Jumat, 16 Januari 2015

Pesan Abadi dari Gurun Nainawa





Kebaikan yang utama adalah menolong orang-orang yang tertindas” (Imam Musa al Kadhim as)

Apa yang sedang anda baca ini adalah kisah figur agung yang kebangkitannya tidak ada bandingannya dalam catatan sejarah. Sebuah revolusi dengan tujuan yang sangat agung, sebuah kemenangan yang merasuk dalam dan sejatinya adalah sebuah keputusan reformasi melawan penaklukan. Kisah Imam Husain, cucu dari Nabi Islam, dan perjuangannya yang abadi. Setelah dalam tahun-tahun kekuasaan tirani yang tidak adil, cahaya Islam menjadi redup dan dijaga nyalanya oleh hanya sebagian kecil orang yang setia. Agama menjadi alat belaka di tangan penguasa lalim yang mengangkangi ajarannya yang agung dan prinsip-prinsip mulianya.

Hidup di tengah dominasi sosial dari korupsi, dengan hukum dan kekayaan di tangan elit, komunitas muslim menjadi pasif dan tidak peduli dengan kesulitan yang akan dihadapi. Walau keruntuhan masyarakat terjadi dengan cepat, satu ganjalan tetap berada di tengah-tengah jalan rejim penuh dosa dan menghalanginya untuk mencapai tujuan dangkalnya. Rejim lalim ingin memperkuat kendali kekuasaannya atas umat Islam dengan mendapatkan legitimasi dari Ahlulbait Nabi, yang dianggap oleh kalangan umum saat itu sebagai perwujudan ajaran hakiki Islam. Tetapi harapan ini tetap hampa, walaupun tekanan-tekanan hebat diberikan kepada mereka, Ahlulbait Nabi tetap tegas dalam melawan ketidakadilan penguasa.

Di tengah masa kemerosotan etika sosial, Imam Hasan, kakak Imam Husain, mengadakan pertemuan rutin di Madinah, kota kakeknya, Rasulullah. Dalam pertemuan tersebut dia mengungkapkan keluhan masyarakat dan menyampaikan kepada mereka ajaran-ajaran Islam, menjelaskan hak-hak asasi dan hak kemerdekaan mereka. Dengan cara ini, kelompok khusus yang terdiri dari muslim yang saleh terbentuk berdasarkan keyakinan teguh akan perlunya spiritualitas dan keadilan di masyarakat, menggunakan pena, dan menyarungkan pedang, untuk mewujudkan reformasi.

Sebelum kematiannya, Imam Hasan menunjuk Imam Husain sebagai orang yang menjaga urusan komunitas Islam. Dengan ini, dia mengikuti perintah Nabi saw yang terkenal: ”Hasan dan Husain keduanya adalah pemimpin, apakah mereka sedang melakukan perlawanan (berdiri) ataupun tidak (duduk).” Imam Husain meneruskan upaya Imam Hasan yang kesyahidannya karena diracun Muawwiyah tidak meninggalkan kekosongan dari usaha menegakkan persamaan dalam kesalehan, pengetahuan dan kebijaksanaan.

Dengan kematian ayahnya, Yazid bin Muawwiyah mengambil alih kendali kekuasaan dan mengangkat dirinya sebagai pimpinan kerajaan Islam –Islam disimpangkan menjadi dinasti despotik dan tiran oleh mereka dan para penjilat mereka yang kebanyakan juga haus kekuasaan dan munafik. Karakter Yazid adalah seorang yang brutal dan kejahatannya tak mengenal batas. Dengan keterbukaan dia melakukan kemaksiatan dalam bentuk perzinahan, insest dan minum khamar yang melampaui batas, yang jelas kontradiktif dengan ajaran Islam. Yazid menunjukkan dirinya sebagai produk akhir dari keluarga yang memiliki akar permusuhan yang mendalam terhadap Islam.

Tidak seperti pendahulunya, Yazid tidak menggunakan kelihaian politik ataupun kehati-hatian ayahnya. Di antara tindakan nyata yang dilakukannya sebagai pimpinan despotik adalah memaksa baiat dari Imam Husain, yang dia tahu sekali bahwa penerimaan dari seluruh komunitas muslim tidak akan berarti tanpa penerimaan Imam Husain –terutama di kalangan masyarakat Madinah. Dalam jawabannya untuk menolak permintaan tersebut, Imam Husain dengan penuh keagungan menjawab: “Seorang sepertiku tidak akan pernah membaiat seorang sepertinya,” yang dengan jawaban ini memperjelas prinsip universal dari alasan terdalam perjuangannya.

Dengan ini sebuah pengorbanan agung yang melampaui batas kasta, keyakinan dan agama sedang berlangsung. Imam Husain bangkit untuk mengembalikan kemerdekaan, perdamaian, persamaan dan keadilan –kualitas yang mana pesan ilahiah telah disempurnakan tapi terus digerogoti oleh mereka yang membajak agama dan bertindak mengatasnamakan agama. Dalam wasiatya sebelum meninggalkan Madinah, Imam Husain menulis: “Aku bangkit melawan untuk mereformasi komunitas kakekku. Aku menginginkan penganjuran kepada kebaikan dan penolakan kepada kejahatan (amar bil maruf wa nahi anil munkar)”.

Di antara ciri unik dari revolusi Imam Husain adalah lekatnya pergerakan dengan tujuan agungnya. Imam Husain tidak membiarkan kemarahan tak terkendali atau tekanan yang diberikan penguasa lalim di masanya mempengaruhi sedikitpun pergerakannya. Walaupun di tengah besarnya bahaya yang dihadapinya, setiap gerakannya dipertimbangkan dan dieksekusi dengan matang dan presisi tinggi. Sesungguhnya banyak di dalam kalangan masyarakat, yang ikut merasakan kelaliman Yazid la’natullah ‘alayh dan pembantu-pembantunya, terus menasihati Imam Husain untuk mengambil langkah lainnya. Beberapa menganjurkan Imam Husain mencari perlindungan di dalam Mesjid Suci (Ka’bah) atau tempat pelarian di pegunungan Yaman, dimana dia akan aman dari pasukan Yazid la’natullah, tetapi Imam Husain tahu benar kebejatan karakter Yazid dan lebih penting lagi, kebutuhan utama akan reformasi di tengah komunitas dan ummat.

Pada hari kesepuluh Muharam, bulan pertama dalam kalender Islam, Imam Husain berjuang dengan gagah berani bersama 72 sahabat dan anggota keluarganya di dataran Karbala –di gurun Nainawa yang menyengat dalam keadaan kehausan yang luar biasa, yang sekarang berada dalam wilayah Irak, menghadapi sepasukan tentara dengan jumlah ribuan orang. Di malam sebelum hari pengorbanan agung, Imam Husain meminta sahabatnya untuk meninggalkannya karena mereka telah menunjukkan kesetiaan dan kepatuhan, tetapi mereka tetap teguh untuk bertahan tinggal dan berjuang bersamanya.

Kenapa bisa terjadi hal ini di depan kepastian kematian? Jawabannya jelas: dengan kehadiran Imam Husain, mereka telah merasakan kebenaran, kemerdekaan dan keadilan dan di atas segalanya, arti hidup yang sebenarnya. Meninggalkan Imam Husain akan lebih buruk daripada kematian! Hal itu harusnya mengejutkan kita bahwa di hadapan pasukan yang sangat besar, para sahabat Imam Husain mulai menyongsong musuh atau melakukan shalat di tengah hujan anak panah dan tombak. Sesungguhnya untaian kredo puitis Imam Husain: “Mati dalam Kemuliaan lebih baik daripada Hidup dalam Kehinaan”, telah bergaung ke seluruh perkemahan, termasuk wanita, anak muda dan orang-orang tua yang berumur lebih dari 90 tahun.

Perkemahan kecil Imam Husain dihancurkan, semua lelaki dibantai dengan brutal, wanita dan anak-anak ditawan dan berparade dalam tampilan yang memalukan mengitari kota-kota. Tetapi, tragedi ini segera dikenal dalam buku-buku sejarah sebagai ”Tragedi Karbala”. Sebuah narasi yang pengagumnya terus bertambah berlipat-lipat di seluruh penjuru dunia –termasuk pengikut dari kepercayaan dan bangsa lain. Dengan ini, Imam Husain menjadi pemenang atas musuhnya yang berbekas mendalam dan ditulis dengan kemurnian darah, kisah teragung dari semua epik sejarah kepahlawanan dan keyakinan.

Hari Imam Husain menjadi syahid di dataran Karbala adalah hari ia dilahirkan kembali, dengan memulai revolusi yang telah melepaskan jeritan abadi kebenaran dan keadilan, yang tertanam di hati muslimin selama 1400 tahun lebih –hingga hikmah dan pesan ini ditulis. Hari ini kita bertanggungjawab atas sebuah keyakinan mulia –Warisan Agung Imam Husain– Sebuah harta-karun yang memberikan kebijaksanaan yang indah dan kekuatan ketabahan kepada para pencari. Warisan Imam Husain memberi contoh sempurna kepada setiap masyarakat tertindas bagaimana mengatasi kejahatan tirani dan penindasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar