Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Desember 2015

Teosofi Islam & Fisika Kuantum


Oleh Ibrahim B. Syed (pakar radiologi/radiologist)

Ada kesamaan antara Sufisme (Tasawuf) dan teori kuantum. Suatu cara memandang dunia yang sangat mirip diantara para sufi dan ahli fisika modern. Berbeda dengan pandangan dunia Barat yang mekanistik, bagi para sufi segala sesuatu dan peristiwa dirasakan saling terkait, terhubung, dan ini adalah aspek atau manifestasi berbeda dari realitas yang sama. Bagi para sufi “Pencerahan” adalah sebuah pengalaman untuk menjadi sadar akan kesatuan dan saling keterkaitan segala sesuatu, untuk mengabaikan gagasan tentang diri individu yang saling terpisah, dan untuk mengidentifikasi diri dengan realitas tertinggi.

Ilmu pengetahuan selalu diungkapkan dalam bahasa matematika modern yang sangat canggih, sedangkan tasawuf didasarkan pada meditasi dan menegaskan fakta bahwa pandangan para sufi tidak dapat dikomunikasikan secara verbal. Realitas seperti yang dialami oleh para Sufi benar-benar tak terdefinisikan dan tidak bisa dibeda-bedakan. Para Sufi tidak pernah melihat logika sebagai sumber pengetahuan, tetapi menggunakannya hanya untuk menganalisis dan menafsirkan pengalaman tasawuf pribadi mereka. Kesamaan antara eksperimen ilmiah dan pengalaman-pengalaman tasawuf mungkin tampak mengejutkan mengingat sifat dan cara pengamatan yang sangat berbeda ini. Fisikawan melakukan eksperimen yang melibatkan kerja sama tim yang rumit dan teknologi yang sangat canggih, sedangkan para sufi memperoleh pengetahuan mereka murni melalui introspeksi, tanpa mesin, dalam meditasi atau Dzikir. Untuk bisa melakukan percobaan tentang partikel dasar fisika modern seseorang harus menjalani pelatihan bertahun-tahun. Demikian pula, pengalaman tasawuf yang mendalam memerlukan, secara umum, pelatihan bertahun-tahun di bawah guru yang berpengalaman. Kompleksitas dan efisiensi dari fisikawan dan Sufi secara garis besar mirip, dengan kesadaran mistik-baik fisik maupun spiritual di dalam Dzikir yang mendalam. Dengan demikian para ilmuwan dan para Sufi telah mengembangkan metode yang sangat canggih dalam mengamati alam yang tidak dapat diakses oleh orang awam.

DZIKIR
Tujuan dasar Dzikir adalah untuk menghentikan pikiran untuk menggeser kesadaran dari rasional ke modus intuitif kesadaran. Penghentian pikiran dicapai dengan memusatkan perhatian pada satu hal, seperti napas, suara Allah atau La ilaha illa Allah. Bahkan melakukan shalat dianggap sebagai Dzikir untuk membungkam pikiran rasional. Jadi Shalat mengarah pada perasaan damai dan ketenangan yang menjadi ciri dari bentuk yang lebih statis dari Dzikir. Keterampilan ini digunakan sebagai cara untuk mengembangkan meditasi kesadaran. Dalam Dzikir, pikiran dikosongkan dari semua pikiran dan konsep-konsep dan dengan demikian siap untuk memfungsikan modus intuitif untuk jangka panjang. Ketika pikiran rasional dibungkam, modus intuitif menghasilkan kesadaran yang luar biasa; sekitar kita akan dialami dalam cara langsung tanpa filter pemikiran konseptual. Pengalaman kesatuan dengan keseluruhan merupakan ciri utama kondisi meditasi ini. Ini adalah keadaan kesadaran di mana setiap bentuk fragmentasi telah berhenti, memudar menjadi kesatuan yang tidak bisa dibedakan.

PANDANGAN MENUJU REALITAS
Sufisme didasarkan pada wawasan langsung terhadap hakikat realitas sedangkan fisika didasarkan pada pengamatan fenomena alam dalam percobaan ilmiah. Dalam fisika, model dan teori-teori didasarkan pada perkiraan dan penelitian ilmiah modern. Dengan demikian ungkapan Einstein, “Sejauh hukum-hukum matematika merujuk pada realitas, mereka menjadi tidak pasti; tetapi sejauh mereka pasti, mereka tidak mengacu pada realitas.” Setiap esensi alam dari sesuatu dianalisis oleh intelek, selalu tampak absurd atau paradoksal. Ini selalu diakui oleh para sufi, tetapi telah menjadi masalah bagi sains hingga baru-baru ini, yaitu temuan tentang cahaya yang bisa dianggap sebagai gelombang atau foton atau yang disebut dualitas cahaya. Berbagai fenomena alam ini menjadi subjek bagi para ilmuwan makroskopik dan dengan demikian menjadi pengalaman dunia indrawi mereka. Karena gambar dan konsep-konsep intelektual dari bahasa mereka yang disarikan berdasarkan pengalaman ini, sudah cukup dan memadai untuk menggambarkan fenomena alam. Namun dunia atom dan subatomik itu sendiri terletak di luar persepsi indrawi kita. Pengetahuan tentang materi pada tingkat ini tidak lagi berasal dari pengalaman indrawi langsung, bahasa sehari-hari kita, yang digambarkan oleh indra, tidak lagi memadai untuk menggambarkan fenomena yang diamati. Ketika kita menembus lebih dalam dan lebih dalam ke alam, kita harus meninggalkan konsep-konsep umum kita. Menyelidik lebih dalam tentang atom dan menyelidiki strukturnya, melampaui batas-batas ilmu imajinasi indrawi kita. Dari titik ini,  kita tidak lagi bisa mengandalkan kepastian yang mutlak pada logika dan akal sehat. Fisika kuantum menyediakan para ilmuwan sekilas sifat esensial dari segala sesuatu. Seperti para Sufi, fisikawan kini berurusan dengan pengalaman nonindrawi dari realitas dan, seperti halnya kaum sufi, mereka harus menghadapi aspek paradoks dari pengalaman ini. Sejak saat itu, model, dan gambar fisika modern menjadi sama dengan gambaran tasawuf dari para sufi.

MASALAH KOMUNIKASI
Para ilmuwan menyadari bahwa bahasa umum kita tidak hanya tidak akurat, tapi sama sekali tidak memadai untuk menggambarkan realitas atom dan subatom. Dengan munculnya Relativitas dan Mekanika kuantum dalam fisika modern sangat jelas bahwa pengetahuan baru ini melampaui logika klasik dan bahwa hal itu tidak dapat lagi dijelaskan dalam bahasa biasa. Demikian pula halnya dalam tasawuf, selalu menyadari bahwa realitas melampaui bahasa umum dan kaum sufi tidak takut melampaui logika dan konsep-konsep umum. Masalah bahasa yang dihadapi oleh kaum sufi adalah persis sama seperti masalah yang dihadapi oleh fisikawan modern. Baik fisikawan dan para sufi ingin mengkomunikasikan pengetahuan mereka, dan ketika mereka melakukannya, pernyataan mereka adalah paradoks dan penuh dengan kontradiksi dengan pikiran logis. Paradoks ini adalah karakteristik dari semua yang mempraktikkan tasawuf dan sejak awal abad ke-20 adalah juga karakteristik fisika modern.

DUALITAS DARI CAHAYA
Dalam Fisika Kuantum, banyak situasi paradoksal berhubungan dengan sifat ganda dari cahaya atau – yang lebih umum – radiasi elektromagnetik. Cahaya menghasilkan fenomena gangguan, yang diasosiasikan dengan gelombang cahaya. Hal ini diamati ketika dua sumber cahaya yang digunakan menghasilkan pola cahaya yang terang dan redup. Di sisi lain, radiasi elektromagnetik juga menghasilkan efek “fotolistrik”: ketika panjang gelombang cahaya yang pendek seperti sinar ultraviolet atau sinar X atau sinar gamma menabrak permukaan beberapa logam, mereka bisa “memantulkan” elektron dari permukaan logam, dan karena itu harus terdiri dari partikel yang bergerak. Pertanyaan yang begitu banyak membingungkan para fisikawan dalam tahap-tahap awal adalah bagaimana teori kuantum dan radiasi elektromagnetik secara bersamaan bisa terdiri dari partikel (yaitu entitas terbatas pada volume yang sangat kecil) dan gelombang, yang tersebar di area yang luas dalam ruang. Tidak ada baik bahasa maupun imajinasi yang bisa menghadapi realitas semacam ini dengan sangat baik. Sufisme telah mengembangkan beberapa cara yang berbeda berhubungan dengan aspek-aspek paradoksal dari realitas. Karya-karya Attar, Hafiz, Ibnu Arabi, Rumi, al Bustami, dll menunjukkan bahwa mereka penuh dengan kontradiksi dan bahasa yang menarik dan kompak, kuat, dan sangat puitis ini dimaksudkan untuk menangkap pikiran pembaca dan keluar dari trek yang biasa dari logika nalar. Heisenberg bertanya pada Bohr: Apakah mungkin bahwa alam sesungguhnya adalah sangat absurd seperti yang terlihat dalam eksperimen atomik ini?

Setiap kali sifat esensial segala sesuatu dianalisis oleh intelek, akan terlihat absurd atau paradoksal. Hal ini selalu diakui oleh para sufi, tetapi telah menjadi masalah dalam ilmu pengetahuan di abad 20. Dunia makroskopik saat itu masih bedasarkan pengalaman indrawi kita. Melalui pengalaman indrawi orang dapat menggambar sebuah gambar, dan mengekspresikan konsep-konsep intelektual dalam bahasa mereka. Bahasa ini sudah cukup dan memadai untuk menggambarkan fenomena alam. Model mekanistik Newton tentang alam semesta telah dianggap bisa menjelaskan makroskopik dunia. Pada abad ke-20 keberadaan atom dan partikel subatom atau “blok bangunan” dasar telah mulai diverifikasi secara eksperimental. Dunia Subatomik dan atom itu sendiri ternyata terletak di luar persepsi indrawi kita. Pengetahuan tentang materi pada tingkat ini tidak lagi berasal dari pengalaman indrawi langsung, dan karenanya bahasa sehari-hari kita, tidak lagi memadai untuk menggambarkan fenomena yang diamati. Ketika kita menembus lebih dalam dan lebih dalam ke fenomena alam, kita harus meninggalkan lebih dan lebih banyak gambar dan konsep bahasa biasa. Dari titik ini, kita tidak bisa lagi mengandalkan kepastian yang mutlak pada logika dan akal sehat. Fisika kuantum memberikan kesan pertama kali bagi para ilmuwan dalam melihat sifat esensial segala sesuatu. Seperti halnya para Sufi para ahli fisika kini berurusan dengan pengalaman nonindrawi realitas dan, seperti kaum sufi, mereka harus menghadapi aspek paradoks pengalaman ini.

FISIKA MODERN
Menurut para sufi, pengalaman mistik langsung dari realitas adalah peristiwa yang sangat mengguncang dasar-dasar pandangan dunia seseorang, bahwa ini adalah peristiwa yang paling mengejutkan yang bisa terjadi dalam alam kesadaran manusia (sebagai-Zuhud). Melewati semua bentuk pengalaman standar. Fisikawan di awal abad ke-20 merasa sama takjubnya ketika dasar-dasar pandangan dunia mereka terguncang oleh pengalaman baru dari realitas atom, dan mereka menggambarkan pengalaman ini dalam istilah-istilah yang sangat mirip dengan yang digunakan oleh para Sufi. Jadi Heisenberg menulis: “… perkembangan terakhir di fisika modern hanya dapat dimengerti ketika seseorang menyadari bahwa di sini dasar-dasar fisika sudah mulai bergerak; dan bahwa gerakan ini telah menyebabkan perasaan bahwa ini telah memotong dasar dari ilmu pengetahuan.” Penemuan fisika modern mengharuskan perubahan mendasar dari konsep-konsep seperti ruang, waktu, materi, objek, sebab dan akibat, dll, dan konsep-konsep ini telah begitu mendasar dalam cara kita memandang dunia, bahwa ahli fisika yang dipaksa untuk mengubahnya akan merasakan sesuatu yang mengejutkan. Perubahan yang baru dan radikal tentang pandangan dunia yang berbeda telah lahir dan masih dalam proses pembentukan. Teori kuantum memaksa kita untuk melihat alam semesta bukan sebagai koleksi benda-benda fisik, tapi lebih sebagai jaringan rumit yang saling berhubungan antara berbagai bagian dari suatu kesatuan yang utuh. Ini adalah cara para Sufi telah mengalami dunia.

RUANG-WAKTU
Para sufi Tampaknya dapat mencapai keadaan kesadaran nonordinary (Zuhud) di mana mereka melampaui dunia tiga dimensi kehidupan sehari-hari dan mengalami realitas multidimensi yang lebih tinggi. Dalam fisika relativistik jika seseorang dapat memvisualisasikan realitas empat dimensi ruang-waktu, tidak akan ada paradoks sama sekali. Para sufi memiliki pengertian tentang ruang dan waktu, yang sangat mirip dengan yang ditunjukkan oleh teori relativitas. Dalam tasawuf, tampaknya ada intuisi yang kuat untuk karakter dari realitas “ruang-waktu”. Para Sufi telah mengalami keadaan lengkap kekosongan(Fana) di mana tidak ada lagi perbedaan antara pikiran dan tubuh, subyek dan obyek. Dalam keadaan pengalaman murni, tidak ada ruang tanpa waktu, tidak ada waktu tanpa ruang, mereka yang saling. Bagi fisikawan gagasan ruang-waktu ini didasarkan pada eksperimen ilmiah sedangkan bagi para Sufi itu didasarkan pada tasawuf. Model yang relativistik dan teori-teori fisika modern adalah ilustrasi dari dua elemen dasar pandangan dunia tasawuf- Tahwid alam semesta dan karakter dinamis yang intrinsik. Ruang yang melengkung dalam beberapa tingkatan, dan waktu mengalir dengan kecepatan yang berbeda di berbagai bagian dari alam semesta. Pemahaman kita tentang tiga-dimensi ruang Euclides dan aliran linear waktu yang terbatas pada pengalaman kita sehari-hari dunia fisik harus sepenuhnya ditinggalkan ketika kita memperluas pengalaman ini. Para Sufi berbicara tentang perluasan dari pengalaman mereka di dunia dalam keadaan kesadaran yang lebih tinggi, dan mereka menegaskan bahwa kondisi ini melibatkan pengalaman yang sangat berbeda tentang ruang dan waktu. Mereka menekankan bahwa mereka tidak hanya melampaui ruang tiga dimensi biasa dalam meditasi, tetapi juga – dan bahkan lebih kuat-bahwa kesadaran umum kita tentang waktu akan dilampaui. Mereka akan merasakan kehadiran tak terbatas, abadi, namun dinamis. Dalam dunia spiritual tidak ada pemisahan waktu seperti masa lalu, sekarang dan masa depan, karena mereka telah menyatu menjadi satu momen kehidupan masa kini dalam arti sebenarnya.

KESETARAAN MASSA-ENERGI
Einstein menunjukkan kesetaraan massa-energi, melalui persamaan matematis sederhana, E = mc * 2. Fisikawan mengukur massa partikel dalam satuan energi yang sesuai. Massa tidak lain hanyalah salah satu bentuk energi. Penemuan ini telah memaksa kita untuk mengubah konsep kita tentang partikel dalam cara yang lebih mendasar. Oleh karena itu partikel dianggap sebagai “Quanta” atau kumpulan energi. Jadi partikel tidak dilihat sebagai terdiri dari berbagai dasar “materi.” Tetapi energi yang dikaitkan dengan aktivitas, dengan proses, yang berarti bahwa sifat partikel subatom secara intrinsik dinamis dan mereka adalah bentuk-bentuk dalam entitas empat dimensi dalam ruang-waktu. Oleh karena itu partikel-partikel subatomik memiliki aspek ruang dan aspek waktu. Aspek ruang mereka yang membuat mereka muncul sebagai objek dengan massa tertentu, aspek waktu sebagai proses yang melibatkan energi setara. Ketika partikel subatom diamati, kita tidak pernah melihat mereka sebagai bahan apapun, tetapi apa yang kita amati secara terus-menerus mengubah pola-pola dari satu ke yang lain atau membentuk tarian energi yang berkesinambungan. Partikel-partikel dari dunia sub-atomik tidak hanya aktif dalam arti bergerak sangat cepat; mereka sendiri adalah proses. Keberadaan materi dan aktifitasnya tidak dapat dipisahkan. Mereka adalah aspek yang berbeda dari realitas ruang-waktu yang sama.

Para sufi, dalam keadaan kesadaran nonordinary, tampaknya menyadari interpenetrasi ruang dan waktu pada tingkat makroskopik. Jadi mereka melihat dunia makroskopik dengan cara yang sangat mirip dengan gagasan ahli fisika tentang partikel subatom. Bagi para Sufi “Segala sesuatu tidak permanen”. Realitas yang mendasari semua fenomena yang melampaui segala bentuk dan menentang semua deskripsi dan spesifikasi, menjadi tak berbentuk, kosong atau tidak berlaku. Bagi para sufi semua fenomena di dunia ini tidak lain hanyalah khayalan manifestasi dari pikiran dan bukan realitas sesungguhnya.

KESIMPULAN
Teori dasar dan model dari teori fisika modern yang mengarahkan kita pada suatu pandangan dunia, secara internal konsisten, dan dalam keselarasan yang sempurna dengan pandangan tasawuf. Kesamaan pandangan dunia antara para fisikawan dan sufi tidaklah diragukan. Keduanya muncul ketika manusia bertanya ke sifat dasar alam yang lebih mendalam tentang materi dalam fisika; ke alam kesadaran yang lebih mendalam dalam tasawuf-ketika ia menemukan realitas yang berbeda di balik penampilan duniawi di kehidupan sehari-hari. Fisikawan memperoleh pengetahuan dari percobaan mereka sedangkan sufi mendapatkannya dari meditasi. Sufi melihat ke dalam dan mengeksplorasi kesadaran dalam berbagai tingkatan. Pengalaman kesatuan, pada kenyataannya, sering dianggap sebagai kunci untuk pengalaman dunia tasawuf. Satu lagi kesamaan antara fisikawan dan sufi adalah kenyataan bahwa pengamatan mereka terjadi di alam, yang tidak dapat diakses oleh indra biasa. Bagi para ahli fisika adalah realitas dunia subatomik dan atom; dalam tasawuf mereka melihatnya dalam keadaan kesadaran nonordinary di mana indra dilampaui. Baik bagi fisikawan dan para Sufi, pengalaman multidimensi melampaui dunia indrawi dan karena itu hampir mustahil untuk mengekspresikan dalam bahasa umum.

Quantum Fisika dan tasawuf adalah dua manifestasi komplementer dari pikiran manusia; dari pemahaman yang rasional dan intuitif. Fisikawan modern mengalami dunia melalui spesialisasi yang ekstrem terhadap pikiran rasional; Sufi melalui spesialisasi ekstrim dari pikiran intuitif. Keduanya diperlukan untuk pemahaman yang lebih lengkap tentang dunia. Pengalaman tasawuf diperlukan untuk memahami hakikat terdalam terhadap segala hal dan ilmu pengetahuan sangat penting bagi kehidupan modern. Oleh karena itu kita memerlukan interaksi dinamis antara intuisi tasawuf dan analisis ilmiah.

Minggu, 29 November 2015

Islam, Iran & Sains



Dalam Islam, sains tidak bisa lepas dari pandangan tauhid termasuk etika alias moralitas. Akan terjadi split personality pada seorang saintis muslim jika masih melihat konflik relasi agama dengan sains, yang mengakibatkan agama menjadi sekuler (seperti terjadi pada kalangan muslim neoliberal ciptaan Amerika di Indonesia yang kehilangan identitas dan kepercayaan diri mereka kepada Islam, sementara di saat lain, kelompok Wahabi pun tak lebih pion Israel dan Amerika karena para majikan dan para tokoh, ideologi & penyedia dana mereka dikendalikan Israel dan Amerika).

Nah, dalam hal demikian lah, dibutuhkan bingkai cara berpikir bahwa mengembangkan sains bagian dari tugas agama. Ibn Haitham, Ar-Razi memandang tugas sains itu sebagai tugas agama. Mengkaji alam pada akhirnya juga membaca manifestasi dan kebesaran Tuhan.

Kita lihat di Iran, setidaknya ada indikasi kuat yang mengarah ke hal yang demikian. Sains berkembang di Iran. Informasi ini menjadi penting, karena biasanya kita hanya mendapat informasi tentang Iran dari sisi Revolusi dan Teologi, dan kita jarang melihat dari sisi Sains-nya.

Dan perlu ditegaskan sekali lagi, kita melihat hal ini dari sisi holistik, pengembangan sains itu menjadi bagian dari perjuangan mandiri sebagai bangsa. Penguasaan sains menjadi elemen niscaya menjadi bangsa yang mandiri. Tuntutan agama Islam itu kan menjadi bangsa yang mandiri, tidak hanya semangat jihad khilafah yang justru menjelma kejahatan itu, sembari tidak memperjuangkan jihad ilmu dan sains.

Bagi muslim yang ingin maju, sains justru menjadi elemen penting –di mana penguasaan sains itu sendiri bagi Muslim Syi’ah Iran merupakan tuntutan agama. Islam secara fitrah menuntut mengembangkan semua potensi termasuk Sains. Cara berpikir monokausal itu melihat, hanya karena faktor kejepit Iran maju, atau hanya karena faktor Revolusi, sains berkembang pesat, atau hanya melihat faktor Iran punya modal budaya sejarah Sains.

Harusnya kita pakai berpikir both and, menerima banyak faktor kondisional, contohnya: kertas, udara, api itu elemen-elemen penyebab kertas terbakar. Sains maju di Iran, karena kombinasi, faktor Revolusi, faktor “kejepit”, faktor modal sejarah Sains, faktor tersedianya infrastruktur budaya dan sosio religi –yang dalam hal ini haruslah diakui bersumber dari spirit Syi’ah Iran.

Di sinilah, Sayid Ali Khamenei seringkali menyampaikan pesan tentang pentingnya jihad ilmu –tidak seperti kaum Wahabi yang memahami jihad hanya sebagai memerangi manusia atau memerangi non muslim.

Contoh lainnya adalah fatwa ulama Iran tentang kloning telah menjadikan ilmu kloning berkembang pesat di Iran. Kalau teologinya tidak rasional itu nanti jadi penghambat kemajuan Sains –seperti kondisi muslim kebanyakan dan apalagi di negeri Indonesia, yang meski pahit haruslah kita akui masih tertinggal dalam pencapaian sains. Alih-alih sejumlah kelompok muslim Indonesia malah menjadi muslim neoliberal karbitan Amerika dan jadi pelayan kepentingan Amerika serta kehilangan kemandirian.

Begitu pun, yang juga tak dapat diingkari, Fenomena Nuklir Iran yang sudah beberapa tahun ini menjadi headline berita-berita dunia, dengan sendirinya menjadi fondasi utama berbagai kemajuan para ilmuwan dalam negeri Iran. Dalam hal ini, berbagai kemajuan dan aneka prestasi Iran selama tiga dekade ini, sesekali dipamerkan juga ke dunia internasional. Keberhasilan di bidang nuklir ini tentu juga merupakan salah satu indikator kemajuan sains di negara tersebut. Namun ironisnya, meski media-media ilmiah Barat mengklaim dirinya bersikap obyektif, mereka masih menolak untuk merilis makalah ilmiah para ilmuwan Iran.

Tak ketinggalan pula, para saintis di bidang teknologi nano pun mengalami kemajuan pesat, sehingga teknologi yang rumit ini sekarang sudah banyak membantu menciptakan berbagai komoditas alias produk-produk tekhnologi –utamanya kesehatan. Kemudian di bidang lainnya, saintis Iran juga berhasil memanfaatkan teknologi sel punca untuk menyembuhkan beragam penyakit akut yang selama ini sulit diobati. Seperti penyembuhan penyakit buta dan beragam kasus lainnya. Namun prestasi paling berkesan di bidang ini adalah keberhasilan para ilmuwan Iran mengkloning seekor kambing dengan memanfaatkan sel punca tersebut.

Tak ragu lagi, prestasi ini merupakan bukti kemajuan Iran di bidang kedokteran, khususnya dalam reproduksi sel punca tersebut.

Sementara itu, di bidang kedokteran ada penciptaan obat IMOD yang berfungsi untuk meningkatkan fungsi ketahanan tubuh menghadapi virus AIDS. Sebagaimana diberitakan situs-situs sains dan kedokteran, keampuhan obat ini bahkan telah diakui oleh otoritas kedokteran dunia.

Beberapa waktu silam, misalnya, para pakar farmasi Iran juga berhasil mengeluarkan obat baru Angi Pars, dimana obat ini berfungsi untuk menyembuhkan luka penyakit diabetes atau kencing manis, sehingga bisa mencegah terjadinya amputasi.

Tentu juga dalam bidang pertahahan, yang belakanngan ini semakin digalakkan karena kebutuhan defense alias pertahanan diri, di mana Iran pun sudah menerima alokasi berbagai kreasi saintis dalam negeri Iran, dari pesawat tak berawak, kapal selam, berbagai jenis rudal, tank-tank perang, pesawat tempur, yang kesemuanya diciptakan oleh sebagian besar ilmuwan Iran.

Begitu pun di bidang robotik, Iran juga tidak ketinggalan dengan Jepang dan Barat. Kemudian teknologi Roket dan Satelit juga ikut andil dalam memajukan Iran.

Mendapati perkembangan yang demikian, Amerika dan kawan-kawan pun semakin jengkel dengan kemajuan Iran tersebut, sampai kemudian muncul sanksi PBB yang disetujui Barat, Eropa, dan mayoritas anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB (mayoritas anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB ini diduga karena ditekan Barat agar mendukung sanksi anti-Iran).

Namun, seperti kita lihat, Iran tetap tegak dan bahkan semakin tegak, sekaligus bermartabat. Dari madrasah manakah bangsa Iran ini belajar? Tak lain dari Madrasah Karbala Imam Husain ‘alayhis-salam. 

Iranian soldiers attend the National Army Day military parade in Tehran, Iran on April 18, 2014.

Rabu, 15 Juli 2015

Al-Kindi, Waktu, Einstein, dan Al-Qur’an




(Gambar: F-22 Amerika Ditembak MIG-29 Rusia)



“Waktu, ruang, gerakan, dan benda, semuanya relatif dan tak absolut. Waktu hanya eksis dengan gerakan; benda dengan gerakan; gerakan dengan benda. Jika ada gerakan, di sana perlu benda; jika ada sebuah benda, di sana perlu gerakan” (Al-Kindi, al Falsafa al Ula)

Kita tahu bahwa Teori Relativitas Einstein ada dua macam, yaitu teori relativitas khusus dan teori relativitas umum. Berdasarkan teori relativitas khusus menunjukan bahwa kecepatan membuat waktu bersifat relatif.

Bila suatu benda bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, maka waktu akan mengalami pemoloran atau melambatnya waktu, fenomena ini disebut dengan delatasi waktu, sedangkan teori relativitas umum mempostulatkan bahwa gravitasi membuat waktu menjadi relatif.

Singkatnya, waktu akan berjalan lebih lambat di daerah yang gravitasinya lebih besar, dan inti dari kedua teori ini adalah waktu yang bersifat relatif.

Apabila ada manusia yang bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya atau berjalan di daerah yang gravitasinya lebih besar dari gravitasi bumi, misalnya matahari (dan ini sekedar pengandaian saja), maka waktu akan berjalan lambat, dan begitu pula fungsi biologi dan anatomi tubuhnya serta semua pergerakan yang terkait dengan atom-atom penyusun tubuhnya.

Percobaan yang dilakukan di British Nasional Institute of Physics telah menguatkan fakta tersebut, penelitinya John Laverty, mencocokkan dua jam yang menunjukan waktu yang sama (dua jam tersebut memiliki tingkat ketelitian yang optimal, perkiraan kesalahan kira-kira tidak lebih dari 1 detik dalam 300.000 tahun).

Salah satu jam ini disimpan dalam Laboratorium di London, dan jam yang lainnya dibawa dalam penerbangan pulang pergi antara London dan Cina.

Kita tahu juga bahwa semakin tinggi suatu pesawat maka pengaruh gravitasi bumi semakin kecil, sehingga berdasarkan teori relativitas umum waktu akan berjalan lebih cepat di atas pesawat.

Perbedaan gravitasi antara orang yang terbang di udara dengan orang yang berada di atas permukaan bumi tidaklah begitu mencolok walaupun tetap ada perbedaan itu sangat kecil sekali sehingga perbedaan ini hanya dapat dilihat dengan alat yang memiliki tingkat ketelitian yang sangat tinggi.

Ternyata dari penelitian ini didapatkan bahwa jam yang berada di atas pesawat berjalan lebih cepat satu per lima puluh lima miliar detik, yang mana biarpun hasilnya sangat kecil tetap saja ada perbedaan kecepatan jam. Ini menunjukan bahwa waktu memang bersifat relatif.
 
Cobalah sekarang kita menengok kitab suci kita Al-Qur’an: “Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun” (QS. Al-Ma’arij 70:4).

Jika bumi sebagai acuan, relativitas terjadi barangkali karena tempat yang tinggi karena ada istilah naik pada ayat di atas, juga bisa terjadi karena kecepatan para malaikat dan Jibril yang mendekati kecepatan cahaya, karena malaikat dan jibril bahan dasarnya atau diciptakan dari cahaya. Sehingga waktu mengalami pemoloran (pelambatan atau delatasi), dimana satu hari molor menjadi lima puluh ribu tahun di bumi.

Atau ayat berikut ini: “Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu” (QS. Al-Sajdah 32:5).

Ayat tersebut juga menunjukan pemoloran (pelambatan) waktu, yang disebabkan perbedaan ketinggian karena ada istilah naik, sehingga waktu langit berbeda dengan waktu bumi.

Dalam Al-Qur’an disebutkan juga bahwa orang yang telah meninggal jika dibangkitkan kembali akan berpikir bahwa waktu mereka di dunia sangatlah singkat. Nah, persis dengan memahami teori relativitas, pertanyaan yang membingungkan tentang waktu yang satu hari setara dengan seribu tahun atau bahkan lima puluh ribu tahun dapat diterima akal dengan sebaik-baiknya.

“Dan ingatlah pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa) seakan-akan tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali sesaat saja pada siang hari, (pada waktu) mereka saling berkenalan, sesungguhnya orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah, dan mereka tidak mendapat petunjuk” (QS. Yunus 10:5).

Dan Allah berfirman, ”berapakah tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi? Mereka menjawab “kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung” (QS. Al-Mu’minun 23:113). 




Jumat, 10 Juli 2015

Menjemput Masa Depan


Oleh Armahedi Mahzar (filsuf Indonesia)

Sebuah buku futurologi asli Indonesia  telah terbit. Namanya MENJEMPUT MASA DEPAN dengan subjudul sangat optimistic, FUTURISTIK DAN REKAYASA MASYARAKAT MENUJU ERA GLOBAL. Buku ini diterbitkan oleh PT Remaja Rosdakarya Bandung 1999. Nada optimisme itu tak mengherankan, karena buku ini ditulis oleh seorang futuris muda Indonesia yang cemerlang, Dr.Dimitri Mahayana, yang juga seorang rekayasawan elektro terkemuka di Indonesia yang menangani teknologi-teknologi andalan masa depan di bidang kontrol dan sibernetika  dan sehari-harinya bergulat membina sumberdaya manusia di bidang teknologi ini di Institut Teknologi Bandung.

Optimisme ini tentu saja tak bisa dihindarkan karena tujuan baik suatu teknologi adalah menyejahterakan, memudahkan dan menyamankan manusia, walaupun bisa saja diselewengkan untuk kepentingan-kepentingan destruktif yang negatif. Meskipun teknologi kontrol dan sibernetika itu di negeri asalnya lahir sebagai upaya pengendalian sistem senjata, yang lebih penting adalah bagaimana membuat para perancang, pembuat, pemakai dan pengatur teknologi di masa mendatang berpikir positif  dan optimistik. Dan memang itulah yang dilakukan oleh penulis dalam kumpulan 19 bab pertama pada bagian I, II dan III buku ini dengan baiknya.

Akan tetapi, uraian itu bahkan terasa terlalu baik sehingga seringkali kita tertegun membacanya dan bertanya-bertanya: Apakah penulis adalah agen teknologi dari Barat yang menjajakan
impian di hadapan kita sambil menyembunyikan tali kendali dan kekang yang akan dipasangkan di mulut kita begitu kita terlelap dan terbuai oleh mimpi-mimpi indah masa depan? Apakah penulis membutakan diri terhadap proses globalisasi multidimensional yang datang, menyerbu dan mengepung kita dari segala penjuru untuk merebut benteng terakhir kita yaitu nurani dan keyakinan?

Menemukan Globalisasi Postmodernis
Untunglah pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu itu segera terjawab pada bagian IV buku ini yang berjudul SISI-SISI MANUSIAWI yang terdiri dari lima buah tulisan. Dalam tulisan pertama dalam bagian ini kita diingatkan akan kenyataan bahwa kita sebagai manusia dihadapkan dengan era teknetronika (teknologi elektronika) yang menjadikan masyarakat manusia sebagai suatu megamesin (meminjam istilah Lewis Mumford yang dikutip Erich Fromm). Bab ini tidak lagi optimistik, namun bukan pula pesimistik.

Penulis buku ini bukanlah hendak menakut-nakuti, tetapi justru kritis dan mengajukan sejumlah besar pertanyaan problematis yang tak mungkin dijawab oleh satu orang saja dalam waktu singkat, karena memerlukan rangkaian diskusi panjang, renungan mendalam dan tindakan nyata untuk mencegah berbagai dampak negatif teknologi.

Dampak negatif itu misalnya adalah alienasi, anonimasi dan dehumanisasi manusia sebagai individu. sedangkan dampak sosial teknologi yang negatif  adalah fragmentasi,  massifikasi dan totalisasi masyarakat. Dampak-dampak negatif tak langsung itu terjadi oleh karena adanya akselerasi, otomatisasi, otonomisasi, unifikasi, integrasi dan amplifikasi teknologi yang merupakan motor globalisasi sehingga menyulut krisis multidimensional di berbagai negara Asia di penghujung abad ke-20 lalu.

Bagaimanapun, bab ini merupakan sebuah antiklimaks yang mengejutkan setelah pembaca dijejali dengan kemajuan-kemajuan teknologi yang aduhai (bagian I) dan terobosan-terobosan manajemen yang wah (bagian II). Namun di tangan penulis sebagai seorang pakar pikir yang piawai, bab antiklimaks ini diikuti dengan indahnya oleh tiga bab kecil yang meresolusi konflik tematik yang dikembangkan dengan rapi dalam bab sebelumnya.

Nyatanya, ketiga bab pendek berikutnya mengajukan jurus-jurus asing “human touch mengembus feeling touch”, “quantum vision menggenjot quantum leap” dan “Wu-Wei menangkal N-Ach” yang pada akhirnya ditutup dengan jurus pamungkas yang ditunggu-tunggu yaitu “Islam melawan globalisasi.”

Dalam bab terakhir yang cukup panjang ini, penulis menguraikan ciri-ciri paradoksal globalisasi. Di satu pihak globalisasi mendorong munculnya budaya global yang universal, di lain pihak globalisasi memunculkan ethno-nasionalisme, sukuisme dan menekankan pluralitas hidup keberagamaan. Ketegangan antara globalisme dan lokalisme inilah yang menjadi ciri yang nampak pada globalisasi. Ciri lain dari globalisasi kini adalah ketidakseimbangan arus budaya. Globalisasi di masa ini bersifat satu arah dari negara-negara barat yang kapitalistis ke negara-negara non-Barat. Dengan demikian globalisasi di masa kini tak lain dari imperialisme budaya dari Barat.

Mengangkat Wahdah Al-Wujud
Yang menarik pada artikel pamungkas ini ialah kenyataan bahwa penulis memberi resep yang mengejutkan bagi pemikir Islam yang modernis maupun yang tradisionalis, apalagi yang fundamentalis. Soalnya, penulis mengajukan sebuah proposisi yang sangat kontroversial yaitu dengan cara  membangkitkan sebuah konsep yang telah dikubur sedalam-dalamnya oleh para ulama ortodoks di kalangan Sunni yaitu wahdah al-wujud.

Konsep wahdah al-wujud adalah konsep ketunggalan Ada yang telah jauh-jauh ditinggalkan ulama dan cendekiawan muslim karena dianggap zindik oleh para ulama ortodoks tradisionalis, dianggap panteisme musyrik oleh para fundamentalis dan dianggap takhayul mistisisme oleh para modernis.

Sungguh mengherankan bagaimana bisa penulis mengajukan konsep tradisionalis ini sebagai penangkal badai globalisasi posmodernis di era krisis yang anekamatra ini. Jawabannya segera kita dapatkan jika saja kita menuntaskan pembacaan buku ini sampai pada halaman akhir.

Pertama-tama sesuai dengan tradisi Syi’I (Syi’ah), ketika mengangkat lagi konsep lama itu, penulis mengidentikkan wahdah al-wujud dengan tauhid, suatu pernyataan yang pasti akan mendapat protes dari ketiga kubu pemikiran Sunni: fundamentalis, tradisionalis dan modernis.

Akan tetapi, betapapun, jika kita lupakan identifikasi konseptual yang kontroversial itu, maka kita akan mendapatkan bahwa jaringan ulama Haramayn Nusantara sejak abad XVII hingga abad XX  adalah tokoh-tokoh agama yang melakukan harmonisasi syari’at dan tasawuf pada umumnya menganut ajaran wahdah al-wujud.

Namun, menurut penulis, “Doktrin wahdah al-wujud tidak mengambil bentuknya yang rasional dan intelektual dalam wacana spiritual Jawi” (hal 175). Oleh karena itu, untuk membangkitkan wahdah al-wujud ke pentas globalisasi posmodernis ini kita harus mengambil doktrin wahdah al-wujud yang sudah dirasionalkan dan diintelektualkan seperti yang telah dikembangkan oleh Mulla Shadra yaitu “Al-Hikmah al Muta’aliyah yang secara epistemologis didasarkan pada tiga prinsip: intuisi intelektual (dzawq dan isyraq), pembuktian rasional (‘aql dan istidlal) dan syari’at.” (hal. 177-178), 

Penulis menaruh harapan bahwa sintesis Mulla Shadra itu “merupakan sebuah jawaban bagi rekacipta Islam di Indonesia dan Melayu di alaf ketiga” (hal 178). Untuk itu, penulis mengajukan duabelas buah argumen untuk memperkuat pandangannya. (hal  178-190)

Secara ringkas kedua belas argumen itu adalah sebagai berikut: kesatu, Wahdah al-wujud berimplikasi pemaknaan syari’at yang lebih menyatu; kedua, konsep ini berimplikasi pada penerimaan pluralisme (kejamakan cara beragama dan berteologi ); ketiga, dia merupakan titik temu aliran-aliran besar Islam, baik mazhab Sunni-Syi’ah, tasawuf-filsafat sebagai titik konvergen dalam mewujudkan ukhuwah islamiyah; keempat, dia mempunyai kekokohan filosofis yang dapat diuji dalam kancah pemikiran filsafat dunia; kelima, dia menjadi alternatif cara pandang dunia di dalam mana sains dan teknologi mendapat tempatnya yang layak; keenam, dia menegaskan kemayaan segala selain wujud sehingga dapat menahan goncangan postmodernisme; ketujuh dia memberikan kerangka terpadu dalam upaya menjawab persoalan-persoalan teologis dan filosofis yang berkembang dewasa; kedelapan, dia memberikan aksiologi ilmu yang mensejajarkan kebaikan ilmu-ilmu non-keagamaan dan ilmu-ilmu keagamaan; kesembilan, dia memberikan pandangan benar tentang sebab-akibat dalam kaitannya dengan takdir sehingga dapat menghapuskan racun-racun fatalisme, kesepuluh, dia mampu menghadapi “agama para saintis” yaitu evolusionisme melalui teori gradasi wujud.; kesebelas, dia mampu menjawab persoalan relativitas keadilan dan moral; akhirnya kedua belas, dia dapat menjadi titik temu antara Islam tradisionalis dan Islam modernis melalui pemahaman rasional tentang mistis.

Dari keduabelas argumen itu tampak bahwa yang ingin dipecahkan dengan cara membangkitkan konsep wahdah al-wujud dapat dikelompokkan menjadi tiga hal:  pertama adalah kelemahan internal paradigma ilmu Islam (1, 2, 4, 5, 7. 8 dan 11); kedua, keterpecahan pemahaman ummah Islam (argumen 3 dan 9); ketiga, ancaman paham-paham asing di luar Islam (argumen 6 dan 10).

Dari pengelompokan itu nampak bahwa sebagian besar persoalan, kelompok satu dan kelompok dua, telah ada sebelum fenomena globalisasi, tetapi menjadi parah setelahnya. Hanya sedikit yang berkaitan langsung dengan fenomena globalisasi yaitu kelompok persoalan ketiga. Namun jika dapat menyelesaikan persoalan pertama, yaitu kelemahan paradigma ilmu, maka kedua kelompok persoalan lainnya dapat dipecahkan. 

Mencari Paradigma Keilmuan Baru
Pemilihan paham wujudiyah sebagai penangkal globalisasi dan pengokoh ke-Islaman umat merupakan usulan menarik bernuansa postmodernis karena mengambil doktrin tradisional untuk menyelesaikan problematika modern. Akan tetapi menjadikan doktrin wujudiah sebagai satu-satunya kerangka pikir adalah usulan yang bernada modernis yang mencari satu teori besar yang akan memecahkan segalanya.  Tentunya ini akan menghasilkan kontroversi baru yang tak terselesaikan, apalagi jika hanya memilih satu versi doktrin wujudiah yang telah diintelektualkan oleh ulama Syi’ah di Iran.

Upaya yang lebih mungkin dilaksanakan adalah meletakkan doktrin wujudiyah  berpasangan dengan doktrin syuhudiah yang secara historis memang merupakan penyeimbangnya dalam khazanah tasawuf falsafi, lalu meletakkannya dalam konfigurasi pemikiran filsafat Islam yang lebih besar yang meliputi hikmat al-masya’iyah dan hikmat al-isyraqiyah.

Lalu, dari sini kita meletakkannya dalam konstelasi ilmu-ilmu Islam yang lebih besar yaitu ulumul Qur’an-ulumul Hadits-ushuluddin-ushululfiqh-tasawwuf-irfan-hikmat-manthiq lalu mencari paradigma tunggal yang bisa sekaligus melandasi ilmu-ilmu keagamaan Islam tersebut setelah melakukan dekonstruksi rekonstruksi seperlunya.

Diharapkan paradigma tunggal yang ditemukan itu juga dapat menjadi paradigma menyatu bagi ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu-ilmu kealaman yang ada. Untuk itu kita perlu melakukan dekonstruksi paradigma materialisme mekanistik sains modern dan juga paradigma holisme sibernetik sains postmodern yang sedang tumbuh. Hal ini mutlak diperlukan untuk dapat membangkitkan peradaban Islam dalam era teknetronik (teknologi elektronik) alaf tiga yang baru kita masuki ini.

Semua itu bisa dilakukan melalui multimedia dari yang lisan, cetak hingga yang elektronik, dari yang analog hinga digital di jalan raya informasi bebas hambatan global internet yang sekarang sedang tumbuh dengan cepatnya menjadi suatu pasar raya informasi global. Di internet gagasan-gagasan keagamaan heterodoks Islam menjadi begitu mudah diakses.  Internet juga telah memudahkan kita untuk membuat membentuk komunitas-komunitas virtual yang bisa kita manfaatkan secara efisien dalam dialog besar pembentukan paradigma baru di atas. Semoga Allah meridhai usaha bersama kita ini. Amin, ya rabbal ‘alamin.

Bandung 17 Mei 2000 (Diskusi Buku IAIN Sunan Gunung Djati)