Selasa, 20 Januari 2015

Imam Ali Sang Negarawan dan Jenius Multi-Disipliner




Oleh Syed Husain Mohammad Jafri, Ph.D

Dalam mukaddimah yang ringkas ini, tak ada maksud atau niat, juga mustahil, untuk membahas secara terperinci kepribadian Ali –perpaduan sifat berani dan sifat ksatria, sifat mengutamakan kepentingan orang lain, serta pendukung paling gigih Rasulullah dan Islam. Pemimpin yang tak pernah mengorbankan prinsip, dan sungguh merupakan pengejawantahan cita-cita moralitas al Qur’an dan sunnah Rasulullah. Semua orang percaya pada sikap filosofis Ali dan menganggapnya sebagai ahli sastra yang tak tertandingi, seorang jenius, dan ahli pendidikan yang tiada banding. Pidato, orasi, surat, dan peribahasanya yang banyak jumlahnya itu, yang seringkali dicatat oleh para sejarawan dan para ahli biografi muslim dari jaman dahulu, membuktikan fakta bahwa Ali tak ada bandingannya di bidang prestasi sastra di kalangan kaum muslim.

Kualitas ini terutama terekspressikan dengan sangat baik ketika Ali diminta oleh ummat –dengan suara mayoritas, untuk mengemban tanggungjawab kekhalifahan, setelah terbunuhnya Utsman Ibn Affan. Dalam masa yang singkat ini, yaitu sekira lima tahun kepemimpinan dan kenegarawanannya, kita mengenal Ali sebagai orator Islam terhebat yang pernah ada, dan tiada penggantinya sesudahnya. Juga tokoh terhebat dalam mempromosikan, menjelaskan, menafsirkan, dan mempraktikkan pemikiran politik dan prinsip-prinsip administrasi serta manajemen pemerintahan yang sebelumnya tidak pernah sebegitu jelas dan hidup.

Dalam periode ini pula, disamping banyak berpidato, berkhutbah, dan berorasi, Ali juga menulis banyak surat yang berisi konsepnya tentang Negara dan pemerintahan, serta nasihatnya untuk para gubernur dan para pejabatnya di setiap provinsi. Tujuh Puluh Sembilan di antaranya, yang terserak di berbagai sumber awal, dikumpulkan oleh Syarif ar Radhi (wafat 405 hijriah / 1014 masehi) dalam koleksi termasyhur yang dikenal dengan nama Nahjul Balaghah. Surat-surat ini, jika dipadukan, akan menjadi satu set ilmu politik dan sistem administrasi bagi ilmuwan politik-administrasi dunia.

Di masyarakat Arab pada abad ke-7, ketika orang hanya mau pada hal yang serba cepat, pada yang khusus atau individual, dan pada yang konkret, Ali dengan pengetahuannya yang mendalam atas al Qur’an, menjelaskan konsepsi tentang yang universal, yang menjadi basis bagi yang khusus atau individual, dan pandangan tentang sejarah sebagai proses untuk mewujudkan keharmonisan yang lebih besar dalam pergaulan manusia yang lebih baik –dan melampaui batas-batas ras, agama, warna kulit, atau batas-batas geografis.

Setelah merenungkan dan mengkaji dengan seksama pandangan-pandangan Ali, seorang ilmuwan politik dan ahli teori administrasi dunia abad ke-20 begitu terkejut ternyata seorang Arab yang hidup abad ke-7 sudah melihat kebijakan Negara dengan mempertimbangkan sejarah sebagai sebuah proses seleksi dan penyingkiran. Dalam proses ini, orang yang tidak baik moralnya disingkirkan dan digantikan oleh orang yang tinggi kualitas rohani dan moralnya. Proses ini, selain tentu saja tidak mengherankan, juga pada saat ini sudah merupakan fakta yang sudah dapat diterima bahwa Islam telah berhasil melakukan transformasi total atas masyarakat Arab abad ke-7.

Singkatnya, basis kebijakan Ali adalah membentuk suatu masyarakat yang bermoral baik dan adil –sebuah masyarakat orang-orang lurus yang tajam dan kuat kesadarannya akan Tuhan, sebuah masyarakat yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Bagi seorang muslim, kebijakan Negara dan pemerintahan Ali merupakan sebuah pemahaman atau lebih tepatnya sebuah penerapan paling akurat ajaran al Qur’an dan sunnah Rasulullah, sedangkan bagi seorang non-muslim atau bahkan seorang sekularis, dalam kebijakan Ali tersebut ada prinsip-prinsip humanitarianisme dan egalitarianisme. Ali, singkatnya, adalah seorang negarawan terbesar yang berhasil menerapkan keadilan bagi muslim dan non-muslim. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar