua, unsur-unsur bawah sadar pikiran, yakni selera dan instink yang tersembunyi di balik kesadaran kita. Ini adalah kekuatan mental yang tertancap dalam di dalam diri kita. Kita tidak mungkin mengontrol aktivitas-aktivitasnya atau berpendapat tentang formasi dan perkembangannya. Setiap anasir sadar bersandar pada anasir bawah sadar tersebut yang tidak kita sadari. Tingkah laku sadar seseorang hanyalah refleksi terdistorsi dari selera dan dorongan-dorongan di dalam bawah sadar. Jadi sadar itu datang dari bawah sadar, sehingga para pendukung psikoanalisis dapat berkata bahwa bawah sadarlah yang menentukan kandungan-kandungan sadar, dan pada gilirannya menguasai setiap ide dan tingkah laku manusia. Berdasarkan itu, selera instinktif kita menjadi dasar hakiki bagi apa yang kita yakini sebagai kebenaran. Proses penalaran, yang membawa kita kepada kesimpulan-kesimpulan yang sudah diterakan pada kita oleh selera dan instink kita, hanyalah pengangkatan instink tersebut ke wilayah sadar yang membentuk bagian tertinggi dari pikiran. Sebaliknya, anasir tak sadar, atau selera dan instink yang tersembunyi, membentuk bagian bawah atau dasar dari pikiran,

Dengan mudah kita dapat mengetahui pengaruh doktrin analitik ini terhadap teori pengetahuan. Dalam pandangannya, pikiran bukanlah sarana untuk mengubah alam aktual atau untuk melahirkan event-event yang real. Tetapi tugasnya adalah mengekspresikan tuntutan-tuntutan bawah sadar, dan tentu saja mencapai hasil-hasil yang diberikan selera dan instink kita dan yang tersembunyi di dalam maujud terdalam kita. Kalau pikiran merupakan alat yang melayani maksud instink kita dan mengekspresikannya, bukan realitas atau aktualitas, maka tak ada sesuatu pun untuk menopang keyakinan bahwa pikiran mencerminkan realitas. Karena realitas dapat berbeda dengan keinginan bawah sadar kita yang mengatur pikiran. Akan mustahil pula untuk memikirkan bagaimana memberikan jaminan tentang persesuaian antara kekuatan mental bawah sadar kita dan realitas. Karena, pemikiran semacam itu sendiri merupakan produk keinginan bawah sadar kita dan ungkapan tentangnya, bukan produk aktualitas atau realitas.

Materialisme Historis
Materialisme historis datang, dan sekali lagi mencapai kesimpulan yang sama dengan kesimpulan behaviourisme dan psikoanalis. Meskipun semua pendukung materialisme historis menolak skeptisisme dan menerima secara filosofis nilai pengetahuan dan kemampuannya dalam mengungkapkan realitas. Materialisme historis juga mengungkapkan konsep Marxisme yang sempurna tentang sejarah, masyarakat dan hukum-hukum susunan serta perkembangan masyarakat. Karena itu, materialisme historis memperlakukan ide-ide dan pengetahuan umum manusia sebagai suatu bagian dari susunan masyarakat manusia. Ia lantas mengemukakan pendapatnya tentang cara muncul berbagai kondisi politis dan kemasyarakatan.

Ide pokok materialisme historis adalah bahwa kondisi ekonomi yang ditentukan oleh sarana produksi adalah asas real masyarakat dengan segaia seginya. Karena itu, segala fenomena kemasyarakatan timbul dari kondisi ekonomi, dan berkembang mengikuti perkembangan ekonomi. Di Inggris misalnya, ketika keadaan ekonomi berubah dari feodalisme ke kapitalisme, dan mesin giling uap menggantikan mesin giling angin, berubahlah semua kondisi kemasyarakatannya, dan beradaptasi dengan kondisi ekonomi baru itu.

Setelah mempercayai itu, adalah wajar kalau materialisme historis menghubungkan pengetahuan manusia secara umum dengan kondisi ekonomi juga, karena pengetahuan adalah bagian dari struktur masyarakat yang semuanya bergantung pada faktor ekonomi. Karena itu, kita dapati ia menyatakan bahwa pengetahuan manusia bukanlah lahir dari aktivitas fungsional otak saja. Tetapi sebab utamanya adalah keadaan ekonomi. Jadi, pikiran manusia adalah cerminan mental dari kondisi ekonomi dan hubungan-hubungan yang dilahirkan oleh kondisi seperti itu. Maka pikiran manusia tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi dan hubungan itu.

Adalah mudah untuk melihat di sini bahwa kekuatan ekonomi, dalam materialisme historis menduduki posisi yang sama dengan posisi unsur-unsur bawah sadar, yaitu instink dan selera dalam teori Freud. Jadi, kalau pikiran bagi Freud pasti adalah ekspresi tuntutan instink dan selera yang tersembunyi, maka dalam materialisme historis, ia adalah ekspresi tuntutan kekuatan ekonomi dan kondisi ekonomi pada umumnya. Tetapi dalam keduanya, hasilnya adalah sama. Yakni tidak adanya kepercayaan kepada pengetahuan, dan tidak adanya kepercayaan kepada nilai pengetahuan, karena pengetahuan adalah sarana bagi pemenuhan tuntutan suatu kekuatan yang kuat yang menguasai pikiran, yaitu kekuatan bawah sadar, atau kekuatan kondisi ekonomi. Kita tidak tahu apakah kondisi ekonomi itu memberi pikiran kita realitas atau sebaliknya. Bahkan jika tahu tentang hal ini, pengetahuan ini pada gilirannya akan juga merupakan ekspresi baru tuntutan-tuntutan kondisi ekonomi. Tetapi belum kita yakini hubungan pengetahuan seperti itu dengan aktualitas.

Dengan demikian, kita tahu bahwa doktrin sejarah Marxis menimbulkan skeptisisme Marxis. Namun Marxisme menolak untuk memberi jalan kepada skeptisisme. Sebagai gantinya ia menyatakan dalam filsafatnya bahwa ia menerima pengetahuan dan nilainya. Kami akan mengemukakan teori pengetahuan menurut filsafat Marxisme. Di sini kami hanya ingin menunjukkan bahwa hasil-hasil pasti doktrin sejarah Marxisme – materialisme historis – bertentangan dengan teori filosofis Marxisme tentang pengetahuan. Karena, hubungan yang pasti antara pikiran dan faktor ekonomi dalam doktrin sejarah Marxisme menghilangkan kepercayaan terhadap setiap pengetahuan manusia, berbeda dengan teori pengetahuan Marxisme yang justru menguatkan kepercayaan tersebut, seperti akan kita lihat nanti.

Sekarang kami tidak akan membantah teori tersebut behaviourisme, bawah sadar dan materialisme historis. Kami akan membantah behaviourisme dan khazanah “ilmiah”-nya – eksperimen-eksperimen Pavlov dalam pembahasan kami tentang pengetahuan.[82] Dan kami dapat membuktikan bahwa keterangan behaviourisme tentang pikiran tidak dapat diterima juga, hal itu telah kami bahas dan kritik secara ekstensif dalam Iqtishaduna (Ekonomi Kita) tentang materialisme historis ini karena ia adalah asas ilmiah ekonomi Marxisme. Kami sampai pada kesimpulan yang menunjukkan kelemahan kandungan filosofis dan ilmiah materialisme historis dan beberapa kontradiksi antara materialisme historis dan arah gerak sejarah dalam kehidupan aktual. Adapun teori psikoanalisnya Freud telah kita bahas dalam Mujtama’una (Masyarakat Kita).

Jadi, di sini kami tidak bermaksud mendiskusikan teori-teori tersebut dalam kaitannya dengan bidang-bidang tertentunya. Kami hanya membicarakannya sekadar sejauh berhubungan dengan teori pengetahuan.  Dalam batas-batas hubungan antara teori-teori tersebut dengan teori pengetahuan, kami dapat mengatakan bahwa hujjah oleh teori ilmiah yang menolak pengetahuan manusia dan nilai objektifnya mengandung kontradiksi, dan pada gilirannya mengandung-kemustahilan yang gamblang. Sebab, teori ilmiah, yang mengajukan penentangan terhadap pengetahuan manusia dan untuk maksud menghilangkan kepercayaan terhadapnya, juga menolak dirinya sendiri, menghancurkan asasnya, dan menggugurkannya. Karena, ia hanyalah merupakan satu bagian dari pengetahuan yang ditolaknya dan nilainya diingkarinya. Karena itu, adalah mustahil mengambil suatu teori ilmiah sebagai bukti bagi skeptisisme filosofis dan sebagai pembenar pelepasan pengetahuan dari nilainya.

Jadi, teori behaviourisme menggambarkan pikiran sebagai keadaan material yang terjadi di dalam tubuh pemikir karena sebab-sebab material, sebagaimana keadaan tekanan darah terjadi di dalam tubuhnya. Karena itu, teori behaviourisme melepaskan pikiran dari nilai objektifnya. Namun, teori itu, dari pandangan behaviourisme sendiri, tak lain adalah keadaan tertentu yang terjadi di dalam tubuh para pendukung teori itu sendiri, dan tidak mengekspresikan apa pun selain itu saja.

Begitu pula, teori Freud adalah bagian dari kehidupan mental sadarnya. Maka, jika benar bahwa kesadaran adalah ekspresi terdistorsi kekuatan-kekuatan dan hasil pasti penguasaan kekuatan-kekuatan tersebut atas psikologi manusia, maka teori Freud itu kehilangan nilainya. Sebab, dalam pandangan ini, ia bukan sarana untuk mengekspresikan realitas. Ia adalah ekspresi selera dan instink Freud yang tersembunyi di dalam bawah sadar. Demikian pula materialisme historis yang menghubungkan pikiran dengan kondisi ekonomi, dan pada gilirannya menjadikan dirinya sebagai produk kondisi ekonomi tertentu di masa hidup Marx, dan tecermin dalam pikiran sebagai ekspresi tuntutan-tuntutannya berkenaan dengan konsep-konsep materialisme historis. Karena itu, materialisme historis pasti berubah sesuai dengan perubahan kondisi ekonomi.

Sumber:  Sayyid Muhammad Baqir as Shadr,
FALSAFATUNA
Penerjemah : M. Nur Mufid bin Ali
Penerbit : Mizan
Tahun Penerbitan : Jumada Al-Awwal 1415/Oktober 1994


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar