Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Desember 2015

Maryam & Kelahiran Isa Al-Masih dalam Al-Qur’an

(Film Maryam Produksi Republik Islam Iran)

Matahari tampak akan tenggelam, sementara semilir angin bertiup di sekitar pepohonan. Kala itu, harum semerbak mulai memenuhi mihrab Maryam. Bau itu menembus jendela mihrab dan mengepakkan sayapnya di sekeliling gadis perawan yang khusuk dalam ibadah (salat) tanpa seorang pun mendengar suaranya. Maryam merasa bahwa udara dipenuhi dengan bau harum yang mengagumkan. Ia kembali melakukan salat (ibadahnya) dengan khusuk dan mengungkapkan syukur kepada Allah SWT.

Seekor burung hinggap di jendela mihrab. Ia mengangkat paruhnya ke atas dan mengarahkan ke matahari serta mengepakkan kedua sayapnya lalu ia terjun ke air dan mandi di dalamnya. Kemudian ia terbang ringan di sekitamya. Maryam ingat bahwa ia lupa untuk menyirami pohon mawar yang tumbuh secara tiba-tiba di tengah dua batu yang tumbuh di luar mesjid. Maryam menyelesaikan salatnya lalu ia keluar dari mihrab dan menuju pohon. Belum selesai beliau siap-siap untuk keluar sehingga para malaikat memanggilnya:

“Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)” (QS. Ali ‘Imran: 42)

Maryam berhenti dan tampak wajahnya yang pucat dan semakin bertambah. Mihrab itu dipenuhi dengan kalimat-kalimat para malaikat yang memancarkan cahaya. Maryam merasa bahwa pada hari-hari terakhir terdapat perubahan pada suasana ruhaninya dan fisiknya. Di tempat itu tidak terdapat cermin sehingga ia tidak dapat melihat perubahan itu. Tetapi ia merasa bahwa darah, kekuatan dan masa mudanya mulai meninggalkan tempatnya dan digantikan dengan kesucian dan kekuatan yang lebih banyak.

Ia menyadari bahwa ia sedang gugup. Ia merasakan kelemahan manusiawi dan adanya kekuatan yang luar biasa. Setiap kali tubuhnya merasakan kelemahan, maka bertambahlah kekuatan dalam ruhnya. Perasaan yang demikian ini justru membangkitkan kerendahan hatinya. Maryam mengetahui bahwa ia akan memikul tanggung jawab besar.

“Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)” (QS. Ali ‘Imran: 42). Dengan kalimat-kalimat yang sederhana ini Maryam memahami bahwa Allah SWT telah memilihnya dan menyucikannya dan menjadikannya penghulu para wanita dunia. Beliau adalah wanita terbesar di dunia. Para malaikat kembali berkata kepada Maryam:

“Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang ruku” (QS. Ali ‘Imran: 43)

Perintah tersebut ditetapkan setelah adanya berita gembira agar beliau meningkatkan kekhusukannya, sujudnya, dan rukuknya kepada Allah SWT. Maryam lupa terhadap pohon mawar dan beliau kembali salat. Maryam merasakan bahwa sesuatu yang besar akan terjadi padanya. Beliau merasakan hal itu sejak beberapa hari, tetapi perasaan itu semakin menguat saat ini.

Kini matahari meninggalkan tempat tidurnya sementara malam telah bangkit, sementara bulan duduk di atas singgasananya di langit dan di sekelilingnya terdapat awan-awan yang indah dan putih. Kemudian datanglah pertengahan malam dan Maryam masih sibuk dalam salat (ibadahnya). Ia menyelesaikan salatnya dan teringat pohon mawar itu lalu ia membawa air di suatu bejana dan pergi untuk menyiramnya.

Pohon mawar itu tumbuh di antara dua batu di tempat yang tidak jauh dari tempat ibadah (mesjid) yang hanya ditempuh beberapa langkah darinya. Tempat itu jauh dari jangkauan manusia sehingga tak seorang pun mendekatinya. Tempat itu sudah dijadikan tempat yang khusus bagi Maryam untuk melakukan salat (ibadah) di dalamnya. Maryam mendekati pohon mawar itu dan menyiramnya, lalu meletakkan bejana, kemudian ia memikirkan pohon mawar itu di mana tangkainya semakin panjang pada dua malam yang dilaluinya.

Tiba-tiba, Maryam mendengar suara derap kaki yang mengguncang bumi. Ia tidak mendengar suara kaki yang berjalan, tetapi ia mendengar suara kaki yang menetap di atas batu serta pasir. Maryam merasakan ketakutan. Ia merasakan bahwa ia tidak sendirian. Ia menoleh ke sebelahnya namun ia tidak mendapati sesuatu pun. Kemudian kedua matanya mulai berputar-putar dan memperhatikan suatu cahaya yang berdiri di sana. Maryam gemetar ketakutan dan menundukkan kepalanya. Maryam berkata dalam dirinya, siapa gerangan orang yang berdiri di sana. Maryam memandang kepada wajah orang asing itu, dan menyebabkan ia gelisah. Wajah orang itu sangat aneh, di mana dahinya bercahaya lebih daripada cahaya bulan. Meskipun kedua matanya memancarkan kemuliaan dan kebesaran tetapi wajah orang itu justru menggambarkan kerendahan hati yang mengagumkan.

Pandangan pertama yang dilihat oleh Maryam kepada orang itu mengisyaratkan, bahwa orang itu memiliki kemuliaan yang diperoleh orang yang menyembah Allah SWT selama jutaan tahun. Maryam bertanya kepada dirinya, siapa gerangan orang ini? Kemudian seakan-akan orang asing itu membaca pikiran Maryam dan berkata: “Salam kepadamu wahai Maryam.” Maryam dibuat terkejut mendengar adanya suara manusia di depannya. Maryam berkata sebelum menjawab salamnya:

“Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa” (QS. Maryam: 18)

Maryam berlindung di bawah lindungan Allah SWT dan ia bertanya kepadanya, “Apakah engkau manusia yang mengenal Allah SWT dan bertakwa kepadanya?” Kemudian orang itu tersenyum dan berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci” (QS. Maryam: 19)

Orang asing itu belum selesai menyampaikan kalimatnya sehingga tempat itu dipenuhi cahaya yang menakjubkan yang tidak menyerupai cahaya matahari, cahaya bulan, cahaya lampu, cahaya lilin bahkan cahaya api. Di sana terdapat cahaya yang sangat jernih. Kemudian terngianglah di kepala Maryam kalimat: “Aku adalah seorang utusan Tuhanmu.” Kalau begitu, dia adalah penghulu para malaikat, Ruhul Amin (Jibril) yang telah berubah wujud menjadi manusia.

Maryam mengangkat kepalanya dengan gemetar menahan luapan cinta. Jibril berdiri di depannya dalam bentuk manusia. Maryam memperhatikan kejernihan dahinya dan kesucian wajahnya. Benar apa yang diduganya bahwa Jibril memiliki kemuliaan yang diperoleh orang yang menyembah Allah SWT selama jutaan tahun. Kemudian Maryam mengingat kembali kalimat-kalimat yang diucapkan Jibril.

Malaikat itu telah mengatakan bahwa ia adalah utusan Tuhannya, dan ia telah datang untuk memberi Maryam seorang anak laki-laki yang suci. Maryam ingat bahwa dirinya adalah seorang perawan yang belum tersentuh oleh seorang pun. Ia belum menikah dan belum dilamar oleh seseorang pun, maka bagaimana ia melahirkan anak tanpa melalui pernikahan. Pikiran-pikiran ini berputar-berputar di kepala Maryam lalu ia berkata kepada Jibril:

“Maryam berkata: Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” (QS. Maryam: 20)

Jibril as berkata: “Demikianlah Tuhanmu berfirman: ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputushan”‘ (QS. Maryam: 21)

Maryam menerima kalimat-kalimat Jibril. Tidakkah Jibril berkata kepadanya bahwa ini adalah perintah Allah SWT dan segala sesuatu yang diperintahkan-Nya pasti akan terlaksana. Kemudian, mengapa ia harus (ketika) melahirkan tanpa disentuh oleh seorang manusia pun. Bukankah Allah SWT menciptakan Nabi Adam tanpa seorang ayah dan seorang ibu? Sebelum diciptakannya Nabi Adam tidak ada pria dan wanita. Hawa diciptakan dari Nabi Adam dan ia pun diciptakan dari laki-laki, tanpa perempuan.

Biasanya manusia diciptakan melalui pasangan laki-laki dan perempuan; biasanya ia memiliki ayah dan ibu, tetapi mukjizat terjadi ketika Allah SWT menginginkannya untuk terjadi. Kemudian Jibril meneruskan pembicaraannya:

“Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari-Nya, namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh” (QS. Ali ‘Imran: 45-46)

Keheranan Maryam semakin bertambah. Betapa tidak, sebelum mengandung anak itu di perutnya ia telah mengetahui namanya. Bahkan ia menhetahui bahwa anaknya itu akan berbicara dengan manusia saat ia masih kecil. Sebelum Maryam menggerakkan lisannya untuk melontarkan pertanyaan lain, Jibril mengangkat tangannya dan mengerahkan udara ke arah Maryam. Kemudian datanglah hembusan udara yang bercahaya yang belum pernah dilihat sebelumnya oleh Maryam. Lalu cahaya tersebut ke jasad Maryam dan memenuhinya. Tak sempat Maryam melontarkan pertanyaan yang lain, Jibril yang suci telah pergi tanpa meninggalkan suara.

Udara yang dingin telah bergerak dan Maryam pun tampak menggigil. Maryam segera kembali ke mihrabnya. Ia menutup pintu mihrab dan ia tenggelam dalam salat yang khusuk dan ia pun menangis. Maryam merasakan kegembiraan, kebingungan dan kegoncangan serta kedamaian yang dalam. Kini, Maryam tidak lagi sendirian. Sejak Jibril meninggalkannya, ia merasakan bahwa ia tidak lagi sendirian. Ia menggerakkan tangannya yang dipenuhi dengan cahaya, kemudian cahaya ini berubah di dalam perutnya menjadi anak, seorang anak yang akan menjadi kalimat Allah SWT dan ruh-Nya yang diletakkan pada Maryam. Ketika anak itu besar, ia akan menjadi seorang rasul dan nabi yang ajarannya dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang.

Maryam di malam itu tidur dengan nyenyak dan ia bangun di waktu Subuh. Belum lama ia membuka kedua matanya sehingga ia dibuat terkejut ketika melihat mihrab dipenuhi dengan buah-buahan yang sebenarnya tidak lagi musim. Maryam heran melihat hal itu. Ia mulai mengingat apa yang telah terjadi padanya kemarin, yaitu bagaimana kejadian saat menyiram pohon mawar, bagaimana pertemuannya dengan malaikat Jibril, bagaimana Allah SWT meniupkan kalimat-Nya padanya, bagaimana ia kembali ke mihrab, dan bagaimana tidurnya yang nyenyak. Maryam berkata kepada dirinya sambil melihat buah-buahan yang banyak: Apakah aku akan memakan sendirian buah-buahan ini. Kemudian ada suara dalam dirinya yang berkata: “Engkau tidak lagi sendirian wahai Maryam. Kini, engkau bersama Isa. Engkau harus makan dengan baik. Dan Maryam mulai makan.”

Lalu berlalulah hari demi hari. Kandungan Maryam berbeda dengan kandungan umumnya wanita. Ia tidak merasakan sakit dan tidak merasa berat; ia tidak merasakan sesuatu telah bertambah padanya dan perutnya tidak membuncit seperti umumnya wanita. Alhasil, kehamilan yang dialaminya dipenuhi dengan nikmat yang baik. Datanglah bulan yang kesembilan.

Pada suatu hari, Maryam keluar ke suatu tempat yang jauh. Ia merasa bahwa sesuatu akan terjadi hari itu. Tetapi ia tidak mengetahui hakikat sesuatu itu. Kakinya membimbingnya untuk menuju tempat yang dipenuhi dengan pohon kurma. Tempat itu tidak biasa dikunjungi oleh seseorang pun karena saking jauhnya; tempat yang tidak diketahui oleh seseorang pun kecuali Maryam.

Tak seorang pun yang mengetahui Maryam bahwa sedang hamil dan ia akan melahirkan. Mihrab yang menjadi tempat ibadahnya selalu tertutup. Orang-orang mengetahui bahwa Maryam sedang sibuk beribadah dan tidak ada seorang pun yang mendekatinya. Maryam duduk beristirahat di bawah pohon kurma yang besar dan tinggi. Maryam mulai merasakan sakit pada dirinya, dan rasa sakit tersebut semakin terasa. Akhirnya, Maryam melahirkan:

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: ‘Aduhai alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan” (QS. Maryam: 23)

Rasa sakit saat melahirkan anak yang dialami wanita suci ini menimbulkan penderitaan-penderitaan lain yang segera menantinya. Bagaimana manusia akan menyambut anaknya ini? Apa yang mereka katakan tentangnya? Bukankah mereka mengetahui bahwa ia adalah wanita yang masih perawan? Bagaimana seorang gadis perawan bisa melahirkan? Apakah manusia akan membenarkan Maryam yang melahirkan anak itu tanpa ada seseorang pun yang menyentuhnya? Kemudian pandangan-pandangan keraguan mulai menyelimutinya. Maryam berpikir bagaimana reaksi manusia kepadanya dan bagaimana perkataan mereka terhadapnya sehingga hatinya dipenuhi dengan kesedihan. Belum lama Maryam membayangkan dan meminta agar ia dimatikan dan dilupakan, tiba-tiba anak yang baru lahir itu memanggilnya:

“Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan mengugurkan buah kurma yang masak kepadamu makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu rnelihat seorang manusia, maka katakantah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini'” (QS. Maryam: 24-26) 

Sabtu, 21 November 2015

Film Muhammad Messenger of God, Pesan Damai Islam dari Iran




Oleh Afifah Ahmad (penulis & travelog)

Malam itu, Muhammad kecil tak dapat memejamkan mata, lantaran suara rintihan para budak yang kehausan. Tangan kaki dirantai, sementara pakaian mereka kumal dan tubuh menggigil. Muhammad yang tak kuasa menyaksikan pemandangan itu menghabiskan malamnya dengan mengisi gerabah air dan menuangkannya ke dalam mulut-mulut kering mereka. Dari balik tabir tenda, Aminah, sang bunda, menyaksikan dengan mata berkaca-kaca.

Di bagian lain, terlihat saat Muhammad yang mulai beranjak remaja tengah menggembalakan kambing-kambing di padang sabana. Suara gaduh pertengkaran perempuan dan laki-laki menggelisahkannya. Berjalanlah ia mendekati arah suara. Ternyata, mereka pasangan suami istri yang sedang meributkan kelahiran bayi perempuan. Si ayah yang merasa itu aib ingin menguburkan bayi hidup-hidup, namun sang Ibu yang susah payah mengandung dan melahirkannya tak rela dengan perbuatan si suami. Muhammad datang menggendong bayi perempuan cantik yang hampir di kubur hidup-hidup. Dengan lemah lembut, ia menunjukkan kepada si ayah betapa cantik bayi perempuannya itu. Ajaib, amarah lelaki itu mulai mereda.

Dua potongan film "Muhammad Rasulullah" ("Muhammad: The Messenger of God") ini, seperti mewakili janji Majid Majidi, sang sutradara, untuk menampilkan kehidupan Rasulullah yang welas asih. Delapan tahun lalu, ia terluka oleh penayangan film yang menghina Nabi Muhammad di Denmark. Ia pun tak memenuhi undangan festival film di kota itu, karena penghormatannya kepada baginda Nabi. Di tahun yang sama, ia berjanji untuk membuat film sisi kehidupan Nabi Muhammad yang tak banyak diketahui kaum Barat. Setelah melakukan riset selama tiga tahun melalui berbagai sumber sejarah, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah, serta empat tahun pengambilan gambar, film ini akhirnya bisa dinikmati masyarakat luas.

Sebulan setelah penayangan perdana di bioskop-bioskop Teheran pada 26 Agustus lalu, Film "Muhammad Rasulullah" ("Muhammad: The Messenger of God") masih diserbu oleh ribuan penonton. Saya sendiri terpaksa harus datang dua kali ke bioskop Kourosh. Malam pertama, setelah mengantri cukup panjang, saya harus pulang dengan tangan kosong karena hanya tersisa tiket yang tayang jam 12 malam. Sementara durasi film hampir 3 jam. Terbayang, bisa-bisa saya tidur di bioskop. Untunglah, beberapa hari kemudian saya mendapat tiket dengan membeli secara online. Jam di ponsel saya menunjukkan angka 20.20 saat film tentang Nabi Muhammad mulai tayang di gedung teater 10 Kourosh.

Film tentang Nabi Muhammad ini termasuk salah satu film relijius dengan kemasan sekelas Hollywood. Di beberapa bagian kita akan melihat perpaduan gambar dan musik yang luar bisa, seperti saat penyerangan pasukan Gajah ke kota Mekkah, saat melukiskan suasana khidmat kelahiran Nabi Muhammad, atau episode menjelang akhir, saat para sahabat berjalan membawa lampu-lampu tempel dengan latar suara wahyu dari langit. Benar-benar membawa emosi kita seolah masuk dan menjadi bagian dari potongan film itu.

Majid Majidi tidak bekerja sendiri, ia menggandeng beberapa sineas internasional yang pernah memenangkan Academy award dan Oscar seperti, Vittorio Storaro dan AR Rahman sebagai sinematografer dan penata musik. Tempat pengambilan gambar juga dibangun khusus selama hampir satu tahun. Kota Mekkah dan Madinah buatan itu benar-benar terlihat seperti di kawasan jazirah Arabia, padahal lokasinya di wilayah Iran, dekat jalan tol antara Teheran-Qom. Film ini diperkirakan menelan biaya sekitar US$40 juta (Rp560 miliar lebih) sekaligus menjadi film termahal dalam sejarah Iran.

Di sisi lain membuat film dengan latar sejarah Nabi memang tidak mudah. Adegan-adegan dalam film akan dengan mudah tertebak oleh penonton. Apalagi, film ini merupakan satu bagian dari trilogi film Nabi Muhammad yang hanya menampilkan kisah kanak-kanak Nabi hingga remaja. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi sutradara. Namun, Majid Majidi menyiasatinya dengan membuat alur flashback. Film diawali dengan makar kaum Quraisy yang ingin mendesak Abu Thalib agar berpihak pada mereka dalam peristiwa pemboikotan ekonomi di Syi’ib. Di tengah kegalauan itulah Abu Thalib, yang diperankan oleh Mehdi Pakdel, teringat berbagai mukjizat Nabi sebelum kelahiran hingga masa remaja.

Potongan-potongan kehidupan Nabi Muhammad kecil pun mengalir dalam layar, sejak kehadiran sosok Halimah Sadiyah yang sangat signifikan dalam sejarah sampai ramalan sang pendeta Buhaira Kristen tentang kenabian beliau. Bahkan, berbagai ekspresi kesedihan maupun kebahagiaan Aminah yang sulit kita resapi saat membaca buku sejarah, tergambar secara utuh dalam film ini. Atau bagaimana welas asih yang ditunjukkan oleh kakek beliau, Abdul Muthalib, bisa kita rasakan secara jelas. Sulit mendeskripsikan potongan-potongan ini kecuali Anda menyaksikannya sendiri. Munculnya, Samuel, tokoh antagonis yang selalu berusaha memburu Nabi sejak beliau baru dilahirkan, menambah seru film ini. Bagaimana petualangan dan akhir cerita Samuel?

Dari seluruh bagian film, saya menangkap pesan humanistik menjadi benang merah yang merekatkan episode demi episode. Dan memang begitulah kehidupan nyata Nabi yang kerap disalahpahami oleh media Barat. Sejak kecil Nabi telah memiliki rasa empati yang dalam agar kelak saat diangkat menjadi Nabi mampu memimpin umat dengan cinta, menjadi pelindung dan rahmat bagi seluruh alam.

Sayangnya, film yang memiliki pesan dalam ini, sejak awal telah mendapat sambutan buruk dari berbagai kalangan, terutama para ulama konservatif di beberapa negara Arab. Di antara alasan yang kerap dilontarkan adalah munculnya sosok Nabi Muhammad dalam film itu, dianggap mengurangi kesakralan Nabi. Walaupun sebenarnya, kekhawatiran itu tidak terlalu mendasar, karena meskipun sosok kanak-kanak Nabi ditampilkan, hanya tampak belakang dan samping, sementara bagian muka tetap tidak diperlihatkan. 


Rabu, 18 Februari 2015

Epos Puitik dari Surga




Sumber: Tabloid Banten Muda Edisi 19 -Oktober 2013

Berawal dari Umberto Eco, sebagaimana yang dikatakan Teresa de Lauretis ketika membincang karya-karya Umberto Eco, yang menafsirkan kisah Adam di Surga sebagai kiasan manusia untuk menemukan bahasa dan pengetahuan, karena menurutnya larangan Tuhan untuk memakan buah pengetahuan mestilah dipahami sebagai desakkan pertama ambiguitas, yang dari ambiguitas itulah terbuka sekian kemungkinan bagi makna dan pemaknaan yang baru dan berbeda, apa yang disebutnya sebagai moment penemuan bahasa yang simultan.

Sewaktu masih di Surga, Adam dan Hawa hanya memiliki dua kata alias dikotomi, seperti baik-buruk, indah-jelek, boleh dimakan-tidak boleh dimakan, dan ketika Tuhan melarang Adam dan Hawa untuk mendekati dan memakan the apple of knowledge, Tuhan sebenarnya sedang memperkenalkan kontradiksi semantik: apel dan pengetahuan adalah entitas yang baik dan karena itu seharusnya boleh dimakan, tetapi pada saat yang sama adalah buruk dan tidak boleh dimakan. Tak pelak, dalam pemahaman Umberto Eco, larangan Tuhan tersebut merupakan kontradiksi dan ambiguitas: sesuatu yang baik pada saat bersamaan juga berarti buruk.

Kisah Adam-Hawa tersebut menurut Umberto Eco sebenarnya hanya sekedar menunjukkan untuk merasakan kesenangan dalam mencandra teks dan menggauli pengetahuan, mengenali hasrat dalam bahasa, di mana dari kisah itu pula, manusia memulai sebuah eksperimen penemuan bentuk kata baru, menemukan irama, nada, dan puisi. Bersamaan dengan tanda yang manasuka, manusia menemukan struktur kode bahasa dan memperbarui sejarah puisi, Adam menemukan fungsi puitik dalam bahasa.

Sementara itu, perjumpaan mereka dengan ular dapat dimengerti sebagai sebentuk keakraban dengan situasi pra-bahasa, yang dalam hal itulah mereka meninggalkan Surga sejak mengalami perjumpaan dan bermain dengan bahasa, yang dengan itu pula sejarah pun dimulai.

Dan, dalam tradisi sufisme semisal yang diulas William C. Chittick, pembacaan kisah Adam tersebut salah-satunya dibaca dalam kerangka atau frame teologis dan pedagogi seperti dalam Rawh al Arwah-nya Sam’ani, yang merupakan karya yang menceritakan ulang kisah Adam tersebut melalui prosa-puitik: “Tuhan membawa Adam masuk ke dalam taman kelembutan dan mendudukkannya di atas singgasana kebahagiaan. Tuhan memberinya guci-guci keriangan satu demi satu, kemudian mengeluarkannya, mendukai, membakar, dan meratapi. Sehingga, sebagaimana Tuhan membiarkan ia mencicipi kelembutan pada awalnya, Tuhan juga membuatnya merasakan tegukan kekerasan yang murni, tak tercampur, dan tanpa penyebab”.

Baik pembacaan Sam’ani atau pun Umberto Eco, meski dengan tafsiran yang berbeda, tetap memandang teks-teks kitab suci sebagai metode tuturan yang mendesakkan ketakterusterangan dan ambiguitas, pembacaan yang menolak definsi hitam-putih yang rigid dan jelas. Hingga al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin-nya itu mensinyalir ada makna lahir dan ada makna bathin (surplus meaning) dalam teks-teks tertentu kitab suci, terutama sekali dalam teks-teks yang terasa sangat puitis.

Tetapi, untuk kasus al Ghazali, seperti kita tahu, tetap ingin menjaga penafsiran verbal-nya sesuai dengan audiens pembacanya, yang dalam hal ini adalah masyarakat awam. Ta’wil, menurut al Ghazali, memang hanya mungkin ditangkap dan digali oleh kaum intelektual yang terdidik dan memiliki wawasan kebahasaan, bukan hanya sebagai modus perintah, meski al Ghazali sesekali mengkritik para ulama yang memaksakan penafsiran verbal sebagai satu-satunya sebagai pembacaan yang paling sah dan mesti dianut semua ummat yang mempercayai kitab suci.

Bahkan ia pernah mengkritik dengan nada yang keras sembari menyindir bahwa orang-orang yang memaksakan penafsiran verbal kitab suci sebagai satu-satunya pembacaan yang paling sah tersebut sesungguhnya tengah mengakui diri mereka sendiri akan ketakmampuannya untuk menta’wil ayat-ayat tertentu kitab suci.

Sulaiman Djaya 


Minggu, 08 Februari 2015

Kisah Menara Babel –Perspektif Sufisme dan Derrida





Kala itu, orang-orang Babilonia mendirikan sebuah menara –alias tower dalam bahasa sekarang, atas perintah Namrud, yang kalau bisa menara tersebut sanggup mendekati langit. Akan tetapi Tuhan (meski ada yang mempercayai kehancuran menara ini hanya mitos), menghancurkan menara tersebut, setidak-tidaknya demikian lah versi Al-Kitab –yaitu Kitab Kejadian alias Genesis. Tetapi Jacques Derrida punya tafsir sendiri terkait hal ini.

Dalam buku Des Tours de Babel, Derrida pun bertanya: Apa sebenarnya yang dimaksud “Babel” –secara linguistik? Kepada siapa “Babel” ini merujuk –atau siapa yang dirujuk dan menjadi referensi? Nah, saat itulah Derrida teringat Voltaire yang pernah mengkaji makna Babel, di mana kata “Babel” terdiri dari dua kata: Ba artinya ayah dalam bahasa China, sementara Bel artinya Tuhan. Para leluhur Voltaire memberi nama Babel pada setiap ibu kota mereka. Di balik nama itu, tersimpan harapan agar kota-kota itu menjadi kota yang aman, makmur, sejahtera, dan bahagia –karena selalu dilindungi Tuhan. Namun, dalam konteks menara Babel, ternyata Tuhan menghancurkannya.

Dalam wawasan Jacques Derrida, contohnya, ketika Tuhan menghancurkan menara Babel, pada saat itulah Tuhan telah melakukan detotalisasi dan dekonstruksi, dan hasil dari detotalisasi itu tak lain adalah kebingungan, yang adalah juga kehendak manusia untuk melakukan homogenisasi merupakan tindak kekerasan atas keberlainan. Karena itulah kata Babel menurut Michel de Montaigne (sang esais masyhur yang nyeleneh itu) berarti kebingungan, hingga seorang Ayn al Qudat Hamadani pun menulis:

“My heart was tumultuous a sea with no shore, in it was drowned all the ends and all the beginnings”.

Dan juga seperti yang dinyatakan Ibn Araby:

“O Lord, increase my perplexity concerning Thee”


Haruslah diakui, ada paradoks dalam teologi bila dipahami secara verbal, seperti Tuhan adalah sang penunjuk (al haadi) sekaligus sang penyesat (al mudhillu), yang bila meminjam wawasannya Derrida merupakan differance dan disseminasi, yang tak lain adalah: “endlessly opens up a snag in writing that can no longer be mended” [Ian Almond 2002:515-537].

Dalam pandangan Derrida, peristiwa kehancuran menara Babel adalah moment penemuan paradigma dan perspektif tentang heterogenitas dunia dan hidup, di mana pada saat yang sama adalah kehancuran otoritas. Pada moment tersebut, “Tuhan” mendekonstruksi dan mendisseminasi dirinya sendiri. Persoalan tersebut sedikit-banyaknya memiliki kemiripan dengan penggalan ayat Kitab Si Pengkhotbah:

“Segala perkataan tak mencukupi, tak seorang jua pun sanggup mengatakannya. Dengan tiada sangguplah manusia menyelami permulaan dan penghabisan, demikian juga pengertian akan keabadian dalam hati mereka. Sebab samalah nasib manusia dan binatang, berakhir pada kematian.

Ayat-ayat tersebut menyuguhkan sugesti yang kuat tentang kerentanan manusiawi yang “mengharuskan” manusia berendah-hati di hadapan keagungan Ilahi yang acapkali tak sanggup dipahami. Iman-nya Si Pengkhotbah adalah iman yang sadar dengan kerentanan, subjek yang sadar dengan kedhaifannya:

“dan apa yang kurang tak dapat dibilang”.

Dalam konteks saat ini, beberapa pemegang lembaga keagamaan dan para pemegang otoritas sosial-keagamaan adalah orang-orang yang sepenuhnya sadar dengan fungsi sosial-politik dogma dan doktrin keagamaan atau bahkan klaim keimanan dan janji-janji surgawi secara praktis dan pragmatis, yang bila meminjam wawasannya Nietzsche, klaim “kebenaran” dipertahankan lebih karena fungsi relasional dan hasrat untuk berkuasa para aktor dan para pemegang otoritas dari klaim “kebenaran” itu sendiri.

Mereka yang acapkali mengatasnamakan lembaga keagamaan demi maksud, motif, dan tujuan politis dapat juga disebut sebagai imitasi-imitasi alias tiruan-tiruan Namrud dalam skala dan konteks yang berbeda. Di mana dalam sejarah pembangunan dan pendirian Menara Babel itu, Namrud-lah sang otoritas itu sendiri –yang berusaha ingin menciptakan dirinya sendiri dan lembaganya sebagai “sesembahan”. 

Hak cipta (c) pada Sulaiman Djaya (2001)