Selasa, 21 Juli 2015

Baqir Shadr Sang Filsuf Bainan Nahrain





Oleh Farhanna Fa’izzat

Wacana yang berkembang di dunia Islam dewasa ini telah memberi tanggapan (counter) terhadap pemikiran Barat. Namun, sebelum abad ke-20, untuk menangkis pemikiran Barat, para pemikir Islam lebih banyak berapologi. Ini adalah akibat tertutupnya pintu ijtihad serta ceteknya kajian falsafah mengenai pemikiran Barat di kalangan pemikir-pemikir Islam.

Muhammad Baqir Ash-Shadr adalah diantara sedikit dari tokoh-tokoh Islam yang mampu berbicara dengan fasihnya pemikiran-pemikiran Barat. Kesan apalogi yang selama ini melekat pada pemikir Islam, ditepisnya dengan kejernihan dan kecerdasan pemikirannya. Selain itu, tentu saja, Ash-Shadr begitu akrab dengan karya-karya pemikir Islam klasik maupun modern.

Dalam waktu yang sama, Ash-Shadr juga begitu paham pemikiran-pemikiran Barat yang berkembang. Dalam karyanya yang terkenal, yaitu Falsatuna dan Iqtishaduna, ia dengan fasihnya mengutarakan kritikan-kritikan terhadap pemikiran para pemikir Barat seperti Karl Marx, Descartes, John Locke dan lain-lain.

Falsafatuna dan Iqtishaduna telah melambungkan Muhammad Baqir Ash-Shadr sebagai pemikir kebangkitan Islam terkemuka. Sistem falsafah dan ekonomi alternatif ini disempurnakan melalui masyarakat dan institusi. Dalam Falsafatuna dan Iqtishaduna, Baqir Shadr mengemukakan kritik yang serius terhadap aliran Marxisme dan Kapitalisme. Buku ini baik dari segi sturuktur maupun metodologi, tak diragukan lagi merupakan sumbangsih paling serius dan paling banyak dipuji dalam bidangnya.

Muhammad Baqir As-Sayyid Haidar Ibn Ismail Ash-Shadr, seorang sarjana, ulama, guru dan tokoh politik, lahir di Kazimain, Baghdad, Irak pada 25 Dzulqa’dah 1353 H/1 Maret 1935 M dari keluarga beragama yang religius dan masyhur. Pada usia empat tahun, Muhammad Baqir Ash-Shadr kehilangan ayahnya, dan kemudian diasuh oleh ibunya dan saudara kandungnya, Ismail, yang juga seorang mujtahid terkenal di Irak.

Ash-Shadr menunjukkan tanda-tanda kecerdasan dan kejeniusannya semenjak usia kanak-kanak. Pada usia sepuluh tahun, Ash-Shadr berceramah tentang sejarah Islam, dan juga tentang beberapa aspek lain mengenai budaya Islam. Ash-Shadr mampu menangkap isu-isu teologikal yang sulit dan bahkan tanpa bantuan seorang guru pun. Ketika usia sebelas tahun, Ash-Shadr mengambil pendidikan logika (manthiq), dan menulis sebuah buku yang mengkritik para filsuf.

Pada usia tiga belas tahun, datuknya mengajarkan kepadanya Ushul ‘Ilm al-Fiqh. Pada usia sekitar enam belas tahun, Ash-Shadr pergi ke Najaf untuk menuntut pendidikan yang lebih baik dalam berbagai cabang ilmu-ilmu Islam. Sekitar empat tahun kemudian, Ash-Shadr menulis sebuah ensiklopedia tentang Ghayat Al-Fikr fi al-Ushul (Pemikiran Puncak dalam Ushul Fiqh). Dengan prestasi-prestasi ini, Ash-Shadr menjadi seorang mujtahid pada usia tiga puluh tahun.

Sebagai salah seorang pemikir yang paling terkemuka, Ash-Shadr melambangkan kebangkitan intelektual yang berlangsung di Najaf antara 1950-1980. Ciri lain yang jelas dari kebangkitan itu adalah dimensi politiknya, dan saling pengaruh antara apa yang terjadi di lorong gelap dan sekolah tinggi berdebu Najaf, dan Timur Tengah pada umumnya.

Ketika peristiwa hukuman mati Ash-Shadr bersama saudara perempuannya yang bernama Bint Al-Huda pada 8 April 1980 oleh pemerintahan Saddam (yang disokong Amerika), tak ragu lagi merupakan titik puncak tantangan terhadap Islam di Irak khususnya dan dunia muslim umumnya. Dengan meninggalnya Ash-Shadr, Irak khususnya dan dunia Islam sebenarnya telah kehilangan intelektual Islamnya yang paling cemerlang. Dan, reputasinya semenjak itu diakui di berbagai kalangan masyarakat. Namanya telah melintasi Mediteranian, ke Eropa dan Amerika Serikat.

Pada 1981, Hanna Batatu, dalam sebuah artikel di Middle East Journal di Washington, menunjukkan kepada kita betapa pentingnya Ash-Shadr kepada gerakan intelektual dan Islamiyyah di Irak khususnya dan dunia Islam umumnya. Pada 1984, Istishaduna diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, disertai dengan mukaddimah panjang mengenal biografi Ash-Shadr oleh seorang orientalis muda Jerman.

Bagi kita, tidak mungkin untuk kita mengabaikan nilai signifikan dan asas (dasar-dasar Islam modern yang sekaligus tidak meninggalkan fondasi klasiknya) yang dibentuk oleh Muhammad Baqir Ash-Shadr ini dalam kebangkitan terhadap gerakan politik Islam, khususnya di negara yang terletak antara dua sungai, Bainan Nahrain, Irak dewasa ini. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar