Senin, 02 Maret 2015

Tuhan, Sains, dan al Qur'an





Radar Banten, 22 Agustus 2014

Siapa sangka, banyak ayat-ayat al Qur’an yang ternyata dibenarkan oleh sains, yang tak ragu lagi, telah mengakhiri era “permusuhan” antara Sains dan Agama, atau antara Sains dan Wahyu, contohnya ayat Al Qur’an dalam Surah Al Anbiya: “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya” (Al Qur’an Surah Al-Anbiya: 30). Kita juga sudah maphum bahwa ada ayat-ayat suci yang diwahyukan, yaitu al Qur’an, dan ada ayat-ayat kauniyah (wujud alam semesta dan hidup kita sendiri) yang menjadi ayat atau tanda alias dalil dan hujjah yang dapat kita pikirkan, kita jadikan tamsil dan ibrah. Sebagaimana dapat kita komparasikan dalam khazanah tafsir dan linguistic, kata “kaafir” dalam ayat al Qur’an itu juga bermakna sebuah penyebutan bagi orang-orang yang “tertutup” atau orang-orang yang mengingkari.

Berakhirnya Pertentangan

Dan memang, ada suatu zaman ketika sains menjadi musuh keyakinan agama –dan zaman itu sayangnya sudah berlalu! Fisika dan kosmologi modern (sains mengenai awal-mula dan perkembangan alam semesta) kini menyediakan bukti objektif kuat tentang eksistensi Tuhan, mengkonfirmasikan atribut utama Tuhan, dan menunjukkan bagaimana Tuhan menciptakan eksistensi fisik dari ‘kenihilan/ketiadaan’. Pengetahuan ini berasal dari analisis kritis atas teori ‘Big Bang’, Teori Relativitas Khusus Einstein, dan penelitian yang tengah dilakukan dalam Fisika Quantum. Konsep dibalik pengetahuan ilmiah esoterik ini sekarang dapat disampaikan sedemikian rupa, sehingga dipahami setiap orang yang berpendidikan modern.

Berdasarkan itu, pertama, kita sekarang tahu berdasarkan teori-teori kosmologi yang diterima luas bahwa alam semesta fisik yang kita lihat hari ini diciptakan dari ketiadaan (artinya tanpa waktu, tanpa ruang, dan tanpa materi). Kedua, kita juga tahu bahwa permulaan penciptaan alam semesta terjadi melalui cahaya yang menjelma pada singularitas (satu titik tanpa dimensi). Ketiga, kita tahu bahwa materi alam semesta fisik dilahirkan oleh photon-photon (paket-paket kecil energi cahaya) yang ketika bertubrukan satu sama lain membentuk proton, neutron, dan elektron dalam jumlah tak terhingga, yang dalam beragam kombinasi menyusun segala sesuatu di dunia fisik kita. Keempat, pada esensinya kita sekarang bisa mengatakan secara tepat bahwa semua materi alam semesta fisik, termasuk diri kita, sebenarnya adalah cahaya yang melambat.

Kelima, kita jadi tahu bahwa ruang yang memuat alam semesta fisik kita sedang mengembang/meluas. Konsep ini begitu asing bagi pikiran manusia, hingga sebelum Albert Einstein mengembangkan Teori Relativitas Umum-nya di awal abad 20, tak pernah terpikir oleh pemikir-pemikir besar dunia, namun telah dinyatakan dalam Al-Quran lebih dari 1400 tahun lalu saat Allah mengatakan pada kita, “Aku memperluas alam semesta dengan kekuasaan-Ku.” Bahkan Einstein begitu terheran oleh temuannya sendiri sehingga dia memalsukan datanya untuk menunjukkan alam semesta yang tidak mengembang, karena dia cukup paham bahwa alam semesta yang mengembang mengimplikasikan suatu momen penciptaan alam semesta di masa sangat lampau. Belakangan Einstein dikabarkan memeluk Islam Syi’ah sebelum akhir hayatnya setelah berkorespondensi dengan ‘Ulama Syi’ah Islam dan membaca ihwal Isra Mi’raj Nabi Muhammad dan menelaah perkataan-perkataan intelektualnya Imam Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah.

Keenam, Teori Relativitas Khusus Einstein (yang sebenarnya dia sebut sebagai Teorema Absolutisme, sebab dia menyadari dirinya telah menemukan satu hal yang absolut di alam semesta relatif) adalah tentang sifat-sifat istimewa cahaya. Ketujuh, Teori Relativitas Khusus memungkinkan pandangan objektif pertama kita mengenai sesuatu yang eksis di luar dunia materil. Dengan demikian, kita boleh jadi telah menemukan sesuatu saat kita memperoleh pandangan pertama kita di luar dunia materil, tapi yang kita temukan sungguh luar biasa. Kita ketahui Teori Relativitas Khusus Einstein menunjukkan kepada kita bahwa eksistensi non-materil di luar dunia fisik hanya terdiri dari absolut-absolut, dan beberapa dari absolut itu luar biasa mirip dengan pandangan setiap agama sebagai atribut-atribut utama Tuhan.

Untuk dapat menerangkan dan menjelaskannya kepada kita semua, ada baiknya kita paparkan sejumlah contoh berikut. Contoh Satu: Ketika kecepatan cahaya (300.000 km/detik) tercapai, maka waktu melambat, dan pada kecepatan cahaya, waktu tidak berlalu. Artinya, bagi photon cahaya yang berjalan pada kecepatan cahaya, waktu tidak berlalu. Oleh sebab itu, photon berada di luar waktu, dan “kekal”. Contoh Dua: Karena waktu tidak berlalu bagi photon cahaya, dan bahwa photon bisa diamati di berbagai tempat di ruang, maka photon cahaya berada di tempat berbeda-beda tersebut secara serempak pada saat yang sama, dan oleh sebab itu “ada di mana-mana”. Contoh Tiga: Karena setiap bit materi di alam semesta fisik terlahir oleh energi cahaya, dan bahwa energi cahaya secara konstan menopang dan mengarahkan aktivitas setiap bit materi dalam eksistensi fisik, maka tak ada kekuatan selain kekuatan cahaya, energi cahaya adalah satu-satunya kekuatan yang eksis, dan oleh sebab itu “mahakuasa”. Contoh Empat: Karena semua pengetahuan yang eksis, yang pernah eksis, atau yang akan eksis, disimpan oleh energi cahaya dan ditransmisikan melalui energi cahaya, maka tak ada pengetahuan selain yang terkandung pada cahaya, dan oleh sebab itu “mahatahu”.

Cahaya dan Wujud Fisik

Selain itu, dan ini penting direnungkan dan dipahami oleh kita, cahaya sebetulnya tidak eksis dalam eksistensi fisik walaupun kita dapat melihatnya. Begitu Anda mendekati kecepatan cahaya, salah satu dari tiga dimensi (panjang, tinggi, atau tebal), yang sejajar dengan arah gerakan, secara progresif menjadi berkurang, dan pada kecepatan cahaya, dimensi tersebut menjadi nol. Untuk menentukan volume, kita mengalikan tinggi x lebar x panjang, tapi bila salah satu dari tiga dimensi itu bernilai nol, maka volume pun nol, dan berarti tidak eksis di alam semesta materil. Cahaya tidak menempati volume ruang dan oleh sebab itu tidak eksis di alam semesta fisik. Dan, meski segala sesuatu di alam semesta fisik memiliki massa lebih besar dari nol, yang menjadi ciri khas eksistensi di dunia materil, cahaya tidak punya massa sama sekali. Ketika Anda mendekati kecepatan cahaya, massa bertambah; pada kecepatan cahaya, massa adalah tak terhingga. Tak peduli sekecil apapun jumlah massa saat Anda memulai, massa tersebut bertambah menjadi tak terhingga pada kecepatan cahaya. Karena photon berjalan pada kecepatan cahaya dan tidak mencapai massa tak terhingga, artinya ia punya massa nol saat memulai, dan oleh sebab itu cahaya sebetulnya tidak eksis di dunia materil.

Dalam eksistensi fisik, segala sesuatu adalah relatif; eksistensi absolut atau non-eksistensi dari kualitas tertentu tidak dan tidak bisa diekspresikan, segala sesuatu eksis di antara dua ekstrim continuum tersebut dari ekspresi absolut ke non-ekspresi absolut. Meskipun demikian, kita menemukan bahwa di luar eksistensi materil, semua kualitas eksis dalam status tak terhingga atau tidak eksis sama sekali, tidak ada yang di antaranya. Nilai penting dari temuan ini adalah bahwa semua itu merobohkan pendapat bahwa alam semesta fisik eksis sebagai sejumlah partikel material tetap yang digerak-gerakkan oleh satu set hukum fisik tetap. Pemahaman keliru atas eksistensi fisik inilah yang membentuk dasar filsafat materialisme ilmiah. Filsafat materialisme-lah, terutama materialisme sekuler, yang membolehkan keyakinan kepada Tuhan ditantang kuat oleh kaum atheis (kafir) dalam beberapa ratus tahun belakangan, kurang lebih sejak masa Sir Isaac Newton.

Tidak lagi mungkin secara intelektual ataupun masuk akal secara logika, dipandang dari sudut temuan fisika dan kosmologi modern, untuk mempertahankan pandangan atheis (bahwa Tuhan itu tidak ada). Satu-satunya kesimpulan yang masuk akal secara logika dan jujur secara intelektual yang dapat ditarik dari temuan sains modern adalah bahwa Tuhan memang ada, bahwa atribut-atribut Tuhan adalah absolut, dan bahwa Tuhan memang menciptakan alam semesta fisik (termasuk kehidupan manusia). Kita kini berada di awal titik transisi dari pandangan materialistik sekuler menuju pandangan spiritual berpusatkan Tuhan dan kerendahan hati sebagai manusia, entah sebagai agamawan atau ilmuwan.

Sains dan Mistik

Sebagai tambahan, ada hal menarik yang ternyata memberi kita perspektif baru yang segar yang dipaparkan Peter Russell, sang ilmuwan dan matematikawan, yang dalam pengakuannya itu menyatakan inspirasi sainsnya justru ketika berkenalan dengan tasawuf. Peter Russell menulis bahwa puisi-puisi dan renungan para sufi ternyata mengajak kita untuk merenungi ayat-ayat kauniyah dan diri kita sendiri, seperti ketika Peter Russell menyitir kata-katanya Ibn Arabi, “Jika engkau mengenali diri engkau sendiri, engkau akan mengetahui Tuhan”. Menurutnya, renungan dan refleksi puitik Ibn Arabi itu mengajak kita untuk memikirkan dan merenungi diri kita sendiri sekaligus semesta dan hidup di sekeliling kita.

Dan sebagai penutup, tak ada salahnya kita merenungkan ilustrasi berikut, ‘Seorang astronot dan seorang ahli bedah otak pernah berdiskusi tentang agama, ahli bedah itu seorang Kristen dan seorang astronot tersebut adalah orang yang tidak beragama. Sang astronot pun berkata: “Saya pergi keluar angkasa berkali-kali tapi tidak pernah melihat Tuhan dan Malaikat”. Mendengar perkataan seperti itu sang ahli bedah otak pun berkata: “Dan aku mengoperasi banyak otak cemerlang, namun aku tidak pernah menemukan satu pikiran pun.” Dari perkataan sang ahli bedah otak itu menunjukkan bahwa bukan berarti pikiran itu tidak ada walaupun setiap waktu manusia menggunakan pikirannya, meski tak pernah sekali pun kita melihat wujud dari pikiran itu sendiri, pikiran bukanlah materi yang terlihat. Andaikata pikiran adalah materi, maka pikiran itu bisa dipecah-pecah menjadi bagian-bagian yang paling kecil seperti layaknya benda atau zat. Pisau yang bagaimana yang dapat memecah pikiran kita? Tidak ada tentunya. Begitu juga dengan perkataan sang astronot itu tidak membuktikan kalau Tuhan dan Malaikat tidak ada melainkan tidak terlihat karena bukan materi. Sejauh apapun Astronot menjelajahi ruang angkasa, pasti tidak akan pernah menemukan malaikat apalagi Tuhan’.

Setidak-tidaknya, ilustrasi di atas sesuai dengan bunyi ayat al Qur’an, “Dan tatkala Musa datang untuk pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa, Yaa Tuhanku, tampakkanlah kepadaku agar aku melihat kepada Engkau, Tuhan berfirman, kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihatKu. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikanNya gunung itu hancur luluh dan Musa-pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali dia berkata: Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman” (al Qur’an Surah al A’raaf: 143).

Sulaiman Djaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar