Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 September 2016

POTRET PENYAIR oleh Sulaiman Djaya (2006)



Di waktu-waktu malam, di waktu-waktu ia mengembarakan pikiran, khayalan, dan angan-angan kesepiannya sembari duduk menghadap meja tempatnya merenung dan menulis itu, ia biasanya akan mencurahkan kegelisahan-kegelisahan, rasa bosan, dan kegundahan yang merundung hatinya di lembar-lembar catatan harian kesayangan miliknya, mungkin sebagai topeng dan selubung untuk menutupi kesepiannya.

Atau mungkin hanya sekedar mencurahkan agar tidak menjadi beban hati dan pikirannya yang acapkali terdesak rasa asing tanpa ia tahu apa sebab sesungguhnya.

Sementara itu, di waktu-waktu pagi dan sore hari, ia berusaha menyibukkan diri dengan menanam dan menyirami tanaman yang telah ia tanam. Kesibukan tambahan itu ia lakukan dan ia pilih sebagai penghiburan diri, mungkin juga untuk mengalihkan kesepian dan kebosanannya agar ia tidak terlampau menyibukkan diri dengan membaca buku-buku miliknya, merenung, atau pun menulis.

Seringkali juga terpikir di saat-saat ia membaca, merenung, dan menulis itu, bahwa mungkin saja orang-orang yang selama ini tidak membaca buku-buku filsafat dan kesusasteraan lebih merasakan kebahagiaan dalam hidup mereka, yah orang-orang bersahaja seperti para petani yang sesekali ia perhatikan secara seksama yang menurutnya lebih terlihat tulus ketika mereka bekerja di sawah-sawah dan di ladang-ladang.

Mereka bekerja dari pagi hingga menjelang siang, dari sore hari hingga di ujung senja. Ia selalu memandangi mereka bekerja di waktu-waktu jedanya ketika ia sedang menulis atau membaca di gubuk yang memang tak jauh dari hamparan sawah-sawah itu. Sebagian adalah ibu-ibu dan beberapa di antara mereka adalah perempuan-perempuan yang masih terhitung muda.

Yah mereka, para petani itu, tentu saja tidak pernah menyibukkan dirinya dengan persoalan-persoalan epistemologis dan pertanyaan-pertanyaan axiomatik seperti halnya seorang pemikir atau pun penulis seperti dirinya. Jikalau pun mereka berpikir, tentu sebatas bagaimana memenuhi kebutuhan wajib keseharian mereka untuk menghidupi diri dan keluarganya, dan itu memang sama terhormatnya dengan para sarjana dan penulis yang mencari nafkah dan gengsi sosial dari pengetahuan dan keterampilan mereka.

Sebenarnya, saat itu, ia tengah dirundung dan digundahkan sejumlah pertanyaan, yang barangkali muncul dari kegelisahan dan kebosanannya. Pertanyaan-pertanyaannya itu, bagaimana pun, muncul silih berganti dalam benaknya ketika ia meragukan apa yang ia lakukan selama ini dengan menulis dan membaca. Kebuntuan yang tiba-tiba segera mengingatkannya pada Tukang Batu-nya Rabindranath Tagore:

“Kau kira aku anak kecil, Ibu, tapi kau keliru, sebab aku adalah Noto, tukang batu, dan aku berusia tiga puluh tahun.

Tiap pagi kunaiki kereta dan pergi ke kota dan kususun batu demi batu dengan semen dan kapur dan kugambar dinding layaknya gambar menangkapku.

Kau kira aku bermain rumah-rumahan dengan kerikil dan batu-batu, tetapi kukatakan padamu aku membangun rumah sungguh-sungguh.

Ini bukanlah rumah-rumah kecil sebab kudirikan tiga tingkat dan tiang-tiang yang kuat.

Tetapi bila kau tanyakan padaku kenapa aku berhenti di sana dan kenapa aku tak meneruskan membangun tingkat demi tingkat hingga atapnya mencapai bintang-bintang, kuyakin aku tak dapat mengatakannya padamu dan kuherani diriku sendiri kenapa aku berhenti di mana saja pada segala.

Kunaiki perancah saatku suka dan ini adalah kegembiraan yang lebih besar ketimbang sekedar bermain-main. Kudengar pekerja-pekerja lelaki dan perempuan bernyanyi-nyanyi dalam bekerja dan meratakan atap, gerobak-gerobak berderak-derak sepanjang jalan-jalan, dan musik jalan dari pedagang-pedagang dan para penjual barang logam dan buah-buahan; pada petang hari bocah-bocah lari pulang dari sekolah dan gagak-gagak terbang berkoak-koak ke sarang mereka.

Kau tahu, Ibu, aku tinggal di dusun kecil di tepi telaga.

Tetapi bila kau tanyakan padaku mengapa kutinggal dalam sebuah gubuk beratap jerami meski kubisa mendirikan rumah-rumah besar dari batu dan mengapa rumahku tidak akan yang terbesar dari semuanya, kuyakin aku tiada dapat mengatakan padamu.”

Apa yang ditulisnya dalam buku catatan harian kesayangannya itu barangkali tak lebih ikhtiar penghiburan dirinya sendiri di sela-sela waktu menulis dan membaca, di mana ia dapat menemukan kenyamanan dalam kesendiriannya di waktu malam, pagi, dan sore hari.

Ia akan menuliskan apa saja yang ingin dituliskannya di lembar-lembar bergaris horisontal buku catatan harian kesayangannya itu kapan pun ia ingin menuliskannya.

Dengan menulis di lembar-lembar bergaris horisontal buku catatan harian kesayangannya itu, ia pun menemukan kebebasan yang paling menyenangkannya. Kadang-kadang ia menuliskannya sembari mendengarkan musik-musik klasik dan jazz, dan kadang-kadang dalam keadaan senyap di antara suara kersik daun dan desiran angin yang samar-samar pada waktu tengah malam hingga subuh menjelang.


Ilustrasi: Lukisan karya Mikki Senkarik. 


Rabu, 03 Februari 2016

Umar Khayyam dari Persia yang Keliru Dipahami Barat


Oleh Idries Shah

Wahai orang yang telah pergi dari kembali,
Namamu telah hilang di antara nama-nama lain.
Kuku-kukumu telah berubah menjadi kuku keledai ini:
Janggutmu, ekormu, kini sangat berbeda”

Syair-syair (kuatrin) Umar Khayyam, putra Ibrahim sang Pembuat Kemah (Khayyam), telah diterjemahkan hampir dalam setiap bahasa dunia. Sama sekali tidak dapat dipercaya apabila dalam kehidupannya ia dianggap sebagai penganut aliran Assassin (sekelompok pembunuh bermotifkan politik), teman Nizham sang Wazir Agung, sebagai anggota istana dan penggemar makanan serta minuman, oleh sebab berbagai terjemahan yang keliru. Sudah menjadi anggapan umum bahwa Rubaiyat terjemahan FitzGerald lebih merepresentasikan penyair Irlandia dibandingkan Persia. Namun ini sebenarnya merupakan penilaian dangkal, karena Umar Khayyam  sebenarnya tidak merepresentasikan dirinya sendiri, namun sebuah madzhab filosofi Sufi. Kita tidak hanya perlu mengetahui apa yang sebenarnya dikatakan Umar Khayyam, namun kita juga perlu mengetahui apa maksud perkataannya.

Sebenarnya ada suatu hal menarik lebih lanjut bahwa dalam pembauran berbagai gagasan dari beberapa penyair Sufi dan mengangkat nama Umar Khayyam, FitzGerald tanpa disadari telah menggaris bawahi pengaruh Sufi dalam kesusastraan Inggris. Marilah kita mulai mengamati terjemahan FitzGerald. Dalam syair (kuatrin) 55, ia memaksakan bahwa Umar Khayyam secara khusus menentang Para Sufi:

Buah Anggur, mengandung sebuah Serat;
Laksana urat melekat di Tubuhku — biarlah sang Sufi mencela;
Tentang Logam Dasarku yang mungkin menyimpan sebuah Kunci,
Kunci pembuka Pintu yang diratapnya dari luar.

Ini mengandung arti serta memberi kesan bahwa Umar Khayyam  menentang sang Sufi. Dan bahwa apa yang dicari sang Sufi dapat ditemukan dalam metode Umar Khayyam, bukan (penemuan) dirinya sendiri. Bagi pengamat biasa mana pun, puisi ini jelas menunjukkan ketidakmungkinan bahwa Umar Khayyam adalah seorang Sufi. Para Sufi percaya bahwa dalam diri manusia ada suatu unsur yang disemangati cinta, yang membukakan makna pencapaian realitas sejati dan disebut makna mistikal.

Apabila kita kembali pada puisi orisinal dari terjemahan syair (kuatrin) 55 ini untuk mengaman tentang pencelaan Sufi atau sebaliknya, maka maksudnya, dengan menterjemahkannya dari bahasa Persia, adalah:

Ketika Sebab Azali menentukan wujudku
Aku dianugerahi ajaran utama tentang Cinta.
Dan terbentuklah belahan hatiku
Kunci Perbendaharaan Mutiara dari makna mistikal

Di sini tidak ada kata-kata Sufi, pintu, meratap, mencela. Namun kata-kata yang digunakan adalah istilah-istilah teknis Sufi.

Meskipun telah diakui secara umum bahwa Umar Khayyam adalah seorang penyair yang tidak mendapat penghargaan di negerinya sendiri sampai diperkenalkan kembali melalui apresiasi terjemahan FitzGerald di Barat, ini pun tidak sepenuhnya akurat. Adalah benar bahwa Khayyam tidak memperoleh penghargaan seuniversal Sa’di, Hafiz, Rumi dan penyair Sufi lainnya. Pekerjaan mengumpulkan syair-syair yang disampaikan atas namanya memang berbeda. Masih diragukan bahwa orang meneliti apakah ada di antara para Sufi yang memperhatikan Umar Khayyam. Harus diakui, meskipun telah ada penyelidikan, hanya sebagian kecil di antara mereka yang telah peduli untuk membahas masalah ini sebagai pengamat.

Tugas berat dan seksama telah dicurahkan untuk meneliti orisinalitas dan kemurnian syair-syair dari berbagai koleksi karya Umar Khayyam. Dari sudut pandang Sufi, karena Umar Khayyam bukanlah guru dari sebuah madzhab mistik melainkan ia adalah seorang guru mandiri, maka masalah itu kehilangan kaitan. Para peneliti telah menunjukkan minat terhadap kemungkinan pengaruh penyair buta Abu Ali Al-Ma’ari atas diri Umar Khayyam. Di dalam Luzum yang ditulis segenerasi sebelum Khayyam, Al-Ma’ari telah mempublikasikan berbagai puisi yang tampaknya mengingatkan pada karya puitis Khayyam.

Al-Ma’ari telah menulis puisi yang senada dengan puisi Umar Khayyam, demikian sebaliknya, sebagaimana akan dikatakan seorang Sufi, karena mereka berdua menulis dari sudut pandang madzhab yang sama. Khayyam mungkin telah menyitir Al-Ma’ari, laksana dua perenang saling meniru ketika mereka berenang bersama, mempelajari baik secara terpisah atau bersama-sama dari sumber yang sama.

Hal ini menimbulkan kebuntuan ketika beberapa pengamat sastra meneliti satu segi karya, sementara pengamat lain (mistik) terlibat dan terpengaruh dalam konteks tertentu.

Khayyam adalah suara sang Sufi dan bagi Sufi, suara itu abadi. Puisi tidak akan terikat begitu saja pada teori pemusatan waktu. Memang benar bahwa Khayyam diperhatikan kembali di Persia karena popularitas terjemahan tersebut, jika kita setuju menafsirkan “Khayyam tidak dikenal di kalangan non-Sufi sampai akhir-akhir ini di Persia. Namun melalui berbagai upaya para sarjana Barat, karyanya telah dikenal luas di luar kalangan Sufi di Persia.”

Profesor Cowell yang telah memperkenalkan Umar Khayyam kepada FitzGerald dan menganggapnya sebagai orang Persia, menemukan kandungan Sufistik dalam karya Umar Khayyam  setelah berbagai diskusinya dengan sarjana-sarjana India asal Persia. Beberapa sarjana menyimpulkan bahwa mereka ini telah menyesatkan si Profesor. Beberapa pakar Barat tidak mengungkapkan kandungan Sufi dalam karya Umar Khayyam. Sementara Pendeta Dr. T.H. Weir, seorang ahli sastra Arab (Khayyam menulis karyanya dalam bahasa Persia), menulis sebuah buku tentang Umar Khayyam  yang di dalamnya menyatakan dengan sangat jelas persoalan ini. “Yang benar adalah,” katanya (dalam Umar Khayyam the Poet), “tidak mungkin seorang (sarjana) membaca enam baris syair Umar Khayyam  tanpa melihat bahwa tidak ada mistisisme di dalamnya, apalagi dalam Burns.” Namun ia tidak menjelaskan: apa jenis mistisisme yang diacunya, bagaimana ia mengidentifikasikannya.

FitzGerald sendiri merasa kebingungan terhadap pribadi Umar Khayyam. Ia kadangkala mengangap Umar Khayyam  sebagai Sufi, namun terkadang bukan. Padahal ia sendiri telah memahami sebagian besar pemikiran Sufi. Heron-Allen, sarjana yang telah menganalisa secara sangat seksama, menunjukkan bahwa bahan-bahan yang oleh banyak orang dianggap hasil racikan FitzGerald, acapkali berasal dari penyair Persia lainnya. Para pengarang Persia ini, yaitu para Sufi: Attar, Hafiz, Sa’di dan Jami, adalah para penyair yang sejak Chaucer sangat berpengaruh di kalangan penulis Inggris.

Mungkin disengaja atau kebetulan, apabila FitzGerald sebenarnya telah memahami berbagai ajaran Sufi dari naskah-naskah asli bahasa Persia. Ajaran-ajaran ini begitu kuat dalam ingatannya sehingga sangat membantu dalam menyunting Rubaiyat dalam bahasa Inggris, meski kemudian dicampuradukkan dengan Umar Khayyam. Andaikata FitzGerald mengetahui teknik ajaran tertentu yang diterapkan Umar Khayyam  — dengan mengikuti suatu garis pemikiran sehingga mengesankan kedangkalannya — maka ia mungkin menguraikan pengaruh ajaran Umar Khayyam  secara lebih efektif.

FitzGerald juga telah keliru memahami tekanan yang diberikan Umar Khayyam tentang kondisi Sufi yang mengalami “Kemabukan”, sebagaimana terkandung dalam bait berikut ini:

Aku tak bisa hidup tanpa anggur,
Tanpa cangkir penuh dengan anggur,
aku tak mampu membawa tubuhku
Aku hamba sang nafas yang dikatakan Saki (Pemabuk)
“Minumlah secangkir lagi” — tapi aku tak bisa

Bait ini jelas mengacu pada kondisi pencapaian di bawah bimbingan guru Sufi ketika suatu pengalaman ekstase berkembang menjadi suatu persepsi nyata tentang dimensi rahasia di balik kemabukan metaforis itu. Karya Umar Khayyam versi FitzGerald (bahasa Inggris) tidak pernah diperbaiki lagi karena, agar berbagai gagasan Sufi bisa dikenal generasi secara luas, harus ada kadar harmoni tertentu antara gagasan dan formulasi waktu.

Hal ini bukan berarti bahwa setiap orang bisa melihat kandungan mistik dalam karya Umar Khayyam. Ia telah mengesankan Swinburne, Meredith dan banyak orang yang mencari pola pemikiran non-konvensional. Namun yang lain merasa bahwa dalam beberapa hal, kandungan mistik itu adalah suatu ancaman bagi konvensi. Seorang pakar teologi ternama, Dr. Hastie, tidak berusaha memahami kedalaman makna mistikal itu dalam karya Umar Khayyam.

Dalam versi FitzGerald, Dr. Hastie hanya menemukan “sosok jenaka yang bersahaja, refleksi sangat dangkal dan syair-syair gersang serta kontras”. FitzGerald sendiri telah mengkaji suatu “segi baru tentang Umar Khayyam“, tentang kegelisahan “yang menyedihkan, penipuan diri, kultus tidak wajar atas dirinya oleh orang-orang fanatik”. “Kultus” ini merupakan “suatu kegilaan retoris dan delusi, kegandrungan dan pemujaan semu”.

Apakah pendeta yang terhormat itu merasa terancam oleh orang yang bagaimanapun hanyalah “sosok bijak yang agak gila, berandalan pengecut, pailit dan pembual buta yang suka menggertak?” Umar Khayyam bisa jadi kerapkali dipahami di Timur maupun Barat sedemikian rupa. Yang sangat mengkhawatirkan adalah begitu banyak mahasiswa Muslim yang berbahasa Inggris di India terlampau meminati Khayyam dari terjemahan FitzGerald itu. Namun setidaknya seorang teolog Muslim telah mengedarkan suatu peringatan. Dalam The Explanation of Khayyam (Molvi Khanzada, Lahore, 1929), sebuah pamflet yang beredar luas, ia telah berusaha sebisa mungkin membawa masalah itu ke dalam perspektifnya sendiri. Pertama ia membuktikan, dan bukan tanpa alasan, bahwa FitzGerald sebenarnya tidak mengetahui bahasa Persia dengan baik. Kedua, ia menegaskan bahwa Cowell juga tidak tahu bahasa Persia dengan baik (tulisan mereka berdua seperti cakar ayam, seperti tulisan anak kecil). Orang yang ingin mengkaji Khayyam pertama kali seharusnya mempelajari bahasa Persia, bukan bahasa Inggris. Bahkan sebelum mengkaji Khayyam, ia harus mampu memahami dasar-dasar Islam secukupnya sebelum memasuki materi pelik seperti Sufisme. Akhirnya, Khayyam merupakan sebuah istilah generik yang diterapkan para Sufi sebagai suatu metode pengajaran, yang bila dikaji sendiri tanpa mengacu pada kitab-kitab lain dan tanpa bimbingan seorang guru pasti akan menyesatkan.

Ummar Khayyam adalah sebuah kultus agung di Inggris. Para pemujanya telah membentuk kelompok-kelompok, menaburi bunga mawar Nisyapur di atas pusara FitzGerald, dan menirukan syair-syairnya. Kultus ini sangat banyak, padahal kita tahu bahwa manuskrip tertua ditulis tiga ratus lima puluh tahun setelah kematian sang pengarang — hampir seperti kita semua tahu tentang St. John of the Cross berdasarkan sebuah dokumen yang ditulis akhir-akhir ini dan harus mendasarkan pemahaman kita dari dokumen itu serta sebagian kecil dokumen lainnya.

Dari sudut pandang Sufi, puisi Umar Khayyam mempunyai berbagai manfaat, entah dikaji untuk menjelaskan maknanya semata, entah dibacakan dengan syarat-syarat tertentu untuk meningkatkan taraf-taraf kesadaran, entah “mengungkap rahasianya” untuk digunakan sebagai materi kajian Sufi. Itulah sebagian warisan Sufi, dan sebagaimana telah memainkan peran komprehensif, pemahamannya sendiri merupakan pola pemikiran khas Sufi.

Ada laporan bahwa Khan Jan-Fishan Khan, pemimpin Sufi Hindu-Kush dan guru utama yang agung pada abad kesembilan belas, telah menggunakan syair-syair Umar Khayyam  dalam pengajarannya. Seorang muridnya melaporkan:

Tiga anggota baru datang menemui Khan. Ia menerima mereka dan memerintahkan mereka untuk mempelajari Khayyam dengan tujuan menjajaki tanggapan mereka. Seminggu kemudian mereka datang melaporkan di hari resepsinya. Orang pertama mengatakan bahwa pengaruh syair-syairnya telah mendorongnya untuk berpikir dan memikirkan apa yang belum dipikirkannya sebelumnya. Orang kedua mengatakan bahwa ia pikir Khayyam adalah seorang klenik. Orang ketiga merasa bahwa ada beberapa misteri mendalam pada diri Umar Khayyam dan ia berharap bisa memahaminya kemudian. Orang pertama langsung diterima sebagai muridnya. Orang kedua dikirim ke guru lain. Orang ketiga dikirim kembali untuk mempelajari Khayyam. Seorang murid bertanya kepada Khan, apakah hal itu adalah cara menilai potensialitas calon Sufi. “Kita telah mengetahui satu hal tentang mereka, yaitu kemampuan intuitif mereka,” kata sang Guru, “tapi apakah kalian menganggap beberapa ujian itu adalah suatu latihan. Lebih dari itu, hal itu berfungsi untuk melatih pengamatan secara lebih baik. Itulah Sufisme — sebaliknya, jika kalian suka, itulah cara belajar, perasaan dan interaksi antara manusia dan pikiran.”

Suatu hari saya (Idries Shah) hadir ketika seorang pengikut Umar Khayyam berkebangsaan Jerman menyampaikan dengan antusias sebuah analisa panjang lebar tentang Umar Khayyam dan berbagai acuannya kepada seorang Guru Sufi. Diawali dengan anggapan bahwa Umar Khayyam  telah diungkap von Hammer hampir empat puluh tahun sebelum Cowell dan FitzGerald, ia mengakhiri dengan mengemukakan kelegaannya sendiri bahwa Rubaiyat mencakup hampir setiap teori filsafat.

Orang bijak itu menyimaknya dengan tenang kemudian menyampaikan cerita berikut ini:

Seorang sarjana menemui seorang guru Sufi dan bertanya kepadanya tentang tujuh filsuf Yunani yang lari ke Persia menghindari tirani Justinian, yang telah menutup sekolah-sekolah filsafat mereka. “Mereka termasuk kelompok kami,” jawab guru Sufi itu. Yang menggembirakan, sarjana itu pergi untuk menulis sebuah risalah tentang asal-usul pemikiran Yunani terhadap para Sufi. Suatu hari ia menemui seorang musafir Sufi yang mengatakan, “Guru Halimi dan Rumi yang agung mengutip Yesus sebagai seorang guru Sufi.” “Mungkin maksudnya bahwa pengetahuan Yunani telah menyebar di kalangan Kristen dan Sufi,” pikir si sarjana. Ia menulis hal ini di dalam risalahnya. Dalam sebuah perjalanan suci, guru yang berpikiran orisinal itu telah melintasi kota kediaman si sarjana. Ketika bertemu dengannya, ia berkata, “Para penentang itu dan beribu-ribu orang yang tak dikenal adalah kelompok kami.”

Sahabat saya, sang Sufi, telah mengamati secara seksama skolastik Jerman. “Anggur mengandung air, gula, sari buah dan warna. Raciklah semua itu, niscaya engkau tak akan bisa menghasilkan anggur.” “Kami sedang duduk di sebuah ruangan. Seseorang mengira, ‘Rumah Cina mempunyai banyak kamar. Oleh karena itu, semua ruang ini meniru rumah Cina. Di sini juga ada karpet, ini dipengaruhi Mongol. Seorang pelayan kemudian masuk — tentu saja ini adalah kebiasaan Romawi; atau kebiasaan Fir’aun? Sekarang, melalui jendela aku melihat seekor burung. Penelitian menunjukkan bahwa burung-burung yang bertengger dan dilihat melalui jendela tentu saja sesuai dengan kebiasaan orang Mesir kuno. Alangkah menakjubkan perpaduan dari warisan kebiasaan di rumah ini!’ Apa pendapatmu tentang seorang manusia?”

Teori Umar Khayyam  yang disebut transmigrasi itu telah diapresiasi oleh Profesor Browne, salah seorang pakar sastra Persia berkebangsaan Inggris dan pengarang buku pegangan, Literary History of Persia. Ia telah mengutip sebuah dongeng dari penyair Sufi ini, dan dianggap membuktikan bahwa ia percaya pada reinkarnasi.

Konon penyair ini melewati sebuah padepokan tua di Nisyapur (Persia) beserta sekelompok muridnya. Sekelompok keledai masuk ke dalamnya dengan membawa batu-bata untuk perbaikan bangunan itu. Namun salah satunya enggan melewati pintu gerbangnya. Umar Khayyam  melihat peristiwa ini lalu tersenyum dan menaiki keledai itu sambil melantunkan sebuah syair secara spontan beikut ini:

Wahai orang yang telah pergi dari kembali,
Namamu telah hilang di antara nama-nama lain.
Kuku-kukumu telah berubah menjadi kuku keledai ini:
Janggutmu, ekormu, kini sangat berbeda.

Keledai pandir itu kini leluasa memasuki halaman padepokan. Dengan kebingungan, muridnya bertanya, “Wahai orang Bijak, apa maksudnya ini?” “Jiwa yang kini ada di dalam keledai itu adalah jiwa dari tubuh seorang guru di padepokan ini. Tentu saja ia enggan masuk ke dalamnya sebagai seekor keledai. Kemudian, dengan menunjukkan bahwa ia diakui sebagai seorang guru, maka ia pasti masuk ke lingkungan ini.”

Namun Umar Khayyam bukan sedang (sebagaimana dikira kalangan eksternalis) menunjukkan bahwa beberapa unsur entitas manusia dapat masuk ke dalam tubuh makhluk hidup yang lain, dan juga tidak untuk mengambil suatu kesempatan menandingi skolastisisme gersang di zamannya, ataupun sedang menunjukkan bahwa ia mempengaruhi keledai dengan syair itu. Jika ia tidak menunjukkan apa-apa di hadapan muridnya, tidak melontarkan sebuah gurauan, bukan melakukan suatu perbuatan misterius, tidak berkhotbah tentang suatu bentuk reinkarnasi dan menggubahnya secara esensial, lalu apa yang dilakukannya?

Ia sedang melakukan apa yang biasa dilakukan oleh guru Sufi— memberikan pengaruh kompleks demi kebaikan murid, membiarkan mereka melibatkan diri ketika menyertai seorang guru melalui sebuah pengalaman komprehensif. Ini adalah suatu bentuk komunikasi demonstratif yang hanya dikenal oleh mereka yang telah mengalami pahit getir latihan sebuah madzhab Sufi. Proses itu diuraikan dengan pemahaman dalam suatu upaya menghubungkannya dengan peristiwa tunggal, bahkan peristiwa ganda, untuk tujuan rasional, namun arti tujuan rasional ini dilepaskan. Murid mempelajari melalui metode itu dan tidak mungkin disampaikan dengan metode lain mana pun. Mereproduksinya dengan cara tertentu, kecuali menambah sebuah peringatan dengan mencoba menunjukkan karakter khusus. Situasi ini setidaknya akan tampak kabur bagi kebanyakan pengamat serius.

Nama Umar Khayyam yang dipilih untuk dirinya — Umar Khayyam Khayyam – mengungkapkan beberapa jenis rahasia bagi Ghaqi — sang Dermawan (Orang yang sangat suka berbuat baik), sebuah nama yang digunakan untuk orang yang tidak peduli pada hal-hal duniawi biasa. Hilangnya perhatian itu mencegah dirinya untuk mengembangkan persepsi dari dimensi lain. Salah satu pembelaan para penyair terhadap Umar Khayyam dalam melawan pemikir mekanis — akademis atau emosional — mungkin masih digunakan sebagai justifikasi untuk mencela pengkritiknya yang arogan dan para pengulas:

Wahai orang yang tidak mengerti,
Jalan itu bukan ini dan itu!

(Diterjemahkan dari Bahasa Ingris oleh M. Hidayatullah dan Roudlon, S.Ag).


Keterangan foto: Female whirling dervishes perform during the 'Holy Birth Week' celebrations marking ProphetMuhammad's birth in Istanbul, Turkey on April 28, 2014. The Holy Birth Week dedicated to mark the holy birth of Muslims' beloved Prophet Muhammad, has been commemorated in Turkey since 1989 with lectures, workshops, and scholarly meetings to draw attention to the life of Prophet Muhammad and his teachings. Muslims in Turkey celebrate the week with joy and anticipation as they venerate ProphetMuhammad and his message to all. April 28, 2014Credit: Anadolu Agency

Rabu, 23 Desember 2015

Kalilah & Dimnah Bagian Kedua




Fabel karya IBN MUQAFFA (filsuf & pujangga)

Beberapa hari Dimnah tidak datang menghadap raja, suatu hari ketika raja sedang duduk sendirian di taman, Dimnah menghampirinya. Dimnah mulai melaksanakan aksinya untuk mempengaruhi raja. Dimnah mengatakan bahwa ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Dengan kata-kata yang disusun begitu rapi, taktis, dan cermat, Dimnah mengatakan bahwa Sjatrabah telah mempetenahi bala tentara raja singa karena Sjatrabah telah mengetahui keberanian dan kepandaian raja, dan Sjatrabah telah merencanakan sesuatu untuk berselisih dengan raja. Dimnah juga mengatakan bahwa Sjatrabah ingin menggantikan posisi raja, baik menggunakan cara baik maupun jahat.

Dimnah dengan hati-hati menceritakan itu semua agar terlihat meyakinkan raja, dan untuk meyakinkan raja itu. Dimnah menceritakan kisah tiga ekor ikan dalam sebuah danau:

Dalam sebuah telaga ada tiga ekor ikan yang hidup di dalamnya, yaitu si paling cerdik, si cerdik, dan si bebal. Dekat telaga tersebut mengalir sungai yang jernih. Suatu hari ada dua orang penangkap ikan. Kedua penangkap ikan itu awalnya hanya akan menangkap ikan di sungai, tetapi krena melihat sebuah telaga, ia berniat untuk membawa jala esok harinya. Si paling cerdik tahu bahwa bahaya akan terjadi pada dirinya, maka ia langsung mencari jalan menuju sungai dan akhirnya pergi dari telaga itu. Esoknya dua penangkap ikan itu datang lagi dan memasang jala di telaga itu, si cerdik baru sadar bahwa ia dalam bahaya, dan ia kemudian mencari jalan untuk menuju sungai, tetapi sayangnya jalan itu telah tertutup jala. Berbeda dengan si Bebal yang tetap tak berkutik dan hanya berjalan hilir mudik saja. Akhirnya si cerdik dan si bebal pun tertangkap.

Mendengar cerita Dimnah raja menjadi bingung karena menurut raja selama ini Sjatrabah tidak pernah berbuat jahat kepadanya. Dimnah pun memberikan pernyataan yang menguatkan raja singa bahwa Sjatrabah akan berbuat jahat kepadanya. Raja singa tidak suka dengan kata-kata Dimnah yang semakin tajam, sampai akhirnya raja marah kepada Dimnah dan ingin memanggil Sjatrabah, hanya saja dengan kata-kata Dimnah yang hati-hati dan begitu manis menyebutkan ciri-ciri seorang yang akan berkhianat bahwa matanya merah, tulang persendiannya gemetar, digeleng-gelengkan kepalanya, dan digerakkan tanduknya seperti akan berperang. Akhirnya raja pun mau untuk mendengar nasihat Dimnah agar berhati-hati jika Sjatrabah memenuhi tanda-tanda yang disebutkan.

Dengan kelihaian dan kecerdikan Dimnah berkata-kata, ia meminta ijin kepada raja untuk menemui Sjatrabah, dan hal ini hanya merupakan siasat Dimnah agar semuanya terlihat baik dan sebagai perintah raja, padahal sesungguhnya Dimnah hanya ingin menghasut Sjatrabah. Setelah raja mengijinkannya, mulailah ia mnghasut Sjatrabah bahwa suatu hari raja berkata bahwa alangkah gemuknya badan Sjatrabah itu padahal bagiku ia sudah tidak berguna lagi untuk hidup, aku ingin membunuhnya dan menjadikan ia sebagai makanan bala tentaraku. Karena pandainya Dimnah berkata-kata dan karena diulang-ulangnya janjinya untuk menjaga keselamtan jiwa Sjatrabah selama-lamanya, maka akhirnya dengan rayuan dan hasutan Dimnah yang begitu meyakinkan walaupun masih agak ragu, Sjatrabah pun mulai sedikit percaya.

Seperti saat menghasut raja, Dimnah juga memberi tanda-tanda yang akan dilakukan raja jika memang raja akan berbuat jahat kepada Sjatrabah seperti yang telah ia katakan tadi. Bahwa raja singa akan bangun lalu duduk menjengkung dan kepalanya akan ditegakkan matanya juga akan bercahaya memandangmu dan telinganya berdiri serta mulutnya menganga.

Setelah selesai menghasut Sjatrabah, Dimnah menemui Kalilah untuk mengajaknya melihat kematian Sjatrabah. Sjatrabah yang telah termakan omongan Dimnah pun menghadap raja dan menantangnya, dan karena sama-sama telah terhasut akhirnya mereka pun bertanding.

Melihat keadaan itu Kalilah menghujat Dimnah bahwa ternyata sahabatnya itu sangat kejam dan hina, Kalilah yang merasa sering memberi nasihat kepada Dimnah merasa sangat kecewa. Akhirnya raja singa mengalahkan Sjatrabah, dan kala itu tampak Sjatrabah telah terguling di tanah dan tidak bernyawa lagi.

Setelah raja singa hilang marahnya, bercucuranlah air matanya dan sedih hatinya melihat Sjatrabah. Raja singa kemudian sadar dan menyesal dengan perbuatannya tadi. Ia kemudian berpikir bahwa Sjatrabah hanya difitnah saja.

Melihat raja singa bersedih tersebut, Dimnah lalu mendekatinya dan menghibur raja dengan mengatakan bahwa musuh raja telah tiada dan tidak ada gunanya lagi untuk bersedih. Hati raja singa sedikit tenang, tetapi kemudian ia tahu bagaimana sifat Dimnah yang sesungguhnya.

Suatu hari, harimau  salah seorang pembesar kerajaan yang terpercaya pulang ke rumahnya dari kerajaan. Di tengah jalan, ketika sampai di dekat rumah Kalilah dan Dimnah, ia mendengar suara Kalilah yang sedang menyesali dan menasihati Dimnah.

Harimau itu mendengar bahwa Dimnah-lah biang dari kematian Sjatrabah. Sehingga Kalilah tidak bisa lagi hidup bersama dengan Dimnah. Mendengar itu semua Harimau kembali ke kerajaan dan menemui ibu singa. Harimau menceritakan segala yang didengarnya tadi kepada ibu singa, dan menyuruh ibu singa untuk merahasiakannya terlebih dahulu.

Keesokan harinya Ibu singa melihat keadaan raja singa yang begitu bersedih karena kehilangan sahabat baiknya yang ia bunuh sendiri. Melihat anaknya bersedih itu, ibu singa lalu menceritakan semua yang dikatakan harimau kepadanya semalam tanpa menyebut nama harimau. Mendengar cerita ibunya tadi, raja singa seketika itu juga marah besar dan memanggil semua pembesar kerajaan. Kemudian raja juga memanggil Dimnah, dan Dimnah yang seakan merasa tanpa dosa itu pun menghadap raja dan menanyakan apa yang terjadi. Ibu singa begitu jengkel melihat Dimnah yang serasa tanpa dosa. Ibu singa kemudian memutuskan agar hakim yang memeriksa semua perkara ini dan untuk sementara memenjarakan Dimnah.

Mendengar Dimnah dipenjara, ketika larut malam Kalilah diam-diam menemui sahabatnya itu dan ia mengatakan keprihatinannya dan menyesalkan perbuatan Dimnah yang hanya didasari nafsunya sehingga mengalahkan akalnya. Setelah lama bercakap-cakap akhirnya Kalilah pulang ke rumahnya.

Keesokan harinya semua orang dikumpulkan untuk mengadili Dimnah, pengadilan itu dipimpin oleh seorang hakim. Hari itu sang hakim meminta seorang saksi untuk berbicara dalam forum itu mengenai keterangan perkara Dimnah. Tak ada seorang pun yang berkata-kata, dengan angkuhnya Dimnah lah yang banyak berkata-kata mengenai kebaikan. Kemudian penghulu babi memberikan ciri seorang bedebah seperti Dimnah. Dimnah pun begitu malu mendengar semua pernyataan babi itu.

Suatu hari seekor rubah kepercayaan raja sekaligus sahabat Kalilah bercerita bahwa tidak lama setelah Dimnah masuk penjara, Kalilah jatuh sakit dan mati. Rubah kemudian menemui Dimnah dan menceritakan kematian Kalilah dengan sangat sedih. Dimnah mendengar cerita itu dan kemudian menyuruh sang rubah untuk mengambil seluruh harta yang ia simpan di rumahnya.

Keesokan harinya ibu singa baru tahu bahwa raja belum memutuskan hukuman untuk Dimnah. Hakim belum mampu memutuskan hukuman jika belum ada bukti atau saksi yang kuat, meskipun sebenarnya hakim yakin bahwa Dimnah memang bersalah. Rajapun demikian pula, ia tidak bisa menghukum seseorang tanpa ada bukti yang jelas.

Akhirnya raja menanyai ibu singa tentang informasi yang menyatakan cerita pertama tentang kelakuan Dimnah. Setelah meminta ijin kepada harimau dan dengan bujukannya, harimau mau memberikan penjelasan. Setelah mendengar cerita harimau kerajaan itu, Raja pun memerintahkan untuk membunuh Dimnah. Dan akhirnya Dimnah dibunuh dalam penjaranya.

Selasa, 30 Juni 2015

Pintu Sajak




Puisi Sulaiman Djaya

Setiapkali aku datang,
kutanggalkan sepatu di depanmu,
lalu tanganku menjabatmu:
akrab sekaligus asing,
seakan aku memang seorang tamu
di hadapan apa saja
yang tak terusik oleh tajamnya
tatapan sang maut.

Di suatu waktu, kausambut aku
dengan penuh kecup,
namun kau usir aku tanpa ragu
di kali lain. Sejak itu aku paham,
atas restu atau murkamu
nasib dan puisi dengan ikhlas
senantiasa hilir-mudik.

Tetapi aku tak mengerti,
kenapa hujan dan gerimis
serasa berada jauh di musim yang lari.
Bahkan waktu dengan ubannya yang kemerahan
lebih mirip kalimat-kalimat sajak
yang berserakan.

Setiapkali aku pergi,
kau selalu melepas bajuku
hingga aku tak ubahnya si petualang telanjang
yang senantiasa rindu pulang.
Kembali berjabat tangan
dan meminta maaf kepada mereka
yang menangis sendirian.

(2011)